Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 24


__ADS_3

Hari ini seharusnya hari terakhir keluargaku di sini. Sudah hari ke lima.


Setelah mengalami kejadian dua hari yang lalu, kondisi ku sekarang jadi bimbang. Ternyata banyak yang tidak suka sama aku, terutama siswi. Mereka menganggap aku merebut gebetannya. Terutama Kak Mayang, aku merebut Mas Gema?


Aku kenal Mas Gema waktu di puncak, aku tidak tahu dia siapa, aku tidak tahu dia umur berapa, aku tidak tahu dia sekolah dimana, bahkan aku juga tidak tahu dia orang mana.


Jadi, mana mungkin aku tahu kalau mereka punya hubungan? Padahal baru beberapa hari lalu aku merasa tidak siap kehilangan Mas Gema. Tapi kejadian dua hari yang lalu, seakan menyuruhku mematahkan ketidaksiapan ku itu.


Tok.. Tok..


Aku membuang napas kasar, memang tadi aku pesan makanan untuk makan siang. Aku langsung membuka pintu tanpa mengintip dari lubang kunci.


“Lo udah gue peringatkan, tapi kayaknya anggap remeh, ya?”


Untuk apa orang ini datang ke sini, lagi? Elvira, mantan Mas Raksa dan sekarang jadi wanita gelapnya. Seperti biasa, penampilan cewek ini modis sekali, rapi, dan cantik.


“Dari dua hari lalu gue nggak ngapa-ngapain.” Belaku, aku memang tidak kemana-mana kok, tetap stay di hotel.


“Kelebihan lo apa sih? Sampai Agler bela lo segitunya?”


“Please, Mbak. Dia udah punya istri, jadi lo jangan ganggu rumah tangganya!”


Dia hampir menampar ku, tapi dengan tegas aku tahan. Jujur aku audah tidak mau cari masalah lagi, cukup semua ini bikin sakit kepala.


“Mbak, gue capek. Gue udah nggak mau ikut campur urusan kalian.”


Dia melepas tangannya secara paksa.


“Lo ngapain bilang kalau gue ke sini?”


Aku berpikir, “gue nggak per—” belum juga selesai membela diri, aku baru ingat ucapan ku kepada Mas Raksa kemarin.


“Kemarin selingkuhan lo dateng ke gue.”


“Apa? Baru sadar, masih bocah tapi pikun!”


“Ya emang kenapa kalau gue bilang?”


Memang kenapa kalau aku bilang? Kan memang itu kenyataannya. Lagian dia inikan kekasih simpanan, pasti lebih disayang, kan? Tidak mungkin Mas Raksa marah kepada—


“Dia ngamuk sama gue! Sekali lagi lo macem-macem, bodyguard gue turun tangan!”


Aku sedikit tersentak dengan dorongan tangannya. Setelah itu dia berlalu. Ku duduk kan tubuhku di depan pintu. Aku kembali terisak, lagi-lagi karena Mas Raksa. Kenapa semua jadi begini? Aku sudah mencoba merelakan dia, tapi, kenapa dia tidak kunjung pergi seutuhnya dari hidupku?


“Hei, kamu beneran cinta, ya? Sampai menangisi dia terus.”


Wajah yang awalnya ku benamkan pada lutut, langsung melihat sumber suara. Iya aku cinta sama dia.


“Mas? Kok di sini?”


Aku langsung jatuh dalam pelukan, Mas Gema. Gimana kalau aku harus jauh dari dia? Apa hidupku akan baik-baik aja?


Dia menenangkan ku, “tenang. Kamu ini kenapa? Kayaknya sedih banget?”


Perlahan aku keluar dari dekapannya, aku menggeleng sambil mengusap air mata di pipi.


“Yuk ke caffe. Kamu butuh udara segar tuh.”


Tanpa pikir panjang aku langsung menutup dan mengunci pintu. Kalau ada Mas Gema, aku akan baik-baik saja. Aku yakin itu.


“Cerita lah sama Mas.”


Jujur aku belum siap cerita, apa lagi ini menyangkut rumah tangga Mbak ku sendiri.


“Baru Mas tinggal berapa hari. Masa sudah kacau begini?”


Kami memasuki lift, menuju lantai dasar.


“Mas kenapa ada di sini?”


Dia mengangkat pundaknya dengan cepat, “entah. Kayak ada yang kurang aja gitu.” Ucapnya sambil memasukkan tangan ke saku celana dan melihat angka di lift yang terus berganti.


Pantas saja Kak Mayang cinta sampai segitunya. Apa kekurangan cowok ini?


“Yuk.”


Kami jalan berdampingan menuju caffe. Oh iya, tadi waktu di hotel aku melihat beberapa bodyguard Mbak Elvira berjaga. Apa dia masih di sekitar sini?


Setelah sampai di caffe milik Mbak Elvira, kami duduk. Aku memesan Ice Cappucino, sedangkan Mas Gema Frappe.


“Gimana, kamu sebenarnya kenapa?” Tanya Mas Gema setelah menyesap kopinya.


Aku dari tadi hanya memutar cangkir kopi. Sebenarnya tidak selera nongkrong di sini, tapi daripada depresi di kamar, mending aku cari udara segar.


“Mbak mu itu ada yang psikolog kan? Pasti dia tau kalau masalah disimpan sendiri itu nggak bagus.”


Mengingat semua kejadian kemarin aku menjadi pusing, rasanya ingin pingsan saja.


“Aku ketemu dia lagi, Mas.”


“Ketemu disaat aku tau sifat dia yang sebenarnya.”


“Maksudnya?” Tanya Mas Gema, aku memilih melanjutkan cerita.


“Terus, mantan dia datang ke aku marah-marah. Katanya dia bingung kenapa Mas Raksa selalu sebut namaku.”


“Tapikan, Mas tau sendiri, dia udah jadi kakak ipar ku, kan? Aku sendiri juga bingung, kenapa cewek itu marah-marah ke aku.”


“Anehnya, dia kayaknya nggak tau kalau Mas Raksa udah nikah.”


Mas Gema sejenak sambil menatapku, “dia tau darimana kamu ada di hotel ini?”


“Ehm, ya, karena, aku ketemu mereka di caffe ini.”


Ku buang napas kasar, “huh. Dia bukan orang sembarangan, bodyguard nya ikutin aku sampai hotel.”


“Siapa?”


“Hah?”


“Namanya.”

__ADS_1


Jujur aku lupa nama lengkapnya. Ku buka HP dan mencari di histori Google. Lalu memberi tahu Mas Gema.


“Elvira De Geass.”


Mas Gema diam sejenak, dia mengerutkan kening. Lalu beralih pada kopinya.


Reaksinya cukup aneh, mungkin dia terkejut? Tapi, dari reaksi wajahnya aku tahu kalau dia sedang berpikir keras.


“Huh, gimana, ya, Mas?” Keluhku sambil menaruh kepala di meja.


“Sepertinya ada yang nggak beres. Kamu yakin nggak mau pulang sebelum mereka kembali?”


Tidak beres? Apanya?


“Apanya?”


Mas Gema kembali mengangkat bahunya, “katamu dia bukan orang sembarangan, punya bodyguard sampai bisa ikutin kamu ke hotel. Apa kamu nggak curiga? Mana mungkin dia nggak tau kalau Raksa sudah menikah?”


Kalau dipikir-pikir betul juga yang dikatakan Mas Gema. Apalagi mereka sempat bertemu kan kemarin? Mana mungkin dia tidak tau kalau Mas Raksa sudah menikah? Apa aku sungguh harus pulang, biar semua beres?


Tapi aku belum siap. Aku bingung harus menampilkan reaksi wajah seperti apa.


“Kamu harus pulang kalau mau semua cepat clear. Mas yakin, kamu juga kangen keluarga. Jangan sampai cintamu menjadi alasan jarak antar kamu dengan mereka.”


Rumit sekali. Ini lebih rumit dari teka-teki soal matematika. Jujur kelapa ku sampai pening.


“Apa wanita itu sempat mengancam kamu?”


Ku lihat wajah Mas Gema. Pertanyaan dia kenapa bisa tepat dengan yang Elvira lakukan?


Aku sedikit mengangguk.


“Apa?” Dia bertanya dengan wajah yang amat serius.


“Sebenarnya nggak penting sih, Mas. Lagi pula aku juga udah nggak berurusan sama Mas Raksa kan?”


Aku tidak mau Mas Gema tahu dan menjadi repot. Kalau dia tahu bisa-bisa dia lebih berusaha untuk menjagaku kapanpun dan di manapun. Apa lagi Kak Mayang baru saja melabrak ku. Aku tidak mau semua semakin runyam.


“Apa?” Dia tanya lagi, kok makin kesini Mas Gema makin seram?


Seakan dia memaksa ku untuk memberi tahu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, aku tahu ada tekanan emosional di dalamnya. Karena tidak biasanya Mas Gema seperti ini.


“Emm. Dia bilang kalau aku masih dekat sama Mas Raksa, bodyguardnya—” Belum juga selesai bilang, Mas Gema sudah pergi tanpa sepatah katapun.


“Mas?”


Tumben banget.


Ada apa sih?


...🐣...


Aku berada di becak menuju ke rumah Mbah. Ya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.


Semoga saja mereka masih di sana. Aku mau semua kelar dan beres. Aku mau bilang Mas Raksa supaya Elvira tidak datang mengusik hidupku lagi.


Aku mau kasih selamat ke pengantin baru.


Aku mau belajar untuk tegar.


Aku mau berdamai dengan keadaan.


Sejujurnya, hatiku masih berat. Tapi kalau terus mengikuti kata hati, mau sampai kapan?


Sesampainya di depan rumah, aku langsung turun dan bayar ongkos becak.


Tubuhku lemas dan sedikit sedih, saat mobil mereka sudah tidak ada di sana. Aku terlambat?


“Mbah! Mbah!”


Mbah jalan dari dapur dengan sedikit panik.


“Ono opo, Nduk? Kue wes bali?”


Aku celingukan, melihat ke sekitar rumah. Berharap mereka masih ada di sini. Berharap mobil hanya sedang digunakan untuk keluar sesaat.


Tapi harapan hanya sebuah harap.


“Mbah, wes podo bali ke Jakarta?”


Mbah mengangguk. Badanku lemas, duduk di kursi sambil menangis. Bodohnya, kesempatan tidak akan datang untuk ke dua kali. Aku merasa sangat bodoh saat ini.


“Aeera, kenapa?” Tanya Mbah sambil mengelus bahuku.


Ku tahan tangis sebisa mungkin. Aku menggeleng sambil melihat ke Mbah. Aku tidak mau dia panik.


“Rapopo, Mbah. Aeera cuman kangen.” Jawabku.


Aku menjawab hanya sebagian dari alasan kenapa aku menangis. Mbah tidak boleh panik. Mbah tidak boleh sedih.


“Yoes. Lain waktu masih bisa ketemu, to?”


Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.


“Koe istirahat nggeh, capek?”


“Iyo, Mbah. Ae ke kamar dulu, nggeh.”


Kamar adalah tempat yang cocok untuk meratapi nasib sambil menangis sampai puas. Aku berjalan ke sana, berusaha untuk tegar. Namun sampai di dalam kamar air mataku tidak dapat ku bendung. Aku menangis sejadinya.


Kehidupan ku ke depan tidak akan tenang, Elvira, Kak Mayang dan semua siswi, lalu Mas Gema. Aku bingung, apa aku harus menjauh dari Mas Gema? Tapi, aku akan terlihat seperti anak kecil jika menjauhi dia, karena dia sendiri tidak tau alasannya.


Ku ambil ponsel di tas kecil hitam, melihat pesan dari Mas Gema.


Mas Gema


Online


Gimana?


16.43 WIB

__ADS_1


^^^Terlambat Mas.^^^


^^^16.54 WIB^^^


Ponsel ku letakkan ke kasur. Kepala ku benamkan ke bantal. Aku ingin istirahat sejenak, siapa tahu ini hanya mimpi. Aku berharap saat ini sedang ada di kereta menuju ke Jakarta waktu libur kelulusan SMP.


Aku berharap, semua baik-baik saja.


Aku berharap, semua kembali seperti semula.


Bahkan jika ini yang terbaik. Aku berharap tidak akan bertemu dengan dia lagi, selamanya.


...🐣...


Libur sekolah berakhir. Saat ini aku sedang berada di becak menuju ke sekolah. Tadi pagi, Mas Gema menawariku untuk berangkat bersama seperti biasa. Tapi aku menolak. Aku tidak mau jadi dirundung pandangan saat di sekolah.


Sampai di depan gerbang sekolah, aku langsung turun dan bayar ke Abangnya. Semua harapanku ternyata berbanding terbalik dengan realita. Mereka masih saja memandangku dengan berbagai arti.


“Delok, wes ra genit karo ketua OSIS.”


“Yo, wes sadar nek salah?”


“Gaweane mok nglarani atine wedokan liyo.”


Gumaman mereka terdengar sangat jelas. Mereka ini bodoh apa gimana, ya? Aku kurang paham dengan konsep yang sedang mereka pakai.


Segala bisikan yang mereka lakukan memang dengan sengaja dibuat supaya aku mendengar, atau bagaimana?


Aku berusaha untuk terlihat cuek. Memang ya, nasib cewek cantik jadi bahan gosip terus. Pikirku supaya dapat meningkatkan rasa percaya diri.


“Wes muleh, tah, Mas mu seng ko Jakarta?” Aku sedikit kaget sesaat dengan bisikan Kak Mayang. Tiba-tiba cewek ini jalan seiringan denganku.


“Bukan urusanmu.”


“Nek kue wedokan ndue ati, ajane kue sadar nek sifatmu kui marai loro atine wedokan liyo.”


Ku hentikan langkah kaki, apa maksud dia? Mana aku tahu orang lain akan sakit hati? Aku hanya melakukan apa yang bisa membuat aku senang. Bahkan aku tidak pernah menggoda siapapun. Kakak kelas ini lama-lama ngelunjak, ya, kalau didiamkan.


“Maksud mu apa? Aku nggak pernah deketin mereka!” Bentakan ku membuat semua mengerubuni kami. Gimana tidak? Kak Mayang juga cukup terkenal, dia sekertaris OSIS di sini.


“Sadar kon!” Bentaknya balik sambil menunjuk wajahku.


“Sadar apa? Aku ngelakuin apa emang?”


“Kabeh Siswi juga tahu! Koe iki genit!”


“Genit gimana, sih? Aku nggak pernah deket sama cowok sekolah ini!”


“Jek ora sadar wedokan iki.” Dia langsung menarik rambutku yang pagi ini aku biarkan terurai. Aku malas menguncinya.


“Aduh, sakit!” Keluhku. Aku tidak mau kalah, ku tarik rambutnya sekuat tenaga. Rambutku rasanya nyeri dan hampir rontok. Cewek ini kesambet apa, sih?


“Ayo! Ayo!”


“Batek teros, May. Ben botak, ben elek!”


“Rasakno, ayo, May!”


Sorak mereka yang menonton aksi kami. Ini gila, ini konyol. Baru kali ini aku melakukan hal yang memalukan di depan umum. Hanya karena laki-laki?


OH! Tentu tidak. Aku melakukan ini hanya untuk menjaga harga diri.


“Eh, ada apa ini?”


Mas Gema datang untuk melerai kami. Rambut ku dan Kak Mayang sudah tak karuan bentuknya. Napas ku sudah terengah.


“Kalian ada masalah apa sampai kayak gini?”


Aku muak dengan semuanya. Pandangan semua siswi ingin membunuhku secara bersamaan. Aku dihakimi lewat pandangan.


“Jawab!”


Bentakan Mas Gema membuat aku tersentak, aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini.


“Aeera kalau punya masalah jangan di bawa ke sekolah!” Itulah ucapan terakhir yang aku dengar dari mulut Mas Gema.


Masalah apa? Cewek gila aja yang mulai duluan, dan tidak seharusnya Mas Gema bicara itu di depan umum. Tidak seharusnya dia merasa paling tahu tentang kehidupanku.


Aku duduk di bangku kelas, berusaha merapihkan rambut kembali. Air mataku kembali menetes, selain gundah di hati, rasa sakit dan nyeri juga di kepala.


Siapa sangka aku punya masalah serumit ini, dulu hidupku sangat enak dan nyaman. Tapi berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena laki-laki, serta wanita yang tak bisa mengolah cintanya dengan tepat.


Aku sesegukan, tak peduli banyaknya mata yang melihat ke arahku. Tanganku terus menyisir rambut yang berantakan. Napas ku turun naik dan hidungku sudah merah.


“Kamu ada masalah lagi? Sampai jambak kakak kelas gitu?” Tanya Mas Gema yang tiba-tiba duduk di sebelahku.


Ku lirik ke sekitar, mereka semakin berbisik dan menatap penuh selidik.


“Aku nggak pernah cari masalah sama anak sekolah sini!”


“Terus?”


“Aku mau sendiri.” Ucapku sambil mengusap air mata.


“Kamu kenapa?” Tanya dia lagi.


Aku diam sejenak.


“Kita jaga jarak, ya, Mas. Aku nggak mau dapet masalah lagi.”


Mas Gema terlihat kaget, sangat. Dia memegang bahuku. Aku langsung menepis nya.


“Kenapa?”


“Aku nggak mau tambah masalah, Mas. Aku nggak mau bermasalah sama satu sekolah.”


Aku lihat dia diam, aku tidak tega. Aku juga sebenarnya tidak mau seperti ini, “Mas ngerti, kan, maksudku?”


“Sekarang tidak. Aku harap kalau kamu sudah tenang, semua bisa jelas.” Ucapnya, Mas Gema pergi keluar dari kelasku. Aku kembali melirik mereka, semuanya langsung membuang muka.


Bodoh. Seakan mereka paling suci.

__ADS_1


...🐣...


__ADS_2