
Hari terakhir di puncak datang, hari pertama dimana aku telah menemukan mantan dambaan hati. Setelah semalam berpikir keras, sampai membuat tubuhku sempat menggigil. Aku memutuskan untuk mencoba melupakan Mas Buana alias Mas Raksa.
Dia hanya masa lalu ku. Memang, kami dulu sangat dekat. Tapi saat dewasa sekarang, dia sudah dimiliki orang lain. Mbak ku sendiri, tidak mungkin aku usik kebahagiaannya.
Aku tersenyum masam di depan kaca, melihat mataku sedikit sembab. Sekarang aku merasa sangat-sangat bodoh.
"Aeera, kamu gak papa kok." Aku mengucapkan hal menjijikan, mencoba menyemangati diriku sendiri.
Aku mencoba tersenyum ceria seperti biasanya, supaya yang lain tidak curiga. Tapi, yang ku lihat pada kaca, wajahku saat ini malah terlihat menyedihkan sekali.
Terlihat seperti orang idiot.
Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan kacamata milik Mbak Humeera, tadi sebelum mandi aku mengirim pesan pada dia untuk meminjam kacamatanya dan meletakkan di kasurku saja.
Aku juga tidak mau Mbak Humeera tahu kalau aku habis menangis. Bisa runyam dunia persilatan.
Mataku yang sedikit sembab berhasil ditutupi oleh kacamata bening ini, kacamata biasa, hanya untuk menghindari mata dari debu.
Aku kembali tersenyum pada kaca, kali ini rambut tidak ku kuncir. Supaya dapat memalingkan fokus orang dari mataku.
Sebelum turun ke bawah, aku menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Dengan ekspresi ceria seperti biasanya aku keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Di dapur sudah ada mereka, Mamah, Tante Edrea dan Mbak Humeera fokus pada bahan utama. Sedangkan Mbak Caeera dan Mas Raksa memotong-motong sayur di meja makan. Dan Mas Damar sedang memeriksa panggangan di lantai.
Aku mencoba tegar, sedikit lama melihat Mas Raksa. Rasanya berat sekali melupakan dia, karena aku mulai menyukai dirinya yang sekarang dan aku mengagumi dirinya yang dulu.
Rasanya bahagia bisa bertemu dengan Mas Buana lagi, penantian panjang ku akhirnya berujung. Walaupun ujung yang tidak ku mau.
"Begini bukan, Ra?" Aku mendengar dan melihat Mas Raksa memegang potongan buncis dan di arahkan pada Mbak Caeera yang duduk di depannya.
Aku yang dari tadi masih berdiri di anak tangga paling bawah hanya tersenyum miris, jujur saja dadaku semakin sakit. Laki-laki yang selama ini menghuni hatiku, kini sudah menemukan rumah baru.
"Rak, gue udah bilang dua kali tadi. Potongnya miring kayak cabe, ish kesel banget gue." Jawab Mbak Caeera sambil menyentil buncis yang ada di jari Mas Raksa.
"Ya sorry,"
Melihat hal itu, aku sedikit tertawa. Lucu juga mereka.
Aku menarik napas dan membuang kembali, "pagi semua." Sapaku ceria seperti biasanya.
"Pagi, sayang." Jawab Tante Edrea sambil tersenyum.
Semua melihatku sekilas, lalu kembali pada aktivitas masing-masing.
"Pagi menjelang siang kali, Dek." Saut Mas Damar, aku tahu dia menyindir karena aku bangun siang.
Aku menghampiri dia, duduk di depannya. Melihat dia sedang mengutak-atik alat panggangan.
"Sensi banget sih, Mas gue satu-satunya ini." Ledekku.
Mas Damar melihat ku sekilas, "kamu kenapa? Kayak beda dari biasanya?" Kemudian dia kembali melihat ke alat panggangan.
Deg, “beda kenapa?"
Mas Damar memelankan suaranya, "kamu, kayak lagi pura-pura bahagia." Bisiknya.
Aku membelalak, tahu dari mana dia. "Ngaco, aku bahagia setiap hari."
"Kecap!!!! Siapa yang tuang kecap ke mangkuk gini?" Teriakan Mamah membuat semua kaget.
Aku lirik pelakunya malah diam pura-pura sibuk.
"Kenapa sih Mbak?" Ku dengar suara Tante Edrea.
"Coba lihat ini!"
Aku menahan tawa melihat Mas Damar mulai keringat dingin, ku putuskan jalan ke arah Mamah. Sejenak melirik Mas Raksa, sang empu melihat balik.
"Kenapa, Mah?" Tanyaku.
Ternyata mangkuk isi kecap itu dipenuhi dengan semut hitam. Aku meringis. Bodoh juga Mas Damar, bukannya ditaruh di atas air malah dibiarkan di atas kitchen set. Pantas saja jadi kacau.
"Kamu, ya Aeera? Biasanya kamu yang iseng kayak gini."
"Loh, kok aku? Bukan aku, Mah." Aku mengelak karena tiba-tiba disalahkan.
"Kamu beli lagi sana di warung warga!"
"Kenapa aku?"
"Kamu sekarang yang belum punya tugas, Aeera. Lihat yang lain sibuk."
"Iya, Nak. Tidak jauh kok dari sini." Dukung Tante Edrea.
Ah sial sekali, jadi aku yang kena. Ku edarkan pandangan, yang lain memang sibuk, apalagi pelakunya lebih pura-pura sibuk.
"Yaudah, sini uangnya." Aku mengalah, karena yang diucapkan Mamah memang benar.
Mamah memberikan uang lima puluh ribu. Setelah itu aku jalan menuju keluar Villa, sempat melirik tajam ke arah Mas Damar dan dia hanya menyengir seperti kuda.
Sebenarnya aku tidak tahu warung warga dimana, tapi ku pikir jalan saja nanti juga ketemu. Sambil menghilangkan penat, di Villa salah fokus terus ke Mas Raksa dan Mbak Caeera bikin susah berpaling.
Aku berjalan santai karena kecap ini hanya dibutuhkan nanti malam saat bakar-bakar.
Sedihku kembali datang, aku mengingat dia terus. Ternyata susah juga berusaha melupakan seseorang yang selama ini kita dambakan. Tidak semudah yang aku pikirkan. Aku tersenyum tegar, bersedih juga tidak menyelesaikan masalah.
"Hei, sendirian lagi?" Sapa seseorang yang sudah berada di sampingku.
"Eh, Mas Gema?"
Seperti biasa, wajah Mas Gema dipenuhi dengan keringat segar. Pasti dia habis olah raga pagi lagi. Aku jadi malu karena tidak pernah olah raga.
"Gak ditemani sama Kakak kamu?"
Aku tersenyum masam, bahkan orang yang baru kenal saja menganggap aku dan Mas Raksa adik kakak. "Dia bukan Kakak ku,"
Dia beroh-ria sambil mengangguk, "oh... Pantas saja kemarin kayak posesif banget."
Aku menautkan alis, bingung dengan ucapan Mas Gema.
"Iya, seakan dia takut kamu digapai orang lain." Lanjutnya.
Aku mengerti maksud dia, ku pilih memandang jalan ke depan. "Perasaan kamu aja, Mas. Dia kekasih Mbak aku, makanya dia kelihatan care."
Ekspresi Mas Gema seperti kebingungan, "calon kakak ipar kamu?"
Aduh rasanya kok nyesek banget, ya.
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Masak? Kamu harus bisa membedakan posesif sama care loh, Aeera." Dia menatapku, "aku sebagai cowok ngerasa dia takut kehilangan kamu, dengan kata lain dia cemburu."
Deg, mataku sedikit membelalak. Cemburu? Mas Raksa cemburu? Ahahaha, mana mungkin.
Aku tertawa kaku, "haha. Mas Gema ada-ada aja. Aeera gak bohong, dia calonnya Mbak—"
"Aeera!" Panggilan itu membuat aku berhenti berbicara dan menengok ke belakang. Saking tertegun, aku mengehentikan langkah kaki.
"Tuhkan," gumam Mas Gema yang dapat aku dengar.
Untuk apa Mas Raksa ikut keluar Villa?
Sesampainya di depan kami, "Mas Raksa ngapain ke sini?"
Dia malah melihat Mas Gema, "lo lagi, ada urusan apa sama Aeera?"
Aku sedikit takut, kok Mas Raksa jadi galak gini?
"Gue? Nemenin dia, kasian tadi sendirian." Jawab Mas Gema tidak kalah songong. Aku bingung harus bersikap apa melihat gelagat dua laki-laki ini.
"Gak perlu, gue yang temenin dia."
"Enak aja, lo tadi kemana pas dia sendirian?"
Mas Raksa menatap tajam Mas Gema, aku yang berada di antara mereka hanya bisa mendongak melihat mereka bergantian.
"Lo baru kenal Aeera, kenapa sok care? Suka lo sama dia?" Pertanyaan itu membuat aku malu, tak habis pikir dengan Mas Raksa.
Rasanya aku ingin menangis, tidak enak dan juga malu sama Mas Gema. Aku memilih menunduk.
Mas Gema melihatku sejenak, lalu melihat Mas Raksa lagi. "Kalau iya, emang kenapa? Cemburu?"
Pernyataan itu membuat aku sedikit kaget, menatap Mas Gema tak percaya.
Ku kira selama ini kita kenalan tanpa rasa suka satu sama lain.
Aku lihat Mas Raksa mengepalkan kedua tangan dengan kuat sampai uratnya terlihat, "hapus rasa suka lo!"
"Kenapa? Lo cuman calon kakak ipar dia, kenapa lo larang-larang gue?"
Aku bingung, aku pusing, aku ingin menangis, aku capek.
"Siapa yang bilang,"
"Udah stop!" Ucapku memotong perkataan Mas Raksa.
"Gue cuman mau ke warung doang, ya Tuhan." Lanjutku.
"Mas Gema, hari ini aku terkahir di Puncak. Lain kali kalau mau ketemu chat aja, siapa tau aku juga lagi ada di Jakarta." Ucapku.
Mas Gema membuang napas, "oke, Aeera. Senang udah kenalan sama kamu. Lain kali ketemuan, ya." Jawabnya.
__ADS_1
Aku mengangguk, "iya, Mas. Aku lanjut ke warung, ya." Jawabku lalu kembali melangkahkan kaki.
"Ganti nomer, lo!" Ku dengar ucapan Mas Raksa kepada Mas Gema. Aku tidak mau ambil pusing.
Tak lama setelah itu, ada genggaman pada tangan kananku. Sontak aku melepasnya. Aku tahu itu Mas Raksa.
"Kamu, sungguh ada hubungan sama laki-laki tadi?"
Aku hanya menggeleng sambil menunduk. Di sebelah dia, rasanya aku ingin menangis. Rasa sakit semakin terasa, rasa nyesek semakin melanda, rasa ingin memiliki semakin dalam, rasanya tidak ingin kehilangan lagi.
"Syukurlah."
Ku beranikan diri untuk mengangkat wajah, berusaha bersikap seperti biasanya.
"Lo ngapain ke sini?"
"Saya, ini," jawabnya gelagapan, "memang kamu tahu warungnya dimana?"
Aku kembali menggeleng. Jadi dia ke sini karena dia yang tahu warungnya di mana, mungkin diperintah oleh Mamah.
"Penampilan kamu kenapa berbeda?"
"Biasa aja."
"Kamu memang semakin cantik kalau rambutnya diurai. Tapi saya khawatir semakin banyak laki-laki yang suka sama kamu nantinya."
"Baguslah, biar gue laku."
Dia mengernyit, "memang kamu tidak laku?"
Aku diam, malu. Hari pertama ketemu dia saja, aku sudah tertolak waktu di rumah Tante Edrea.
"Kenapa diam?" Aku tidak menjawab.
"Laki-laki tadi saja suka sama kamu," aku masih diam fokus berjalan, ingin segera sampai warung dan kembali ke Villa. Berdua seperti ini membuat keadaanku semakin buruk.
"Aeera," panggilnya, sejenak diam. Aku enggan menjawab sepatah katapun.
"Kamu semalam menangis?"
Udah tahu masih tanya, dasar bodoh!
"Saya minta maaf."
Aku menahan air mata sekuat tenaga, Aku tidak mau menangis. Aku tidak mau terlihat payah di depan dia. Aku tidak mau dia merasa menang karena sudah bisa membuat aku cengeng.
Sekaligus, aku merasa malu karena pernah bilang kalau aku masih mengharapkan dia kembali. Tanpa kusadari dia berhasil mempermainkan ku.
"Aeera, kamu sudah tahu kalau saya—"
Langkah kakiku berhenti, "gue benci sama lo, Mas!" Ucapku diambang amarah, air mata tidak dapat ku bendung lagi.
"Gue benci karena kalah sama ego gue!"
"Gue benci udah jaga perasaan gue dari dulu!"
"Gue benci karena gak bisa bikin celah buat orang lain!"
Aku terduduk di trotoar ambang jalan, "gue benci sama diri gue sendiri. Hiks." Mas Raksa mencoba memeluk tubuhku, tubuh yang saat ini lemah. Tidak seperti biasanya, hanya karena seorang laki-laki.
Aku melipat kakiku, ku benamkan wajah ke dalamnya. Aku malu kalau Mas Raksa melihat wajahku penuh dengan air mata. Aku terlihat payah dan bodoh.
"Gue bodoh banget."
"Aeera, Mas minta maaf. Mas tidak bermaksud."
Aku menghapus air mata dengan cepat, "udahlah, Mas."
"Aeera udah pernah bilangkan? Akan melupakan Mas kalau udah punya sumber kebahagiaan baru. Tenang aja, Aeera gak akan ingkar." Jelasku memaksa tersenyum.
"Kamu salah paham Aeera."
Aku terdiam, enggan merespons.
Dia duduk di sebelahku, "mas tidak berbicara jujur karena Mas mau kamu terbiasa sama Mas yang sekarang. Bukan terpaku sama Mas yang dulu."
"Mas juga terluka, harus menyembunyikan ini semua. Mas cuman takut kamu pergi, menghindar karena tidak terima perubahan Mas sekarang."
Aku melihat dan menyimak penjelasannya, "terus, Mas pikir dengan cara begini Aeera bisa terbiasa? Mas pikir Aeera seneng?"
Dia menggeleng, "yaudah, sekarang Mas tahukan Aeera bersyukur Mas sehat dan bahagia?"
"Mas masih ingetkan sama ucapan Aeera waktu di mobil?"
"Kalau Aeera ketemu sama Mas Buana, dan Mas Buana udah punya sumber kebahagiaan baru. Aeera terima. Dengan ketemu Mas lagi aja, Aeera udah bahagia." Jelasku sambil tersenyum samar.
"Sumber kebahagiaan? Kamu salah paham, Mas tidak ada apa-apa sama Rara." Ucapnya.
Kini aku menemukan Mas Buana pada diri Mas Raksa, cara bicaranya selalu memanggil dirinya sendiri Mas.
Sadar dari lamunan, aku tersenyum simpul. "Mas, cukup bikin gue kecewa gara-gara ketidakjujuran. Jangan bikin gue kecewa lagi karena lo mainin perasaan cewek. Apalagi Mbak gue sendiri."
Mas Raksa mengusap rambutnya frustasi, "harus bagaimana supaya kamu percaya, kalau Mas tidak ada hubungan apapun sama Caeera?"
Aku menarik napas, "Mas, semua juga tahu kalau lo berdua,"
"Apa kamu belum sadar berbagai macam kode dari saya? Itu semua untuk kamu."
Aku tertegun, haruskah aku percaya?
"Saya tidak melanjutkan nonton film karena khawatir sama kamu."
"Saya memilih menjemput kamu karena saya tidak rela kamu dibonceng pria lain, walau itu Damar."
Dia terus menatap wajahku, "kamu bilang, saya tidak cocok dengan wanita pendek? Karena langkah kaki saya panjang, saya mencoba seirama dengan langkah kaki kamu."
“Kamu bilang jangan asal memuji wanita cantik. Saya lakukan itu, saya hanya mengatakan kepada kamu.”
Air mataku kembali menetes, semua itu benar. Tapi aku yang tidak peka. Aku selalu tidak percaya diri kalau Mas Raksa lebih memilih aku daripada Mbak Caeera yang hampir sempurna. Sekarang, aku merasa semakin bodoh.
Dia mengusap air mataku perlahan, "ingat kemarin saya bilang saya merasa tersaingi, padahal saya sendiri belum berani jujur? Itu untuk kamu Aeera," dia memegang kedua pundak ku. "Mas takut kamu memalinkan hati untuk Gema. Mas takut kamu tidak nyaman dan memilih pergi kalau kamu tahu semuanya. Mas takut kehilangan kamu lagi."
“Selama di sini Mas cuek, karena Mas cemburu kamu dekat dengan Gema. Tapi bodohnya, Mas tidak berani mengucapkan secara langsung.”
Aku terisak, sampai dadaku terasa sesak. Sebegitu tidak pekanya diriku. Kalau aku sadar dari awal, semua tidak begini. Aku selalu berpikir semua itu untuk Mbak Caeera. Aku payah sekali, tidak percaya pada diri sendiri.
Mas Raksa kembali mendekap tubuhku, "jangan menangis lagi, semakin kamu terisak semakin Mas merasa bersalah." Ucapnya lembut.
Ku keluarkan semua air mata yang tersisa di dalam dekapannya, dekapan yang selama ini aku cari dan aku tunggu. Aku sayang dia, tidak ingin kehilangan dia. Apa ini artinya aku tidak boleh melupakan Mas Raksa, apa aku harus melanjutkan rasa ini?
Tuhan, Aeera bersyukur.
...🐣...
"Buset, lama banget. Ke warung apa ke Mekkah lo berdua?" Ledek Mas Damar ketika kami baru sampai di Villa.
"Iya, naik haji dulu gue." Saut Mas Raksa sambil menaruh botol kecap di atas meja makan.
"Siap, Pak Haji." Ledek Mas Damar yang dari tadi masih sibuk dengan panggangan.
"Gara-gara lo juga kita harus beli kecap, sial." Aku sedikit kaget dengar perkataan Mas Raksa. Dia jauh berbeda, biasanya dia sedikit berucap.
"Gitu-gitu lo juga seneng, kampret!"
Aku tersenyum, rasanya aku lega. Aku lebih bahagia dari biasanya. "Yang lain kemana Mas?"
Mas Damar yang dari tadi sibuk meluruskan besi-besi panggangan membuang napas, "di taman belakang, aku kayak tukang aja Dek."
"Hahaha, keren kok, Mas. Yaudah Aeera temenin." Jawabku sambil duduk di hadapannya, kasihan juga kalau dia harus di sini sendirian.
"Gue ke belakang dulu, Dam." Ucap Mas Raksa pamit ke pada mas Damar.
Mas Damar tersenyum jail ke arahku, "stt. Cemburu tuh, Dek."
"Apa sih, Mas. Gak mungkin lah." Jawabku sambil tersenyum salah tingkah.
"Gimana, kamu udah baikan sama dia?" Tanya Mas Damar sambil meluruskan besi-besi panggangan lagi.
Aku melihat dia sambil menautkan alis, "maksudnya?"
Dia menaruh obeng di lantai, "yaelah. Mas Damar tuh semalam sengaja ajak main truth or dare, abisnya gemes banget sama kamu. Masak gak tau Raksa itu siapa sih?"
Aku tak habis pikir sama perkataan Mas Damar, "jadi, semua tahu Mas kalau dia itu Mas Buana?"
"Ya menurut kamu aja."
Mas Damar bercerita sambil melanjutkan tugasnya, "jadi, dia itu ke Jakarta dan tinggal di rumah Mas, waktu kamu berangkat ke Jogja. Pas banget hari H."
Aku diam menyimak, "waktu dia sampai, langsung nanya kabar kamu. Terus mau nemuin kamu, Dek. Tapi keburu kamu pergi."
Aku masih diam, sedikit mengulas senyum. Jadi selama ini dia juga mencari aku?
"Waktu mau Mas kasih nomor kamu, katanya gak usah. Biar kamu kenal dia dengan sendirinya. Katanya biar kamu gak tenggelam dalam diri dia yang dulu. Ah, apalah itu, berat banget bahasa dia." Lanjutnya, senyumanku semakin lebar dan mungkin saat ini pipiku merah seperti ceri.
"Mas kira dengan mudah kamu kenali dia loh." Ucapnya lagi, dia berhenti dari aktivitasnya dan menatapku, "tapi, sebenarnya dia deket sama kamu apa Caeera?"
Pertanyaan itu berhasil merengkut senyumanku, "akh, Aeera juga belum tahu, Mas."
"Tapi, Mas kan sebagai laki-laki. Pasti lebih memilih Mbak Caeerakan?"
Mas Damar mengerutkan keningnya, "kenapa kamu tanya gitu?"
__ADS_1
"Penasaran aja, Mas."
Dia kembali mengerjakan tugasnya sambil mengusap keringat, "tergantung sih, Dek. Pasti ada lebih kurangnya, tergantung cocok sama siapa."
"Gak semua cowok lihat wajah doang, Dek."
"Hm, maksud Mas Damar. Memang pasti yang dilihat pertama itu wajah sama penampilan," pupus sudah harapanku. "Tapi, lebih lanjut ya tentang kenyamanan, belum tentu cantik bisa bikin nyaman, kan?" Lanjutnya, membuatku sedikit percaya diri kembali.
"Lagian kalian itu tipe cewek yang beda, Caeera memang cantik, dan kamu ya manis. Jadi gak bisa dibanding-bandingin."
Aku tersenyum jail, "berat banget emang, berat!!!" Yang dipuji malah tersenyum bangga.
...🐣...
Malam hari tiba, kami semua kumpul di taman belakang. Seperti rencana awal, di malam terakhir akan diadakan bakar-bakar atau barbeque-an. Mas Damar lagi-lagi berurusan dengan panggangan, kali ini dia bertugas untuk menyalakan api. Aku ingin tertawa saja saat melihat ekspresi dia, wajahnya penuh kepulan asap saat api itu gagal menyala. Aku, Mamah, dan Tante Edrea bolak-balik dari dapur ke taman belakang sambil membawa bahan-bahan untuk malam ini. Sedangkan Mbak Humeera, Mbak Caeera, dan Mas Raksa menata kursi, meja, ataupun tikar, dan tak lupa mereka menyalakan api unggun, agar malam ini semakin menyenangkan.
"Uhkk-uhk." Mas Damar terbatuk sambil mengibaskan tangan untuk menghilangkan asap yang memenuhi wajahnya.
Aku tertawa puas melihat itu, "hahaha. Mas Damar lucu banget sih ekspresinya."
"Lucu matamu." Sautnya. "Damar..." Himbau Tante Edrea supaya tidak mengucapkan kata kasar kepadaku.
"Iya, Mah."
Aku mengulum senyum sambil jalan ke arah dia, "sini Aeera bantu, gini-gini aku sering bantuin Mbah di dapur."
"Alesan, bilang aja kamu senang main api." Kataya, aku tertawa, Mas Damar tahu aja.
Aku mengambil alih, ku tuang sedikit minyak tanah ke atas arang. Lalu ku ambil koran yang tergeletak di bawah, lalu ku hidupkan korek api. Koran yang sudah terbakar ku masukkan ke dalam panggangan. Dengan tenang menggerakkan kipas dari rotan agar api menjalar ke semua arang.
"Widih, jago juga adek Mas Damar." Puji Mas Damar yang dari tadi berdiri di sebelahku.
Aku tersenyum sombong, "jangan meragukan kemampuan Aeera." Semua melihat ke arahku, memang hanya api di panggangan saja yang belum beres.
"Hilihh." Saut Mbak Caeera.
"Tuh, Mah. Ae ketahuan sering main api." Ucap Mbak Humeera.
"Pantas kamu emosian terus Aeera." Mamah ikut meledekku.
Aku yang dari tadi mengipasi arang hanya tersenyum, aneh juga kalau dipikir-pikir. Arang dibakar bertujuan untuk menciptakan titik api, tapi malah dikipasi. Sengaja dibikin panas untuk dibikin dingin.
"Beda cerita kalau itu, Mbak." Kata Tante Edrea menyauti ucapan Mamah.
Perasaan dari tadi Mas Raksa tidak berbicara sepatah katapun, aku memutuskan untuk melihat dia sejenak. Ternyata dia sedang tersenyum ke arahku, ah bikin salah tingkah saja.
"Udah, ah. Ini kan tugas Mas Damar." Ucapku sambil memberikan kipas dari rotan itu ke tangan Mas Damar.
"Yasudah, bakar sosis dulu, ya." Ide Tante Edrea.
Aku mengangkat jempol tanda setuju.
"Oh iya, gue kemarin sempet beli minuman. Bentar gue ambil." Ucap Mbak Caeera.
Mas Damar menyaut, "keluarin amernya, Ra."
Sontak Mamah dan Tante Edrea melotot ke arah dia, "aman, Mar." Saut Mbak Caeera.
"Aku juga punya cemilan, sebentar aku ambil dulu." Kali ini Mbak Humeera, dia langsung bergegas masuk ke dalam Villa.
"Yang banyak ya, Mbak." Pintaku, sang empu hanya mengangkat jempolnya.
Aku memilih duduk di tikar yang tadi sudah digelar, menunggu makanan dan minuman siap disajikan. Sambil mengarahkan tangan ke api unggun, lumayan dingin malam ini. Rasanya ini hari terbaik yang aku punya, bisa kumpul bersama keluarga dan bersama Mas Buana.
"Kamu bahagia?" Pertanyaan Mas Raksa yang sudah duduk di sebelahku.
"Pasti." Jawabku singkat sambil tersenyum.
"Sama."
Kami sempat diam, melihat yang lain sibuk membakar sosis.
"Ey, gue sambil setel musik, ya?" Tanya Mas Damar. Hampir semua setuju, sepertinya akan lebih seru.
Dia berlari ke dalam Villa.
"Kamu lihat bintang dan bulan di langit itu." Ucap Mas Raksa sambil menunjuk ke arah langit yang sudah tidak disinari matahari.
"Kenapa?"
"Indah bukan?"
Aku mengangguk, memang indah.
"Menurut kamu, lebih indah mana daripada kebun teh kemarin?"
Aku berpikir sejenak, "hmm, sama-sama memanjakan mata, Mas. Sama-sama indah."
"Kamu masih ingat kemarin Mas bilang ada yang lebih indah dari kebun teh?"
Sangat ingat, semua ucapan dia yang ada di kebun teh, aku ingat dengan baik. Aku melihat dia sambil mengangguk dan tersenyum, "jadi yang lebih indah itu bulan dan bintang di langit malam?" Tanyaku.
Dia menggeleng sambil tersenyum, mata kami saling bertatap. "Bukan,"
"Lalu?"
"Kamu lihat, sekarang bayangan apa yang ada di dalam mata Mas?"
Aku berpikir, di dalam mata dia tercermin aku di sana. Maksudnya?
"Iya, kamu lebih indah dari keduanya. Mas mengajak kamu ke kebun teh, karena ingin memberi kabar, kalau ada yang lebih indah dari dia." Aku terus menatap matanya, jantungku berdegup kencang, bibirku mengulum senyum.
"Dan sekarang, gantian bintang dan bulan yang Mas beri kabar, kalau ada yang mampu mengalahkan keindahan mereka. Yaitu, kamu."
Kami saling pandang, ucapannya sungguh membuat perutku seperti ditumbuhi bunga yang sedang mekar. Penuh dihinggapi kupu-kupu. Jantungku bak sedang menonton konser dangdut, rasanya jedag-jedug.
Di dalam hati, sontak aku mengucapkan kata terima kasih. Baru kali ini gombalan dari laki-laki aku terima dengan senang hati. Memang benar, jika sedang jatuh cinta, eek kucing rasa cokelat.
Kami disadarkan dengan sapaan Mbak Caeera, "oy, Aeera lo dipanggil Mamah tuh."
Aku kembali melihat api unggun, sedikit salah tingkah. "Ciee, makin lengket aja." Ledeknya.
"Aeera ke Mamah dulu ya, Mbak." Pamitku, jujur saja. Aku mempunyai firasat kalau mereka berdua ini memang ada sesuatu. Aku masih tidak enak dengan Mbak Caeera kalau aku terlalu dekat dengan Mas Raska.
Aku bergegas menuju ke Mamah, yang sedang fokus membakar bersama yang lain. Sempat ku tengokkan kepala ke belakang, melihat Mbak Caeera dan Mas Raksa duduk berdampingan di depan api unggun. Aku membuang napas.
"Kenapa, Mah?"
"Kamu mau sosis apa tempura?"
"Dua-duanya juga aku makan, hahaha." Jawabku sambil tertawa.
"Aeera sini!" Panggil Mas Damar, ku lihat dia berdiri di depan meja kayu yang di atasnya sudah ada speaker kecil berwarna hitam.
Dengan semangat aku berlari ke arahnya, "widih, kayaknya pesta besar nih kita malam ini."
"Yoi, senang-senang lah kita. Jangan cemburu-cemburuan." Jawabnya.
Aku hanya tertawa, lagi-lagi Mas Damar menyindirku.
"Kamu mau lagu apa?"
Berpikir sejenak, "Mine, Petra Sihombing."
Mas Damar mengangguk laku menyetel musik dengan keras. Kami berdua bernyanyi secara bersamaan, sambil menari tentunya. Malam ini aku tidak mau banyak pikiran, malam ini sangat sayang jika dilewati tanpa kebahagiaan.
Girl your heart, girl your face is so different from them others
I'll say, you're the only one that I'll adore
'Cause every time you're by my side
My blood rushes from my veins
And my geeky face, blushed so silly, yeah, oh yeah
Ketika lagu mulai berputar dan kami mulai bernyayi, ku lihat Mas Raksa dan Mbak Caeera berjalan menghampiri kami. Dan yang sedang membakar makanan menikmati lagu ini.
And I want to make you mine
Oh, baby, I'll take you to the sky
Forever you and I (You and I) (You and I)
And we'll be together till we die
Our love will last forever and forever, you'll be mine
You'll be mine
Oh-ooh, oh-ooh
Kami berempat menyanyi dan menari bersama, sambil tertawa bahagia. Rasa sedih dan cemburuku singkirkan jauh-jauh, kalau bisa semoga tidak datang lagi.
Girl, your smile and your charm
Lingers always on my mind I'll say
You're the only one that I've waited for
Malam ini, malam yang indah. Semoga suasana seperti ini akan sering terulang. Aku akan selalu merindukannya.
__ADS_1
Dalam hati ku berucap, aku sayang kalian semua.
...🐣...