Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Pertemuan Dengan Delia


__ADS_3

Kenzie langsung membawa Dara pulang kerumah setelah dari rumah sakit. Dia tidak membawa Dara kembali ke acara gathering.


"Kenapa kita tidak kembali keacara gathering saja? Aku ingin lihat apa saja yanlo7g terjadi disana". Dara bertanya pada Kenzie saat dia masih dalam gendongan sang suami. Kenzie tidak membiarkan Dara berjalan kaki setelah dari rumah sakit.


"Apa pantingnya kembali ke acara itu? Akan lebih baik jika kamu istirahat saja dirumah. Kamu bisa kembali bertemu mereka saat dikantor nanti". Kenzie bicara dengan sangat lembut. Dia juga meletakkan Dara diatas sofa dengan sangat hati-hati.


"Hanya ingin melihat kegiatan mereka dan juga … ingin melihat reaksi mereka yang meninggalkanku tanpa rasa keacara sama sekali". Dara sedikit tersenyum saat dia bicara.


"Tidak perlu hiraukan mereka. Kamu bisa bermain dengan mereka saat ada kesempatan, atau … buat kesempatan sendiri?". Kenzie duduk disamping Dara dan bicara dengan lembut sambil tersenyum manis padanya.


"Ya, aku akan pertimbangkan saranmu itu".


Tring...


Saat Dara dan Kenzie sedang bicara berdua, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya Kenzie. Dia langsung merogoh ponsel didalam saku jasnya.


Kenzie mengernyitkan dahi kemudian tersenyum saat membaca pesan yang diterimanya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat senang sekali membaca pesan itu?". Dara menatap Kenzie dengan raut wajah yang bingung karena sang suami tiba-tiba tersenyum. Diapun tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada sang suami.


"Sepertinya kita akan mendapat bantuan besar untuk menjatuhkan keluarga Darmawan".


Dara terlihat semakin bingung setelah mendengar jawaban Kenzie. Itu terlihat jelas dari kedua alisnya yang berkerut.


"Apa maksudnya?".


"Aku mendapatkan pesan dari seseorang. Dia bilang kalau dia akan membantuku menjatuhkan keluarga Darmawan untuk membayar penderitaan yang kamu alami selama dirumah itu". Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.


"Siapa? Memangnya ada lagi yang ingin menjatuhkan keluarga itu selain aku?". Dara memicingkan mata tak percaya mendengar ucapan Kenzie.


"Ada. Kita akan menemuinya besok". Kenzie tidak memberitahu pada Dara siapa orangnya dan hanya tersenyum sambil terua menatapnya.


...****************...


Keesokan harinya disebuah restoran.

__ADS_1


Delia dan Bella sudah tiba direstoran dan memesan minuman sambil menunggu Kenzie datang.


"Bu, apa anda benar-benar yakin untuk bekerja sama dengan pak Kenzie? Anda tahu sendiri bagaimana keluarga itu. Jika anda terlibat dengannya …"


"Tidak perlu khawatir. Selama kita tidak membuat masalah dengan mereka, mereka tidak akan mengganggu kita", ujar Delia dengan senyum lembut dibibirnya.


Tak berapa lama dari arah pintu terlihat Kenzie datang bersama Dara. Mereka langsung menghampiri ke meja Delia.


"Maaf karena saya datang terlambat. Anda pasti sudah menunggu lama ya?". Kenzie langsung menyapa Delia dengan senyum tipis dan sikap yang tenang.


"Oh. Tidak papa. Kami juga belum lama tiba disini". Delia pun menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Langsung saja pada intinya. Kenapa anda bilang ingin membantu saya menghancurkan keluarga Darmawan? Padahal semua orang sangat tahu kalau anda adalah bagian dari keluarga itu". Kenzie langsung bertanya pada Delia tanpa basa basi. Dia terlihat dingin dengan sikap acuh tak acuh.


"Karena masalah pribadi, saya sedang mengajukan gugatan cerai dengan suami saya. Sudah lama saya berada dirumah itu dan membantu mengelola perusahaan dan keuangan mereka. Daripada melihat wanita lain menggantikan saya dan mengambil alih semuanya, lebih baik saya hancurkan keluarga itu saja". Delia bicara dengan sikap yang dingin.


"Sepertinya anda sudah tahu mengenai perselingkuhan suami anda? Mau pesan apa, sayang?". Kenzie bertanya pada Delia dengan seringai tipis dibibirnya, sambil menunggu tanggapan Delia, dia juga bertanya pada Dara yang hanya diam saja dan mendengarkan percakapan Delia dan Kenzie.


"Cukup pesankan latte saja", ujar Dara dengan lembut.


"Bagaimana anda bisa tahu kalau suami saya …". Delia menggantungkan perkataannya karena ragu.


"Itu bukan hal yang sulit. Sangat mudah mendapatkan informasi seperti itu". Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Lalu … apa yang akan anda lakukan pada keluarga itu?", tanya Delia penasaran.


"Aku sudah punya rencana sendiri. Kamu bilang kalau kamu ingin membantuku, apa yang kamu miliki untuk menjatuhkan keluarga itu?". Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin.


"Itu … yang merencanakan pembunuhan Dara … adalah putriku, Nasya".


Kenzie dan Dara saling menatap satu sama lain mendengar ucapan Delia.


"Apa kamu punya bukti kalau Nasya yang menyebabkan kematian Dara?". Kenzie bertanya dengan raut wajah serius.


"Saya memang tidak punya bukti, tapi saya pernah mendengar saat Nasya bicara pada bu Melati dan mengatakan kalau gadis rendahan itu tidak akan pernah mengganggu lagi. Dan Nasya menggunakan panggilan itu hanya untuk Dara saja", ujar bu Delia menjelaskan.

__ADS_1


Dara menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca mendengar ucapan Delia. Kedua tangannya mengepal keras hingga gemetar mengingat kembali saat kecelakaan itu terjadi.


Kenzie menyadari sikap sang istri yang berbeda. Dia pun langsung memegang sebelah tangan sang istri tanpa sepengetahuan Delia dan Bella.


"Dengan anda mengatakan ini pada saya, apa anda tidak khawatir pada Nasya? Dia adalah putri anda dan bu Melati adalah mertua anda". Kenzie memicingkan mata dan bertanya dengan sikap yang dingin.


"Akhir-akhir ini saya merasa bersalah pada Dara. Sejak orang tuanya meninggal … dia hidup menderita. Saya tidak pernah membantunya karena tidak bisa menentang mertua saya. Tapi saya memiliki beberapa persen saham perusahaan atas nama Dara tanpa sepengetahuan mertua saya. Saya juga sering kali mengingatkan Nasya agar tidak berlebihan, tapi sepertinya itu sama sekali tidak berguna". Delia terlihat bersedih saat dia menceritakan tentang Dara.


Darapun terus menatap Delia dengan raut wajah kasihan. Dia yang sejak tadi diam saja akhirnya mulai bicara.


"Kenapa selama ini tante tidak pernah mengatakan apapun padaku? Aku tahu tante selalu memperhatikanku secara diam-diam, tapi tante sama sekali tidak pernah menunjukkan perhatian padaku secara langsung".


Delia menatap Dara dengan tatapan heran. Dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Dara karena wajahnya berbeda.


"Anda siapa? Apa kita saling mengenal?", tanya Delia dengan dahi berkerut.


Dara kembali terdiam. Sesaat dia merasa emosi mendengar cerita Delia. Kini dia bingung, apa harus memberitahu Delia siapa dia sebenarnya atau kembali bersikap seperti orang lain yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Kenzie pun mengerti betul dengan apa yang dirasakan oleh Dara. Dia kembali menggenggam tangan sang istri disertai senyum lembut dibibirnya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kamu bisa melakukan apa saja sesuai dengan keinginanmu. Ada aku yang akan selalu mendukungmu", ujar Kenzie menengkan Dara.


Dara kembali menatap Delia dengan tataan penuh tekad.


"Apa tante sama sekali tidak mengenalku? Bukannya sudah bertahu-tahun kita tinggal bersama?"


Delia semakin bingung dan tidak mengerti.


"Sebenarnya siapa kamu? Sejak kapan kita tinggal bersama?"


"Sejak kedua orang tuaku meninggal. Nenek melati, dan keluarga tante tiba-tiba pindah kerumahku dengan alasan mengkhawatirkan seorang gadis kecil. Perlahan kalian mulai mengambil alih semua milikku atas nama waliku. Setelah menguasai semuanya, kalian juga membuangku begitu saja". Dara bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.


"Katakan padaku! Sebenarnya siapa kamu?", tanya Delia yang merasa terintimidasi dengan sorot mata Dara.


"Andara Prianka Darmawan"

__ADS_1


"Hah? Apa?"


__ADS_2