
Hari ketiga aku di hotel. Dua hari lagi kira-kira mereka baru balik ke Jakarta. Di sini aku cuman bengong, tidak ada pekerjaan selain scroll ponsel. Mas Gema sudah kabarin aku lagi dan sedikit banyak aku cerita ke dia kalau sudah bertemu Mas Raksa lagi. Tidak cerita semua, cuman bagian aku bertemu dia di saat yang tidak tepat.
Alasannya aku belum bilang, karena pikirku sama saja itu mengumbar aib keluarga.
Memikirkan masalah kemarin, sebenarnya aku bimbang. Baiknya beri tahu Mbak Caeera atau tidak, tapi dia lagi mengandung. Kalau dia sedih, bayinya juga ikut sedih. Takutnya nanti ponakan ku matanya sembab dari lahir.
Huh, aku membuang napas sambil melihat pemandangan di luar jendela. Di sini aku dapat melihat sebagian kota Jogjakarta, hari lebaran begini pasti selalu ramai. Banyak kebahagiaan di sini, semua orang tertawa meninggalkan masalah untuk sementara.
Kling.
Bunyi pesan masuk ke ponsel. Aku segera mengambil benda itu di nakas.
Silvie IPA 1
Online
Ai, hari ini ada ketemu angkatan.
10.23 WIB
Aku mengernyitkan dahi, angkatan? Serius ini? Baru setengah semester.
^^^Kok grup sepi?^^^
^^^10.24 WIB^^^
Iya, dichat pribadi.
10.25 WIB
Kalau di grup kan ada walas, takutnya dipersulit kalau hari raya gini.
10.25 WIB
^^^Ya udah, tinggal nggak jadi.^^^
^^^10.26 WIB^^^
Nggak bisa Ai. Urgent banget.
10.27 WIB
Pikirku, lumayan juga untuk menghilangkan suntuk. Karena jika terus berada di hotel aku merasa sangat bosan.
^^^Oke.^^^
^^^10.28 WIB^^^
Aku segera memilih baju di lemari. Cukup menggunakan hoodie dan celana hitam. Tidak perlu hebohkan? Toh cuma acara angkatan.
Setelah mengenakan pakaian, aku segera mengambil tas ransel hitam kecil. Lalu memasukan ponsel ke dalamnya. Setelah itu, bergegas keluar kamar dan mengunci pintu. Aku berjalan sambil memasukkan tangan ke kantung hoodie, tak lupa tudung hoodie aku kenakan.
Sambil menunduk aku sedikit melirik, ada dua orang berpakaian layaknya bodyguard Elvira. Huh, mungkin saja ini hotel milik dia. Jadi memang kedua orang itu bekerja di sini.
Akhirnya aku menghirup udara segar lagi, sejak kejadian kemarin aku enggan keluar kamar. Ya, karena takut kejadian kemarin terulang kembali. Aku pikir sih, memang ini momen yang tepat untuk Mas Raksa kalau ingin selingkuh, apalagi selingkuhannya ada di Jogja.
Rasanya masih kesal, hatiku masih gondok.
Aku berdiri di pinggir jalan sambil menunggu becak datang, sekolahku tidak jauh dari hotel ini. Untuk menghemat biaya aku memilih naik becak, karena biaya hotel juga tidak murah.
Sesampainya di sekolah, kok sepi sekali? Gerbang juga di tutup. Apa acara ini benar-benar rahasia? Kok perasaanku jadi tidak enak.
Aku segera mengirim pesan ke Silvie.
Silvie IPA 1
Online
^^^Lo dimana?^^^
^^^10.57 WIB^^^
^^^Gerbang tutup.^^^
^^^10.57 WIB^^^
^^^Emang acaranya nggak di dalam sekolah?^^^
^^^10.57 WIB^^^
Sorry, Ai.
10.58 WIB
Hah? Kenapa dia malah minta maaf? Lagian aku pikir tumben sekali anak ini mengirim pesan. Biasanya tatapan dia selalu sinis terhadapku.
Saat hendak bertanya maksudnya apa. Sudah ada orang yang menarik tanganku. Parahnya tidak hanya satu, bahkan dua orang.
“Eh apaan nih?”
“Ndak usah bawel, ayo melu.”
Sebisa mungkin aku memberontak. Tapi kekuatanku kalah dengan mereka berdua. Aku ditarik ke arah samping sekolah yang memang masih seperti taman.
Mereka mendorongku ke tembok, aku hanya merintih kesakitan. Kedua pergelangan tanganku sakit dan sekarang punggungku nyeri karena berbenturan dengan tembok.
“Apaan sih lo berdua?”
__ADS_1
“Anak kota ini emang gawe jengkel, yo.” Gumam salah satu dari mereka.
“Wes tekan, toh.” Mataku menuju ke sumber suara, Kak Mayang? Eh, dia datang sama Silvie?
“Piye rasane diseret?” Tanya dia sambil memegang pipiku.
Aku menepis tangannya, “nggak usah pegang-pegang!” Bentak ku, sejujurnya nyaliku cukup ciut untuk menghadapi emat cewek ini.
Sekarang, aku tidak bisa berharap ada pahlawan yang menolongku. Karena Mas Gema lagi di Jakarta, siapa lagi yang bisa ku harapkan?
“Ngeri ne, Lur.” Gumam salah satu dari mereka.
“Ada urusan apa sih?”
“Dan lo, Sil. Mana katanya ada acara angkatan?”
“HAHAHAHA! Kue kok yo goblok men toh. Mana ada acara angkatan pas lebaran?!”
Ish, aku hampir menangis. Keadaan hati dan mental ku akhir-akhir ini lagi down sekali. Dan sekarang aku harus berada di posisi seperti ini, sendiri.
“Lo ada masalah apa sih, Kak?”
“Masalah ki ono neng awak mu, Cah Kuto.”
Maksudnya? Aku merasa tidak punya masalah sama dia kok. Apa lagi sama mereka semua ini.
“Goro-goro kue, gacoan ku dadi sering halu!”
“Heh, gacoan ku sering pasang status fotone ndeke loh!”
“Kakak kelas incaran ku, juga suka sama dia.” Aku beneran tidak menyangka ini Silvie yang bicara.
“Krungu cah? Kuping mu jek berfungsi kan? Opo ra iso boso jowo?” Tanya Kak Mayang sambil menyelipkan rambutku ke sela telinga.
Aku menepis tangannya, “bacot, gue nggak budeg!”
Kak Mayang melotot, “wani tenan kue, yo!” Dia hampir menamparku, tapi aku bisa menahan tangannya. Aku tidak mau berperan payah di sini.
Naasnya, tanganku di pegang oleh kedua temannya yang tadi menyeret aku ke sini. Alhasil satu tamparan mendarat di pipiku.
“Rungokno. Oh, opo ben luweh jelas nganggo Bahasa Indonesia yang baik dan benar?”
“Dengerin, semua itu terusik sama kamu! Jangan sok cantik. Sampai Gema aja jadi berpaling ke kamu!” Aku yang awalnya menunduk langsung melotot.
Hah? Mas Gema? Ini semua cuman gara-gara aku dekat dengan dia? Padahal kita juga tidak punya hubungan spesial.
“Apa sih? Gue nggak punya hubungan apa-apa sama Mas Gema.”
Prak! Satu tamparan mendarat lagi di pipiku. Rasanya nyeri banget. Aku coba memberontak, tapi lagi-lagi tenagaku tidak cukup kuat untuk melawan mereka.
“Opo yo, glendotan koyok monyet ngono kok ra ndue hubungan spesial. Naif!”
Ku lihat emosi dia kembali naik, saat tangannya ingin menamparku, saat itu juga mataku pejamkan. Tapi kok ya rasanya lama tidak mendarat ke pipi.
“Kamu, sopo neh?” Ucap Kak Mayang.
Perlahan ku buka mata, hah? Asli? Dia ngapain di sini?
Mas Raksa lagi pegang tangan Kak Mayang, dari matanya aku lihat dia sangat marah. Perlahan genggaman pada tanganku terlepas.
“Kamu perempuan, kan? Tidak etis sekali perempuan kasar dengan sesama.”
“Nggak usah ikut campur sama urusanku, kamu itu siapa?”
Mas Raksa sempat menatapku sebentar dengan tatapan emosi. Aku hanya bisa menunduk, aku merasa lega, tapi juga merasa sedih. Kenapa dia datang di saat aku susah? Kan jadinya aku punya hutang budi.
“Saya? Saya, saudaranya Aeera.” Benar, dia saudara ku, dia Kakak Ipar ku.
“Saya muak, ya, lihat kelakuan kamu. Kalau kamu berani menyentuh Aeera lagi, saya kasih bukti ini ke kepala sekolah.” Aku tersentak, bukti apa? Mas Raksa sepertinya merekam kejadian tadi, soalnya dia sekarang sedang mengangkat ponselnya.
Aku melihat mereka ketakutan, ya gimana? Kalau bukti itu tersebar, otomatis mereka bisa dikeluarkan dari sekolah.
“I, iyo, Mas. Wes, masalah wes rampung nggeh, Ai?” Ucap Kak Mayang, aku hanya melihat dia, enggan mengangguk atau menggeleng.
Mas Raksa melepaskan tangan Kak Mayang sedikit kasar, setelah itu mereka bergegas pergi.
“Kamu tidak apa-apa, Ae?” Tanyanya khawatir sambil memegang kedua bahuku.
Aku menatapnya penuh kecewa, kenapa dia bisa mengkhianati Mbak Caeera. Tapi, emosiku harus bisa ku tahan.
“Huh, nggak papa, Mas. Makasih, ya.”
“Gue balik dulu.” Pamit ku, sambil melepas tangannya dari bahuku.
“Kamu ini kenapa sih, Ae?”
Kakiku langsung diam, aku sedikit menengok ke arahnya.
“Kamu tiba-tiba pergi. Kata Bibi kamu kembali ke Jogja, saya cari di stasiun sudah tidak ada.”
Berarti, yang waktu itu aku lihat beneran Mas Raksa?
“Saya hubungi kamu, nomernya sudah tidak aktif.”
Ini semua maksud nya apa? Dia mau meluluhkan hatiku? Setelah aku tau dia sudah menikah dan selingkuh?
Aku membalikkan badan, “Mas, lo mau ngomong apa juga gue dengerin. Tapi, percuma.”
__ADS_1
“Setelah gue tau lo selingkuh, masih berani temuin gue? Lo mau jadiin gue selingkuhan ke berapa?”
Dia berdiri di hadapanku, “selingkuh? Siapa yang selingkuh?”
Huh, susah ngomong sama lelaki hidung belang. Sudah ketahuan kalau salah, masih aja ngeles.
“Kemarin selingkuhan lo dateng ke gue.”
“Halah, bodoamat gue udah nggak perduli, ya.” Aku kembali berjalan meninggalkan dia, jujur saja sebenarnya pipi bekas tamparan Kak Mayang rasanya masih nyeri.
“Oh, sekali lagi makasih udah tolongin gue.” Ucapku lagi.
Tak terdengar lagi suara dia. Aku segera bergegas mencari becak. Saat ini aku ingin langsung ke hotel. Aku capek sekali. Tak disangka air mataku keluar lagi.
Sambil cari becak, sebisa mungkin aku menepis air mata ini. Malu kalau dilihat orang, jomblo kok nangis.
Setelah naik becak, air mataku masih tidak bisa dibendung. Pikiranku kalut. Kenapa akhir-akhir ini masalahku tambah berat? Aku selalu berusaha melupakan Mas Raksa, tapi saat belum terlaksana, aku tau dia berkhianat. Dan sekarang, dia datang menolongku, bicara omong kosong seakan dia tidak salah.
Aku bingung dengan semua ini, rasanya ingin menyerah. Aku kangen sama keluarga, aku ingin kumpul bersama lagi. Tapi aku tidak sanggup kalau harus sembunyikan ini semua dari Mbak Caeera. Apalagi dia pasti bisa baca gerak-gerik ku kalau lagi simpan rahasia.
Setelah sampai di hotel, aku langsung turun dari becak dan memberikan uang ke Abangnya.
“Berantem, yo, Neng sama pacarnya? Tadi lihatin kamu terus.”
Aku hanya menggeleng sambil sedikit tersenyum, segera memasuki hotel dengan langkah cepat. Tapi, ada Elvira yang sudah berdiri di pintu hotel.
Keadaan ku sedang lemah, aku tidak ingin tambah masalah. Segera ku balikkan badan menuju ke arah lain. Sebisa mungkin aku harus menghindar. Tapi, bodyguard nya berhasil menghalangi langkahku.
Huh, mau tidak mau aku harus menghadapi Elvira.
“Mau kemana sih, lo?” Ucapnya, aku segera membalikkan badan ke arahnya.
“Mau apa lagi?” Suaraku sudah tidak berenergi.
“Wow, lemes, ya. Abis berduaan sama Agler.” Sindirnya. Huh, masalah ini lagi. Jujur saja aku sudah tidak berminat membahas masalah ini.
“Pergi, ah! Kalau nggak gue lapor pihak hotel.”
“Lapor siapa? Lo aja lagi ngomong sama anak dari pemilik hotel ini!” Tuh kan apa aku bilang, ini hotel pasti punya dia. Soalnya caffe yang kemarin juga milik dia.
“Please, hari ini gue capek. Kalau mau ngobrol besok-besok aja bisa?”
Elvira bersedekap, “lo pikir waktu luang gue banyak?”
Ya, kalau sedikit. Untuk apa bela-belain ketemu sama aku? Kurang kerjaan.
“Gue cuman mau peringatin lo. Awas kalau sampai berani deketin Agler lagi!” Bisiknya.
“Lo bakal berurusan sama bodyguard gue.” Seketika aku melirik tiga bodyguard yang sedang mengelilingi kami, mereka sok nggak lihat, padahal aku yakin mereka dengar.
“Pikirin omongan gue baik-baik. Masa depan lo bisa terancam.”
Whatever.
“Iya, gue udah denger semua. Bahkan bodyguard lo juga denger kok.”
Elvira memberi kode kepada bodyguard menggunakan tangan, setelah itu mereka berempat langsung pergi menuju mobil mewah yang sudah terparkir tak jauh dari sini.
Huh, energi ku semakin habis saja. Aku berjalan lunglai masuk ke dalam hotel. Aku berharap hari ini tidak ada masalah yang datang lagi.
Baru merebahkan badan, sudah ada telepon masuk. Aku segera mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Iya, hallo.”
“Piye, toh. Wes rong jam urung kabari, Mbah!”
Aku mengusap wajah, “iyo, mbah, ngapunten.”
“Kue kenek opo? Kok kayane lemes?”
Aku segera duduk, “ha, ora, Mbah. Semangat ngene. Hehehe.”
Terdengar hembusan napas Mbah dari sana, “Ae, tenan urong iso muleh? Ono seng ape ngomong loh karo kue.”
“Sopo, Mbah?”
“Opo neh ki, Damar pe nyusul kue jarene.”
“Hah?” Aku kaget bukan main.
Sebenarnya dari kemarin chat mereka masuk ke ponsel. Tapi semua langsung aku block, pasti mereka minta nomor baruku ke Mbah.
“Ora usah, Mbah. Mengko nek ape mantok aku mesti kabari.”
Suara bising dari ponsel, “Ae. Pulang lo, ponakan pertama lo pengen ketemu, nih.”
Mendengar suara ceria Mbak Caeera semakin membuat hatiku teriris. Gimana kalau dia tau suaminya sudah berkhianat? Air mataku kembali mengalir. Sungguh berat menghadapi semua ini.
“Iya, Mbak. Selamat, ya. Nanti aku jenguk dedek bayi.”
Aku menenangkan napas karena tangisanku semakin menjadi.
“Aku tutup, ya, Mbak. Dah.”
Setelah memutuskan sambungan, aku menengkurapkan badan ke kasur. Tangisanku menjadu. Bagaimana bisa aku menghadapi ini semua sendirian, aku adalah satu-satunya yang tau kebenaran atas penghianatan orang lain.
Maafin Ae, Mbak. Aku nggak sanggup buat cerita.
__ADS_1
...🐣...