
^^^Bukit Bintang, Jogjakarta.^^^
^^^21.05 WIB^^^
Tibalah kami di tempat yang Mas Raksa maksud. Ku lihat jam tangan menunjukkan pukul 9 malam. Sungguh, baru kali ini aku keluar sampai selarut ini dan anehnya Mbah mengizinkan dengan mudah.
Aku dan Mas Raksa memutuskan turun dari mobil, begitu banyak kendaraan yang terparkir.
“Yuk,” ajaknya.
Tubuhku tegang saat dia aku menggenggam jemariku, apa ini? Bahkan hubungan kami sampai saat ini belum jelas, dan juga baru saja aku marah. Tapi, aku tidak bisa bohong, saat ini juga aku salah tingkah.
Kami melangkah dalam diam, menaiki beberapa anak tangga yang pegangannya dihiasi lampu cantik. Sampainya di atas, suasana cukup ramai, hampir semua pengunjung cafe adalah remaja menuju dewasa.
Setelah memesan beberapa menu, Mas Raksa mengajak aku untuk duduk di area outdoor. Awalnya aku tidak mau, karena bisa saja udara dingin dan angin cukup kencang.
“Mas, indoor aja kenapa sih?” Tanyaku, belum seratus persen aku bisa melupakan kejadian tadi siang. Sehingga nada suaraku mungkin terdengar ketus.
Mas Raksa terus melangkah dan tak lupa dia tetap menggenggam jemariku. “Kamu jangan bawel, bisa?”
Ish, apa sih? Nyebelin banget.
Mataku terkagum dengan keindahan malam di Bukit Bintang. Kota Jogjakarta saat malam hari sangat indah memanjakan mata. Langit gelap dipenuhi bintang dan banyaknya lampu menghiasi kota tempat rantau ku ini.
Sampai akhirnya aku disadarkan oleh genggaman tangan Mas Raksa yang terlepas. “Duduk, Aeera. Mau sampai kapan berdiri?”
Aku cukup malu saat melihat Mas Raksa sudah duduk di tempat lesehan yang sudah di sediakan. Dengan cepat ku dudukkan badanku, kami dihalangi meja kuning yang cukup panjang.
“Gimana? Tidak menyesal, kan, memilih outdoor?” Sindirnya sambil tersenyum jail.
Perasaan marahku seketika hilang begitu saja, keindahan malam Jogja membuat aku melupakan semuanya. “Iya, aku baru tau Jogja seindah ini.”
“Jadi, nanti mau indoor atau outdoor?”
“Hah? Maksud Mas Raksa?”
Ku lihat dia tertawa lepas. Ngetawain kebodohanku, ya?
“Hahaha. Tidak-tidak. Lupakan saja.” Ujarnya.
Tak lama setelah itu, pesanan kami datang. Kami memesan mie instan kuah, karena cuaca cukup dingin, supaya tubuh bisa sedikit hangat.
“Makasih, Mas.” Ujar kami hampir bersamaan.
“Jadi, kamu mau mendengarkan cerita Mas?” Aku melihatnya sekilas, kemudian melanjutkan mengaduk semangkuk mie instan di hadapanku.
“Ya.”
“Serius? Tanpa rasa marah dan curiga?”
“Tergantung.”
“Maksudnya?”
“Ya intinya, lo mau cerita atau enggak?”
Dia tertawa ringan, “tadi di rumah masih pakai aku-kamu, sekarang sudah berubah lagi?”
“Ya kan tadi ada Mbah. Nanti digetok kepala gue kalau pakai bahasa kasar.”
Ku lihat dia mengangguk sambil tersenyum.
“Ya sudah saya cerita, ya? Kamu boleh sambil makan, supaya tubuh kamu juga hangat.”
“Peluk dong Mas, biar hangat. Hehehe.” Mana mungkin aku berani berucap seperti itu? Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapannya.
Mas Raksa mulai bercerita. “Saya itu rencananya ingin memberi kamu kejutan. Makanya tidak cerita kalau ke sini hari Jumat.”
“Ternyata kejutannya bukan membuat kamu senang, tapi malah sedih dan marah.”
Ku telan dengan paksa mie yang belum ku kunyah dengan sempurna, “ya gimana gue nggak marah sih? Lo bohong sama gue kan? Mana pake pelukan.”
“Lo ke Jogja tuh tujuan utama bukan gue, kan? Gue cuman jadi tujuan kedua? Jujur aja.”
“Nih ya, gue tau gue ini emang bukan siapa-siapa. Emang nggak berhak buat marah, tapi lo nggak bisa permainkan gue terus.”
Seketika suasana hatiku hancur. Melihat mie di mangkuk pun langsung eneg.
“Mas belum selesai bicara loh, Ae. Makanya tadi Mas tanya, kamu mau mendengarkan tanpa marah dan curiga tau tidak?”
“Kalau akhirnya seperti ini, lebih baik Mas tidak cerita. Padahal tadi suasana hati kamu lagi bagus, seketika Mas rusak begitu saja.”
Aku membuang muka, kenapa sih mukanya jadi sedih gitu? Aku nggak suka lihatnya.
“Yaudah sih lanjut ceritanya. Kan gue menanggapi awal cerita lo, emang nggak boleh?”
Lagi-lagi aku kalah, kenapa tidak bisa marah dengan durasi yang lama?
“Boleh, kapan saya pernah melarang kamu? Tapi, Mas minta kamu jangan marah lagi, Mas jadi bingung harus bagaimana supaya kamu memaafkan Mas.”
“Mas pernah larang gue deket sama Mas Gema, tuh.” Sindir ku mengingat kejadian waktu di Puncak.
“Ya itu beda cerita dong, cantik.”
Duh, nggak bisa nih, nggak bisa. Nih orang tua kenapa jadi suka gombal sih?
“Kamu makan lagi, ya? Nanti keburu dingin.”
Tanpa menjawab ucapannya, aku kembali menyantap mie instan. Sebenarnya sih untuk menghilangkan salah tingkah.
__ADS_1
“Oke, saya lanjutkan. Elvira mengabari saya kalau dia akan menetap di Belanda. Dia meminta untuk bertemu terakhir kali sebelum dia pindah. Dia juga bilang ingin meminta maaf secara langsung atas semua yang dia lakukan.”
“Sebenarnya Mas tidak mau datang, karena belajar dari kejadian sebelumnya. Tapi setelah dia mengirimkan bukti foto tiket pesawat, Mas jadi percaya.”
Aku mendengar dengan seksama, tidak ingin menanggapi lagi. Toh, Mas Gema juga bilang kalau Elvira memang ingin menetap di negeri kincir angin. Berarti sampai saat ini, apa yang diceritakan Mas Raksa benar adanya.
“Mengenai saya tidak izin dulu ke kamu,”
Izin? Memang aku siapanya dia?
“Sebentar, izin? Jujur, Mas nggak perlu izin ke gue dan gue juga nggak berhak mengizinkan atau tidak kegiatan yang mau Mas lakuin. Emang gue ini siapanya Mas Raksa?”
“Kalaupun kamu merasa tidak berhak mengizinkan saya atau tidak, tapi Mas ingin meminta izin dulu dari kamu.”
Aku langsung mengelak, “tapi kenyataannya?”
“Kenyatannya, Mas belum selesai cerita, Aeera Barsha.”
Yaudah sih.
“Oke, Mas lanjutkan. Mas memang sengaja tidak izin ke kamu, karena memang dari awal Mas ingin memberi kejutan. Mas ingin bersama kamu lebih lama.”
“Elvira juga tidak penting untuk Mas, makanya tidak cerita ke kamu.”
“Lagi pun, Mas takut mengganggu kalau keseringan mengirim pesan ataupun menelepon kamu.” Lanjutnya.
Ganggu? “Ganggu apa? Emang bocah SMA kayak gue sesibuk itu? Bukannya yang sibuk itu Mas Raksa?”
“Gini loh, Sayang. Mas takut kamu risih kalau Mas keseringan mengirim pesan. Mas memang sibuk, tapi kalau kamu kirim pesan Mas selalu membalas dengan cepat, kan?”
“Gue nggak risih!”
“Ini tuh lagi nyindir atau gimana sih? Iya gue tau lo fast respons, tapikan gue emang kalo weekdays bisa pegang ponsel kalau lagi jam istirahat aja.”
“Serius kamu tidak risih?” Loh, ini kok Mas Raksa malah fokus ke pernyataan aku? Aduh malu sekali, keceplosan bilang begitu.
“Ya, ya, enggak. Gue dichat siapa aja nggak pernah risih.” Jawabku cukup gugup, untung saya Aeera pintar mencari alasan.
Dia mengacak pucuk rambutku. “Hahaha. Kamu ini menggemaskan sekali. Kalau begitu saya sudah dapat izin dari kamu, ya?”
“Izin apa?”
“Mengirim kamu banyak pesan. Sering menghubungi kamu. Memberi kabar kalau ingin melakukan sesuatu.”
Jujur aku hanya bisa tertawa, kok bisa orang sedewasa Mas Raksa menggemaskan seperti ini? Mau mengirim pesan pun harus izin?
“Kamu tahu tidak? Kalau senyuman terus terukur di bibirmu, kamu semakin manis.”
Dihh, gombal banget.
Aku tersenyum malu, “jujur! Lo diajarin gombal sama Mas Damar, ya?”
Dia menggeleng.
“Curiga terus saja. Saya senang kalau kamu curiga, berarti kamu perhatian.”
“Dih, PD gila.”
Selepas itu, perbincangan kami mengalir begitu saja. Aku lega mendengar semua cerita Mas Raksa. Aku senang dia mau bercerita panjang dan lebar. Dan aku senang mendengarkan semua ceritanya.
Kami menghabiskan makanan dengan cerita panjang lebar. Mulai dari aku bercerita mengenai Mas Gema adalah adik dari Elvira. Sampai Mas Raksa bercerita kalau Mas Damar sedang galau diputusin oleh pacarnya.
HAHAHA. Awas aja Mas Damar, abis nanti aku ledekin.
Tak lupa kami melakukan wefie beberapa kali untuk mengabadikan momen langka ini. Kapan lagi Mbah mengizinkan aku keluar selarut ini tanpa ada panggilan masuk?
Walaupun sampai saat ini statusku belum jelas, aku ini siapanya dia? Adik? Sahabat? Kekasih? Atau hanya sekedar tempat bersinggah saat dia bosan?
Tapi aku bersyukur bisa bersama dengan dia lagi. Setelah semua kejadian dan kesalahpahaman yang kami alami, akhirnya kami bisa bersatu kembali.
...🤟...
Beberapa bulan berlalu. Setelah kami mengunjungi Bukit Bintang, hubungan kami membaik dan bisa dibilang lebih dekat. Mas Raksa sering menghubungi ku. Kami sering video call, walau hanya bercerita keseharian ataupun hal random. Tapi hal sederhana itu membuat kami bahagia.
Sampai saat ini, belum jelas status kami. Adik-Kakak? Sahabat-zone? Kekasih? Atau teman tapi mesra? Yang jelas, Mas Raksa pernah bilang kepadaku, kalau kami mempunyai komitmen, untuk saling bersama dan tidak boleh meninggalkan satu sama lain.
Oke, aku pegang komitmen dia.
Hari ini, aku dan Mbah menunggu kedatangan Mas Raksa. Memang bukan hari sabtu atau minggu. Tapi kemarin Mas Raksa memberi aku pesan kalau Mbak Caeera akan melahirkan. Jadilah hari ini kami akan berangkat ke Jakarta.
Yang jomblo jangan iri, ya. Hehehe.
Padahal aku juga jomblo. Hiks.
Tak lama menunggu, akhirnya mobil Mas Raksa sampai. Aku yang dari tadi menunggu di mbayangan langsung masuk ke dalam rumah memanggil Mbah.
“Mbah, Mas Raksa wes tekan.” Ucapku.
Mbah langsung keluar kamar sambil membenarkan sanggulnya, “yo, yo. Ayo, Mbah wes ndak sabar ketemu cicit.”
Aku tertawa ringan melihat antusiasnya. Mbah langsung ke luar menghampiri Mas Raksa. Aku memilih untuk menenteng tas yang berisi segala perlengkapan kami.
“Sini, Mas bantu. Kamu ini selalu gengsi untuk minta tolong.”
__ADS_1
“Santai aja, ini tuh enteng. Lagian lo pasti capek habis nyetir jauh.”
“Tidak. Kan Mas gantian mengemudinya.”
“Loh, sebentar, lo di sini, terus Mbah ngobrol sama siapa?”
Ku berikan tas tentengan kepada Mas Raksa. Langkahku langsung keluar rumah, aku cukup kaget saat melihat Mas Damar sedang dicubit gemas oleh Mbah.
“Aduh, aduh, Mbah. Sakit loh pipi Damar.”
“Biarin. Kamu loh, kirim foto nangis terus ke grup keluarga.”
“Namanya anak muda, Mbah. Dulu Mbah kalau galau kirim foto ke mana?”
Tawaku pecah saat mendengar perbincangan mereka. Mas Damar ini masih saja suka melucu.
“Hahaha.”
Perhatian mereka langsung terfokus ke arahku.
“Nggak usah ketawa lo, bocil.” Ujar Mas Damar, aku langsung menghampiri mereka berdua.
“Seenggaknya gue nggak drama kayak lo.” Lanjutnya menyindir ku.
“Dih, nyebelin, ah!”
Mas Damar tersenyum, lalu dia memelukku begitu erat. “Bercandaaa. Kamu apa kabar? Mas kangen banget, udah berapa lama kita nggak ketemu?”
Aku pun membalas pelukannya. Aku juga kangen sama Mas Damar, kangen banget.
“Jangan kelamaan.” Sindir Mas Raksa yang baru datang lalu menaruh tas tentengan ke bagasi.
Kami melepas pelukan, “dih, cemburuan, dasar pedo.” Sindir Mas Damar.
“Kamu kok mau sih Dek sama orang kaku kayak gitu?”
Aku tidak bisa menahan tawa mendengar hujatan dari Mas Damar.
“Kuping gue masih berfungsi, ya, Damar.” Jawab Mas Raksa langsung duduk di bangku kemudi.
Ku lihat Mbah ternyata sudah masuk ke dalam mobil juga.
“Lo mau gue tinggal apa gimana?” Ucap Mas Raksa kepada Mas Damar melalui kaca mobil yang terbuka.
“Idih, sensian teroos.” Sindir Mas Damar.
Akhirnya kami memasuki mobil. Sebelum mulai perjalanan Mbah meminta kami berdoa bersama supaya sampai di tujuan dengan selamat.
Mobil bergerak dengan kecepatan sedang. Musik dari radio sedikit terdengar, di depan Mas Raksa sedang berbincang asik dengan Mas Damar. Sedangkan Mbah di sebelahku sibuk dengan ponselnya. Kalau aku lirik, dia sedang mengirim pesan kepada Mamah.
Tiba di rest area, kami makan sebentar.
“Lelah?” Tanya Mas Raksa yang duduk di sebelahku. Kami sedang makan bakso, makanan favorit Mbah.
“Enggak. Paling abis ini kenyang, terus ngantuk deh.”
Mas Raksa mengangguk, “nanti tidur saja. Supaya perjalanan tidak terasa, oke?”
Aku tersenyum sambil mengangkat jempol kanan. Lalu dia mencubit gemas hidungku.
“Dih, nggak menghargai yang lagi galau.”
“Bodo, galau kok ngajak-ngakak.” Balasku.
Kami melanjutkan perjalanan dan kali ini Mas Damar yang mengemudi. Akhirnya aku memutuskan tidur, mengantuk karena terlalu kenyang.
Tak tau sampai Jakarta jam berapa, tapi saat aku sadar, aku sudah tidur di atas kasur kamarku. Hari sudah terang, nampaknya tanggal sudah berganti. Aku memilih turun ke lantai pertama. Sebenarnya mencari orang rumah, takut ditinggal sendirian.
“Cari siapa?” Aku tersentak saat mendengar suara dari belakang. Lantaran dari tadi rumah sangat sunyi.
Ternyata Mas Raksa datang sambil menenteng bungkusan. Lalu dia menuju ruang makan dan menaruh tentengan itu di atas meja.
“Yang lain ke mana, Mas?”
“Di rumah sakit. Anak Rara sudah lahir.”
“HAH? KAPAN LAHIRAN? KOK GUE NGGAK TAU? KOK MEREKA NGGAK AJAK GUE KE RUMAH SAKIT? ADIK MACAM APA GUE INI?”
“Diam.”
Aku langsung diam dan memilih duduk di hadapan Mas Raksa.
“Kamu itu kelihatan lelah sekali, Ae. Makanya tidak ada yang tega membangunkan kamu. Tadi subuh Mbah meminta Mas untuk mengantar ke rumah sakit karena dapat kabar Rara akan melakukan persalinan.”
Ku dengar semua penjelasan Mas Raksa. Duh kenapa aku kebo banget? Padahal seharusnya aku panik nunggu Mbak Caeera selesai lahiran. Bukannya malah enak-enak tidur.
“Duh, gue kebo banget sih!”
Mas Raksa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kebo dan berat.”
Aku mengerutkan kening butuh penjelasan, “maksud lo?”
Ku lihat laki-laki tua ini malah tertawa, “hahaha. Sudah-sudah, ayo sarapan bubur ayam dulu. Setelah itu kamu mandi, lalu kita ke rumah sakit. Oke?”
“Oke!”
“Gadis baik.” Pujinya. Masih saja telingaku tidak terbiasa mendengar pujian Mas Raksa. Aku selalu salah tingkah saat dia mengeluarkan kata-kata manis.
Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan bersama. Aku masih bingung, maksud aku berat itu apa? Jangan bilang dia yang menggendongku masuk ke dalam kamar? Aduh lagi-lagi aku malu.
__ADS_1
Tapi rasa malu hilang begitu saja saat aku teringat sudah memiliki ponakan. Sungguh aku tidak sabar untuk bertemu dedek ponakan pertamaku.
🤟