
Cerita ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena ini semua hanya halusinasi penulis abal-abal yang lagi dipusingkan oleh tugas PKM, RPP, Program Tahunan, banyak deh.
Jika ada yang merasa tersinggung, berarti kamu baperan sistah. Overthinking teroos.
Nama, tempat, kejadian, kehancuran, kesedihan, hanya buatan penulis musiman.
...🐣...
“Suatu hari kalau kamu kangen sama Mas, kamu main gitar dan nyanyiin lagu ini.”
“Kangen? Untuk apa, bukannya Mas akan selalu ada di samping Ae?”
Mas Buana tersenyum, “Mas maunya juga gitu, tapi, namanya kehidupan nggak tau kapan harus berpisah atau bertemu kembali.”
Dengan sepontan aku bertanya, “Mas mau pergi ninggalin Ae?”
Saat Mas Buana menjawab, telingaku tidak bisa mendengar ucapannya. Kresek, kreseekk.
Teng Teng Teng Teng.
"Kereta Argo Lawu, dari Stasiun Tugu telah tiba di tujuan akhir, Stasiun Senen."
Otomatis mataku langsung terbuka, leherku terasa sakit, ternyata dari tadi aku tertidur dan menyender ke jendela kereta. Ternyata momen itu muncul lagi di dalam mimpi dan aku ingat kok jawaban dia.
“Mas gak mungkin ninggalin kamu.”
Tapi dia bohong.
"Sekali lagi. Kereta Argo Lawu, dari Stasiun Tugu telah tiba di tujuan akhir, Stasiun Senen." Begitu lah ucap seseorang dari speaker yang tersebar di setiap sudut stasiun.
"Terima kasih telah menggunakan layanan Kereta Api Indonesia dan sampai bertemu di perjalanan berikutnya.”
Aku menghirup dalam udara di Stasiun Senen, betapa bahagianya akhirnya aku dapat kembali menghirup oksigen di sini, tempat kelahiran ku. Ya, walaupun banyak polusinya.
Bagaimana pun keadaannya, aku masih mencintai salah satu dari penduduk Jakarta, mungkin. Kalau memang berjodoh.
Kuberikan Kartu Pelajar kepada petugas stasiun, bahwa benar aku adalah penumpang yang sah. Aneh memang, tadi di dalam kereta tidak ada Masinis untuk memeriksa kembali Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga dan tiket.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, huh kangen sekali keadaan ramai seperti ini. Eh, tapi kok lama banget cek Kartu Pelajarnya nya?
"Mas, cek Kartu Pelajar nya. Jangan malah cek wajah saya!" Aku sedikit menegur petugas itu. Walau bagaimanapun, aku risih menjadi pusat pandangan pria.
"Eh, maaf, Kak." Aku lihat petugas itu sedikit gugup karena tertangkap basah memandangi wajah ku cukup lama, padahal di belakang ku masih cukup banyak penumpang lain mengantri.
"Ini, Kak. Terima kasih."
"Terima kasih kembali, Mas." Jawab ku sambil tersenyum lebar, aku tidak marah padanya, hanya menegur saja dan perasaan ku hari ini sangat, sangat, sangat baik!
Setelah Petugas Stasiun mengembalikan Kartu Pelajar atas nama ku, Aeera Barsha. Seperti yang kalian baca, aku belum cukup umur untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk. Tapi anehnya, banyak lelaki dewasa seperti petugas tadi yang selalu memandangi wajah ku sampai melongo, alias apa ya, bengong mungkin.
Banyak yang bilang, wajahku sempurna. Ah, itu hanya alibi buaya darat. Tapi teman sebayaku bilang, wajahku sudah cukup dewasa untuk seumuran ku. Ya, secara tidak langsung mereka bilang mukaku boros. Awas saja!
Aku keluar dari gedung stasiun, di ruangan terbuka ini aku menunggu seseorang untuk menjemput. Jangan berpikir itu pacarku, salah besar. Aku belum laku, menyedihkan.
Sambil menunggu jemputan datang, ku putuskan untuk ngemil apa pun yang ada di dalam tas ku. Aku selalu tidak napsu makan jika dalam perjalanan, baik darat, laut, maupun udara. Sambil mengunyah, aku memutuskan menunduk karena risih dan tidak percaya diri kala sebagian pria memandangi ku terus menerus.
Padahal kemana saja aku selalu mengenakan baju seadanya dan topi, tujuan ku untuk sedikit menutupi wajah dari mereka yang selalu melihat ku. Bahkan beberapa dari pasangan mereka tidak jarang berdecak dan melirik tajam ke arah ku.
Seperti halnya sekarang, mungkin mereka pasangan muda. Lelaki itu terus memandang ku, seperti menjelajah senti demi senti wajahku. Kenapa aku tau? Tadi aku tidak sengaja memergokinya, dan wanita di sebelahnya sedikit mendorong bahu laki-laki itu, tak lupa matanya melirik ku penuh amarah. Seakan berbicara, "cantik lo kayak gitu? Dasar gatel!"
Aku memutuskan untuk semakin menunduk, tak mau lagi mendapatkan lirikan dan sumpah serapah dari wanita yang pasangannya memiliki mata keranjang. Kalau aku jadi mbak-mbak itu, sudah ku putuskan hubungan dengan lelaki yang pandangannya tidak sopan. Aku berpikir, mereka baru melihat ku saja seperti itu. Gimana kalau melihat Mbak Caeera? Bisa mimisan kali, ya?
"Ae!" Seperti ada yang memanggil ku, otomatis aku kembali mengangkat wajah dan mengedarkan pandangan.
"Mbak Humi!" Aku spontan menyapa balik kala melihat Mbak pertamaku melambaikan tangan ke arah sini.
__ADS_1
Aku segera berjalan ke arahnya begitupun dia ke arah ku. Senyumanku semakin mengembang dan semakin menambah kecantikan wajahku. Kata orang sih, aku kalau tertawa atau senyum lepas jadi tambah susah untuk dipalingkan.
Kami saling peluk, meluapkan rasa rindu yang sejak lama tersimpan.
"Ughh, kangen banget sama Mbak Humeera!" Ucap ku hampir mengeluarkan air mata. Tapi hal ini cukup lebay menurutku.
"Aku juga kangen pakai banget, Dek." Jawab Mbak Humeera sambil mengelus punggungku, perlahan pelukannya mengendur dan dia mengecup keningku.
"Mamah nggak ikut jemput aku tah?" Tanya ku celingukan ke arah belakang Mbak Humeera.
"Nihil," Jawab Mbak Humeera sambil merentangkan tangannya, tanda Mamah memang tidak ikut menjemput ku.
"Baik lah." Ucapku sedikit lemas, aku sungguh kangen Mamah.
"Kamu sehat kan, Ae?" Basa-basi Mbak Humeera sambil membantuku membawa satu tas tentengan.
"Seperti yang kau lihat." Jawabku, apakah aku terlihat kurang baik? Padahal jawaban atas pertanyaan nya sudah dia lihat dari tadi.
"Hahaha. Kamu ini, dari dulu nggak bisa diajak basa-basi." Mbak Humeera sedikit tertawa dengan sifat ku yang kian lama tidak berubah.
Kami mulai berjalan menuju parkiran, sebenarnya mobil Mbak Humeera bisa langsung masuk ke jalan yang memang disediakan untuk menjemput penumpang, tapi entah kenapa dia malah memarkirkan mobil nya cukup jauh.
"Jangan tanya kenapa aku nggak langsung jemput kamu di tempat tadi."
"Kenapa?" Tanyaku, sebenarnya aku tidak begitu penasaran. Tapi ya, anggap saja basa-basi temu kangen.
"Aku udah nunggu kamu hampir dua jam, jadi parkir aja supaya bisa nunggu di dalam mobil." Aku kembali tersenyum sumringah kala mendengar jawaban Mbak Humeera.
"Peduli nya Mbak ku ini." Puji sekalian ledekan dari ku.
Kami terus berjalan sambil mengobrol, tidak sengaja aku menyenggol bahu wanita yang sedang berbincang dengan---sepertinya pasangannya.
"Im so sorry," ucap ku sambil menyatukan tangan di depan dada.
"Mbak, adik saya sudah minta maaf." Bela Mbak Humeera, tapi wanita itu nampaknya memang selalu kesal dari bawaan orok.
"Kasih tau sama Adik lo, kalau jalan lihat-lihat. Kalau buta bawa tongkat!"
Tjakepp. Eh, bukan lagi pantun ya?
Semoga mood ku tidak menjadi buruk karena wanita penuh dengan keemosian ini, sedangkan kekasihnya hanya memunggungi aku dan Mbak Humeera, seperti tidak peduli.
Lelaki macam apa itu, kekasihnya lagi malu-maluin diri sendiri bukannya dicegah malah didiamkan saja. Dasar lelaki kardus.
"Sepertinya Mbak tidak perlu terlalu kasar seperti itu." Ucap Mbak Humeera atas hinaan yang diucapkan wanita itu.
Kelihatannya wanita ini sudah dewasa dibanding umurku dan cukup cantik. Dengan rambut berwarna senja dan pakaian modern dia nampak wanita berpendidikan.
"Tapi dia yang salah, bukan gua!" Wanita itu menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.
"Udah, jangan lupain emosi kamu ke orang lain." Akhirnya suara bariton dan sedikit serak keluar dari mulut kekasih cewek rambut senja itu.
"Dari tadi bertindak kek, nggak malu cerminannya seperti ini di tempat umum." Gumam ku sambil melihat punggung lelaki itu. Entahlah dia dengar atau tidak, aku tidak perduli.
Setelah aku bergumam seperti itu, lelaki yang tengah berusaha menenangkan wanita rambut senja berhenti dari aktivitas nya.
"Permisi." Aku berjalan meninggalkan mereka, merasa tidak ada gunanya meladeni wanita berambut senja yang emosinya seperti menjelang maghrib, gelap.
Ketika aku mulai berjalan melewati kekasih wanita rambut senja, dia sempat menengok ke arahku. Tapi aku tidak peduli, pandanganku tertuju ke depan enggan melihat wanita rambut senja ataupun pasangannya. Mungkin lelaki itu mendengar gumaman ku dan merasa tersindir, tapi aku sih bodoamat lah ya.
Cukup lama aku berjalan sendiri, baru terdengar panggilan Mbak Humeera. "Ae! Kamu ini ninggalin aja, padahal Mbak lagi belain kamu tadi." Keluhnya.
"So what? Mbak lama banget susul aku." Aku balik bertanya, nampaknya dua sejoli tadi berhasil merubah perasaanku menuju kesuraman.
"Ternyata Mbak kenal sama cowoknya, jadi basa-basi dulu."
__ADS_1
"Basa-basi troos!" Kenapa Mbak Humeera bisa basa-basi sama orang nyebelin kayak gitu ya? Aku sih ogah. Keduanya sama-sama nggak jelas, yang satu emosian yang satu nggak berusaha buat meredam emosi pasangannya sama sekali.
"Tadi tuh ceritanya si cewek disuruh pulang ke kampung halaman," aku terlebih dahulu menyudahi ucapannya, aku tau arah pembicaraan itu ke mana dan aku tidak tertarik sama sekali.
"Cukup, Mbak. Aku nggak tertarik dengar cerita orang asing."
Mbak Humeera menghela napas, "huh, padahal seru loh. Siapa tau berguna buat kamu."
"Enggak akan Mbak Humeera." Ucapku semakin menambah kecepatan jalan ku.
...🐣...
Akhirnya mobil yang dikendarai Mbak Humeera dan aku tumpangi memasuki kawasan rumah kami. Rumah yang sudah tiga tahun aku rindukan, rumah dengan perpaduan antara tipe modern dan minimalis, intinya nyaman. Dengan cat dinding berwarna krem, warnya yang soft sehingga membuat tenang penunggunya.
Belum sampai garasi, mobil yang kami gunakan tiba-tiba mati mesin. Aku sedikit bingung, tidak biasanya mobil Mbak Humeera ngadat gini.
"Eh kok mati?" Mbak Humeera saja bingung, ya apalagi saya?
"Ya mana saya tahu, saya kan tidak tahu." Jawabku tidak mau ikut pusing.
"Tempe kamu tuh bukan tahu. Udah sana masuk duluan, Mamah udah nunggu kamu dari tadi."
Tak ku jawab ucapan Mbak Humeera, aku langsung bergegas membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Aku sangat merindukan Mamah, ingin memeluk dan bermanja-manja.
"Mamahh." Panggil ku kala melihat Mamah duduk di ruang tamu sambil bermain handphone.
"Aeera. Wes tekan kamu ndok?" Ucap Mamah ku terlihat bahagia, dia memegang erat kedua tangan ku.
"Seperti yang Mamah lihat." Ucapku sambil tersenyum bahagia. Huh sama halnya seperti Mbak Humeera, Mamah melontarkan pertanyaan retoris.
Mamah langsung memeluk ku sangat erat dan hangat, aku pun membalas pelukan itu.
"Kangen banget sama anak bontot Mamah." Ucap Mamah sambil mengelus punggung serta rambut ku dengan halus.
Perlahan kami melepaskan pelukan, "piye kabar Mbah mu, sehat ora?" Nah kalau bertanya seperti ini kan aku bisa menjawab, karena Mamah belum tau jawabannya.
"Mbah sehat banget, Mah. Tiap hari aku ajak jogging, jadinya sendi sehat semangat jogging. Hahaha." Jawab ku, ini benar adanya. Nenek ku sehat di kampung, aku setiap hari mengajak lari ringan agar Nenek tetap sehat dan bugar. Nenek satu-satunya teman hidup ku selama di Jogja, kalau tidak ada Nenek entahlah aku bisa betah atau tidak. Stttt, jangan bilang-bilang ya, Nenek itu galak banget sebenarnya.
Makanya Mbak Humeera dan Mbak Caeera memilih untuk sekolah di lain daerah, mereka tidak mau hidup dengan Nenek yang terkenal galak. Tapi aku bersyukur ada teman hidup di sana, awalnya aku juga takut. Tapi lama-kelamaan aku terbiasa dengan sifat Nenek yang super posesif.
"Kamu ini, jangan terlalu berat juga lari-larinya." Aku hanya mengajak nenek lari pagi mengelilingi komplek rumah satu kali padahal, dan Nenek malah bahagia karena bisa menghirup udara segar.
"Enggak, Mah."
Akhirnya aku duduk di sofa yang sudah tiga tahun tidak mencicipi bokong ku. Sedikit ku rebahkan punggung ku ke sandaran sofa. Mbak Humeera datang duduk di sebelah Mamah.
"Besok kita ke rumah Tante Edrea nggak bisa pakai mobil deh, Mah."
Loh? Mau ke rumah Tante Edrea, kok aku nggak tau?
"Lha lapo, Mbak?"
"Mobil nya ngadat Mah, ini aku aja baru mau telepon orang bengkel biar diambil." Jawab Mbak Humeera, tidak biasanya dia membiarkan mobilnya sampai rusak. Biasanya dia selalu rutin menservis barang apapun yang dia punya.
"Tumben Mbak, biasanya kamu rajin servis kan?" Pertanyaan ku keluar dari mulut.
"Bulan ini aku lupa nggak servis, hehehe. Habisnya kerjaan lagi numpuk banget." Mbak Humeera memang sudah bekerja dan dia menjadi salah satu pencari nafkah di keluarga ku, setelah Ayah pergi.
Aku hanya mengangguk, "oh iya Mah, memang kita mau ke rumah Tante Edrea?"
"Iya, katanya Tante kangen sama kamu, sekalian kamu jalan-jalan kan?"
Aku sangat antusias, dulu sebelum merantau ke Jogja aku selalu main ke rumah Tante Edrea, hubungan kami sangat dekat. Tante Edrea sempat ingin mengangkat ku sebagai anaknya, karena dia tidak memiliki anak perempuan, tapi Mamah tidak mengizinkan. Mamah mau anaknya tumbuh bersama dia. Tante Edrea wanita karir beranak satu, ya anaknya laki-laki.
"Oke siap, Bos!!" Jawab ku sangat antusias sambil tangan ku bergerak hormat.
__ADS_1