Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
EPS 29


__ADS_3

Memasuki kawasan sekolah dengan wajah bersinar, baru kali ini terjadi padaku. Entah kenapa, rasanya hari ini sangat indah sekali. Walau banyak siswi yang memandangku sinis, tidak ku hiraukan mereka. Aku ingin belajar cuek dan tidak memperdulikan komentar orang lain, kecuali komentar yang membangun.


Ku edarkan pandangan ke sekitar, kemana Mas Gema? Rasanya aku ingin berbagi kebahagiaan.


Tapi, apa sikap dia akan berubah setelah kejadian kemarin? Jujur saja, aku tidak pernah menyangka dia akan mengungkapkan perasaannya.


Jangankan mengungkapkan, aku tidak menyangka dia memiliki rasa lebih.


Memang, ya? Persahabatan lawan jenis tidak ada yang natural?


Kalau dipikir-pikir, sekarang aku menjadi ragu. Rasanya akan canggung bukan, jika aku menghampiri dia dengan senyuman merekah?


Aku menundukkan kepala, berjalan sambil melihat langkah kakiku yang melewati begitu banyak keramik putih. Rasa ingin mencari Mas Gema, pupus begitu saja.


“Aira!”


Sontak pandanganku langsung tertuju pada seseorang yang memanggil namaku.


Mas Gema?


Dia sedang duduk di tangga pinggir lapangan sambil memegang bola basket. Oh, hari ini pelajaran pertama dia olahraga?


Ku lihat tangan Mas Gema melambai, sepertinya dia memanggilku untuk menghampirinya. Ku putuskan untuk melangkahkan kaki, menghampiri dia.


“Kamu dipanggil kok malah bengong sih?” Tanya Mas Gema. Pikiranku sedikit terhambat.


Reaksi dia seakan tidak terjadi apa-apa?


Dia menggenggam tanganku, “sini duduk. Kok tumben diam aja?” Tanya dia lagi.


Akhirnya aku duduk di sebelahnya.


“Mas, Mas Gema abis ngapain?”


Alasan aku bertanya seperti itu, karena kulihat banyak sekali keringat yang keluar dari dahinya.


“Aku? Habis olahraga pagi.”


“Tumben? Jam pelajaran belum mulai loh?”


“Iya. Biar hariku tetap cerah.”


Aku semakin bingung dengan ucapannya. Baru kali ini kulihat Mas Gema berkeringat pagi hari di sekolah. Bahkan dia terlihat sangat lelah, napasnya saja masih turun-naik.


“Udah lupain. Kamu diantar Mas Raksa?”


Dia ini seperti yang biasa saja, ya? Apa aku yang berlebihan?


Aku tersenyum sambil mengangguk, “iya. Tapi dia langsung jalan ke Jakarta.”


Kulihat reaksinya. Wajahnya berpaling ke arah lain, lebih tepatnya membelakangi ku. Tak lama dia kembali melihat ke arahku sambil tersenyum.


“Wah. Gimana, semua sudah jelas?”


Jujur saja. Pembicaraan dengan topik Mas Raksa membuat semangatku terbakar kembali.


“Aduh. Aku merasa bodoh banget loh, Mas.”


“Cuman karena salah paham, hidupku langsung berubah seratus delapan puluh derajat.”


“Terus aku kayak orang yang paling hancur. Paling tersakiti. Paling kecewa.”


“Padahal, itu semua cuman salah paham. Cuman karena aku nggak mau dengar penjelasan orang lain.”


“Aku nyesel banget.”


Mas Gema tertawa?


“Hahaha. Kamu ini semangat banget.”


“Kamu nggak boleh menyesal, ra. Semua terjadi juga nggak kebetulan.”


“Anggap aja ini proses supaya kamu tambah dewasa, betul?”


Aku setuju! Kepalaku anggukkan dengan semangat.


“Bener. Aku ingat, dulu Mas Gema pernah bilang kalau, bisa jadi semuanya hanya salah paham.”


Kulihat dia nampak berpikir, mungkin dia lupa? Tapi aku ingat banget ucapannya.


“Ihh! Waktu itu loh, Mas. Waktu kita pertama kali ketemuan di Jogja. Aku telepon Mas Gema sambil nangis-nangis.”


“Ohh. Yang kita ketemu di warung steak dekat rumah Mbah?”


Aku mengangguk, membenarkan ucapannya.


“Yang waktu itu kamu lemas banget kayak orang belum makan. Mata sembab, hidung merah, bibir—”


“Ihh, jangan dilanjutin dong. Pointnya bukan yang bagian itu. Aku kan malu.”


Dia tertawa terbahak sambil mengusap pucuk kepalaku. Sungguh, sikap dia tidak berubah sedikitpun.


“Oke... Maaf-maaf.”


“Waktu itu kan, Mas Gema bilang, mungkin semua yang aku ceritakan hanya salah paham. Tapi ku kayak nggak percaya gitu.”


“Ehh, ternyata benar cuman salah paham.”


“Jadi?” Tanyanya.


“Jadi... Mas Raksa nggak menikah sama Mbak Caeera!” Ucapku semangat.


Senyuman tulus terlukis di bibirnya. Entah, bagaimana mungkin aku merasa, ada kesedihan dan kekecewaan pula di sana.


“Bagus dong, berarti masalah kamu sudah clear?”


“Mungkin?”

__ADS_1


“Kenapa?”


Aku juga bingung apa alasannya.


“Entah.”


“Kamu ini.”


“Semoga aja clear, Mas.”


“Amin.”


Setelah itu, hening melanda kami.


“Hm. Ra.”


Kepalaku tengokkan ke arahnya.


“Aku mau bicara serius.”


Bicara serius? Seketika jantungku berdegup dengan kencang. Apa masalah baru akan datang kembali?


“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Ra.”


“Setelah ini, kamu bisa kalau mau nggak bicara sama Mas lagi. Semua keputusan ada sama diri kamu.”


Ada apa ini? Kok suasananya jadi mencekam? Tumben sekali Mas Gema berbicara seperti ini.


“Ada apa, Mas?”


Tring... Tring...


Ah, sial! Bel masuk pelajaran pertama tiba-tiba berbunyi. Kenapa harus disaat keadaan serius seperti ini? Semuanya jadi menggantung. Aku tidak suka itu.


“Kamu masuk kelas dulu. Jangan sampai telat loh, jam pertama Pak Adhi, kan? Hii, killer.”


Ucapnya seakan ingin mencarikan suasana. Tapi, tidak bisa begitu saja cair. Seperti es batu, pasti ada proses dimana dia bisa kembali menjadi air bening.


“Aku mau dengar semua sampai selesai. Baru bisa fokus belajar matematika.”


“Nggak bisa, Ra. Lihat, teman kelasku udah jalan ke sini.”


Dia mengelus punggungku, “kita lanjut nanti di kantin. Oke?”


Tidak. Tidak bisa hilang begitu saja di benakku.


“Arek wedok, ngapain di sini? Ganjen banget?” Sindir Kak Mayang yang baru saja datang.


Ah, sial. Nenek lampir ini menganggu lagi.


“Kita ketemu di kantin, jam istirahat pertama!” Pesanku kepada Mas Gema sebelum beranjak.


Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Jangan dengerin kata nenek lampir.” Bisiknya.


Aku sedikit tersenyum mendengar bisikan Mas Gema. Sudah pasti sindiran itu untuk Kak Mayang.


“Aduh panas banget, ternyata ada percikan api neraka di sini.” Sindir ku saat ingin melewati Kak Mayang.


...🤟...


Jam pelajaran demi jam pelajaran berlalu. Tidak ada ilmu yang masuk ke dalam otakku. Semua ini salah Mas Gema, karena dia membuat semuanya menggantung.


Kira-kira dia ingin berbicara apa? Huhh, apa ada masalah baru yang akan datang?


Bel istirahat pertama berbunyi. Aku segera bergegas memasukkan alat tulis ke dalam tas. Lalu mengambil ponsel dari kolong meja.


Senyumanku kembali terlukis, kala melihat pesan dari Mas Raksa.


Mas Raksa


09.45 WIB


Saya istirahat di rest area sebentar.


Gemas sekaliii. Kemarin Mas Raksa sendiri yang membuka blokir nomornya di ponselku. Ada angin apa dia sampai mengirim pesan kegiatan yang sedang dilakukan?


^^^Good. TTDJ.^^^


^^^09.47 WIB^^^


Kamu sudah makan?


09.47 WIB


^^^OH IYA!^^^


^^^09.48 WIB^^^


^^^Gue ketemu Mas Gema dulu, ya.^^^


^^^Ada hal yang mau dia bicarain.^^^


^^^09.48 WIB^^^


Oke.


Semoga semua urusan, segera clear.


09.48 WIB


Tidka lagi ku balas pesan Mas Raksa. Aku hanya membalas dengan mengucapkan amin di dalam hati.


Langkah kakiku berjalan cukup cepat menuju kantin. Menemui Mas Gema, supaya semua masalah cepat selesai.


Kulihat dia sedang duduk sendiri sambil bermain ponsel. Cukup serius, sampai tidak sadar kalau aku sudah duduk di hadapannya.

__ADS_1


“Mas?”


Mas Gema cukup kaget, refleks dia meletakkan ponselnya di meja dengan posisi tengkurap.


“Eh, Ra? Sejak kapan?” Tanya Mas Gema sedikit linglung.


“Baru aja duduk. Mas Gema belum pesan?”


“Udah, udah. Tadi sudah saya pesan dua mangkuk bakso.”


“Suwun, Mas.” Ucapku terima kasih atas kebaikan Mas Gema.


“Oke. Jadi, lanjutan obrolan tadi pagi, gimana?” Tanyaku serius. Jujur saat ini aku menghindari basa-basi.


“Oh. Kamu masih penasaran dengan hal itu?”


Ku putuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya.


“Jadi begini, Ra. Ingat permintaan Mas, ya.”


“Setelah ini, kalau kamu mau tidak kenal lagi sama aku, nggak apa-apa.”


“Kamu marah, nggak masalah.”


“Jadi, Mas serahin semua ke kamu.”


Sepertinya serius sekali?


“Atas nama Kakakku, aku minta maaf sama kamu, ya, Ra.”


Kakak Mas Gema? Siapa? Sepertinya aku tidak kenal. Bagaimana bisa Kakaknya punya salah terhadapku?


“Maksudnya? Aku nggak kenal sama dia.”


Mas Gema mengeluarkan satu Kartu Pelajar dari dalam dompetnya. Langsung ku ambil begitu dia letakkan di atas meja.


Jujur saja mataku terbelalak melihat nama panjang Mas Gema.


Gemawan De Geass.


De Geass?


Elvira De Geass?


Mataku bergantian melihat Kartu Pelajar dengan Mas Gema.


Saking tidak percayanya. Ku ambil ponsel dari saku rok abu-abu. History Google memunculkan nama Elvira De Geass.


Benar? Mas Gema adik dari Elvira?


Tanganku lemas terletak di atas meja, begitu ponselku juga.


“Ra, aku beneran minta maaf.”


“Mas nggak mau kamu kecewa, makanya jujur sama kamu.”


“Aku kira, dengan mengancam Kak Elvira, dia akan stop. Tapi aku benar-benar marah saat kamu disekap di mobil.”


Aku memilih untuk mendengar semua penjelasan Mas Gema. Tidak tahu harus berbuat seperti apa.


Kecewa? Tidak. Aku tidak kecewa sedikitpun. Terlebih sifat Mas Gema sangat berbanding terbalik dengan Elvira.


Aku tidak bisa menyalahkan dia begitu saja. Memang siapa yang mau dilahirkan sebagai adiknya Elvira, cepet cantik yang sangat kejam dan gila kekuasaan.


Pantas saja, kala itu Elvira pernah berucap mengenai adiknya. Saati itu aku bingung dengan maksud ucapannya. Ternyata, di hadapanku saat ini adalah adik yang dia maksud?


Daripada kecewa, aku lebih takut. Takut karena berurusan dengan keluarga besar seperti mereka. Keluarga yang memiliki pengaruh besar di kota tempat aku tinggal.


“Ra. Semua ada di tangan kamu. Aku nggak akan larang kamu mengambil keputusan, apapun itu.”


Ku beranikan diri untuk mengungkapkan apa yang aku pikirkan.


“Mas. Aku nggak kecewa sedikitpun. Karena aku tahu, Mas Gema nggak sama kayak Elvira. Bahkan Mas Gema berani tolongin aku, dengan melawan Elvira.”


“Tapi...”


“Jujur aja. Aku lebih takut berurusan lagi sama kalian. Kejadian yang dilakukan Elvira cukup buat aku takut, Mas.”


“Makasih, Ra. Makasih kamu tahu kalau aku beda sama Kak Elvira.”


“Kamu nggak perlu takut. Kamu sendiri yang bilang kalau aku beda sama dia, kan?”


“Kemarin waktu kamu cerita kalau dia mengancam kamu. Jujur aku khawatir. Aku tau dia gila sama Mas Raksa.”


What? Aku butuh penjelasan dari kalimat terkahir.


“Hubungan mereka, hanya dua tahun. Itupun, aku tahu, Kak Elvira yang menyetir semuanya. Dari akun sosial media, Kak Elvira aja yang selalu post tentang mereka. Sampai di kehidupan nyata, Kak Elvira yang berjuang.”


“Aku tahu, saat itu pacar Kak Elvira sudah jenuh. Akhirnya mereka putus. Tapi setelah beberapa tahun, Kak Elvira masih berjuang sendiri.”


Perjuangan Elvira cukup membuat aku tertegun.


“Jadi, Mas Gema udah tahu Mas Raksa mantan Elvira sejak kita pertama ketemu?”


Kalau iya. Berarti dia hanya mempermainkan ku selama ini? Tapi, kenapa dia terkesan sangat baik dan selalu mendukung ku?


“Enggak. Aku nggak tahu sama sekali, Ra.”


“Foto yang di postingan Kak Elvira selalu siluet. Kak Elvira pernah bilang kalau pacarnya selalu enggan difoto.”


“Dan lagi, nama yang dia sebut selalu Agler, bukan Raksa.”


Ku buang napas lega. Untung saja tidak sesuai dengan dugaanku.


“Aku sangat minta maaf, Ra.”


“Mas cerita semua, supaya kamu bisa bilang ke Mas kalau dia macam-macam lagi.”

__ADS_1


“Mas khawatir sama kamu.”


...🌻...


__ADS_2