
...🐣...
Hari ini hawa dingin menyelimuti tubuhku, aku mencoba menggerakkan tubuh setelah semalam tidur nyenyak. Ugh, rasanya tubuhku sedikit ngilu karena insiden jatuh kemarin.
Cukup sakit di bagian pinggang dan kaki, "akh!" Keluh ku sambil mengerutkan kening, namun mata tetap ku pejamkan karena jujur saja aku masih mengantuk.
"Hm," otomatis aku membuka mata saat mendengar suara batuk yang disengaja.
Ku lihat Mas Raksa sedang duduk bersandar di atas kasurnya sambil bermain ponsel. Mas Raksa mengambil kasur yang berada di bawah, sedangkan Mas Damar di atas.
Mata dia masih fokus ke ponsel, "badan kamu sakit?"
Aku menggeleng, "enggak."
Ku putuskan untuk bangkit dari tempat tidur, aku melihat ke kasur Mbak Caeera dan Mas Damar, ternyata sudah kosong.
"Mereka sedang sarapan di bawah."
Aku mengerutkan kening, "terus, lo ngapain di sini? Gak sarapan?"
"Tidak, kamu kenapa perhatian sekali?" Mendengar reaksi Mas Raksa, aku hanya bisa bergidik geli.
Ch, aku memicingkan mata. "Pede gila, lo."
Aku hendak berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar, namun menghentikan langkah, kembali melihat ke arah Mas Raksa.
"Mas,"
"Hm?"
Aku berjalan ke kasurnya, "gue mau nanya,"
Dia masih fokus ke ponselnya, "apa?" Matanya sama sekali tidak beralih ke arahku.
"Hm," aku memutuskan untuk duduk di tepi ranjang miliknya. Anehnya dia sedikit kaget dan memutuskan untuk menyilakan kaki yang awalnya selonjoran.
Matanya sontak melihat ku dan ponselnya dia letakkan begitu saja, "kasur kamu yang itu." Ucapnya sambil melihat kasur yang tadi aku gunakan untuk tidur.
"Ck, lagian gue mau nanya lo malah sibuk ke hape."
"Geser ke belakang!" Perintahnya, sambil menggerakkan tangan layaknya mengusir. Dia ini kenapa sih? Masih pagi sudah bikin orang bingung saja.
Apa aku sangat menjijikkan sampai dia enggan dekat sama aku ya?
Aku mengikuti perintahnya walaupun sambil menggerutu, "ish, kenapa sih?"
"Tanya apa?" Ucapnya dengan nada ketus.
"Itu, kamar mandinya ada kecoak nya nggak?" Ku lihat Mas Raksa menautkan dahinya, "terus, ada air hangatnya gak?"
"Ada."
"Asli, ada kecoak nya? Mode terbang gak?" Ucapku panik membulatkan mata.
Jujur saja, serangga yang paling menjijikkan menurutku adalah kecoa. Apalagi kalau mode terbang. Seakan dia tau kalau aku takut, dia malah sengaja menghampiri ku dengan seenak jidat.
"Bukan, maksud saya ada air hangat."
Aku membuang napas lega, "huh, gue kira. Oke, makasih." Memang orang tua tidak jelas kalau jawab pertanyaan.
Aku memutuskan untuk kembali berjalan ke kamar mandi, "jangan lupa bawa handuk dan pakaian ganti, saya ke bawah dulu." Kata Mas Raksa, setelah itu dia pergi begitu saja.
Ah iya hampir lupa. Lagian dia kenapa masih di kamar sih? Bukannya sarapan di bawah.
...🐣...
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku memutuskan turun ke bawah untuk sarapan. Siapa tau yang lain masih di sana.
Karena tubuhku rasanya seperti remuk, aku turun dari tangga sedikit pelan bukan seperti biasanya. Ku lihat di meja makan hanya ada Mas Raksa yang sedang bermain ponsel.
Orang tua satu ini, hape troos kerjaannya.
Mataku melihat kiri kanan, tidak ada siapapun selain Mas Raksa. Sebenarnya aku sedikit malas berpapasan dengan orang ini lagi, karena masalah kemarin. Bukan masalah tas, tapi mengenai dia pergi bersama Mbak Caeera.
Sebenarnya aku juga bingung kenapa sedikit jengkel lalu memutuskan untuk tidur, rasanya dadaku sedikit sesak kalau mendengar perbincangan mereka. Dan saat ini aku harus dihadapkan lagi dengan dia, cowok yang sedikit membuat jantungku berdegup kala melihat matanya.
Ku tarik kursi di hadapan Mas Raksa, sang empu melihatku dan meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Sudah selesai mandinya?" Pertanyaan basa-basi yang sangat tidak ku sukai.
Aku tidak berminat untuk menjawab, "yang lain udah kelar sarapannya?" Jawabku kembali bertanya.
Mas Raksa mengangguk, lalu dia mengambil piring dan menyendok nasi goreng ke atas piringnya. "Lo belum sarapan?" Aku bingung kala melihat dia mengambil sarapan, apa dia memang belum sarapan? Atau memang mau sarapan lagi?
Dia sejenak menatapku, aku memutuskan untuk mengambil piring dan nasi goreng. Enggan menatap matanya kembali.
"Belum." Aku hanya mengangguk sambil sibuk mengambil ayam goreng.
Ku lihat Mas Raksa lahap menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Kalau selahap itu, kenapa tidak dari tadi sarapannya? Aneh sekali om-om ini.
Di tengah sarapan, kuselingi dengan perbincangan agar tidak terlalu sepi, karena Mas Raksa hari ini sedikit aneh. Dia tidak sebawel biasanya. Tapi memang terkahir dia sangat cuek dan dingin.
"Emm, tempat enak buat jalan-jalan di sekitar sini di mana, Mas?"
"Taman," jawabnya singkat
Aku berpikir keras, cowok ini kenapa tiba-tiba cuek bebek, ya? Apa aku ada salah?
"Oh, gitu."
"Taman buat main anak-anak atau kayak santai doang, Mas?" Lanjut ku.
"Santai,"
Jujur orang ini menyebalkan sekali.
Aku memilih untuk bertanya lagi, "sepi apa ramai?" Siapa tau dia tidak dingin lagi.
"Sepi."
Aku tersenyum sumringah, "wihh, enak buat pacaran, ya. Romantis gitu."
Sebenarnya niat ku ingin meledek dia, karena kemarin dia habis pacaran di sana. Tapi kenapa hatiku sedikit sakit, ya?
__ADS_1
Mas Raksa melihatku sejenak, lalu melanjutkan makan kembali. "Kamu mau pacaran sama siapa di sana?"
Akhirnya tujuh kata keluar dari mulutnya, tidak sesingkat tadi. Walaupun pertanyaan itu sempat membuatku berpikir untuk menjawab apa.
"Siapa aja yang mau."
“Mas Raksa mau?” Lanjut ku iseng. Hal ini bertujuan agar om-om ini tidak cuek lagi. Siapa tau dia terpancing.
Uhkk! Aku cukup kaget saat tiba-tiba Mas Raksa tersedak makanan. Dia langsung menenggak air dari gelas.
“Kamu kalau lagi makan jangan ngomong yang aneh-aneh.” Ucapnya. Loh? Aneh apanya?
“Aneh gimana? Gua kan cuman nawarin Mas Raksa, mau atau engga?”
“Mau apa?” Pertanyaan Mas Raksa seakan menantang. Seketika nyaliku ciut layaknya anak ayam yang baru menetas.
Aku diam sejenak, berpikir baiknya menjawab apa. “Emm. Apa ya tadi, tiba-tiba lupa.” Jawabku sambil menampilkan cengiran yang sangat terpaksa.
Tidak ada jawaban dari dia, aku melahap nasi goreng dengan sedikit cepat. Setelah itu meletakkan piring ke bak cuci piring yang ada di dapur. Aku ingin segera pergi dari ruang makan jahanam ini, berdua bersama Mas Raksa membuat ku sedikit tidak tenang. Aneh sekali.
"Mau kemana?"
Ku hentikan langkah kaki, "ke taman."
"Untuk?"
"Pacaran."
Ku dengar Mas Raksa sempat batuk lagi, lalu minum air putih.
Batuk Pak Haji?
"Gue pergi dulu ya, Mas. Tolong bilangin ke Mamah. Dadah." Ucapku tanpa melihat dia sedetikpun, aku kesal dengan jantungku. Kenapa selalu aktif akhir-akhir ini?
Sebenarnya aku sedikit malas kalau harus pergi keluar rumah sendirian. Tapi yang aku temui di vila hanya Mas Raksa. Kalau mengajak dia, otomatis dia akan menolak kan? Mending tidak udah sama sekali.
Aku membuka pintu gerbang Villa milik Tante Edrea, pagi ini aku memilih jalan santai. Karena tubuhku rasanya tidak kuat kalau jogging.
Jujur saja aku tidak tahu daerah sini, walaupun kata Mamah aku pernah ke sini, tapi aku sudah lupa.
Ku langkahkan kaki walau tak tahu tujuannya ke mana, aku senang dengan udara di sini. Segar tanpa polusi. Ku hirup dalam-dalam sambil merentangkan tangan dan berjalan santai. Andai saja ada Mas Buana di sampingku, pasti akan jauh lebih menyenangkan.
"Hei." Sapa seseorang sambil menoel pundak ku.
Sontak aku melihat ke samping, Gema?
"Hei, Mas Gema. Lagi lari pagi?"
Mas Gema jalan di sebelahku, wajahnya sudah dipenuhi keringat segar. Dia tersenyum, "iya, lumayan olahraga sebentar."
"Kamu, sendiri?" Aku mengangguk kala dia bertanya. "Eh, luka kamu sudah sembuh?"
"Lumayan, atas saran Mas kemarin. Tapi, badan ku masih sedikit sakit, makanya ini cuma jalan santai."
"Itu hal lumrah, kamu mau kemana emang?"
Aku berpikir sejenak, soalnya memang tidak tau mau kemana. "Em, katanya ada taman bagus di daerah sini, ya?"
Aku senyum sumringah, akhirnya aku tidak sendiri dan tidak akan nyasar. Mas Gema ini baik sekali, dia juga termasuk cowok tampan dan masih muda. Kayaknya usia dia tidak jauh berbeda denganku.
Kami berjalan bersama ke arah taman, di sepanjang jalan kami berbincang santai. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih soal kemarin, dia sudah menolongku walau belum kenal.
Sekitar sepuluh menit kami berjalan, akhirnya sampai di taman yang dipenuhi dengan bunga. Wah, taman ini indah banget. Bunga bermekaran dan nampak segar, ada beberapa anak kecil yang di dampingi dengan ibunya sedang bermain ayunan dan perosotan di sana.
Mas Raksa bilang tempat ini sepi, tapi nyatanya? Tempat ini cukup ramai jika dibandingkan dengan taman lainnya. Dia itu sebenarnya pernah kesini tidak sih? Kok jawabannya kayak asal.
Aku dan Mas Gema memutuskan untuk duduk di kursi taman. Mataku melihat ke sekeliling, nampak dejavu. Di Jakarta aku pernah duduk di taman juga, tapi bersama Mas Raka. Huh, dia lagi.
"Ini salah satu tempat favorit aku kalau lagi ke sini."
Mataku memandang Mas Gema, "kamu bukan orang sini tah, Mas?"
Dia tertawa ringan, "bukan, aku kesini kalau liburan aja. Aku asli Jakarta, kamu sendiri?"
"Sama, persis malah." Jawabku sambil mengulas senyum.
Mas Gema bertanya lagi, "lagi liburan apa?" Cowok ini tidak cuek, sama dengan Mas Raksa saat dulu awal kenal. Ah, dia lagi! Sebel deh.
"Libur kelulusan, Mas. Mau jadi anak SMA."
Mas Gema mengangguk, "oh gitu, aku juga anak SMA. Pantesan wajah kamu masih imut gitu." Ucapnya.
Aku mengulas senyum simpel, "thanks." Sebenarnya sedikit kecewa dengan Mas Gema. Dia tidak jauh berbeda dengan cowok yang lain, selalu memujiku yang bertujuan untuk gombalan.
Kami duduk di kursi taman sampai jam setengah dua belas. Banyak perbincangan yang membuat aku berasumsi kalau Mas Gema asik juga untuk diajak bercerita.
Setelah itu aku memutuskan untuk ikut Mas Gema, dia bilang di sekitar sini ada tempat jajanan. Kita bisa makan jajanan ringan di sana sampai puas.
Sampai di tempat yang dituju, benar juga, mataku bersinar kala melihat banyak jajanan ringan. Di sini aku bisa makan cilok, telur gulung, cireng, siomay, cimol, cuanki, es teh medan, dan lain sebagainya.
Hari ini cukup mengesankan di sepanjang jalan aku tertawa lepas begitu juga Mas Gema, tak lupa aku makan sampai puas, tak ada jaim atau sungkan sedikitpun. Karena aku menganggap Mas Gema ini teman sebaya, dia tahun ini naik kelas sebelas, otomatis usia kita hanya terpaut satu tahun.
Hingga pukul tiga sore kami memutuskan untuk jalan pulang ke Villa, karena cuaca cukup mendung, takut tiba-tiba turun hujan dan tidak membawa payung atau mantel. Dan juga tidak enak dengan keluarga ku, tujuan kami ke Puncak kan untuk menghabiskan waktu bersama.
Sebelumnya aku dan Mas Gema sempat bertukar nomor telepon, lumayan nambah teman cogan.
Tak jauh dari Villa, ku lihat Mas Raksa berdiri bersandar pada gerbang yang sedikit terbuka. Dia melipat tangannya di depan dada, melihat ku dari jarak kira-kira lima meter. Matanya sedikit tajam, ku rasa dia tidak berkedip.
Sesampainya di depan gerbang, "eh, Bang. Sorry gue ajak adek lo keluar sedikit lama."
Mas Raksa berdiri tegap, "gak masalah, dia kayaknya seneng lo temenin jalan." Jawabnya sambil melihatku dari bawah sampai atas, dan berhenti tepat di mataku.
Aku mengerutkan kening, apa maksud dia? Sok tahu sekali jadi manusia. Serta, apa tujuan dia scan tubuhku, menatap tajam seolah aku akan takut?
Tapi memang aku sedikit takut dengan tatapannya.
Mas Gema tersenyum singkat ke Mas Raksa, lalu dia melihatku. "Aeera, aku lanjut ke Villa, ya. Next time keluar bareng lagi."
Aku mengulas senyum semanis mungkin, "ah, iya. Makasih ya Mas, atas waktunya hari ini." Karena dia aku tidak kesepian di daerah orang.
"Next time aku chat kalau butuh tour gide lagi." Setelah itu aku tertawa ringan.
"Siap menemani." Jawabnya. "Duluan, Bang."
__ADS_1
Aku melihat Mas Gema berjalan meninggalkan kami. Sekarang tinggal menghadapi monster satu ini.
"Seru sekali ya hari ini?"
Aku tidak menghiraukan ucapan Mas Raksa, aku memilih untuk masuk ke Villa. Dia jalan di sebelah ku.
"Sudah akrab, ya? Sampai aku-kamuan." Sindirnya.
"Seru, sih, orangnya. Gara-gara dia gue jadi gak sendirian ke taman nya."
Kami melewati pintu utama Villa, "kalau cuman menemani ke taman, kenapa tidak minta saya tadi?"
“Tanpa kamu minta juga saya akan temani.”
Mendengar ucapannya, aku menghentikan langkah kaki, diikuti oleh dia. Ku tautkan alisku, sedang mencerna apa arti dari ucapannya.
"Loh, Mas. Dari tadi pagi lo cuek banget, gue kira lo lagi marah? Atau badmood gitu?"
“Makanya gua nggak berani ngobrol panjang atau ajak lo ke luar.” Lanjut ku memberanikan diri mengungkapkan semua yang aku rasakan.
Mas Raksa mengusap rambutnya frustasi, "terus kamu pikir, dengan keluar sama dia bikin saya tidak cuek lagi?" Aku semakin menautkan alis, dia kenapa sih? Jantung ku juga mulai aktif, apa dia peduli sama aku?
Aeera cukup. Dia kekasih Mbak kamu sendiri.
Aku menggeleng, "enggak, Mas. Suer. Gue takut ganggu lo, itu doang kok."
“Gue tuh takut ngerepotin lo.”
Mas Raksa menatap mataku dalam, "kamu itu tidak pernah ganggu saya sedikitpun."
“Saya juga tidak pernah merasa kamu repotkan. Malahan saya senang kalau kamu mau minta tolong atau bertujuan merepotkan saya.”
Jantungku semakin berdegup, "jangan keluar berdua lagi sama dia."
Loh kok, dia ngatur? Hatiku nyesek terus kalau lihat dia sama Mbak Caeera aja boleh, masak keluar sama Mas Gema aja gak boleh?
Aku menolak, "kok gitu? Emang Mas siapa berani atur aku gitu? Saudara bukan, kekasih bukan, sahabat bukan—"
"Saya ini—" dia memotong ucapan ku, namun ucapannya juga terpotong dengan sapaan Mbak Caeera.
"Kalian ngapain?" Padahal aku penasaran sekali dengan apa yang ingin diucapkan Mas Raksa. Dia ini apa?
Aku langsung sedikit menjauh dari Mas Raksa, berusaha menjaga perasaan Mbak Caeera. "Eh, ini Mbak. Nggak ngapa-ngapain kok, baru aja aku pulang tadi dari taman."
Mbak Caeera menghampiri kami, "widih, kamu udah ke taman, Dek? Kemarin aja gue gak jadi ke sana." Mataku membulat mendengar ucapan Mbak Caeera, "kamu sama Raksa, tadi?"
Apa? Loh kemarin bukannya mereka berencana akan ke taman dan kebun teh? Foto berdua dan bersenang-senang? Ternyata tidak jadi? Lalu kenapa tadi Mas Raksa menjawab seakan pernah ke sana, walau jawabannya salah semua.
Mas Raksa dari tadi diam tak bergeming, tak sebawel tadi sebelum ada Mbak Caeera.
"Nggak, bukan sama Mas Raksa kok, Mbak. Sama teman." Jawabku sambil tersenyum kaku.
"Oalah, gue kira sama Raksa. Dia tau banget loh daerah sini."
"Nggak, Mbak." Jawabku tegas, supaya Mbak Caeera tidak curiga dan berpikir macam-macam.
"Eh, aku ke teras belakang duluan, ya. Tadi Mas Damar chat, aku disuruh ke sana." Pamit ku, sebenarnya Mas Damar tidak mengajak ku ke teras belakang, dia hanya menjawab kalau posisi keluarga ku di sana. Dan juga, aku ingin cepat pergi dari sini sebelum jadi obat nyamuk dan hatiku semakin nyesek.
Aku melewati dapur untuk sampai di teras belakang, ternyata mereka sudah duduk di sana. Mamah dan Tante Edrea duduk di atas kursi putih. Sedangkan Mas Damar dan Mbak Humeera duduk di tikar yang sudah digelar di atas rerumputan.
Mas Damar sudah memangku gitar, aku dengar Mbak Humeera sedang bernyanyi, Mamah dan Tante Edrea menikmati nyanyian itu.
Aku duduk di sebelah Mas Damar, aku mengulas senyum mendengarkan Mbak Humeera bernyanyi. Nampak menghayati sekali.
Tak lama, Mas Raksa duduk di sebelah ku dan Mbak Caeera duduk di sebelah Mbak Humeera yang masih bernyanyi.
Bukankah kamu juga merasa
Dingin mulai menjalari percakapan kita
Pertanyaan kamu sedang apa
Terkesan hanya sebuah formalitas saja
Nyanyikan dilantunkan oleh Mbak Humeera, saking menghayati nya dia sampai memejamkan mata dan memegang dadanya.
Aku tersentuh mendengar lagu itu dan melihat penghayatan Mbak Humee. Apa dia sedang dilanda hubungan yang sulit?
Coba tanyakan lagi pada hatimu
Apakah sebaiknya kita putus atau terus
Kita sedang mempertahankan hubungan
Atau hanya sekedar menunda perpisahan
Hatiku sedikit tersayat kala membayangkan Mbak Humee sedang dalam masa sulit, aku memandang wajahnya. Dia orang yang sangat peduli dan sayang padaku.
"Kamu, sungguh ada hubungan dengan cowok tadi?" Sontak aku memutar bola mata setelah mendengar bisikan itu.
"Mas, gue di sini mau seneng-seneng. Dengan lo cuekin gue aja, gue udah merasa bersalah walau gak tau salah apa. Jangan bikin gue badmood." Bisik ku jujur.
Aku tidak mendengar lagi bisikan dari dia, apa aku keterlaluan ya? Tapi aku mencoba untuk jujur kok. Cukup perasaanku saja yang aneh, aku juga tidak mau acara liburan ini sia-sia. Dan sebisa mungkin aku berusaha untuk menyumpat perasaan ini supaya tidak tumbuh.
Hanya sekedar menunda perpisahan
Semua tepuk tangan kala Mbak Humeera menyelesaikan nyanyiannya, sang empu tersenyum lebar.
"Cieee, Mbak Humee lagi galau, ya?" Ledekku kepada Mbak Humeera.
"Kamu ini, masih kecil kayak tahu galau itu apa." Jawabnya, malah gantian aku yang dihina.
Nasib anak bontot, hiks.
"Jangan salah, Mbak. Dia udah berhasil bikin orang dewasa galau." Ucap Mbak Caeera sambil melirik ku, dia tersenyum meledek.
Aku yang diledek hanya bengong, tidak tahu siapa yang dia maksud. Bikin orang dewasa galau? Bukannya selama ini aku yang galau? Apa maksud dari ucapan Mbak Caeera?
Aku mengelak, "mana ada, yang suka aja nggak ada."
"Makanya, peka sedikit dong, Ae!" Kata Mbak Caeera sambil melempar beberapa rumput ke arahku.
...🐣...
__ADS_1