Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 9


__ADS_3

"Ae! Cepat turun, sebentar lagi Tante Edrea akan datang."


   "Cepet o, E."


   "Lo ngapain sih, Ae. Dandan juga enggak, kenapa bisa lama?"


   Teriakan dari Mamah dan kedua Mbak ku yang sudah berada di ruang tamu, sedangkan aku di kamar masih sibuk memasukkan baju dan segala perlengkapan lain ke dalam tas. Aku lupa semalem tidak menyiapkan semua ini, karena sibuk nonton bola. Setelah itu ngantuk lalu tidur.


   "Ae, ngapain sih koe sui men?"


   "Iyaa, Ae udah mau turun!"


   Aku berlari kecil keluar kamar, melihat Mamah dan Mbak Caeera sudah berkacak pinggang, sedangkan Mbak Humeera melipat tangannya di depan dada.


   Aku memutuskan untuk melempar tas ku ke lantai bawah, "awas!"


   Brugh! Setttt!


   "Ae koe wes ra waras?" Tegur Mbak Humeera.


   Mamah dan Mbak Caeera hanya melihat aku menuruni tangga seperti bermain perosotan di pegangan tangga. Memang hanya Mbak Humeera yang sedikit panik kala melihat kelakuanku, sedangkan Mamah dan Mbak Caeera sudah tidak kaget.


   "Biar cepat, Mbak." Aku menampilkan cengiran saat sudah berada di hadapan Mbak Humeera.


   "Kamu ini perempuan loh, Aeera." Keluh Mbak Humeera.


   Aku tersenyum canggung, "Iya, Mbak."


   "Sudah-sudah, ayo tunggu di luar." Ucap Mamah sambil berjalan ke luar rumah.


   Aku menyeret tas carrier yang berukuran 60 liter, untung saja tidak jebol karena tadi sudah aku lempar dari lantai dua. Mbak Humeera berjalan sambil menggandeng tanganku.


   Tidak lama kami menunggu Tante Edrea datang, Bibi akhirnya membuka gerbang rumah. Mobil yang dikendarai Mas Damar berhenti tepat di depan gerbang.


   Mereka bertiga turun dari mobil, aku lihat Mas Damar mulai mengangkat tas milik Mamah.  Aku lihat pula Mas Raksa melambaikan tangan ke arahku. Dengan sedikit ragu, aku membalas lambaian tangannya.


   "Sini gua bantu angkat koper lo, Ra." Ucap Mas Raksa sambil berjalan ke arahku. Ra? Aku menengok ke belakang, ternyata Mbak Caeera berdiri di sana. Duh, malunya.


   Saat Mas Raksa melewati ku, dia berbisik, "kamu tidak pakai jaket?" Aku yang awalnya menunduk karena malu langsung melihat lurus ke depan. Dia bertanya kepada ku?


   Beberapa detik kemudian Mas Raksa melewati ku lagi sambil mengangkat koper Mbak Caeera. Mereka berdua jalan ke arah mobil. Ku lihat hanya tas ku yang belum masuk ke dalam mobil, sedangkan mereka sudah sibuk untuk menyusun tas agar tidak memakan tempat.


   Oke lah, berarti aku harus bawa tas ku sendiri. Toh ini juga tidak berat. Aku mulai mengangkat tas ini, karena sedikit berat aku mencari posisi yang enak. Rukuk dan mengangkat-angkat tas yang sudah ada di punggung ku, sambil menarik tali agar rapat.


   "Loh, kok tasnya tiba-tiba enteng?" Aku bingung, tas ini tiba-tiba beratnya hilang lima puluh persen.


   "Turunkan, sini saya bawa ke mobil." Seketika aku langsung menegakkan tubuh. Aku melihat Mas Raksa mengangkat tas ku dari bawah.


   "Ah, lo, Mas. Udah nggak usah sok perduli sama gua." Ucapku sambil mengibaskan tangan sekilas.


    "Perempuan itu tidak boleh mengangkat barang yang terlalu berat." Petuah Mas Raksa sambil merebut tasku dengan paksa.


   Dia mengangkat tasku dan berjalan ke arah mobil, aku mengikuti langkahnya.


   "Kamu tidur cukup malam tadi?"


   "Enggak, kenapa?"


   "Perjalanan cukup lama, kenapa kamu tidak menyimpan tenaga?"


   "Mas, tenang aja. Gua dari Jogja ke Jakarta, naik kereta sendiri juga selamat kok."


   Mas Raksa tidak menjawab ucapan ku, mungkin dia pikir aku ini bawel dan selalu menjawab omongannya. Lalu Mas Raksa memasukkan tas ku ke dalam mobil.


   "Berarti yang menyetir, Damar dan Humeera?" Tanya Tante Edrea. Loh kenapa harus Mbak Humeera, kan masih ada satu laki-laki lagi?


   "Iyo, Tan."


   "Oke, posisi duduknya berarti Humeera dan Damar di depan. Tante, Mbak Dewi, dan Caeera di tengah. Raksa dan Aeera di belakang ya?"


   Aku sedikit tidak paham, kenapa aku harus di belakang bersama Mas Raksa? Seharusnya aku di belakang bersama Mbak Humeera saja.


   "Kamu atur saja, Ed." Ucap Mamah.


   "Loh, Mah. Kenapa nggak Mbak Humee saja yang duduk di belakang sama aku?"


   "Atau, atau Mbak Caeera di belakang?"


   "Aeera mau di tengah sempit-sempitan?" Mamah bertanya balik. Iya sih, aku selalu tidak mau duduk bertiga kalau di dalam mobil, karena sempit dan tidak leluasa. Apalagi ditambah pegal.


   Aku hanya bisa menggeleng, "yowes, ora usah kakehen takon."


   Tante Edrea hanya bisa tersenyum kecil, "ayo kalian berdua masuk dulu!" Perintah Tante Edrea.


   Aku memasuki mobil dan diikuti oleh Mas Raksa. Lalu Tante Edrea, Mamah, dan Mbak Caeera duduk di bangku tengah. Sedangkan sang supir dan keneknya, Mas Damar dan Mbak Humeera duduk di bangku kemudi. Aku masih penasaran, kenapa bukan Mas Raksa saja ya yang menyetir?


   Akhirnya kami memulai perjalanan, semoga hari ini tidak macet dan selamat sampai tujuan.


   Aku melirik orang yang ada di sebelahku. "Lo kenapa duduk di belakang sama gua sih, Mas?" Bisik ku, supaya yang di depan tidak mendengar perseteruan kami.


   "Loh, kamu yang kenapa duduk di sini? Dari rumah Tante juga saya sudah duduk di sini."


   "Lo tuh, harusnya duduk di depan tuh. Gantiin Mbak Humeera."


   Mas Raksa tidak lagi menjawab ucapan ku, dia memilih bermain ponsel. Aku membuang napas kasar, mengangkat kaki ke atas dan menyandarkan kepala ke belakang.


   Aku mulai di landa kebosanan, aku lirik Mas Raksa masih sibuk dengan ponselnya. Aku lihat pula Mamah, Mbak Caeera, dan Tante Edrea juga memainkan ponsel. Sedangkan Mbak Humeera dan Mas Damar sedang mengobrol ringan supaya tidak mengantuk.


   Kepala ku sandarkan pada kaca mobil, melihat keluar. Hari ini nampak sedikit lenggang, mungkin karena para pekerja sudah sampai di kantor masing-masing. Kalau lagi bosan begini, aku selalu ingat kebersamaan dengan Mas Buana.


   Jujur saja, aku masih menantikan Mas Buana kembali. Setidaknya dia memberi kabar, pasti aku akan lega kalau dia mengatakan keadaan nya baik-baik saja. Atau mungkin sudah bahagia dengan wanita lain, dengan yakin sedikit demi sedikit aku akan melupakan dia.


   Mengingat kembali masa-masa bersama dia, lagu yang sering kami nyanyikan bersama. Sampai saat ini aku enggan menyanyikan lagu itu, lagu kenang-kenangan bersama dia. Entah kenapa saat ini aku ingin sekali menyanyikan lagu itu, aku sangat bosan dan suntuk.


Suatu hari


Dikala kita duduk di tepi pantai


Dan memandang


Ombak di lautan yang kian menepi


Burung camar


Terbang bermain di deru nya air


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


   Setiap aku menyanyikan lagu itu, momen disaat kami bernyanyi bersama kembali berputar. Mas Buana selalu bermain gitar untuk mengiringi aku bernyanyi, aku sangat bangga kala dia memuji suaraku. Dia juga sangat hebat dalam bermain gitar, maka dari itu aku bersikeras untuk belajar bermain gitar.


   "Kamu bernyanyi?" Sontak aku melihat ke arah Mas Raksa, dan kembali menyandarkan kepala ke belakang, memilih untuk berhenti menyanyi.


   "Iya."

__ADS_1


   "Kenapa nyanyi nya bisik-bisik?"


   "Banyak orang, nanti keganggu."


   Mas Raksa memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana.


   "Lagu apa tadi?"


   "Rahasia."


   "Setau saya itu lagu lama, milik Iwan Fals."


   Aku tidak menjawab, semua orang juga tahu kalau lagu itu milik Iwan Fals. Kenapa dia pakai tanya segala?


   "Kamu tahu dari mana lagu lawas itu? Seingat saya, lagu itu trending saat saya umur, hm, lima belas tahun."


   "Iya, dan gua baru umur tujuh tahun."


   Mas Raksa tertawa ringan, "ternyata jarak usia kita cukup jauh, ya."


   "Hm, mungkin itu yang membuat kita tidak ditakdirkan untuk bersama." Lanjut Mas Raksa.


   Hatiku cukup tersayat saat Mas Raksa mengucapkan hal itu, menurut ku perbedaan usia tidak ada urusannya dengan jodoh atau kebersamaan.


   Aku mengangkat kepala ku, "ngomong apa sih, Mas? Yang namanya jarak usia itu nggak menentukan berjodoh atau engga." Ucapku, karena umurku dan Mas Buana sangat terpaut cukup jauh juga, malah jaraknya sama seperti aku dan Mas Raksa. Aku sangat tidak setuju dengan hal itu.


   "Alasannya?"


   "Alasannya, ya. Ya, karena—" Aku tidak bisa memberikan alasan yang relevan.


   "Apa, orang di masa lalu kamu juga usianya terpaut cukup jauh?" Aku hanya melirik Mas Raksa, mulai deh cenayang nya.


   "Enggak, enggak penting buat lo."


   "Saya juga punya teman kecil, bahkan bisa dibilang istimewa, sumber kebahagiaan." Aku mulai penasaran dan sedikit tertarik dengan ucapannya.


   Mas Raksa melanjutkan, "tapi, perbedaan usia kami cukup jauh. Selama ini kami berpisah, dan saat saya tau dia baik-baik saja, itu kebahagiaan yang nyata untuk saya."


   Mas Raksa tersenyum masam, "ya, walaupun, dia  mengenali saya saja tidak."


   Aku melihat wajahnya, kok cerita kami hampir sama ya? Aku dan Mas Buana sudah lama tidak bertemu, hanya perbedaan nya, aku belum bertemu lagi dengan Mas Buana.


   "I feel you."


   "Why?"


  Aku menatap matanya dalam, "hampir enam tahun gua nggak ketemu dia. Bahkan biasanya gua hampir putus asa, hampir tidak berharap lagi untuk dia kembali." Mas Raksa membalas tatapan mataku, dia nampak mendengarkan dengan serius.


   Ku alihkan pandangan ke depan, sungguh menatap matanya adalah hal yang membuat jantungku aktif.


   "Sebenarnya, gua cuma pengen lihat dia, memastikan dia sehat dan baik-baik saja. Kalaupun dia sudah memiliki orang yang menciptakan kebahagiaan baru, ya gua sudah berjanji akan melupakan dengan perlahan."


   Entah kesambet apa, kenapa aku bisa berbicara panjang lebar dengan Mas Raksa. Hanya karena aku terbawa suasana, dia pandai sekali memancing ku untuk lebih terbuka.


   Mas Raksa menyentuh pundak ku, aku memberanikan diri menatap matanya, "kamu pasti bisa setia, begitupun dia."


   "Penantian mu yang panjang, suatu hari nanti pasti terbalas oleh kebahagiaan, bersama dia or even without him."


   Ku telan ludah dengan susah payah, setelah itu memilih untuk membuang muka. Kebahagiaan bersama dia atau bahkan tidak bersama nya. Kalimat itu membuat hatiku sesak, harapanku besar bisa hidup bersama dengan Mas Buana. Tapi jika aku pikir, usia Mas Buana sudah sangat matang, kemungkinan dia belum memiliki sumber kebahagiaan lain sangat kecil.


  Percayalah, dari tadi kami berbicara dengan suara berbisik, agar orang yang ada di depan kami tidak mendengar itu semua. Apalagi di depanku ada Mbak Caeera, sumber kebahagiaan Mas Raksa saat ini. Aku tidak ingin Mbak Caeera berpikir yang buruk.


   "Semoga. Semoga dia saat ini sudah bahagia bersama orang lain." Balasku.


   "Tidak,"


   Aku kembali melihat Mas Raksa, "apanya yang engga?"


   "Bukan, maksud saya, kamu jangan berpikir seperti itu. Bisa jadi dia juga menunggu kamu—"


   "Sudah, Mas. Sekarang gantian cerita teman kecil lo." Aku enggan membicarakan Mas Buana lagi, hari libur ku ingin bersenang-senang, walau itu sulit. Tapi setidaknya, aku akan berusaha untuk saat ini tidak memikirkan dia lagi.


   "Nah, lo juga jangan jadi buaya. Bilang cantik sana sini, hargai kesetiaan temen lo itu."


   "Eh tapi, lo ada rasa juga sama dia?"


   Mas Raksa kembali tertawa ringan, "haha. Kamu tidak perlu tahu banyak tenang dia dan perasaan saya."


“Lagi pun, soal saya memuji wanita cantik, sekarang hanya kepada kamu, bukan?”


“Saya mengikuti ucapan kamu, hanya memuji cantik kepada wanita spesial.”


   Aku berpikir keras. Terakhir dia memuji aku cantik saat makan malam, benar yang dia ucapkan, malam itu bahkan dia memuji Mbak Caeera keren bukan cantik seperti biasanya.


Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana sebenarnya Mas Raksa ini. Aku merasa dia mendekati Mbak Caeera, tapi dia selalu menggoda ku. Dan sekarang, dia bilang kalau memiliki teman kecil yang istimewa dan sumber kebahagiaan. Dari pandangan matanya, tidak ada tanda kebohongan. Tapi, aku ragu akan kesetiaannya.


   "Lo benar, nggak penting juga buat gua." Ku lihat Mas Raksa tertawa sambil mengacak pucuk kepalaku.


...🐣...


   "Aeera, Raksa. Bangun, Nak!" Aku mendengar sayup-sayup suara Mamah.


   Perlahan mataku terbuka, melihat ke sekitar dan menyadari bahwa kepalaku telah bersandar di bahu Mas Raksa. Sontak ku tegakkan kembali kepalaku, takut kalau Mas Raksa berpikir aku mengambil kesempatan.


   "Nyenyak tidurnya?" Ucap Mas Raksa sambil tertawa mengejek.


   Aku sedikit gugup, "bi, biasa aja, tuh."


   Setelah itu Mas Raksa beranjak keluar mobil, akupun juga ikut keluar karena hanya sisa aku yang di dalam.


   Aku melihat Mas Damar sibuk mengangkat kopernya dan koper Tante Edrea. Sementara Mamah sudah masuk ke dalam Villa bersama Mbak Humeera dan Tante Edrea. Sedangkan Mbak Caeera sedang berusaha mengangkat koper miliknya sendiri.


   "Sini, gua angkatin." Ku lihat Mas Raksa mengambil alih koper milik Mbak Caeera.


   "Makasih, Rak. Lo emang nggak capek?" Mas Raksa hanya menggeleng sambil tersenyum, lalu mereka berdua jalan memasuki Villa.


   Aku sendiri sedang berusaha mengeluarkan tas dari dalam mobil, posisi tas ku terjepit di bawah kursi tengah. Ku tarik dengan sekuat tenaga agar tas ini dapat keluar.


   Naasnya, aku sampai terjatuh ke aspal dan tas ini menimpa kaki ku. Sikut ku terasa perih karena berciuman dengan aspal dan ibu jari kakiku sakit karena terkena resleting tas.


   Aku meringis, "ah, aw."


   "Are you, okay?" Tiba-tiba ada yang menolongku, laki-laki yang tidak ku kenali. Dia mengangkat tasku dan menarik tubuhku dari aspal.


   "Ah, siku kamu berdarah." Ucapnya sedikit panik sambil memegang tangan kiri ku.


   Dia tambah panik ketika melihat ibu jari kakiku sudah memar dengan warna biru gelap. "Astaga, ibu jari kaki kamu." Ucapnya sambil berjongkok dan sedikit memegangnya.


   "Ah, sakit!" Keluh ku sambil mengangkat kaki kananku itu.


   "Luka di siku kamu harus segera di basuh dengan alkohol, dan lebam di ibu jari kamu harus segera di kompres menggunakan es batu." Ucapnya sambil kembali berdiri dan menatap wajah ku dengan serius.


   "Iya, terima kasih, ya, atas bantuannya. Mas?" Aku tersenyum sambil menahan sakit di badanku.


   "Gema." Aku hanya mengangguk. Nampaknya usia Mas Gema tidak terpaut jauh denganku.


   "Sini mau aku bantu masuk ke dalam?" Tawarnya. Namun aku berpikir, Mas Gema sudah banyak menolong ku. Aku tidak mau terlihat lemah di mata siapapun.


   Aku tersenyum sejenak, "aku masih bisa berjalan kok, Mas."


   Untuk membuktikan ke dia kalau aku sanggup berjalan, aku mencoba bergerak untuk mengambil tas ku yang dari tadi tersandar ke mobil. Namun, lebam di ibu jari kakiku sungguh terasa linu. Aku hampir terhuyung ke aspal lagi.


   Untung saja Mas Gema sigap menangkap tubuhku, "saya sudah bilang, saya bantu kamu masuk ke dalam, ya?"


   Aku sedikit mengangguk sambil meringis merasakan linu di kaki dan siku. Mas Gema mulai menggenggam bahuku, dengan perlahan kami melangkahkan kaki menuju villa.


   "Aeera," panggil Mas Raksa, dia langsung melepaskan tangan Mas Gema dari bahuku.


   "Pelan-pelan, Mas, sakit." Ringisku.


   "Kamu kenapa?" Tanya Mas Raksa sambil melihat siku dan ibu jari kakiku.

__ADS_1


   "Bang, ini adiknya harus segera diobati. Sikunya takut infeksi dan ibu jarinya semakin membengkak."


   "Nah, lo siapa?"


   "Mas, dia cowok baik yang nolongin gua. Udah deh, gua capek pengen masuk." Jelasku, aku sedikit jengkel sebenarnya sama Mas Raksa. Bukannya membantuku mengeluarkan tas ini dari dalam mobil dahulu, malah meninggalkan aku sendirian.


   "Yasudah, aku permisi dulu ya, Aeera. Semoga lekas sembuh." Ucapnya sambil tersenyum.


   "Terima kasih banyak, Mas." Ucapku lagi, ku lihat dia berlari kecil, nampaknya sedang lari sore.


   "Kamu kenal sama dia?"


   "Sebelumnya enggak. Tapi barusan kenalan, dia baik walau baru bertemu."


   "Jangan lebay!" Mas Raksa sedikit menoyor kepalaku.


   Mas Raksa melihat dengan teliti luka yang ada di siku tanganku. "Kamu kenapa bisa sampai luka?"


   "Jatuh, tadi ambil tas."


   "Kamu kan bisa tunggu saya, kurangi sedikit gengsi kamu."


   "Gengsi apa sih, Mas? Orang tinggal gua yang masih di sini, masak gua nunggu lo yang belum pasti balik?"


   Mas Raksa terdiam, menatap wajahku. Namun aku langsung membuang muka, lama-lama lelaki tua ini menyebalkan sekali.


   "Kamu bisa jalan?"


   Aku enggan menjawab, kalau aku jawab bisa, tapi kaki ini ngilu sekali. Kalau aku jawab enggak, nanti aku diketawain.


Lagipula untuk apa dia bertanya segala, padahal tadi sudah melihat sendiri kalau aku sempat dituntun Mas Gema. Sungguh tidak peka.


   Mas Raksa menggendong tasku yang dari tadi tersandar ke mobil. Aku kaget ketika Mas Raksa memutuskan untuk menggendong ku seperti layaknya bayi.


   "Mas, Mas! Turunin, Aeera udah besar, bisa jalan sendiri." Aku meronta-ronta, walau kakiku terasa semakin linu, tapi aku ingin turun dari tubuh dia.


   "Kamu jangan bawel." Ucapnya dingin.


   Sesampainya di dalam Villa, Mas Raksa menurunkan badanku di atas kursi rotan.


   "Tunggu, jangan kemana-mana." Aku hanya mengangguk.


   Mas Rasa melepas tasku dari punggungnya, dia segera pergi ke dapur. Tak lama dia kembali dengan membawa perlengkapan P3K, es batu, serta kain.


   Dia duduk di sebelah ku, mengambil kapas dan menuangkan sedikit alkohol. Lalu dia menarik tanganku, sial orang ini nggak bisa halus sedikit, ya?


   Tubuhku sedikit menggeliat saat tanganku terasa sangat nyeri. "Sakit?" Pertanyaan retoris macam apa itu?


   Lalu Mas Raksa menempelkan kapas itu pada luka di siku ku. Aku sedikit kaget dan menggigit bibir bawah untuk menahan rasa perih. Juga air mataku tak bisa tertahan lagi.


   Mas Raksa melihat ku, "jangan cengeng." Dia terus membersihkan lukaku dengan kasar, tidak memperdulikan aku yang kesakitan.


Dengan susah payah aku diam menahan sakit sambil sesekali memejamkan mata dan menggigit bibir bawahku.


   Laki-laki itu membuang napas, "kalau sakit bilang, kan saya bisa memperhalus gerakan."


   Aku hanya diam menahan rasa perih, seharusnya tanpa aku mengeluh dia tahu kalau kasar pada luka itu akan mengakibatkan rasa yang teramat sakit. Jujur saja, saat ini aku sedikit jengkel dengan diri ku sendiri. Karena semakin lama perasaanku semakin tidak wajar.


   "Sekarang obat merah, tahan sedikit."


   Saat tetes demi tetes obat merah mengenai lukaku, rasanya sangat, Ah Mantap!


   Aku kembali menitikkan air mata, karena ini luapan sakit saat mulutku enggan mengeluh.


   Langkah terakhir adalah Mas Raksa menempelkan handiplast. Setelah itu dia melepaskan tanganku dari gegangamannya. Aku segera menghapus air mata dari pipiku.


   "Naikan kaki kamu ke atas bangku!" Perintahnya datar.


   "Nggak perlu, Mas. Kalau kaki gua bisa kompres sendiri." Jawabku.


   "Bagus."


   Aku segera mengangkat kaki ku ke atas bangku, lalu meraih kain dan memasukkan beberapa es batu ke dalamnya. Dengan sangat perlahan aku menempelkan kain dingin itu ke ibu jari kaki ku. Mataku mengerjap kala luka itu terasa sangat linu.


   "Yang lain kemana, Mas?" Dari tadi Villa ini nampak sepi.


   "Di atas, atur kamar." Jawabnya singkat, Mas Raksa ini lagi kenapa sih? Kok kesannya dia sangat cuek dan menjawab dengan singkat setiap pertanyaan ku. Apa efek perjalanan panjang? Tapi tadi saat bersama Mbak Caeera dia tampak baik dan masih bisa tersenyum.


   Aku hanya ber-oh-riya sambil terus mengompres jariku. Tidak memperdulikan perubahan sikap Mas Raksa. Lagipula bukan urusanku juga.


   "Tadi siapa?"


   Aku menengok ke arah Mas Raksa, "siapa?"


   Mas Raksa tidak menjawab, "oh, cowok baik bak malaikat tadi?" Aku tersenyum jail ke Mas Raksa. Biar dia kelihatan seperti malaikat jahat di mata ku, eh tapi, memang ada malaikat jahat?


   Cowok itu melirik sinis ke arahku. "Kamu lebay sekali, terbentur aspal kepala kamu?"


   Aku menggeleng, "memang dia baik, kok. Buktinya dia nolongin gua walau nggak kenal sama sekali. Bukannya ninggalin gua send—"


   "Cukup-cukup." Ucapnya memotong omonganku.


   Mas Raksa memicingkan matanya, "makanya jadi orang jangan gegabah, saya itu pasti bantu kamu. Tidak sabar sekali jadi manusia."


   Lah kok malah dia yang marah, harusnya kan Aeera yang jengkel. Huh, dasar om-om nggak jelas.


...🐣...


   Setelah tiga puluh menit mengobati luka, akhirnya aku dapat berjalan walau sedikit pincang. Aku dan Mas Raksa tadi dapat informasi dari Mas Damar, kalau kamar kami berempat digabungkan menjadi satu. Mengingat Villa ini hanya memiliki dua kamar.


   Aku berjalan menaiki tangga dengan perlahan karena lebam di kaki masih cukup terasa. Di belakang ku juga ada Mas Raksa yang berjalan mengekor sambil menggendong tasku. Kami memasuki kamar, di sana Mbak Caeera sudah rebahan di kasur. Aku lihat ada dua kasur tingkat di sebelah kanan dan kiri menempel tembok.


   "Kaki lo kenapa, Dek?" Tanya Mbak Caeera, dia langsung terduduk di atas kasur.


   "Jatuh, Mbak."


   "Ra, Aeera tidur di kasur lo dulu, deh. Kakinya masih sakit, susah naiknya." Pinta Mas Raksa setelah menaruh tasku di depan lemari.


   Mbak Caeera langsung bangkit dari kasur, "oke, oke."


   Aku memilih duduk di kasur yang tadi ditempati Mbak Caeera. "Ada-ada aja lo, lagi liburan malah sakit gini." Ucap Mbak Caeera heran.


   "Dia terpesona sama ketampanan Pria Puncak." Bisik Mas Raksa pada Mbak Caeera, namun ucapan itu sangat jelas terdengar pada telingaku.


   Julid banget sih jadi cowok!


   Mbak Caeera tersenyum jail, "wih, Aeera udah tau cowok ganteng?" Dia menurun naikkan alisnya.


   "Iya, ganteng banget!" Jawab ku, menekan semua kata yang keluar dari mulutku.


   "Udah ah, aku mau istirahat. Badanku rasanya rontok semua, tadi habis jatuh ketimpa cinta malaikat tampan." Lanjutku sambil melotot ke arah Mas Raksa.


   Aku lihat dia diam menatap wajahku, dasar aneh!


   Mbak Caeera hanya tertawa mendengar ucapanku. Aku memilih untuk merebahkan badan dan memunggungi mereka berdua.


   Aku mendengar dengan jelas perbincangan mereka berdua, karena mataku masih terbuka melihat tembok putih. Diam-diam aku menguping semua pembicaraan mereka.


   "Rak, jalan sore, yuk. Mumpung di Puncak, pasti udaranya segar banget."


   "Boleh, Ra, suntuk juga di Villa."


   "Di sini ada kebun teh, enak buat jalan santai." Ucap Mbak Caeera semangat.


   "Di dekat sini juga ada taman indah buat foto-foto. Nanti kita bisa puas foto di sana." Lanjut Mbak Caeera.


   "Ide bagus." Saut Mas Raksa.


   Aku hanya membuang napas, badanku rasanya sedikit panas mendengar ucapan dua sejoli ini. Aku memilih untuk memejamkan mata, dan entah dari kapan aku terlelap. Berharap esok hari Mas Buana kembali dalam hidupku.


...🐣...

__ADS_1


__ADS_2