
^^^Angkringan Malam^^^
^^^20.00^^^
Malam sekitar pukul delapan. Setelah kami bersiap untuk pergi. Mas Raksa sempat mandi dan berganti pakaian, dia menggunakan pakaian Mas Damar yang memang sengaja ditinggal untuk dipakai saat berlibur. Kami izin keluar kepada Mbah, dan dengan mudahnya Mbah mengizinkan. Seperti sudah percaya dengan Mas Raksa.
Suasana Jogja malam ini cukup ramai, memang, semakin malam akan semakin ramai. Mas Raksa memarkirkan mobil di parkiran pinggir jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di angkringan yang menyajikan berbagai macam satai dan nasi kucing.
Lagu dari organ tunggal juga berkumandang menambah suasana jadi nyaman. Lantunan itu dapat aku ikuti jika mengetahui lagu yang dibawakan. Setelah kami memilih beberapa makanan ringan, kami memutuskan untuk duduk lesehan di tikar yang sudah disediakan.
Aku dan Mas Raksa duduk saling berhadapan dan dihalangi oleh meja kayu sederhana.
“Enak, ya, suasananya.” Ucapnya membuka perbincangan.
Aku mengangguk seadanya, “iya. Tapi gue baru kali ini sih keluar malam kayak gini.”
“Bersama Gema?”
Aku mengernyit, “mana boleh sama Mbah? Gue nggak pernah keluar malam, baru kali ini.”
“Kalo sama Mas Gema tuh, paling berangkat pulang sekolah bareng. Aku nebeng dia biar irit. Hahaha.”
“Kenapa bisa? Kalian satu sekolah?” Tanyanya lagi.
Oh iya, mungkin Mas Raksa belum tau kalau aku satu sekolah sama Mas Gema?
“Iya. Bahkan dia ketua OSIS. Kemarin pas MOS pertama gue terlambat, untung ada dia sedikit nolong gue dari beberapa OSIS yang memanfaatkan jabatan.”
Mas Raksa mengangguk saja mendengar ceritaku.
“Duh, bosenin banget ya cerita gue?”
Seketika cowok itu menggeleng, “tidak. Justru saya senang kamu bercerita panjang lebar seperti tadi. Sudah lama kita tidak berbincang seperti ini.” Jawabnya membuat aku sedikit lega.
Tapi jika ditarik ke belakang, di sini aku yang selalu terbuka dengan dia. Lebih tepatnya mudah dipancing untuk bercerita berbagai hal. Tapi, dia sendiri sangat jarang, bahkan jika ditanya lebih dia tidak pernah menjelaskan.
“Hmm.”
“Gue boleh minta sesuatu Mas?” Aku ingin mengatakan hal yang tiba-tiba muncul di bentak, tapi cukup ragu.
“Apa sayang?” Seketika tubuhku merinding mendengar ucapannya. Apa dia tidak berdoa dulu sebelum berbicara?
“Gue serius.”
“Saya juga serius.”
Asu tenan.
“Kalau gue minta, kita coba untuk saling terbuka. Mas keberatan?”
Entah pertanyaan ini konyol atau tidak di telinga Mas Raksa. Tapi inilah yang seketika muncul di benakku dan memang aku mau untuk saling terbuka.
Tak ada jawaban dari orang di depanku. Dia hanya memandang wajahku. Apakah ada yang salah?
Atau mungkin memang dia tidak bisa melakukan itu? Berarti dia selama ini tidak serius?
Cukup lama tidak ada jawaban dari dia dan suasana di antara kita juga hening. Tapi lantunan lagu dari organ tunggal terus berkumandang.
“Sego sambel teri lan sego suwir ayam. Satai ayam, kulit, ndog puyuh, sosis, lan sayap. Ngombe es teh manis, nggih?” Keheningan berhasil diputus oleh pelayan angkringan. Ternyata pesanan kami sudah siap.
Seketika kami berdua melihat pesanan itu, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah pelayan itu pergi, aku memutuskan untuk membuka pembicaraan lagi.
Jujur aku sangat malu, rasanya aku ingin pulang sekarang juga.
Ku tenggak beberapa kali es teh manis, “em. Duh, permintaan gue konyol nggak sih?”
“Lupain deh, Mas. Anggap aja gue lagi ngelindur.” Ucapku sambil berusaha membuka salah satu nasi kucing, hal ini untuk mengurangi rasa salah tingkah dan malu yang sedang melandaku.
“Kamu sedang tidak tidur, memang bisa melindur?”
Sama sekali aku tidak berani melihat wajahnya, karena aku sangat malu. Puji Tuhan ternyata Aeera masih punya urat malu.
__ADS_1
“Ya, ya, bisa aja. Itu sisi aneh gue.” Tidak tahu apa yang aku ucapkan, asal saja mencari alasan.
Tangannya mengambil nasi kucing yang dari tadi belum berhasil aku buka.
“Ini nasi teri pesanan saya, ini nasi ayam pesanan kamu.” Jelasnya sambil menaruh nasi kucing pesanan ku.
Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa kamu ini selalu terlihat bodoh di depan dia, Aeera?
“Tadi kamu minta supaya kita saling terbuka, ya?”
“Enggak. Itu gue cuman iseng aja kok, iya iseng.” Jelas ku. Aku yakin sekarang Mas Raksa sedang menahan tawa karena kelakuan bodoh ku.
“Yah. Saya kecewa. Padahal itu yang saya mau supaya kita bisa lebih dekat.”
Perkataannya cukup membuat aku melihat wajahnya yang sedang menatapku sambil tersenyum. Ini serius? Dia sedang tidak bergurau, kan?
“Kenapa? Kamu tidak percaya?”
“Supaya kamu percaya, kamu tanyakan apa saja yang membuat hatimu ragu.”
Aku diam sejenak. Rasanya tidak enak jika Mas Raksa melakukan ini karena terpaksa. Permintaan ku memang sangat lancang.
“Nggak usah, Mas. Gue nggak enak kalau lo terpaksa gara-gara gue minta yang aneh-aneh.”
“Nggak usah pikirin, ya! Udah makan dulu.”
Ya, tak lain, hatiku sebenarnya sakit mengucapkan itu. Tapi bagaimana lagi? Aku sangat ceroboh karena mengucapkan hal yang seharusnya tidak aku ucapkan.
“Hei,” genggaman tangannya membuat tanganku berhasil berhenti dari aktifitas.
Setelah beberapa bulan jantung ku tidak pernah berdegup dengan cepat lagi. Akhirnya malam ini, dia kembali aktif.
“Saya juga ingin sekali kita saling terbuka. Supaya kita semakin mengenal satu sama lain. Tapi, saya belum berani untuk mengungkapkan itu.”
“Apa kamu masih menganggap semua ucapan saya hanya gurauan?”
Tatapannya begitu tajam menusuk manik mataku. Tubuhku bergeming mendengar perkataannya, seakan terhipnotis. Apa benar dia ingin kami lebih mengenal satu sama lain?
Nge-freeze. Tubuhku mematung. Aku harus jawab apa?
Aku mencoba untuk melepas genggaman tangannya. “O, oke.” Jawabku simpel, karena memang bingung harus menjawab apa.
“Hanya, oke?” Tanyanya.
“Bingung barus jawab apa. Gue juga laper.” Jawabku, maaf ya perut aku fitnah kamu.
“Okay, sambil makan.”
Kami membuka nasi kucing masing-masing. Perlahan memakan setiap pesanan yang telah kami pesan.
“Mulai darimana, ya?”
“Apanya?” Tanyaku bingung.
“Kamu ada pertanyaan mungkin?”
Aku menggeleng, “berarti tidak dapat poin.”
Dih? Candaan bapak-bapak.
Aku sedikit tertawa, “coba cerita masalah Elvira.”
Dia mengangguk, dari raut wajahnya seperti tidak keberatan sama sekali.
“Mulai dari mana?”
“Up to you. Lo yang punya cerita.”
Dia menengguk es teh sedikit, “dari awal bertemu? Kami dulu satu kampus. Sebenarnya awalnya tidak dekat. Tapi dikenalkan oleh teman yang memang bisa dibilang kenal seluruh mahasiswa kampus.”
Aku menyimak seluruh ceritanya dalam diam.
__ADS_1
“Ya sudah mulai dari sana kenal. Lalu ternyata kami sama-sama suka menonton film action. Jadi kami sering janjian untuk menonton bersama.”
Mungkin bisa dibilang aku sedikit jealous? “Ohh, se—frekuensi? Cocok tuh, kenapa putus?”
Mas Raksa tertawa renyah, “hahaha. Kamu cemburu? Tenang saja, dia hanya masa lalu saya yang tidak berkesan.”
Ya, ya, yaa. Aku mencoba untuk percaya. Tidak berkesan tapi bisa dua tahun, ya?
“Kami putus? Ya, karena dia mungkin bosan mendengar cerita saya yang isinya selalu tentang bocah kecil istimewa terus.”
Aku?
“Itu kemungkinan? Tapi kalau saya memutuskan dia karena memang merasa langkah saya untuk menjadikan dia kekasih itu salah.”
Raut wajahku seakan menunjukkan pertanyaan, kenapa?
“Karena, selama menjalani hubungan dengan dia, saya selalu terbayang tentang kamu. Hati dan perasaan saya tidak bisa berpaling ke Elvira. Entah, saya merasa bersalah jika hubungan itu terus dilanjutkan.”
Masuk akal. Mungkin karena berakhirnya hubungan mereka bukan disebabkan oleh konflik yang besar, jadi sampai sekarang Elvira masih tidak bisa melepaskan Mas Raksa.
“Saya kemarin panik saat tahu Elvira menemui kamu.”
“Karena saya tahu, dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dia inginkan.”
“Untung saja kamu tidak kenapa-kenapa.”
Belum tahu saja dia, kalau aku tadi pingsan gara-gara mantannya.
“Ada yang kamu sembunyikan?”
Aku menggeleng dengan cepat, “enggak. Gue cuman penasaran aja, kenapa Elvira sampai segitunya. Ternyata begitu ceritanya.”
“Lalu, kamu dengan Gema?”
Mas Gema? Bagaimana kondisinya, ya? Aku benar-benar tidak enak menolak perasaannya. Tapi memang aku tidak bisa memaksakan perasaanku.
“Gue sama Mas Gema dekat.”
“Bahkan, kita ketemu di kereta. Kebetulan banget nggak, sih?”
“Apa jangan-jangan kita jodoh, ya, Mas?” Tanyaku menggebu-gebu. Sengaja untuk melihat reaksi dia. Jujur aku suka melihat dia menampilkan rasa cemburu.
“Amin. Kita, maksudnya kamu dengan saya, kan?” Kocak juga lelaki tua ini. Aku menahan tawa mendengar ucapannya.
“Ihh. Maksain banget.”
“Maksud gue tuh, gue sama Mas Gema jangan-jangan jodoh?”
“Nih, ya. Di kereta ketemu. Terus satu sekolah. Terus—”
“Terus saya tidak ingin mendengar ucapan kamu.”
Aku lihat dia memilih untuk memakan satai telur puyuh. Nampaknya suasana hatinya berubah cukup drastis.
“Hahaha. Lo bilang saling terbuka? Inikan gue lagi cerita, Mas.”
“Cerita kamu tidak menarik.”
Bibirku penuh dengan senyuman melihat dia merajuk karena cemburu. Apa benar ini yang namanya saling jatuh cinta? Bukan hanya cinta sepihak? Sungguh indah.
“Awas nanti kolestrol, ingat umur.” Ledekku saat melihat dia terus mengunyah satai telur puyuh.
“Terus, buat orang kesal terus.”
Aku hanya tertawa, tak lama dia juga ikut tertawa. Malam ini sungguh indah bukan?
Siapa yang pernah bermimpi malam seindah ini akan datang? Bahkan aku pun tidak berani untuk menghayal mengenai hal seindah ini.
Mungkinkah aku masih bermimpi?
Jika iya, aku tidak ingin terbangun kembali.
__ADS_1
...🐣...