Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Kegundahan Lucky


__ADS_3

"Aku memiliki sesuatu yang bagus untuk dikatakan padamu". Sita sedang bicara pada Dara melalui panggilan telepon.


"Ada apa? Sepertinya kamu punya berita bagus?", tanya Dara dengan senyum yang tipis.


"Aku mengikuti ayah Nasya seperti yang kamu minta, dan apa kamu tahu apa yang telah aku temukan?"


"Apa itu?". Dara mulai penasaran pada apa yang akan dicerikan Sita karena dia sangat bersemangat.


"Aku melihatnya menemui seorang wanita dan anak kecil. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Aku akan kirimkan padamu foto dan videonya". Sita terdengar sangat antusias saat dia bercerita pada Dara.


"Benarkah? Kamu yakin malau mereka satu keluarga?". Dara kembali bertanya untuk memastikan cerita Sita.


"Tentu saja. Aku juga sudah mencari informasi tentang wanita itu. Dan itu terbukti benar kalau wanita itu memanglah istri dari Septian Darmawan". Sita menunjukkan seringai tipis saat dia bicara pada Dara.


"Itu artinya om Septian telah membohongi tante Delia selama bertahun-tahun? Sangat disayangkan karena tante Delia perempuan yang baik, tapi untuk kebaikannya aku harus memberitahukan kebenaran padanya meskipun itu menyakitkan". Dara pun menanggapi cerita Sita dengan nada mencibir.


"Kalau begitu aku tutup dulu. Aku akan menghubungimu lagi jika mendapatkan sesuatu yang menarik lagi", ujar Sita sebelum mengakhiri telepon diantara mereka.


"Ya, terima kasih. Sampai jumpa". Sita dan Dara pun mengakhiri telepon.


"Sayang, apa kamu sudah siap untuk pulang?".


"Ya ampun. Kamu mengejutkanku saja!". Dara sangat terkejut hingga berjingkut jetika Kenize tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Kenapa kamu sampai panik begitu? Sepertinya aku tidak berjalan mengendap kemari?". Kenzie bicara dengan senyum menggoda dibibirnya.


"Pak Kenzie, menurut anda berjalan tanpa suara dan mengendap itu apa bedanya?". Dara bertanya pada Kenzie dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Hahaha. Maafkan aku. Lain kali aku akan mengeluarkan suara saat berjalan kearahmu. Apa pekerjaanmu sudah selesai? Ayo kita pulang sekarang!". Kenzie terbahak melihat Dara yang menunjukkan wajah imutnya.


"Kamu turun duluan saja. Aku akan membereskan ini terlebih dahulu". Dara menanggapi Kenzie sambil menundukkan kepala dan menatap dokumen yang tergeletak diatas mejanya.


Kenzie pun ikut melihat meja Dara yang masih berantakan.


"Kalau begitu aku tunggu dipertigaan jalan seperti tadi pagi. Jangan terlalu lama", ujar Kenzie dengan seny dibibirnya.


"Baiklah. Aku akan membereskannya dengan cepat". Dara pun menanggapi Kenzie dengan senyum lembut dibibirnya. Dia masih terus menatap punggung Kenzie yang semakin menjauh sebelum mulai membereskan.


"Aah Dara … kebaikan apa yang kamu lakukan dikehidupan sebelumnya sampai kamu mendapatkan suami seperti dia", gumam Dara sambil merapikan barang-barang miliknya.


...****************...


Nasya mulai menjual saham miliknya meskipun dengan harga yang rendah. Akibatnya dia harus meminjam sebagian uang ke bank dengan jaminan mall untuk menutupi kekurangannya. Hal itu tentu saja telah didengar oleh bu Melati.


"Benar, Nenek. Aku tidak punya pilihan lain lagi. Para pemilik toko di mall kita mulai pergi karena toko semakin sepi. Biaya yang harus dikeluarkan pun semakin besar. Jika menaikkan sewa lagi, semua pemilik toko bisa semakin menjauh. Karena itu aku menjual sahamku untuk menutupi biaya sewa, itu juga masih kurang, jadi aku meminjam sebagian lagi dari bank. Setelah ini kita bisa fokus untuk menaikkan jumlah pengunjung". Nasya menjelaskan pada sang nenek mengenai alasan dari keputusan yang dia ambil.


"Apa kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik? Jika pengunjung mall masih tetap sepi maka semua yang kamu lakukan akan sia-sia. Mall kita bisa disita oleh bank jika sampai tidak dapat mengembalikan pinjaman sesuai dengan kesepakatan". Bu Melati terlihat khawatir saat dia menjelaskan pada Nasya konsekuensi dari tindakannya.


"Aku tahu. Aku sudah mempertimbangkan itu, Nek. Saat ini prioritas kita adalah menarik pengunjung sebanyak-benyaknya dan menaikkan kembali tingkat pembelian mereka", ujar Nasya dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, jika memang itu sudah kamu pertimbangkan dengan baik. Nenek harap kamu tidak salah dalam mengambil keputusan, karena saat ini perusahaan juga sedang tidak stabil. Nenek tidak mau kalau sampai harus kehilangan mall juga".


"Aku tahu, Nek. Nenek tenang saja dan serahkan semuanya padaku". Bu Melati menganggukkan kepala memyetujui pemikiran cucunya.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu, Lucky sedang berada di rumahnya setelah pulang bekerja.


"Apa yang sedang kamu lakukan?", tanya sang ibu pada Lucky yang sedang duduk disofa sambil memegang tablet ditangannya.


"Tidak ada Mah. Hanya melihat beberapa pekerjaan saja. Ada apa?". Lucky pun kembali bertanya pada sang ibu karena sepertinya ada sesuatu yang ingin ditanyakan padanya.


"Tidak ada. Mama hanya ingin bertanya padamu mengenai percepatan tanggal pernikahan. Bagaimana menurutmu?". Ibu Lucky duduk tidak jauh darinya dan bicara dengan lembut.


"Entahlah, Mah. Untuk saat ini aku sama sekali tidak memikirkan pernikahan. Aku hanya ingin fokus dulu pada pekerjaanku". Lucky yang sepertinya sedang malas, menanggapi sang ibu dengan acuh tak acuh.


"Kenapa begitu? Kamu bisa tetap memikirkan pekerjaan setelah menikah. Lagipula perusahaan kita baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang perusahaan". Sang ibu berusaha meyakinkan Lucky untuk segera menikahi Nasya.


"Aku tidak yakin, tapi jika memang bisa … aku ingin menunda pernikahanku dengan Nasya". Lucky bicara pada sang ibu dengan sedikit ragu.


"Apa? Menunda pernikahan? Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?". Ibu Lucky yang terkejut langsung mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus pada sang putra.


"Iya Mah. Aku rasa untuk saat ini itu adalah keputusan yang baik. Entah kenapa aku merasa hubunganku dengan Nasya akhir-akhir ini terasa hambar. Banyak hal yang tidak aku mengerti selama aku bersama Nasya. Akhir-akhir ini Nasya selalu memaksakan kehendaknya padaku. Dia memintaku melakukan semua yang dia inginkan. Bahkan dia selalu membandingkan antara dirinya dan pekerjaanku mana yang lebih penting. Sedangkan saat aku bersama Dara dulu … Dia selalu mendukungku dan menjadikan pekerjaanku sebagai yang utama". Lucky bicara dengan raut wajah sedih.


"Nak, kamu sudah lama memilih Nasya daripada Dara. Kami tidak pernah memaksamu untuk mengambil keputisan itu. Lagipula … sekarang Dara sudah tidak ada. Kamu tidak bisa lagi menyesali keputusan yang sudah kamu ambil". Ibu Lucky bicara dengan tenang dan penuh wibawa. Dia terlihat sangat bijak saat menasehati putranya.


"Mama benar. Aku sendiri yang meninggalkan Dara untuk menjalin hubungan dengan Nasya. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Masalah pernikahan bisa kalian atur sesuai keinginan kalian". Lucky pun tampak menyesal dan muram saat dia membicarakan pernikahan.


"Kalau begitu Mama akan membicarakan masalah ini dengan keluarga Nasya. Mama harap kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusanmu". Ibu Lucky beranjak pergi setelah dia bicara


"Ma, seandainya Dara masih hidup … apa Mama akan mengizinkanku untuk bersama dengannya?", tanya Lucky pada sang ibu.


Ibu Lucky yang menghentikan langkahnya dan menatap putranya yang sedih, menanggapi dengan sikap yang tenang.

__ADS_1


"Mama akan selalu mendukung kebahagiaanmu, tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa yang kamu katakan tidak mungkin jadi kenyataan. Mama harap kamu melupakan masa lalu dan menatap masa depan"


__ADS_2