
Bahkan, saat aku sudah tidak melihat wajahnya. Rasanya, perutku masih dipenuhi dengan kupu-kupu. Badanku memang sudah terbaring di kasur, namun pikiranku masih saja mengenai hal indah yang tak pernah terbayangkan akan nyata.
Siapa sangka, malam ini aku satu atap dengan Mas Raksa? Benar, dia memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Menginap semalam tidak masalah, ketimbang dia harus bermalam di jalan.
Selepas menghabiskan waktu di angkringan, kami memutuskan pulang. Karena beberapa kali Mbah menelepon ku.
Aku memandang kuda-kuda yang terbuat dari kayu jati. Bohong jika senyumanku bisa memudar dari bibir. Sesekali aku memejamkan mata, saking girangnya. Akhirnya, kami dapat kembali bersatu. Kesalahpahaman yang membuatku hampir gila, akhirnya berakhir juga.
Apa dia merasakan hal yang sama? Tidak bisa tidur dan pikirannya dipenuhi olehku?
“Aeera, lampu!” Teriak Mbah dari luar kamarku.
Aku lupa belum mematikan lampu, siapapun akan tahu kalau aku belum tidur. Segera mungkin saklar langsung ku tekan. Memiringkan badan menghadap tembok dari kamu jati, dimana di sebelah tembok terdapat Mas Raksa sedang berbaring juga.
Seakan aku ingin memeluk dia dengan waktu yang lama, supaya dia tidak bisa pergi lagi.
...🌛...
Pagi hari tiba. Entah pukul berapa aku baru bisa tidur pulas. Bersebelahan kamar dengan Mas Raksa saja cukup membuat aku salah tingkah.
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan seragam sekolah lengkap. Cukup kaget saat melihat Mas Raksa masih duduk di bangku depan televisi sedang berbincang bersama Mbah. Aku kira dia sudah kembali ke Jakarta.
“Loh, Mas? Gue kira lo udah balik ke Jakarta.” Ucapku sambil menaruh handuk di cantolan sebelah pintu kamar.
“Kamu ini loh, ndak sopan bicara sama yang lebih tua.” Tegur Mbah.
Aku lupa kalau Mbah tidak akan mengizinkan untuk aku berbicara lo-gue kepada orang yang lebih tua. Karena dia berpikir itu tidak sopan.
“Maaf, Mbah.” Aku memutuskan untuk duduk di sebelah Mbah.
Mengambil pisang goreng untuk sarapan.
“Nak Buana ini ingin mengantar kamu ke sekolah dulu.” Penjelasan Mbah cukup membuat aku tertegun.
Lalu, gimana dengan Mas Gama yang harusnya menjemput ku?
“Ehm, anu. Mas Gema, kan, jemput aku, Mbah?”
Ku lihat Mbah hanya memandang aku dan Mas Raksa saling bergantian. Seakan dia tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Mas Raksa memandangku cukup dalam, entah apa artinya. Aku tidak tahu.
“Setelah mengantar kamu, saya lanjut ke Jakarta.”
Yahh. Jujur aku sedih saat tahu dia akan kembali ke Jakarta.
Aku terdiam sejenak. Kesempatan langka seperti ini tidak akan aku tolak, bukan?
Ku ambil ponsel di kamar. Lalu mengirim pesan ke pada Mas Gema untuk tidak menjemput ku hari ini. Setelah itu aku kembali ke ruang tamu.
“Ya sudah. Mas Gema sudah aku beri kabar.” Ucapku sambil menggendong ransel hitam.
“Aku udah telat loh, Mas.”
Ku lihat bibir Mas Raksa penuh dengan senyuman. Sungguh membuat dia semakin manis dan sejuk.
“Mbah. Buana sekalian pamit balik ke Jakarta, ya. Maaf kalau sudah merepotkan.”
Aduh. Aku nggak kuat menahan senyum. Adegan apa ini? Imut sekaliii.
“Lho, ndak repot sama sekali, nak. Kapanpun kamu mau ke sini silakan. Apalagi bisa buat cucu kesayangan Mbah, mesam-mesem, begitu.”
Aku kaget mendengar kalimat akhir Mbah. Seketika Mas Raksa melihat ke arahku dan otomatis senyumanku langsung hilang begitu saja. Karena aku malu.
“Makasih banyak, ya, Mbah. Buana pamit dulu.” Ucapnya lagi sambil mencium punggung tangan Mbah.
“Seng hati-hati, yo. Selamat sampai tujuan.” Pesan dan doa Mbah semoga menyertai Mas Raksa.
“Amin.”
“Aku juga pamit, yo, Mbah!” Pamit ku semangat sambil mencium punggung tangan Mbah.
“Ojo mesam-mesem terus. Mengko dianggep wong ra waras.”
“Ihh, Mbah!”
Senyuman malu-malu kucing terukir di bibirku. Kemudian aku dan Mas Raksa memasuki mobil hitam miliknya.
__ADS_1
“Kamu semangat sekali hari ini?” Tanya Mas Raksa sambil memasang safety belt.
“Dihh, sok tau.” Elak ku, walau nggak bisa bohong, senyuman samar terus menghiasi wajah ku.
“Saya tidak menggangu waktu kamu dengan Gema, kan?”
Maksudnya?
“Gimana?”
Ku lihat dia sedang melihat kaca spion supaya mobil dapat bergerak dengan lancar. Setelah mobil mulai meninggalkan rumah dia baru menjawab pertanyaan ku.
“Tidak. Kan kalian selalu berangkat bersama.”
Huh. Buat badmood saja orang tua satu ini.
Aku memilih untuk tidak menjawab ucapannya. Ku pilih untuk melihat jalanan melalui kaca jendela.
“Kalau misalnya setiap minggu saya ke sini. Apa kamu risih?”
What?!
Perlahan kulihat Mas Raksa yang sedang fokus menyetir. Apa benar ucapannya tadi? Atau hanya sekedar gurauan?
Tangannya mengusap pucuk rambutku, sedangkan matanya fokus ke jalan.
Eh, sebentar.
Sejak kapan dia berani mengendarai mobil? Bukankah dia trauma dengan kegiatan ini?
“Eh, tunggu. Kayak ada yang janggal.”
“Apa?”
“Sejak kapan lo berani nyetir mobil?” Tanyaku penuh selidik.
Ku lihat dia tersenyum.
“Jawab! Bukannya malah senyum-senyum.”
“Masih pagi, jangan galak-galak, sayang.”
“Gue serius!”
“Sejak saya dapat kabar kalau kamu pingsan.”
Tubuhku bergeming dan mulutku membisu. Kenapa bisa?
“Saat saya tahu kamu pingsan. Saya langsung menghubungi Damar untuk mengantar ke sini. Tapi dia sibuk dan kerjaannya tidak dapat di tinggal.”
“Ingin naik kereta atau pesawat, keberangkatan belum tentu ada yang langsung.”
“Jadi, saya memberanikan diri untuk melawan rasa trauma. Ya, memang tidak semenakutkan yang saya kira.”
Kenapa? Kenapa mendengar penjelasannya malah membuat aku sedih? Dia berjuang untukku sekeras itu. Tapi apa balasanku?
Aku merasa tidak pantas untuk diperjuangkan sampai memaksa dia melawan rasa trauma. Di sini aku malah merasa menyusahkan.
“Maaf.” Ucapku pelan. Entah dia dengar atau tidak.
“Untuk?”
“Kenapa kamu meminta maaf?”
Aku sadar mobil sudah berhenti tepat di depan sekolah. Tapi, aku rasa belum menyelesaikan masalah ini. Rasanya akan menggantung jika saat ini aku langsung bergegas pergi. Terlebih entah kapan kami dapat bertemu kembali.
“Maaf udah buat Mas Raksa melakukan trauma yang menyakitkan.”
“Maaf aku udah buat Mas Raksa repot.”
Jelas ku sambil menunduk memandang kedua tangan yang sudah berkaitan di atas paha.
“Kamu tahu?”
Perlahan ku beranikan diri untuk memandang wajahnya.
__ADS_1
“Saya ingin memeluk kamu begitu erat. Tapi saya tahu itu tidak boleh.”
“Kamu sangat lugu dan menggemaskan.”
Lagi-lagi dia membawaku terbang tinggi menembus awan.
Jujur aku juga mau peluk kamu Mas. Tapi Mbah pernah bilang kalau nggak boleh bersentuhan dengan laki-laki selagi belum menikah.
“Harus kamu tanamkan di dalam diri kamu, ya, anak kecil.”
“Kamu tidak merepotkan saya sama sekali.”
“Dalam hal ini, kamu juga tidak bersalah sedikitpun.”
“Kamu bisa lihat? Malah kejadian kemarin membuat saya berani melawan trauma lama.”
“Sungguh, saya malah senang jika kamu repotkan.”
Semua kalimat itu muncul dari seorang laki-laki yang aku cintai? Serius? Cintaku terbalas? Aku tidak lagi menjalani cinta sepihak?
Ucapannya berhasil membuat aku bingung, bingung harus menjawab apa, selain senyuman samar yang berusaha aku sembunyikan.
“Aku harus apa buat membalas semua perjuangan Mas Raksa?” Tanyaku begitu lugu.
Memang aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Hanya satu, hargai perjuangan saya dengan mengizinkan saya mengunjungi kamu setiap satu minggu sekali.”
Mendengar permintaannya, aku tertawa ringan. “Haha. Bercanda terus, Mas?”
Tapi sedikitpun senyum atau tawa tidak hinggap di wajahnya. Rautnya datar.
“Saya serius.”
Mendengar ucapannya aku jadi ikut diam. “O, oke.”
Aku mengernyit saat melihat senyuman terukir di bibirnya yang tipis.
“Serius? Baiklah, saya anggap serius.”
Aku hanya bisa mengangguk. Ini ya rasanya diperjuangkan oleh seseorang yang kita dambakan? Dunia seakan hanya mengenal gula dan tidak ada garam.
“Yaudah. Aku masuk sekolah dulu.” Pamit ku.
Sebelum membuka pintu mobil, aku memberi pesan dulu kepada dia. Seluruh ucapan yang keluar dari mulutku adalah harapan yang terbaik. Aku mau dia selamat dan baik-baik saja.
“Ingat. Hati-hati.”
“Jangan lupa berdoa.”
“Kalau capek istirahat dulu.”
“Jangan sampai meleng.”
“Jangan ngebut.”
“Patuhi rambu lalulintas.”
“Selamat sampai tujuan.”
“Istirahat dulu jangan langsung kerja.”
Apa aku terkesan cerewet? Tapi aku nyaman mengucapkan semua kalimat itu. Di setiap ucapan yang aku lontarkan selalu ada doa yang terbaik untuk dia.
“Siap, sayang. Semua pesan kamu, Mas selalu ingat.”
Lagi-lagi kata sayang itu muncul. Jujur aku selalu salah tingkah saat dia mengucapkan kata itu.
“Ish! Satu lagi, jangan panggil aku sayang!” Setelah itu aku memutuskan untuk membuka pintu mobil.
“Sampai jumpa lagi, Mas!”
“Kenapa? Kamu salah tingkah?”
Aku tidak menghiraukan ucapan dia. Dengan segera aku menyebrang jalan, tak lupa melambaikan tangan ke arah dia.
__ADS_1
Kami masih bisa saling pandang karena dia menurunkan kaca mobil. Senyuman manis terus terukir di bibir dia. Sungguh manis sekali. Kalau boleh bicara jujur, aku tidak mau kami berpisah lagi walau hanya sesaat.
...🌛...