Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 12


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Mas Raksa terus menggenggam jemariku. Aku senang, tapi aku juga merasa bersalah. Aku tidak bisa menyembunyikan senyuman samar ku. Kepala ku tundukan, karena takut kalau Mas Raksa memergoki aku lagi tersenyum.


Akhirnya kami sampai juga di kebun teh yang luas dan memanjakan mata. Mas Raksa akhirnya melepas genggamannya dari tanganku. Aku menghirup dalam udara segar di tempat ini. Senyuman ku semakin mengembang. Rasanya hari ini adalah hari terbaik yang ku punya.


Hembusan angin terus menyeka kami berdua, ini angin segar tanpa polusi. Mas Raksa tersenyum kepada ku.


"Gimana?"


"Indah."


"Ini alasan saya mengajak kamu ke sini. Bukan hanya kebun teh ini yang indah, tapi ada yang lebih indah dari itu."


Aku yang dari tadi memandang wajahnya, hanya bisa bertanya. "Apa?"


Mas Raksa menggedikkan bahunya. Lalu dia berjalan dan duduk di atas batu yang cukup besar. Dengan penuh tanya, mau tidak mau aku mengikutinya.


Kami berdua duduk di batu itu, "mas, kenapa lo sekarang jadi dingin banget? Gue ada salah?"


"Menurut kamu, kalau kamu punya salah sama saya, apa mungkin saya mau mengajak kamu ke tempat ini?"


Aku berpikir sejenak, iya juga, terus kenapa dengan sikap dia?


"Terus kenapa?"


"Saya hanya malu dengan diri saya sendiri."


Jujur saja, aku sebodoh ini. Masih belum mengerti apa yang dia maksud. Ku tampilkan raut wajah butuh penjelasan lebih.


"Saya merasa tersaingi, padahal saya sendiri tidak berusaha sedikitpun." Rasanya ingin ku benturkan kepala ku yang lemot ini ke batu.


"Padahal saya belum berani jujur, takut dia tidak nyaman dan memilih pergi. Tapi saya takut kehilangan dia."


Aku mengacak rambut frustasi, lalu meringis. "Ada yang deketin Mbak Caeera?"


Mas Raksa tersenyum lalu menggeleng, "kamu tidak perlu tahu dan jika tidak tahu, tidak usah berusaha cari tahu.”


Dih? Kalau gitu kenapa cerita ke aku? Mas Raksa isi selalu saja bilang aku tidak perlu tahu saat aku bertanya lebih dalam masalahnya. Kalaupun aku tidak penting, untuk apa dia bercerita semuanya kepadaku?


"Ya udah, gue lebih suka tempe. Puas?"


Dia tertawa sambil mengacak pucuk rambutku, "hahaha. Memang kenapa kalau saya dingin?"


Akhirnya tawa itu muncul lagi, acakan tangannya untuk rambutku dia lakukan lagi. Walau rambutku tambah berantakan, tapi aku senang. Aku dapat merasakan dan melihat hal itu lagi.


"Gak papa sih, aneh aja kalo lo tiba-tiba cuek sama gue." Jujur, aku merasakan hal itu. Rasanya aneh dan aku sedikit kangen dengan godaan, senyuman, dan usapan tangan dia.


Dia melirik, "kamu kangen sama saya, ya? Merasa ada yang hilang?" Ledeknya.


Aku tersenyum malu, "pede gila lo." Dia hanya tertawa renyah.


Kami kembali menikmati pemandangan indah di depan, beberapa orang sedang memetik teh di kebun ini. Cukup lama kami diam, hening menyelimuti.


"Kamu kan kemarin sempat tanya kenapa saya tidak menyetir menggantikan Humeera?"


Oh, waktu itu. Yang ku ingat Mas Raksa tidak menjawab apapun, terus dia gak ada niat buat ngobrol sama aku.


"Kalau gak mau cerita ya gak papa sih, Mas. Gue gak maksa."


"Sebenarnya ada alasan cukup kuat, mungkin sama halnya kayak kamu takut kegelapan. Trauma."


Aku hanya mengangguk, menyimak ucapannya. Tumben banget dia terbuka gini.


"Bunda saya meninggal dalam kecelakaan mobil." Aku termenung, pantesan kemarin dia langsung diam tak menjawab ucapan ku. Ternyata aku menyakiti hatinya.


"Bukan hanya itu, Ayah dan Adik saya juga mengalami hal yang sama." Dadaku sesak, apa gara-gara ini Mas Raksa dingin ke aku?


Aku menautkan kedua tanganku, "maaf banget, Mas. Aeera gak bermaksud, kok. Sama sekali."


Dia tertawa ringan dan merangkul tubuhku, sontak aku mematung. Bunga-bunga rasanya tumbuh di atas perutku. Tak lupa, jantungku berdegup sangat kencang, melebihi biasanya.


"Kamu tidak salah. Saya hanya ingin bercerita. Mencoba terbuka sama kamu."


“Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita saya, Aeera.”


...🐣...


Mas Raksa membuka gerbang Villa, setelah kami masuk lalu dia tutup kembali. Kami memutuskan untuk kembali ke sini, lantaran sudah sore dan langit mulai mendung. Saat baru sampai di pintu utama, Mbak Caeera sudah menyapa Mas Raksa.


"Raksaa!" Teriaknya sumringah sambil berjalan ke arah kami.


Setelah itu dia menarik tangan Mas Raksa, "sini ikut gue."


Samar aku mendengar ucapan dia, "asik lo udah ada kemajuan," dan setelah itu hilang. Mereka jalan menuju taman belakang.


Baru juga senang, udah nyesek lagi aja.


Aku memilih untuk duduk di ruang tamu, di kursi kayu yang kemarin Mas Raksa sempat mengobati luka ringan ku, walau dengan kasar. Ah aku ingat, berawal dari situ sikap dia dingin. Saat aku bertanya mengenai kenapa dia tidak menyetir, memang dia sempat diam. Tapi setelah itu dia kembali mengajak ku berbincang.


Apa gara-gara dia tidak ikhlas mengobati lukaku, dia jadi dingin, ya? Aku sudah merepotkan dia.


"Diem aja, kesambet demit kebun teh kamu?" Tanya Mas Damar yang baru datang sambil membawa teh hangat, dia duduk di sebelahku.


"Eh, Mas. Mamah sama Tante kemana?"


"Itu lagi di dapur, beres-beres buat besok."


Aku hanya mengangguk, Mas Damar menyeruput tehnya. "Mau?"


Aku menggeleng.


"Setelah diajak naik pesawat, kamu sekarang diturunkan paksa ke perahu kayu, ya?"


Aku mengernyit, maksud Mas Damar, setelah diajak bersenang-senang sekarang aku dipaksa untuk bersedih? Oleh Mas Raksa?


Dari tadi pagi Mas Damar seperti menyindir aku terus, apa dia tahu perasaanku mulai tumbuh? Pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak. Sebenarnya aku juga tidak mau begini.


"Bahasa Mas Damar berat banget," ucapku sambil tersenyum samar.


Mas Damar menatap mataku, "mata kamu gak bisa bohong, Dek."


Aku mengerjap, memang mataku kelihatan kecewa ya?

__ADS_1


Aku berusaha untuk tertawa, "ini? Mata ku? Mata ngantuk, Mas. Tadi anginnya kenceng banget, jadinya kebawa suasana. Hahaha."


Reaksi Mas Damar? Dia tidak tersenyum sedikitpun, mukanya datar sambil menatap nanar wajahku.


"Kamu itu, sebenarnya tahu gak sih Raksa siapa?"


Saking bingungnya, aku menautkan alis. "Ha? Mas Raksa bukan manusia?"


"Aeera, Mas Damar serius!"


Aku sempat terdiam, berpikir. Memang Mas Raksa siapa?


"Mas Raksa, ya, Mas Raksa. Emang dia siapa?" Jawabku malah kembali bertanya.


Mas Damar yang awalnya bengong, setelah itu mengulas senyum, "hahaha. Gue ke taman belakang ya," ucapnya sambil mengacak pucuk rambutku.


Sebelum berhasil meminta penjelasan lebih lanjut, dia sudah berjalan sambil membawa teh hangatnya.


Aku duduk diam, memikirkan apa yang diucapkan Mas Damar. Tentang Mas Raksa, dia siapa? Mana aku tahu, dia aja tidak pernah terbuka.


...🐣...


Malam hari kembali tiba, sekarang sudah pukul sepuluh kurang tiga menit. Dari tadi kami menghabiskan waktu berkumpul di ruang televisi, di luar hujan deras, jadi kami memilih masak mie instan dan makan bersama. Rasanya bahagia sekali, semoga momen seperti ini sering terjadi.


Kami sudah berkumpul di kamar masing-masing, kecuali Mas Damar. Entah dia kemana tumben sekali. Aku berbaring di kasur menatap plafond berwarna putih. Ingin main ponsel tapi tidak ada yang chat. Sedangkan Mas Raksa dan Mbak Caeera sedang duduk di lantai antara ranjang kami, Mas Raksa bermain gitar dan Mbak Caeera bernyanyi.


Jujur saja, aku sangat suka melihat Mas Raksa memetik senar gitar. Seakan aku melihat Mas Buana di dalam dirinya. Tapi untuk saat ini aku enggan bergabung, takut mengganggu mereka. Aku berbaring sambil merasakan dadaku sedikit sesak, mencoba untuk tidak tahu dan tidak mendengar petikan dan nyanyian mereka.


Mas Damar membuka pintu, "main truth or dare, kuy!" Ajaknya sambil memperlihatkan botol kecap yang dia genggam.


Mbak Caeera dan Mas Raksa menghentikan aktivitas mereka, "gila lo, Mar. Botol kecap siapa yang lo betak?"


Mas Damar tersenyum malu, "tadi di dapur. Kecapnya gue tuang ke mangkok."


Sontak kami semua tertawa. Mas Damar ini sudah dewasa tapi kelakuannya konyol sekali.


"Hahahaha. Cari gara-gara aja lo." Ucap Mbak Caeera lagi.


Mas Damar memilih ikut duduk di lantai, "ydeh ayok, daripada bosen, kan?"


"Sini dek, turun!" Perintah Mas Damar sambil, melambaikan tangannya.


Mau tidak mau aku turun, duduk di antara Mas Damar dan Mbak Caeera.


"Ini gue puter, ya. Yang ditunjuk sama botol kecap nya dia pilih truth atau dare." Jelasnya. Aku hanya menyimak sambil melipat kedua kakiku.


"Gak bisa basa enggres." Ucap Mbak Caeera, Mas Damar tertawa lepas.


"Bacot mulut lo. Hahaha."


Mas Damar mulai memutar botol yang dari tadi sudah tergeletak di lantai. Putaran pertama justru mengarah ke dirinya sendiri. Sontak kami semua tertawa, kecuali Mas Raksa hanya tersenyum singkat.


"Halah, gue yang ajak gue yang kena. Kampret."


"Mampus, pilih apa lo?"


"Rahasia artis tuh mahal banget. Jadi gue pilih dare."


Mbak Caeera tersenyum mencurigakan, "keluarin hape lo. Buka instagram."


"Yahh, jangan dong."


"Cepetan, ish!" Mbak Caeera merebut paksa ponsel Mas Damar.


Aku dan Mas Raksa hanya menyimak.


"Ae, sini." Aku mendekat ke arah Mbak Caeera.


"Lo boomerang sini, biar ceweknya Damar cemburu." Lanjutnya.


Aku tersenyum jail ke arah Mas Damar, dia sedikit panik namun pasrah.


Setelah melakukan boomerang, Mbak Caeera menuliskan wanita tercanteeek pada insta story itu.


Ponsel Mas Damar dikembalikan, aku dan Mbak Caeera high five sambil tertawa.


"Nyesel gue ajak main ginian." Ucapnya sambil memutar botol kembali.


Kepala botol itu mengarah ke Mas Raksa.


"Truth." Dia langsung memilih.


"Hmmm." Gumam Mbak Caeera sambil berpikir.


"Siapa nih yang mau tanya?" Tanya Mas Damar.


Sebenarnya aku ingin bertanya, "lo tuh sebenernya siapa?" Tapi ku urungkan, karena takut terkesan kepo.


"Gue aja deh, lo berdua kelamaan." Ucap Mas Damar, nampaknya hari ini dia semangat sekali.


"Lo gak ada niat nikah?" Deg, yang ditanya Mas Raksa, yang deg-degan aku.


Mbak Caeera tertawa singkat, "ada gilanya juga lo, Mar. Pertanyaan paling nyebelin, asu."


Aku tersenyum kaku. Bingung ingin bereaksi seperti apa. Kami melihat ke arah Mas Raksa yang dari tadi belum menjawab.


Ku lihat dia malah kembali melihat ku, "belum waktunya." Ucap dia singkat.


"Udahlah, Rak. Lupain aja, banyak cewek yang deketin lo gila. Lo jangan mainin perasaan dia lah." Aku bingung dengan ucapan Mas Damar, maksudnya Mas Raksa mempermainkan perasaan Mbak Caeera?


"Gue gak mainin hati siapapun."


"Mulut lo, Mar." Tegur Mbak Caeera. Ya pasti dia tidak terima kalau pasangannya dibilang mempermainkan hati dia sendiri.


"Maksudnya, Mas Raksa permainin hati Mbak Caeera?" Pertanyaan ku membuat mereka bertiga saling pandang.


"Udah lupain, sekarang gue yang puter." Ucap Mbak Caeera. Ini kenapa seakan aku tidak tahu apa-apa di sini. Rahasia orang dewasa apa serumit ini?


Botol kembali diputar, dan sialnya kepala botol itu berhenti tepat ke arahku.


"Asik, ngerjain Aeera nih." Gumam Mas Damar sambil tersenyum jail.

__ADS_1


Mengerikan sekali, kalau aku pilih truth nanti dia tanya masalah Mas Buana, dan aku enggan menjawab. Kalau aku pilih dare, pasti tantangannya hal yang aneh.


"Dare aja deh, rahasia artis." Ucapku mengikuti nada bicara Mas Damar tadi.


Mas Damar berdecik.


"Emm apa ya?" Pikir Mbak Caeera.


Mas Damar mendapat ide, "sebutin nama lengkap kita bertiga. Kalo kalah lo tidur di luar."


Mataku membelalak, tidur di luar?


"Loh, gak bisa gitu dong. Masa tidur di luar?" Bela Mas Raksa, kali ini aku setuju dengan dia.


"Hahaha. Bercanda, Rak. Ya kali adek gue tidur di luar." Kata Mbak Caeera, aku jadi sedikit tidak enak.


"Pokoknya kalo gak bisa ada hukumannya." Kata Mas Damar.


Aku berpikir sejenak, kalau nama Mbak Caeera sih di luar kepala. Nama Mas Damar juga gampang. Nah, nama Mas Raksa ini siapa. Ya ampun, permainan gini aja bikin pusing.


"Caeera Nayana Barsha." Ucapku sambil menunjuk Mbak Caeera.


"Damar Juan Wijaya." Lanjut ku sambil menunjuk Mas Damar.


"Widihh kamu inget juga ternyata." Cengir Mas Damar.


Mas Raksa melihatku tanpa berkedip, aku mulai panik. Siapa nama lengkap Mas Raksa, di WhatsApp namanya Raksa AB. Tapi malah ku jadikan Raksa Aneh Banget.


"Mas, Raksa AB." Ucapku sebisanya.


Sontak mereka tertawa, kali ini aku melihat Mas Raksa tertawa lepas. Aku juga ikut tertawa karena kebodohan ku sendiri.


"Hahaha. Iya AB, itu singkatan dari apa?" Tanya Mbak Caeera.


Aku menggeleng, "gak tau, aku nyerah."


Mas Damar tersenyum jail ke arahku, "asik ngerjain Aeera."


"Dihukum apa ya kira-kira." Pikir Mbak Caeera.


Ku lihat Mas Raksa masih mengulas senyum, aku meratapi nasib. Sudah berapa kali aku kelihatan bodoh di depan Mas Raksa, pasti dia semakin ilfeel.


"Emang nama lo siapa?" Pertanyaan itu muncul dengan sendirinya dari mulut aku. Sontak semuanya melihat ke arahku.


"Raksa Agler Buana," jawabnya. Aku mematung.


B, Buana? Mas Buana? Mas Raksa adalah Mas Buana? Jadi tadi sore yang dimaksud Mas Damar tentang ini? Siapa sebenarnya Mas Raksa? Jadi dia Mas Buana, orang yang selama ini ku rindu?


Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa aku tidak mengenali Mas Buana? Dari fisik sampai sifat, semua berubah. Tidak ku kenal Mas Buana yang dulu dalam dirinya yang sekarang. Oh, tidak. Aku melihat Mas Buana ada dalam diri Mas Raksa saat dia bermain gitar.


Aku bahagia tahu dia baik-baik saja. Aku bersyukur kala ini dia nampak bahagia. Tapi, aku harus menepati janjiku, aku akan melupakan dia secara perlahan ketika dia sudah menemukan kebahagiaan yang baru. Mbak ku sendiri.


Aku tersadar dari lamunan, kala jentikan jari Mas Damar berada di depan wajahku. "Oi, kenapa sih?"


"Eng, enggak papa, Mas. Gimana?" Jawabku gugup, aku melihat Mas Rak—Mas Buana, dia juga melihat ke arahku. Ekspresi dia datar, tidak tersenyum seperti tadi.


"Push up aja deh, 20 kali." Saran Mbak Caeera.


"Yah, capek lah, Mbak."


"Jangan, olahraga malam nggak bagus." Ucap Mas Raksa. Jujur saja aku tidak terbiasa memanggil dia Mas Buana. Sekarang aku malah jadi canggung, padahal selama ini aku mencari dan merindukan dia.


Rasanya sekarang aku mau nangis, kenapa dia gak jujur? Apa aku semudah itu untuk dibodohi? Hiks.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahan air mataku untuk jatuh.


Tok... Tok... Terdengar ketukan pintu dari luar kamar kami.


"Kalian tidur, jangan begadang. Besok melek sampai malam!" Suara Mamah menghimbau kami. Aku bersyukur tidak jadi dihukum.


Dan bersyukur bisa segera meratapi nasib menghadap tembok yang kosong, seperti hatiku.


"Iyaa, Mah." Jawab Mbak Caeera. Aku tidak sanggup menjawab dengan suara kencang, takut jika air mataku tiba-tiba turun. Hanya ku jawab di dalam hati.


Aku kembali menatap Mas Raksa, aku masih tidak percaya. Dia berkamuflase sangat jauh sekali. Hebat, sampai aku tidak mengenalinya. Dan tentu saja dia berhasil mempermainkan ku.


Aku mengulas senyum masam. Matanya juga melihat ke arahku, namun lagi-lagi ekspresinya datar. Malah, seakan matanya mencerminkan rasa khawatir.


"Yaudah, kamu kali ini selamat, Dek." Kata Mas Damar yang berhasil membuat aku melihat dia seketika.


Aku tersenyum singkat, dia mengusap punggungku dengan halus sambil mengangguk.


Arti dari itu semua apa, Mas? Gelagat dia aneh sekali.


"Udah, balik ke kasur masing-masing. Langsung tidur, nggak usah over thinking." Lanjut Mbak Caeera, dia segera menuju ke kasurnya begitupun yang lain.


Aku menaiki tangga ranjang, memilih untuk langsung berbaring menghadap ke tembok.


Akhirnya air mataku lolos juga.


Padahal aku berharap akan bertemu Mas Buana dengan rasa berbunga. Tapi, kenapa aku malah kecewa? Dadaku sesak sekali, lebih sesak saat melihat dia bersama sumber kebahagiaannya saat ini.


Aku terisak, beberapa kali mengusap air mataku yang jatuh ke pipi. Mengingat ucapan Mas Damar,  bahwa dia tahu siapa Mas Raksa. Hanya aku yang bodoh.


Mengingat pula ucapan Mas Raksa saat di mobil, dia juga memiliki sahabat kecil. Tapi, dia enggan menceritakan rasanya saat ini. Aku jadi sadar, cintaku tidak terbalas.


Tuhan, aku bersyukur Engkau mengabulkan setiap doaku. Dia sehat dan bahagia. Engkau telah menjaga dia. Aku akan menepati janjiku, melupakan dia dengan perlahan. Aku ikhlas.


Tawanya, genggaman tangan, dan usapan pada rambutku. Semua terasa fana. Aku bahagia sudah merasakan hal itu lagi, walau tidak sadar siapa dia sebenarnya.


Aku teringat senyuman sinis dia tadi pagi saat jalan menuju kebun teh, ingat betul ucapannya, "masa lalu kamu? Itu hanya membuat kamu nyaman, tidak lebih."


Aku memejamkan mata. Air mata semakin deras, dada semakin sesak, dan hidungku semakin mampet.


Sesakit ini, sakit hati yang teramat dalam, lebih sakit saat aku kehilangan dia.


Terbayang kebersamaan dia bersama Mbak Caeera, keseruan dia, tawa candanya, dan keakraban mereka.


Aku menangis sambil tersenyum, senyuman yang seharusnya saat ini keluar. Bukan tangisan yang payah ini.


Aku payah karena kalah dengan egoku.

__ADS_1


...🐣...


__ADS_2