
Mas Raksa tersenyum lebar, "kenapa enggak, Tan?"
Aku sedikit tersenyum lega, sebelum dia melanjutkan ucapannya,
"Kenapa enggak nolak, selagi bisa nolak."
Asem cok!
Ingin ku telan rasanya cowok satu ini, apa-apaan dia berani mengejek ku seperti itu. Muka ku kali ini sangat masam, aku tidak suka situasi seperti ini.
"Hahaha." Sontak semua tertawa renyah, hanya aku yang menatap tajam Mas Raksa. Begitu pun dia, masih dengan tatapan ke arah ku. Namun kali ini aku tidak simpati dengan nya, ku tampilkan raut sinis.
Mas Raksa terus menatap ku dan seakan mengatakan, sorry.
Aku membuang muka ke arah lain, ku hiraukan tatapannya. Siapa dia berani meledek ku seperti itu?
"Kamu ini, Rak."
"Bercanda Ae, kamu jangan baper." Mbak Humeera nampaknya sadar akan raut wajah ku, tapi untuk tidak memperburuk suasana aku mengatakan, "Tidak buruk, selera ku juga bukan dia."
Dengan lantang aku mengucapkan itu, banyak lelaki semacam dia yang selalu mengejar ku. Tapi, memang dia bukan selera ku. Aku lebih suka laki-laki lucu, imut, dan chubby. Ugh, yang lebih penting adalah tidak mata keranjang atau buaya.
"Gaya lo. Gua minjem flashdisk." Heran, masih aja Mbak Caeera ingat masalah flashdisk. Aku tidak ingin menyerahkan benda itu, apalagi akan dibawa oleh orang asing yang sangat menyebalkan.
"Nggak bawa."
"Bohong."
"Beneran, Mbak."
"Terus kenapa tadi lo pakai mikir segala, nggak langsung jawab? Dan kenapa mata lo--"
"Iya, iya." Aku selalu lupa kalau Mbak Caeera ini seperti cenayang berwujud bidadari. Rasanya aku tidak akan bisa berbohong kepada dia. Mau tidak mau aku harus memberikan benda itu, walau tidak ikhlas. Aku merogoh benda yang ada di dalam tas kecil berwarna hitam yang selalu ku bawa.
"Nih, flashdisk!" Ku letakkan sedikit kasar benda putih itu ke atas meja kaca, naas sekali nasib mu nak. Ku lihat dengan cepat Mbak Caeera mengambilnya dan langsung diserahkan kepada Mas Raksa.
"Nih, besok jam berapa bisa gua ambil?" Alhasil flashdisk ku sudah di tangan orang asing, oh no!
"Nanti gua kabarin lagi, ya."
Hus! Akhirnya Mas Raksa pergi dari ruang tamu setelah pamit kepada Mamah dan Tante Edrea. Sebelum itu tak lupa dia kembali menatap ku sambil tersenyum kecil, sampai saat ini aku belum mengerti arti dari tatapan dan senyumannya. Seakan pernah melihat dengan lekat, tapi dimana? Atau mungkin, ada yang salah sama penampilan ku?
Kami kembali mengobrol dengan asik, walau kadang sibuk dengan ponsel masing-masing. Ada kalanya pula kami menonton acara televisi yang membuat sebagian emak-emak emosi, sama halnya dengan Mamah dan Tante Edrea. Walaupun masih terbilang sangat cantik dan muda, selera acara televisi Tante Edrea sama seperti Mamah. Hahaha.
Aku sangat menikmati suasana seperti ini, sebelum kembali ke Jogja melakukan rutinitas seperti biasa. Aku yang dulu lulus Sekolah Dasar langsung direlakan Mamah untuk merantau ke Jogja, sebenarnya Mamah punya cukup alasan kenapa sebelia itu aku merantau, ya karena di sana ada Nenek yang selalu jagain aku.
Sekarang umurku sudah lima belas tahun atau baru lulus dari Sekolah Menengah Pertama, usia dimana kedua Kakak ku juga dipaksa merantau oleh Mamah ke daerah yang berbeda. Sejujurnya aku ingin melanjutkan SMA di Jakarta, namun sebelum izin ke Mamah aku sudah tahu jawabannya. Jadi, mendingan tidak usah.
Mamah selalu mendidik kami dengan keras, seperti nenek dulu ceunah. Alasan itu semakin kuat saat Mamah harus menjadi single parent, Mamah mewajibkan kami mandiri, berani, dan kuat menjalani hidup. Karena, Mamah tahu dunia ini sangat keras dan tidak bersahabat.
Pukul tujuh malam, anak Tante Edrea menyapa kami. Mas Damar. Melihatnya masuk ke ruang tamu, aku langsung bergegas untuk memeluknya.
"Mas Damar!"
"Hello my little angle." Jangan kaget, aku dengan Mas Damar sangat akrab. Ingat cerita ku mengenai Tante Edrea ingin mengangkat ku sebagai anak? Mas Damar sangat setuju akan hal itu. Walau waktu aku kecil dia selalu usil pada ku, tapi saat seorang yang selalu melindungi ku dari keusilannya pergi, Mas Damar menggantikan posisinya.
"Kangen." Eluh ku, ini sedikit lebay. Tapi saat aku pertama kali merantau ke Jogja, aku merasa selalu membutuhkan lindungannya.
Sadar akan kelebay-an ku, apalagi kini aku sudah beranjak dewasa, aku melepas pelukan dari tubuh Mas Damar.
"Ups, nggak jadi kangen deh. Weks." Ucapku sambil sedikit menjulurkan lidah.
"Loh kenapa, hm?" Mas Damar ingin mengelus rambut ku, namun sebelumnya sudah aku tangkis terlebih dahulu.
"No! Mas Damar lihat, aku sudah beranjak dewasa. Jadi, nggak mau selebay itu." Ku rentangkan tangan ku sambil memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri.
"Sedewasa apapun kamu, selalu Mas anggap anak kecil." Akhirnya tangan Mas Damar dengan cepat memegang kepala ku.
"Yasudah, kalau kamu enggak kangen sama Mas. Mas Damar yang kangen sama kamu." Alhasil aku kembali berada di pelukan Mas Damar.
"Lepas, Mas. Ish, bau, belum mandi." Ejek ku supaya Mas Damar mau melepas pelukannya. Sebenarnya itu hanya alasan, tidak ada sedikitpun bau dari sepupu ku itu. Sebenarnya aku harus memanggil Mas Damar dengan sebutan Adik, karena Mamah lebih tua dari Tante Edrea. Tapi karena perbedaan usia yang cukup jauh, rasnya tidak memungkinkan untuk memanggil Adik.
"Enak aja bau, wangi gini kok. Bun, Tante, Mbak, Cae, aku mandi dulu ya."
Akhirnya Mas Damar pamit masuk ke kamarnya untuk mandi, aku kembali duduk di sofa untuk bergabung dengan wanita-wanita cantik. Kami mengobrol sampai lupa dengan waktu, kedua lelaki tadi tidak ada yang memunculkan batang hidungnya lagi. Biasa, laki-laki jarang ada yang mau berkumpul dengan wanita yang ujung-ujungnya akan menggibah. Bagus deh, aku juga malas ketemu Mas Raksa lagi, semoga tadi yang terakhir.
"Astaga jam sebelas!" Ribut Mamah sambil melihat jam tangan Daniel Wellington yang dia kenakan. Aku yang awalnya sibuk bermain game langsung kalah mengenaskan. Sedangkan Mbak Caeera yang dari tadi tiduran di sofa dan baru ingin memejamkan mata langsung melek anti ngantuk-ngantuk club.
"Aku pesan ojek online lagi ya, Mah."
"Eh, ini sudah malam. Jangan naik ojek online ya. Lagian nanti Caeera mau naik motor sendiri?" Cegah Tante Edrea, dia sedikit mengkhawatirkan kami yang perempuan semua dan terlebih lagi Mbak Caeera mengendarai motor sendiri.
"Mobil aku pun kalau mau diantar kesini belum bisa, Tan. Masih tahap service."
"Kalian diantar Damar dan Raksa ya? Supaya Caeera ada yang kawal."
Sebelum meminta persetujuan dari kami, Tante Edrea langsung memanggil anak dan--entah Mas Raksa ini siapanya Tante.
"Damar! Raksa! Kemari, nak!"
Dengan ini aku berpikir, pasti Mamah maunya dibonceng Mbak Caeera, dan Mbak--
"Aku sama Damar." Bisikan Mbak Humeera membuat ku berhenti berpikir. Eh, apa tadi? Dia mau sama Mas Damar? Terus aku?
"Nggak bisa gitu dong, Mbak. Sama adik harus mengalah." Gumam ku kembali, aku menampilkan wajah memelas. Kali ini aku melas beneran. Aku tidak mau berboncengan dengan Mas Raksa.
"Konsep dari mana itu, yang ada adik harus nurut sama Mbak nya."
Aku kicep.
Semua ku serahkan pada yang di atas. Semoga aku selamat sampai tujuan. Kalau tahu gini, mending naik ojek online saja, biar aku yang menemani Mbak Caeera. Tapi sudah terlambat, kedua mas-mas itu sudah berdiri di hadapan kami.
"Ada apa, Bun?" Mas Damar menanyakan ada apa mereka dipanggil, sedangkan Mas Raksa--dia kenapa sih? Ada yang salah sama aku? Penampilan ku?
"Kalian berdua antar Mbak Dewi beserta anak-anaknya pulang ya!" Perintah Tante Edrea, Mas Raksa yang awalnya menatap ku. Kini langsung menghadap ke Tante Edrea dan mengucapkan, "Siap, Tan."
__ADS_1
...🐣...
Kami sudah berada di depan gerbang rumah Tante Edrea. Dimana Mamah sudah menaiki motor Mbak Caeera, begitupun Mbak Humeera dia juga sudah nangkring di atas motor Mas Damar. Lalu aku? Masih berdiri di sebelah Tante Edrea, akh jadi malas pulang.
"Besok kamu ke sini lagi ya, Ae. Tante masih kangen banget sama kamu loh." Tante Edrea memegang kedua bahu ku. Aku tersenyum manis, sebenarnya tidak tega dengan Tante Edrea, dia sangat menginginkan anak perempuan. Namun kandungan sudah diangkat jadi tidak ada cara untuk mewujudkan itu.
"Iyaa, Tan. Besok aku ke sini lagi ambil flashdisk. Sekarang aku pulang dulu ya, Tan." Aku segera mencium tangan Tante Edrea, dia memeluk ku singkat.
"Oke, kalian hati-hati ya bawa motornya. Selamat sampai tujuan. Tante ke atas lagi, masih ada kerjaan." Ucap Tante Edrea, wanita karier yang jadi inspirasi ku.
Sebelum beranjak, Tante Edrea sempat melambaikan tangan kepada kami. Mbak Caeera dan Mas Damar langsung menarik gas motor mereka, sedangkan aku? Masih berdiri di sebelah motor Mas Raksa. Aku malas naik, mending pesan ojek online saja.
"Ayo naik." Ucapnya sambil menyodorkan helm berwarna--pink? Hahaha. Aku hanya bisa menahan tawa, kan sekarang ceritanya lagi bete sama orang asing ini.
Aku tidak menerima helm itu, "Mas jujur aja, ada yang salah sama penampilan gua?" Aku memberanikan diri bertanya, soalnya aku selalu merasa risih kalau dipandang orang berlebihan.
Mas Raksa kembali meletakkan helm pink itu di atas tank motor nya, "kenapa kamu tanya begitu, hm?"
Dia masih belum sadar? "Dari tadi gua perhatiin, Mas ngeliatin gua terus." Aduh, ini aku ke-pd-an nggak sih?
"Besar kepala." Tuh kan, jadinya aku yang malu.
"Ch," Aku berdecih, songong banget sih om-om ini.
"Kamu masih marah soal tadi? Saya hanya bercanda."
Masalah yang mana? Oh yang tadi dia nolak aku?
"Nggak, beda cerita."
"Ayo naik, apa kamu sengaja mau berduaan sama saya malam-malam begini?" What? Fitnah itu, enak aja.
"Besar kepala." Gumam ku.
"Gua mau pesan ojek online aja, Mas. Nggak percaya sama orang asing kayak lo."
"Terus menurut kamu, saya lebih asing dari ojek online? Ayo naik, ini amanat dari Tante Edrea."
Alibi ku kalah, sebenarnya aku juga takut malam-malam naik ojek online. Benar kata Mas Raksa, ojek online lebih asing dari dia. Tapi tetap saja, aku sebenernya malas satu motor dengan dia. Sok asik, dan--jutek banget.
Akhirnya aku mengambil helm warna pink itu, memakainya dan berusaha naik ke atas motor besar itu tanpa berpegangan ke Mas Raksa, gengsi kali cuy.
Dengan susah payah akhirnya aku berhasil nangkring di atas motornya. Yap Aeera, tinggal duduk diam nanti sampai tujuan.
"Pegangan." Apa? Ogah.
Aku tetap kekeh dengan pendirian ku. Memilih memegang besi bagian belakang motor. Jujur, sebenarnya aku takut jatuh apalagi motor ini tinggi. Dibonceng Mbak Caeera dengan motor matic saja aku selalu pegangan erat.
"Pegangan, Ae. Kalau kamu jatuh, nanti saya juga yang menyesal." Eit, maksudnya apa?
"Maksud lo--" Ketika aku bertanya dan sedikit mencondongkan badan ku ke arah nya, Mas Raksa langsung menarik gas motonya cukup keras. Alhasil aku kaget dan langsung memegang pinggang dia.
"Gila lo!" Bentak ku sambil sedikit memukul punggungnya menggunakan tangan kanan kala motornya sudah berjalan dengan kecepatan normal, bahkan sangat pelan.
"Kepala batu."
Aku tetap memegang pinggangnya, taukah kalian? Ini sebenarnya cerita sangat memalukan. Waktu itu aku masih umur lima tahun, Mbak Caeera sangat gemar naik sepeda dan aku yang diboncengnya. Pertama kali aku dibonceng dia, aku duduk di boncengan belakang tanpa memegang apapun. Tanpa aba-aba Mbak Caeera menggoes pedal sepeda, alhasil aku kaget dan jatuh ke belakang. Ugh, sungguh malu. Mbak Caeera bukannya langsung menolong ku, dia malah tertawa terbahak-bahak. Waktu aku nangis dia baru berusaha melihat keadaan ku. Untung ada Mas--sudah cukup sampai sini ceritanya, jangan dilanjutkan, sama saja menyentuh luka lama.
Maka dari itu sekarang aku memilih tetap memegang pinggang Mas Raksa, karena aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Selain sakit, malu nya itu loh.
"Umur kamu berapa, Ae?"
"Lima belas."
"Berarti kita sudah tidak bertemu lima tahun ya? Lumayan lama juga, sekarang saya dua puluh dua tahun." Memang sebelumnya kita pernah bertemu? Kapan? Dimana? Apa dia hanya bergurau untuk mengerjai ku lagi?
"Gua nggak nanya, Mas."
"Tapi lima tahun kamu tidak ada perubahan, tetap kelihatan seperti anak kecil."
Aku memukul punggung dia lagi, enak aja dia bilang anak kecil. Aku sudah beranjak dewasa sekarang, buktinya aku sudah menstruasi. Lagian teman-teman ku juga bilang wajah ku lebih dewasa dari umur kok, kenapa Mas Raksa bilang seperti itu? Ngaco.
Bugh! "Enak aja, gua tambah cakep gini dibilang anak kecil."
"Saya tidak bilang kamu jelek, tapi kamu masih kecil dimata saya."
"Ya gimana, umur lo kan udah tua, jadi pasti lihat gua kayak adek lo."
"Saya tidak mau punya adik seperti kamu,"
"Apa?!" Aku sedikit menaikkan volume suara dan mencondongkan wajah ku ke helm Mas Raksa. Sebenarnya aku dengar dia bilang apa, tapi rasa-rasanya mungkin salah dengar soalnya suara kenalpot motor ini sangat mengganggu.
"Saya tidak mau punya adik seperti kamu! Maunya--"
"Merasa keren lo? Gua juga nggak mau punya Mas nyebelin kayak lo." Ucap ku memotong pembicaraan dia sambil sedikit mendorong badan bidang nya ke depan. Siapa juga yang mau jadi adik nya? Ewh.
"Hahaha." Dih stress, ya? Bukannya marah karena aku dorong, dia malah ketawa. Dia sedikit terganggu ya kejiwaannya?
"Stress lo?" Tak terdengar suara dari dia selain tawa ringannya.
"Mas, besok-besok jangan ngeliatin gua kayak tadi lagi ya."
"Kenapa?"
Percayalah, kita berbincang sambil sedikit teriak agar suaranya terdengar satu sama lain. Terkadang telinga ku budeg kala pakai helm.
"Gua risih."
"Yakin kamu? Nanti jangan kangen dengan tatapan saya, ya."
Aku merinding disko, bukan karena takut kejadian. Tapi geli dengar ucapannya yang--nggak banget, ewh.
"Besar kepala." Aku memandang ke jalanan saking gelinya dengan ucapan dia tadi dan menyadari bahwa dari tadi dia mengendarai motor sangat pelan, makanya tidak kunjung sampai tujuan.
"Cepat sedikit, Mas. Udah malam ini, dingin." Sebenarnya tidak terlalu dingin sih, cuman rasanya kaku banget berdua sama orang asing. Terus aku lihat keadaan jalanan juga sepi, bahkan tidak ada orang selain kami. Sedikit takut ada begal tiba-tiba, kan tidak lucu, liburan dua minggu eh malah kebegal.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama setelah aku berucap, motor Mas Raksa langsung meluncur dengan kecepatan sedikit kencang. Aku semakin memegang erat pinggang nya, soalnya takut kejengkang.
Setelah satu setengah jam kami melewati jalan raya gelap dan sepi, akhirnya kami sampai di kawasan komplek rumah ku. Aku sedikit lega karena sebentar lagi sudah terpisah dari orang tua nyebelin kayak Mas Raksa. Terkahir dia bilang tidak mau memiliki adik seperti ku, dia pikir aku mau jadi adik dia? Ogah.
Selama di perjalanan, aku sedikit lebih erat memegang pinggang Mas Raksa, menurut ku cukup membuat bagaian tangan ku yang tidak tertutup jaket sedikit hangat karena jaketnya. Oh iya, tadi kami sebelum jalan pulang pinjam jaket Tante Edrea terlebih dahulu.
"Pagar warna--"
"Coklat kan?" Wah, darimana dia tahu? Apa dia sudah sering main ke rumah ku?
Tak lama motor besar berwarna cokelat hitam milik Mas Raksa sampai di depan pagar rumah ku, aku bergegas turun tanpa berpegangan dengan dia. Hampir aja terpeleset, tapi keseimbangan tubuh ku cukup baik.
"Pelan-pelan, kamu kan juga bisa berpegangan pada saya." Apa dia sedikit khawatir dengan aku karena hampir terjatuh?
"Nanti lo geer lagi." Aku tidak peduli akan kekhawatiran nya, toh aku selamat. Helm merah muda yang dari tadi ku kenakan langsung ku serahkan pada Mas Raksa, seumur hidup baru kali ini aku menggunakan sesuatu berwarna pink ngejreng begini.
"Ini, Mas. Makasih banyak ya." Mas Raksa mengambil helm itu sambil tersenyum--manis.
"Oh, satu lagi, Mas. Pesan buat helm lo." Sebisa mungkin aku menahan tawa.
"Kenapa dengan helm ini?" Mas Raska mengangkat helm itu dan sekilas melihatnya, membuat aku gagal menahan tawa.
"Pffft, HAHAHA! Nggak papa, cuman baru sekali ini lihat om-om suka warna pink ngejreng." Ucapan ku tidak keterlaluan kan? Ku lihat Mas Raksa sedikit menatap ku bingung dan heran. Oh, ah. Aku salah disini.
"Ehem. Sorry, nggak bermaksud. Ya, ya--mungkin ini punya pacar lo? Helm nya bagus kok, buktinya kepala gua selamat sampai tujuan." Aku mencari alibi untuk memperbaiki suasana, sambil menunjukkan satu ibu jari tangan kanan dan mengedipkan mata kanan ku sekilas.
Mas Raksa tidak menjawab alibi ku, hanya saja raut wajahnya sudah berubah lebih baik. Huft, lega.
"Oke deh, Mas. Gua masuk ke dalam dulu ya, sekali lagi makasih." Ucap ku sedikit kaku. Melihat tidak ada respon dari Mas Raksa, aku langsung melangkahkan kaki masuk ke area rumah. Ya untuk apa di sana kalau orang yang diajak berbincang saja tidak menggubris.
Mungkin aku yang salah berucap, tapi itu hanya opini ku. Bahkan aku sudah menjelaskan semuanya, ya walaupun berbohong. Tapi itu demi suasana yang lebih baik.
Aku melangkah kan kaki menuju teras rumah dengan sedikit over thinking tentang perubahan raut wajah Mas Raksa, sambil sesekali memukul kecil mulut ku. Sampai akhirnya dikagetkan dengan rangkulan sebuah tangan di pundak ku.
"Eh!" Kaget dan heran, kenapa tiba-tiba Mas Raksa ada di sini? Dan raut wajahnya sudah seperti semula.
"Tega banget ninggalin saya sendiri, basa-basi gitu suruh masuk, minum teh."
"Gua nggak suka basa-basi." Ucap ku sambil mencoba menurunkan tangannya dari pundak ku, namun--argh berat banget sih tangannya!
"Dan satu lagi, gua nggak suka cowok lancang. Turunin tangan lo!" Gertak ku sambil melirik tajam tangan dan wajah nya secara bergantian. Kami baru kenal, bahkan aku masih menganggap dia orang asing. Tapi lihat, berani sekali dia memegang tubuh ku. Kalau begini, bagaimana perlakuan dia dengan orang yang sudah lama dikenal? Hih ngeri.
"Oh sorry, saya kira ini sebagai balasan karena tadi kamu pegang pinggang saya lama sekali."
Tuh kan dia kegeeran. Siapa juga yang bermaksud untuk mengambil kesempatan? Kan aku pegang pinggang dia karena takut jatuh, dan lagi pun dia yang menyuruh kok.
"Terhimpit keadaan. Besok nggak lagi."
"Kenapa?"
"Karena besok dan sampai kapan pun kita nggak akan boncengan lagi. Kita nggak akan bersama-sama lagi kayak tadi." Aku kembali melangkah kan kaki menuju teras rumah, Mas Raksa mengikuti irama langkah kaki ku.
"Yakin kamu?" Aku hanya mengangguk.
"Kalau saya maunya kita bareng terus gimana?" Aku tidak merespon.
"Kalau saya maunya kamu pegang pinggang saya terus gimana?" Aku menghentikan langkah ku kembali. Melihat ke arahnya sedikit sinis.
"Lalu, kalau saya maunya kamu akan merindukan saya suatu hari nanti, gimana?"
"Memang kamu siapa? Tuhan?" Akh, aku keceplosan pakai aku-kamu. Ini kebiasaan ngomong sehari-hari kalau sama nenek ataupun di sekolah. Ngomong lo-gua hanya ke orang tertentu seperti Mas Raksa ini, orang asing.
"Aku? Raksa." Jawabnya sambil menampilkan cengiran yang menurut ku bukannya ganteng tapi lebih kayak kuda.
Aku juga membalas cengiran nya namun sangat terpaksa, dan melangkahkan kaki ke dalam rumah. Di mana yang lainnya sudah duduk di ruang tamu, termasuk Mas Damar.
Tak lama setelah aku datang, Mas Raksa sudah berdiri di sebelah ku. Mamah yang melihat kami datang langsung ingin menginterogasi. Alhasil kami menjadi tontonan utama sekarang.
"Hey, lama sekali kalian. Hampir satu setengah jam loh, kemana saja?" Mamah terdengar sedikit khawatir sambil mengetuk-ngetuk jam tangannya.
"Eum. Tadi berdua--"
"Ban motor Mas Raksa bocor, jadi kami harus nunggu sedikit lama di bengkel." Terpaksa aku memotong ucapan Mas Raksa, walau aku tahu itu tidak sopan. Tapi aku tidak mau Mas Raksa memberikan jawaban yang tidak-tidak.
"Ban motor lo kan tubles, Sa?" Kali ini Mas Damar mulai curiga, aku melirik sedikit ke arah Mas Raksa. Dia nampak menahan tawa ke arah ku, sambil mengintruksikan untuk menjawab pertanyaan Mas Damar. Sepertinya dia ingin tertawa karena aku mencari alasan yang tidak masuk akal.
"Eum,"
"Tadi kayaknya sepanjang jalan juga nggak ada tambal ban yang buka, deh." Aduh Mbak Humeera kenapa ikut menepis alibi ku sih? Aku semakin bingung dan merasa terpojokkan, sedangkan orang tersangka satu lagi malah cengar-cengir tidak ada niat membantu sedikit pun.
"Eum itu," Aku gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudah lah, yang penting mereka selamat." Membuang napas lega setelah Mbak Caeera mengucapkan kalimat itu. Aku yakin Mbak Caeera pasti tahu persis kalau aku bohong dan lagi kebingungan, makanya dia ingin mengakhiri sidang ini.
"Benar juga, kalian mau lanjut pulang atau menginap di sini?" Akhirnya Mamah tidak melanjutkan introgasinya, untung lah. Semua ini gara-gara om-om asing yang sok asik.
"Kami langsung pulang saja, Tan." Ucap Mas Damar.
"Dam, besok jangan lupa jemput Ae jam tiga sore. Gua kelar kelas jam emat, jadi lo jemput dia biar gua langsung ke rumah lo." Ucap Mbak Caeera ke Mas Damar. Sebenarnya aku sedikit malas untuk ke rumah Tante Edrea, ya karena malas ketemu Mas Raksa. Padahal dari dulu aku paling semangat untuk main ke sana.
"Kalau aku nggak jadi ikut, nggak boleh ya?"
"Kamu sudah janji dengan Tante Edrea." Aku sedikit menginjak sepatu Mas Raksa setelah dia berbicara hal ini. Aku tahu injakan ku tidak akan terasa apapun, karena dia menggunakan sepatu gunung yang tebalnya minta ampun. Tapi, apa maksud nya? Kan aku bilang begitu karena malas ketemu dia lagi.
"Benar kata Raksa, lo udah janji sama Tante." Ucap Mbak Caeera.
"Yasudah tante kami pamit dulu," Ketika Mas Damar berpamitan dengan Mamah sambil mencium tangannya, Mas Raksa berbisik, "apa yang saya inginkan, pasti akan terlaksana." Otomatis bulu kuduk ku berdiri, tolong ingatkan tadi dia ingin apa saja?
Setelah itu Mas Raksa pamit kepada Mamah, sama halnya dengan Mas Damar, dia juga mencium tangan Mamah.
"Kalian berdua hati-hati ya, langsung pulang ke rumah!" Perintah serta himbauan dari Mamah.
"Saya pulang dulu ya, Ra." Ucap Mas Raksa. Ra? Siapa yang dimaksud? Aeera? Humeera? Caeera?
Yang aku ingat, Mas Raksa memanggil aku Ae dan memanggil Mbak Humeera dengan sebutan Hume. Lalu Ra? Oh berarti Mbak Caeera, fix sih ini.
__ADS_1
"Iya, hati-hati." Jawab Mbak Caeera, untung aku tidak besar kepala duluan. Bayangkan kalau aku yang menjawab, duh malunya.
Akhirnya suara deruman motor dari dua lelaki itu terdengar dan suara pagar rumah ditutup kembali oleh Bibi setelah itu. Tandanya mereka sudah tidak berada di kawasan rumah ku.