Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Belanja Di Mall


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kantor sipil. Dara dan Kenzie akhirnya tiba di mall. Mereka langsung berkeliling untuk mencari apa yang dibutuhkan Dara.


"Kita mau kemana dulu, Pak? Eh Kak". Dara meralat panggilannya pada Kenzie karena masih belum terbiasa.


"Kita langsung ke butik saja", ujar Kenzie yang sejak awal menggandeng tangan Dara.


"Iya" Dara mengangguk sambil berjalan mengikuti Kenzie, sesekali dia menoleh ke sekelilingnya dan memperhatikan tatapan para yang menoleh kearah mereka.


"Apa para gadis memang selalu memandanginya seperti itu?" gumam Dara sambil menoleh kesana kemari.


Kenzie yang dapat mendengar gumaman sang istri tersenyum sambil berbisik ditelinganya.


"Tidak perlu khawatir tentang itu. Meskipun mereka terus memandangiku, tapi yang ingin aku pandang hanya kamu".


Seketika wajah Dara berubah menjadi merah. Dia menundukkan kepalanya karena malu pada Kenzie.


"Selamat datang". Pegawai butik menyambut Kenzie dan Dara begitu mereka masuk. Kenzie hanya menganggukkan kepala menanggapi sapaan gadis pegawai butik itu.


"Pilihlah pakaian yang sesuai denganmu, lalu cobalah. Aku ingin melihat apakah cocok atau tidak. Tolong bantu dia memilih pakaian yang cocok untuknya". Kenzie bicara pada Dara lalu beralih pada pegawai butik yang mendampingi mereka.


"Baik, Pak. Silahkan kesebelah sini, Nona". Dara mengangguk saat pegawai butik menuntun jalannya dan mengikuti dari belakang. Kenzie pun menunggu Dara sambil melihat-lihat barang lain.


Drrt drrt drrt


Saat dia sedang melihat tas wanita, tiba-tiba ponselnya berdering. Kenzie merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya. Dia sedikit mengeluh saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Haah … kenapa Noey harus menghubungiku sekarang?", gumam Kenzie lalu menerima panggilannya


"Halo. Ada apa?", tanya Zie dengan nada bicara yang sedikit sinis.


"Halo. Ada apa dengan nada bicaramu? Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan". Noey bertanya sambil mengerutkan dahi mendengar nada bicara Kenzie yang sinis padanya.


"Tidak ada. Untuk apa kamu mengganggu waktuku dengan Dara? Aku sedang melakukan hal yang penting dengannya". Kenzie masih bicara dengan nada yang sinis pada Noey.


"Jadi itu alasanny? Aku hanya ingin memberitahu perkembangan mall milik Nasya Dermawan. Saat ini dia sedang mengalami masalah dengan toko yang ada didalamnya. Bukannya akan bagus jika kita membuka pendaftaran toko untuk gedung yang akan dijadikan mall sekarang? Mereka bisa aja beralih pada kita". Noey bicara dengan sikap yang tenang.

__ADS_1


"Kamu benar, tapi lakukan secara rahasia. Biarkan ini jadi kejutan untuk Nasya Darmawan". Kenzie bicara dengan seringai tipis dibibirnya.


"Ya, aku mengerti". Noey dan Kenzie pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.


Tak berselang lama, Dara keluar dengan mencoba baju yang dipilihnya.


"Bagaimana dengan ini?".


Kenzie yang baru saja selesai menelepon Noey langsung memasukkan ponselnya ke saku dan melihat penampilan Dara.


"Cantik. Bagaimana dengan yang lainnya?".


Dara terkejut setelah mendengar pertanyaan Kenzie.


"Memangnya kita akan beli berapa banyak pakaian?", tanya Dara yang ingin memastikan terlebih dahulu sebelum mencoba baju yang lain.


"Aku ingin beli 1 untuk setiap model pakaian yang ada ditoko ini".


"Apa?!".


"Kak Zie. Apa kamu yakin? Toko ini sangat luas, dan pakaiannya juga sangat banyak. Jika 1 pakaian untuk setiap modelnya, sepertinya …".


Dara bicara dengan ragu-ragu sambil menoleh kesana kemari.


"Tidak papa. Kamu memerlukan pakaian untuk dipakai setiap harinya, jadi kurasa ini tidak akan sia-sia". Kenzie bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.


"Tolong siapkan yang aku minta sesuai dengan ukuran badan istriku, sekalian dengan notanya. Nanti tinggal kalian kirim barangnya ke alamat ini".


"Baik, Pak. Permisi".


Kenzie langsung memberikan perintah pada pegawai toko sebelum sang istri kembali protes.


"Apa kamu yakin kalau ini tidak berlebihan? Dengan baju sebanyak ini sepertinya aku tidak perlu mencuci pakaian yang aku pakai dan bisa langsung membuangnya begitu saja". Dara terlihat sedikit berat hati dengan apa yang dibelikan Kenzie untuknya.


"Tentu saja jika kamu menginginkan hal itu kamu bisa melakukannya. Bahkan jika kamu meminta mall ini sekalipun, aku bisa memberikannya untukmu"

__ADS_1


"Tidak tidak. Kamu tidak perlu sampai membeli mall ini juga. Baju ini saja sudah cukup untukku". Dara langsung menolak tawaran Kenzie sebelum dia benar-benar melakukannya. Bahkan Dara sampai menggerakkan kedua tangannya dengan cepat disertai gelengan kepala secara bersamaan.


"Ya sudah. Jika kamu tidak menginginkan mall untuk sekarang, maka aku bisa menyimpannya untukmu nanti". Kenzie bicara dengan santainya sampai membuat Dara kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapannya.


"Sekarang kita mau kemana lagi?", tanya Kenzie setelah pegawai butik menyelesaikan pembayarannya.


"Emm... Entahlah, aku tidak tahu. Terserah kamu saja". Dara mengangkat kedua bahunya bersamaan disertai bibir yang mengerucut saat dia tidak tahu kemana tujuan mereka.


"Bagaimana kalau kita jalan kesana dulu?". Kenzie bertanya sambil menunjuk ke salah satu arah, namun Dara tidak menanggapinya.


"Ra?".


Menyadari sang istri diam saja, Kenzie pun menoleh pada sang istri. Dia memperhatikan mata sang istri yang penuh dengan kemarahan. Kenzie pun mengikuti arah tatapan Dara. Disebuah toko pakaian pengantin tidak jauh darisana, dia melihat Nasya dan Lucky sedang melihat-lihat gaun pengantin. Kenzie pun mengerti dengan tatapan kebencian sang istri. Dia menggenggam tangan sang istri dengan sedikit erat dan membuatnya sadar akan keberadaannya.


"Tenanglah. Kita akan buat mereka membayar semuanya secara perlahan. Mereka akan berlutut dihadapanmu dan menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan padamu", ujar Kenzie dengan sikap yang dingin.


"Kak Zie … kamu tidak melarangku?", tanya Dara dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa aku melarangmu? Justru aku akan membantumu mendapatkan keadilan. Dan untuk itu, kita harus membuat mereka saling menikam satu sama lain. Dengan begitu kita tidak perlu melumuri tangan kita dengan darah mereka". Kenzie bicara dengan senyum diwajahnya yang justru terlihat menyeramkan.


"Apa yang Kakak rencanakan? Tunggu, aku melihat iklan keuangan, apa Kakak yang membuat perusahaan Darmawan mengalami penurunan? Saat ini mereka sedang mengalami masalah ekonomi dan bisa bangkrut dalam sekejap kan?". Dara menatap Kenzie dengan tatapan curiga.


"Tidak perlu terkejut begitu. Mereka tidak akan bangkrut dengan mudah. Kita akan buat mereka mempertaruhkan semuanya dulu. Jadi jika mereka bangkrut, mereka juga akan kehilangan semuanya. Rumah, perusahaan, dan semua aset yang mereka miliki", ujar Kenzie dengan sikap yang tenang.


"Tapi mereka mempunyai keluarga Lucky dan juga keluarga tante Dahlia yang bisa membantu menopang keuangan disaat kesulitan. Terlebih lagi ayahnya Nasya adalah seorang anggota dewan. Aku rasa mereka bisa mengatasi masalah keuangan dengan mudah"


"Kalau begitu kita tidak punya pilihan lagi. Mereka juga harus hancur agar tidak ada yang bisa membantu keluarga Darmawan lagi"


"Benarkah? Kakak mau melakukan itu untukku?". Dara menatap Kenzie dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja. Apalagi sekarang ini kamu telah menjadi istriku. Akan kulakukan apa saja untukmu. Bahkan jika aku harus memetik bintang, aku akan mencarilan cara untuk mendapatkannya". Dara tersenyum mendengar ucapan Kenzie.


"Aku tahu kalau Kak Zie ramah dan hangat, tapi aku tidak tahu kalau Kak Zie ternyata juga seorang perayu yang baik. Kurasa aku sekarang mengerti kenapa para gadis sangat mengagumi Kak Zie"


"Terima kasih. Kurasa … itu pujian yang berharga dari istriku"

__ADS_1


__ADS_2