
Sudah dua hari dua malam aku tidak makan, sebenarnya asam lambung ku akan naik jika aku tidak mengkonsumsi obat maag.
Jika kalian tidak tahu, aku selalu menyimpan obat maag karena asam lambung ku memang tinggi. Makanya keluarga sedikit cemas kalau aku mengurung diri dan tidak makan selama ini. Tapi keadaan hati membuatku tidak selera makan, terlebih aku sangat kecewa dengan mereka.
Dua malam ini aku saat teduh, berdoa pada Tuhan agar memberikan jalan keluar yang tepat. Karena aku terlalu lemah untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan ke depannya. Tidak mungkin kan kalau aku harus begini terus selamanya? Bisa-bisa aku mati karena maag kronis.
Setelah saat teduh dua malam ini, sepertinya perlahan aku menemukan solusi, walaupun aku harus berjuang dengan kuat, dan mencoba untuk merelakan. Aku memilih untuk melepaskan Mas Raksa, karena aku pikir memang ini jalan terbaik. Aku dengan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Mengingat usia kami yang terpaut jauh dan juga perjodohan yang sedikitpun tidak ditentang oleh Mas Raksa. Jadi aku semakin merasa bukan hanya takdir yang tidak menginginkan kami bersama, tapi dia juga.
Mungkin selama tiga belas hari aku di Jakarta, selama itu juga dia dengan puas mempermainkan hatiku. Tidak hanya dia, semua orang yang aku percaya dan aku sayangi.
Semakin lama di Jakarta, maka keadaanku akan semakin parah. Jujur saja, saat ini aku sangat membutuhkan teman berbincang. Membutuhkan pundak untuk bersandar, dan membutuhkan dekapan untuk ku peluk. Perasaanku sangat terluka, begitu pula fisikku yang kian lama kian melemah. Aku tidak ingin ini semakin parah, mengingat aku akan memasuki dunia sekolah yang lebih tinggi. Jadi aku harus mempersiapkan mental dan pikiran.
Mungkin, orang berpikir aku sedikit lebay, tapi entah kenapa aku baru sadar, sakit hati terlalu berat untuk ku jadikan beban hidup. Selama ini aku tidak pernah merasakan cinta atau patah hati sedikit pun dan tiba-tiba aku harus mengalami ini semua, jadi aku bingung harus melakukan apa. Pura-pura baik-baik saja atau mengurung diri untuk menenangkan hati?
Sekarang pukul setengah tujuh pagi, dengan hati tegar dan keputusan yang bulat aku memilih untuk beranjak dari tempat tidur. Aku berdiri di depan kaca, ini aku? Perasaan baru kemarin aku berdiri di sini dengan hati yang gembira. Sekarang? Rambutku terikat tapi sudah tidak beraturan, mataku sembab dan berwarna hitam, juga bibirku pecah-pecah karena kurang cairan. Tapi untuk saat ini aku tidak peduli dengan semua itu.
Aku tidak menghiraukan keadaan wajahku saat ini, aku memilih membuka pintu kamar dan jalan menuju ke ruang makan. Aku tahu keluargaku sedang sarapan bersama, karena itu kebiasaan kami.
Aku berjalan perlahan, karena memang kaki ku terasa lemas. Menuruni anak tangga dengan berpegangan pada tembok. Langkah kaki ku tidak terdengar sedikitpun.
"Pokoknya aku mau Mamah pikirkan lagi keputusan ini. Mah, lihat keadaan Aeera, dia sangat shock dan terluka." Aku mendengar samar perbincangan mereka. Jujur saja aku tidak suka jika harus dikasihani seperti itu.
"Sekali lagi Mamah juga katakan kepada kamu, ini semua sudah Mamah pikirkan matang-matang."
"Mamah, Caeera. Sudah jangan bicara soal ini lagi, aku pusing, aku mau fokus ke Aeera dulu." Di sini, orang yang paling aku rindukan adalah Mbak Humeera, orang yang selalu ada untukku. Selama aku di Jogja, dia yang selalu aku ajak video call, dia yang selalu mendengar keluh kesah dan selalu menyemangati ku.
Perlahan aku dekati mereka, "aku baik-baik saja, jangan khawatir dengan keadaanku."
Sontak mereka melihat ke arahku, Mamah dan Mbak Caeera saling pandang, sedangkan Mbak Humeera berdiri menghampiri ku.
"Duduk Aeera, kamu mau makan? Ya ampun lihat keadaan kamu." Ucapnya panik sambil berusaha merapihkan rambut ku, lalu dia menuntunku untuk duduk di kursi makan.
"Aku nggak mau menjadi penghalang kebahagiaan orang lain."
Mereka menatapku penuh dengan pertanyaan. "Aku juga nggak mau menjadi sebab konflik keluarga ini."
"Aeera, kamu mengerti, kan, maksud Mamah?"
Aku mengangguk, "aku tahu, aku cuma kecewa aja."
Ku lihat mata Mbak Humeera mulai berbinar, "Aeera,"
"Aku nggak papa, Mbak. Kalau emang takdirnya udah begini, mau gimana lagi?"
"Gue tau apa yang lo rasain, tapi, coba pikirin konsekuensi ke depannya. Kalo emang lo gak suka dan gak rela, ngomong secara langsung, jangan sok baik-baik aja."
"Cae," gumam Mbak Humeera seakan menyuruh Mbak Caeera untuk berhenti berbicara. Memang ucapan dia membuat luka hatiku semakin parah.
Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Bukan saatnya aku mendengar ucapan panjang lebar itu.
"Di sini, kita bukannya sok kasihan sama lo. Gue, juga gak tega lihat perubahan sikap lo sedrastis ini. Jadi, gue mohon lo pikirin baik-baik."
Aku merasa semakin kecil, sekecil titik tinta dari bolpoin. Dada ku semakin sesak mendengar perkataan Mbak Caeera, aku memang tidak baik-baik saja, tapi aku mencoba untuk baik-baik saja, karena aku tidak mau orang-orang bersimpati kepadaku, aku tidak suka itu.
Mbak Caeera berdiri dari duduknya dan menggenggam tas hitam yang biasa dia gunakan untuk kuliah. "Gue ke kampus dulu, lo pikirin matang-matang, jangan kayak anak kecil. Lo udah remaja dan sekarang menuju dewasa. Jadi, lo harusnya tahu apa yang terbaik buat lo dan masa depan lo sediri."
Dia jalan meninggalkan kami, aku hanya tersenyum, dia dengan mudah mengatakan hal itu. Tapi dia tidak memikirkan keadaan yang menimpaku, jika aku bertahan dan tidak setuju dengan keputusan Mamah, memang aku bisa apa? Malah bisa runyam keadaan keluarga ini.
Di sini, aku memilih setuju karena aku tahu. Sekeras apapun aku menentangnya, aku tidak akan menang. Itu hanya memperkeruh keadaan.
Dia mungkin tahu keadaan hati dan psikis ku, tapi dia tidak tahu pilihan yang bisa aku ambil. Berbicara memang mudah, tapi tindakan tidak semudah itu. Jika memang dia pandai bicara, kenapa dia masih gagal meyakinkan Mamah untuk merubah keputusan? Bullshit!
__ADS_1
"Aeera,"
Mataku yang awalnya menatap tajam meja makan langsung menatap mata Mamah.
"Kamu pasti tahu kenapa Mamah melakukan ini, kan, Nak?"
Aku tidak menjawab, dan tidak berniat sedikitpun untuk merespons.
"Hm, aku ke kantor dulu, ya. Takut terlambat." Mataku tidak teralihkan dari wajah Mamah walaupun Mbak Humeera pamit.
Setelah Mbak Humeera pergi, Mamah melanjutkan ucapannya.
"Kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti ini semua. Mamah tahu kamu anak yang cerdas, pasti kamu paham apa tujuan Mamah melakukan ini."
Iya, hanya ingin Mbak Caeera bahagia, dan mengecewakan aku.
Ya Tuhan, aku jahat banget.
"Apa kamu sudah benar-benar setuju, Nak?" Pertanyaan itu, sungguh menyakitkan.
Sejenak aku menatap tajam mata Mamah, lalu menjawab, "iya, aku akan kembali ke Jogja."
Mamah mengerutkan keningnya, "bukannya kamu masih ada waktu lima hari di sini?"
"Aku nggak bisa lama-lama di sini, aku juga butuh tenangin diri. Yang penting aku sudah setuju, kan?" Aku mengatakan itu sambil tersenyum masam, memang saat ini mereka hanya membutuhkan keputusan ku.
"Mamah bukannya tidak ingin kamu bahagia. Kamu masih muda, kamu bisa mencari seseorang yang sepadan atau yang bisa membuat kamu lebih bahagia lagi."
Perkataan basi apa itu? Pilihan hatiku lah yang bisa membuat aku bahagia.
"Mamah melakukan ini juga karena memikirkan Caeera, dia telah kehilangan tunangan nya dan sampai sekarang belum bisa membuka hati. Mamah hanya ingin dia seperti dulu," aku benci sekali melihat Mamah menangis, aku tidak tega, hatiku semakin terluka.
"Kamu pasti juga lihat kan perubahan dia? Dia menjadi tomboi dan gemar mengendarai sepeda motor."
"Mamah lihat laki-laki yang bisa dekat dengan dia selama lima tahun ini hanya Raksa. Mamah berharap dia dapat merubah Caeera menjadi seperti dulu. Jadi, Mamah mohon kamu mengerti, Aeera."
Jika hanya aku yang berusaha untuk bertahan, itu akan sia-sia.
Ucapan Mamah semuanya benar, Mbak Caeera lebih membutuhkan Mas Raksa. Dia telah kehilangan tunangannya enam tahun yang lalu, dalam masa terpuruk nya, dia bisa melewati itu. Dan Mamah lah yang tahu, kalau hanya Mas Raksa laki-laki yang bisa membuat Mbak Caeera tertawa dan nyaman. Aku mengerti itu.
Bahkan aku sendiri secara sadar melihat ada yang lebih dari mereka berdua.
Aku mengangguk, "iya, besok Aeera akan kembali ke Jogja. Tunangan mereka bisa Mamah gelar secepat mungkin."
Aku sempat berhenti berbicara, dan menarik napas. "Tapi, jangan berharap lebih untuk aku ada saat acara itu berlangsung. Aku akan datang dengan sendirinya jika rasa kecewa sudah berangsur pulih."
Mamah tersenyum lega, "Mamah yakin kamu pasti bisa menjaga diri, kamu anak yang cerdas dan mandiri."
"Mamah pergi dulu, ya. Mau ke rumah Tante Edrea untuk membicarakan tanggal bagus. Kamu mau ikut?"
Aku menggeleng. Tanggal bagus? Untuk tunangan Mbak Caeera dan Mas Raksa?
"Kamu jangan lupa makan, mandi, dan pulihkan pikiran serta tenaga kamu. Mamah berharap kamu dapat berpikir lebih jernih, ya, Aeera." Lanjut Mamah.
Aku diam, hanya menundukkan kepala, mengangguk pun tidak. Kalian tahu? Aku menangis dalam diam.
Dari tadi Mamah berbicara aku hanya menatap meja makan. Setelah dia pergi, aku mengangkat wajah dan segera menghapus air mataku. Kali ini aku sampai sesegukan, ternyata semenyakitkan ini, ya, merelakan orang yang kita sayang pergi dengan orang lain. Aku pikir mudah.
Aku tidak dapat mengendalikan air mata dan sesaknya dadaku, semakin memaksa untuk berhenti menangis, semakin susah aku bernapas.
Aku hanya bisa menggunakan tangan untuk menghapus semua air mata yang menetes, "Aeera, kamu pasti kuat.”
"Aeera pasti bisa. Hump.."
__ADS_1
"Tuhan...“ Bahkan suaraku tidak sepenuhnya lancar untuk keluar, karena saking sesaknya dadaku saat ini.
“Tolong Aeera supaya dapat berhenti menangis."
Tidak, tidak bisa berhenti. Tangis ku semakin kencang.
"Hati Aeera sakit!!!!" Teriak ku sambil mengepalkan tangan di atas meja.
...🐣...
Setelah berhasil mengisi perut dengan sedikit makanan. Aku kembali ke kamar. Aku memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri. Setelah itu aku memutuskan untuk merapihkan semua baju ke dalam koper. Berat banget untuk meninggalkan rumah ini, harusnya aku masih bisa berkumpul dengan keluarga lima hari lagi. Tapi keadaan yang memaksa.
Aku selalu menarik napas agar air mataku tidak lagi terjatuh. Setelah memasukkan semua baju ke dalam koper, aku memilih keluar dari kamar menuju balkon. Aku ingin menghirup udara segar.
Mataku sempat mendelik kala melihat motor yang mirip dengan milik Mas Raksa berjalan pelan dari arah rumahku. Entahlah, mungkin aku hanya kebanyakan pikiran. Aku berdiri dan melihat pemandangan perumahan ini, tempat kelahiran ku juga tempat aku kecewa.
Di sinilah, tempat aku mulai menjatuhkan hati pada dia, Raksa Agler Buana. Orang yang sudah sangat dewasa, orang yang berhasil menciptakan kenyamanan untukku. Bahkan, dia berhasil membuat aku menanti sekian lama, tanpa ada kabar. Dia juga orang yang menghancurkan hatiku berkeping, dia juga yang mengajarkan aku akan arti merelakan. Setelah percaya akan berharganya aku untuk dia, sekarang aku percaya aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya anak kecil yang mengharapkan orang dewasa. Aku hanya anak kecil yang merepotkan hidupnya. Aku hanya orang yang tidak tahu diri, dengan beraninya melabuhkan kapal kecil pada pelabuhan yang besar.
Aku harap dia akan bahagia.
“Ae! Kamu di dalam?”
Gedoran pintu cukup keras kudengar. Gedoran itu dibarengi dengan suara yang sangat aku kenal, Mas Buana. Dia terus memanggil namaku dan menanyakan keadaanku, tapi untuk menjawabnya pun, tenagaku sudah tidak ada.
“Areea, jawab Mas Buana!” Teriaknya lagi, aku hanya dapat terisak. Di sini, di dalam gudang, sangat gelap. Tidak ada penerangan sedikitpun. Aku takut, aku selalu takut jika Ayah sedang marah.
“Aeera jangan di belakang pintu, Mas mau dobrak, ya?” Pinta Mas Buana.
Sayup ku dengar perbincangannya dengan orang lain, “ada di dalam?”
“Iya. Bantu aku dobrak, ya. Dia trauma sama kegelapan.” Jawab Mas Buana.
“Aeera tenang, ya. Sebentar lagi kamu bisa keluar.” Kali ini terdengar suara Mas Damar yang tidak kalah panik dari Mas Buana.
Ayahku. Baru pulang dari Denmark. Dia bekerja di sana, pulang hanya setengah tahun sekali. Tapi, setiap pulang tak jarang dia marah.
Tadi aku tidak sengaja menyenggol vas bunga yang dia beli beberapa tahun lalu. Ayah marah besar, karena vas itu sangat sulit dia dapatkan. Alhasil aku berada di sini, di tempat gelap yang selalu membuatku tidak berdaya.
Mamah, Mbak Humeera, dan Mbak Caeera tidak pernah dapat membendung emosi Ayah. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Brak...
Brak...
Beberapa kali kudengar perjuangan Mas Buana dan Mas Damar.
BRAK!
Akhirnya pintu berhasil terbuka. Mas Buana langsung memelukku yang sedang dalam ketakutan.
“Aeera tenang, Mas ada di sini. Mas nggak akan tinggalin Ae, oke?” Ucapnya berusaha untuk memenangkan ku.
“Aeera, kalau Ayah jahat lagi, langsung bilang ke Mas Buana. Mas akan selalu ada buat Aeera. Mas nggak akan buat kamu sedih dan ketakutan lagi.” Lanjutnya masih dalam posisi memelukku.
Aku membalas pelukannya dengan hangat, perasaan ku sudah cukup tenang, karena aku melihat sumber cahaya di sini.
“Ae tenang, Om lagi di urus sama Mamah.” Kali ini Mas Damar ikut menenangkan ku, dia mengelus rambutku dengan halus.
“Ingat, ya, kamu nggak pernah sendiri. Mas Buana selalu jaga kamu. Jadi, Aeera nggak boleh takut.”
Aku membuang napas kasar kala mengingat masa lalu. Ucapannya yang terdengar tulus, yang berhasil membuat aku sabar menunggunya. Tapi, semua sirna begitu saja.
Setelah mendapat angin segar, aku memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar, mengambil tas ransel kecil berwarna hitam. Lalu mengambil ponsel yang sudah tiga hari aku nonaktifkan untuk ku masukkan ke dalam tas. Tak lupa barang berharga lainnya juga.
__ADS_1
Aku siap, menghadapi hari baru tanpa rasa rindu. Tapi, rasa kecewa.
...🐣...