
"Ternyata kemampuanmu boleh juga", ujar Kris setelah Dara berhasil memukul pipinya.
"Kamu pikir karena aku perempuan, aku tidak bisa mengalahkanmu?". Dara pun menanggapi dengan seringai tipis dibibirnya.
"Dasar sombong! Barusan aku sengaja mengalah padamu karena kamu seorang wanita". Kris kembali berusaha memukul Dara namun berhasil ditangkis.
"Cih, jangan banyak bicara. Aku sudah tidak punya banyak waktu".
Bag bug bag bug
Aach
Dara langsung menyerang Kris dengan bertubi-tubi tanpa memberikan dia kesempatan untuk mengambil ancang-ancang.
Bruk
Kris terjatuh dan Dara langsung menindih tubuhnya untuk menahannya. Postur tubuh kris yang lebih tinggi dan besar daripada Dara membuatnya kewalahan dan hampir saja membuat Dara jatuh, namun disaat yang bersamaan Kenzie tiba disana setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Dara!"
Semua menoleh setelah mendengar suara Kenzie yang memanggil Dara.
"Kak Zie! Kamu disini?!". Dara menanggapi Kenzie dengan senyum cerah diwajahnya.
Menyadari kalau Dara sedang lengah, Kris memanfaatkan situasi dan menggulingkannya.
Gubrag!
"Ach!".
Dara terkejut karena tubuhnya terlempar cukup keras. Dia menatap Kris dengan tajam yang kini menahan lehernya dengan tangannya. Dara berusaha keras untuk lepas dari genggaman Kris.
"Harusnya kamu tetap fokus saat bertanding dengan siapapun", ujar Kris dengan senyum mencibir.
Melihat Kris mencibir sang istri yang sedang meronta membuat Kenzie naik darah. Dia mengepalkan tangannya dan menatap Kris dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu sangat berani membuatnya sampai meronta seperti itu. Apa kamu tidak merasa malu karena menghadapi seorang perempuan?". Kenzie perlahan maju ke depan dengan sikap dingin dan mengintimidasi. Dia bahkan tidak mempedulikan Cheva dan Fauzi yang juga berada disana.
__ADS_1
Cheva hanya tersenyum tipis memperhatikan sikap sang putra.
"Pa-pak Kenzie. Kami sedang bertanding, jadi kurasa ini hal yang wajar". Kris menoleh dan menatap Kenzie dengan wajah pucat dan bicara yang gagap karena panik.
"Kris, sebaiknya kamu berdiri dulu". Fauzi mengingatkan Kris dengan suara berbisik.
Kris yang sadar pun akhirnya berdiri dan melepaskan Dara
"Uhuk-uhuk... "
Dara terbatuk setelah Kris melepaskan tangannya dari leher Dara.
"Apa kamu baik-baik saja?". Kenzie bertanya dengan lembut pada Dara.
"Ya, aku baik-baik saja". Dara menanggapi sambil menganggukkan kepala dan memegangi lehernya yang terasa sakit.
"Pak Kenzie, tolong jangan salah paham. Bukan kami yang memulainya, tapi mereka yang memaksa kami untuk berduel". Kris berusaha menjelaskan pada Kenzie kalau Dara lah yang memintanya berduel terlebih dahulu.
"Mereka?". Kenzie menoleh pada Dara dan Cheva.
"Zie, kamu pikir Mami ini siapa, hah? Mami ini Chevania Sayna Krisnajaya, Mami masih jadi pemimpin perusahaan Kusuma dan masih harus mengelola perusahaan disana secara langsung karena perusahaan itu kamu tinggalkan untuk mengelola perusahaan yang disini. Kamu pikir Mami ini seorang pengangguran yang sengaja mencari masalah dan memulai keributan terlebih dahulu?!". Cheva dengan sengaja menanggapi ucapan Kenzie dengan nada kesal dan mencibir. Dia menegaskan identitasnya untuk mengintimidasi Kris dan juga Fauzi.
Seperti yang diharapkan, Kris dan Fauzi saling menatap satu sama lain dengan canggung mendengar perdebatan Kenzie dan Cheva.
"Kalian dengar kan? Tidak mungkin mamiku yang super sibuk ini tega meninggalkan ayahku untuk membuat masalah dengan orang tidak penting seperti kalian berdua. Jadi kenapa kalian mengganggu mereka?". Kenzie bicara pada Kris dan Fauzi dengan sikap tenang dan acuh tak acuh.
"Itu … anu …". Fauzi tergagap tanpa bisa mengatakan apapun lagi.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan kalian". Kenzie berbalik pergi sambil menggandeng Dara. Dia juga mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Noey.
Drrt drrt drrt
"Halo". Kenzie tak membutuhkan waktu lama untuk bisa tersambung dengan Noey.
"Noey, putuskan semua koneksi kita dengan grup Budiono. Jangan sampai setiap kegiatan kita kedepannya berhubungan dengan hotel maupun restoran mereka" Zie bicara dengan sikap yang dingin sambil berjalan pergi bersama Cheva dan Dara.
Kris dan Fauzi yang mendengar perkataan Kenzie langsung terkejut dan saling menatap satu sama lain. Kris pun langsung berlari kehadapan Kenzie dan memohon padanya.
__ADS_1
"Pak, tolong jangan lakukan itu. Aku minta maaf. Aku mengaku salah, tapi jangan tarik semua koneksi anda. Jika anda melakukan itu maka bisnisku bisa hancur". Kris memohon dengan wajah menyesal dihadapan Kenzie.
"Kenapa aku harus melakukan itu? Seharusnya kamu sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika mengganggu keluargaku kan?". Zie menanggapi Kris dengan acuh tak acuh sambil terus berjalan melewatinya.
Kris yang tidak terima dengan keputusan Kenzie, mengepalkan tangan dengan keras dan menoleh pada Kenzie dengan tatapan kebencian karena diliputi oleh amarah.
"Sial, kamu berniat menghancurkan usahaku? Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja". Kris bergumam lalu menoleh kesekelilingnya dan dia menemukan sebuah botol kosong bekas minuman beralkohol. Tanpa pikir panjang Kris langsung berlari untuk meraih botol itu dan memecahkannya.
Prang!!!
"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan bisnisku!", teriak Kris sambil berlari kearah Kenzie dengan botol pecah ditangannya.
"Zie dibelakangmu!". Melihat Kris berlari dengan botol pecah membuat Cheva berteriak karena panik dan khawatir dengan keselamatan putranya.
Kenzie yang mendengar teriakan Cheva pun langsung berbalik dan melihat Kris berlari kearahnya. Kenzie tidak bisa mengambil resiko untuk melawan Kris karena Dara ada disampingnya. Jika dia berusaha melawan Kris bisa jadi sasarannya berubah menjadi Dara, karena itu dia mengambil inisiatif dengan cepat dan mengambil pistol di sekitar pinggangnya. Kenzie menatap Kris dengan tatapan dingin dan langsung mengarahkan pistol pada Kris yang semakin mendekatinya
Dor!
"Aach!". Kris langsung berteriak dan terkapar dengan kaki berlumuran darah.
"Kris!". Fauzi yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan berteriak memanggil Kris lalu berlari kehadapannya.
"Aaccchhh kakiku!". Kris terus berteriak sambil meronta dan memegangi sebelah kakinya yang sakit.
Kenzie berjalan dengan gagahnya kehadapan Kris, dia berdiri dihadapan Kris dengan sikap yang dingin.
"Kamu! Berani-beraninya kamu melukaiku. Aku akan menuntutmu.. Aaahhhh". Kris terus saja bicara meskipun sambil meringis kesakitan.
"Menuntutku? Atas tuduhan apa? Kepemilikan senjata api? Upaya pembunuhan... atau tindak kekesaran? Silahkan coba saja karena itu tidak akan bisa kamu lakukan padaku. Aku sudah memiliki izin resmi. Dan upaya pembunuhan atau kekerasan... aku hanya membela diri karena kamu lebih dulu mengancamku. Buktinya sudah ada pada botol yang kamu gunakan tadi dan kamera CCTV yang ada disini". Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh. Sesekali terlihat senyum mencibir diwajahnya.
"Dasar tidak punya perasaan!". Kris tidak berhenti memaki Kenzie.
Kenzie berjongkok dan menyeringai
"Aku ini seorang pebisnis dengan saingan dimana-mana, jika terlalu mengandalkan perasaan tanpa mengandalkan logika, maka aku bisa kalah dalam pertarunganku. Perasaanku hanya untuk keluargaku saja, dan logika ku untuk bisnis. Kamu sudah mengganggu keluargaku, maka kamu harus terima konsekuensi karena telah menguji batas kesabaranku!", ujar Kenzie dengan seringai tipis dibibirnya.
"Ayo Mih, ayo Sayang! Kita pergi dari sini sekarang juga. Tidak perlu mengurusi mereka yang tidak penting"
__ADS_1