Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 19


__ADS_3

Sekarang aku di sini. Berdiri di antara keramaian. Aku mencoba untuk tegar menghadapi semuanya, makanya aku memilih untuk hadir di acara tunangan Mas Raksa dan Mbak Caeera.


Banyak tamu yang datang ke acara ini. Kebanyakan dari saudara jauh, karena aku mengenali beberapa tamu. Suasana cukup ramai, dan tema pertunangan ini adalah modern elegan. Mirip seperti tema ulang tahun sekaligus perjodohan antara mereka. Aku berdiri mematung, melihat ke pemeran utama dalam acara pertunangan ini.


Mas Raksa memasangkan sebuah cincin berlian ke jari manis Mbak Caeera yang sangat lentik. Semua tamu dan keluarga nampak sangat bahagia. Mereka tersenyum lembar dan terlihat sangat teduh. Tak luput dari senyuman Mas Raksa, dia nampak damai dan sangat tampan. Lebih tampan dari biasanya.


Aku berdiri sedikit jauh dari keluargaku. Memilih untuk menundukkan kepala, karena dadaku tidak sanggup untuk melihat ini semua. Tak sadar beberapa tetes air mata mulai jatuh. Entah, sampai saat ini aku belum bisa melupakan begitu saja. Aku selalu berusaha ikhlas melepas. Tapi hati kecilku tidak bisa berbohong, aku tidak siap menghadapi semua ini.


Ku dengar para tamu bertepuk tangan, perlihatkan aku mengangkat kepala dan melihat apa yang terjadi. Mas Raksa dan Mbak Caeera tengah berpelukan sangat erat. Bahkan sepertinya mereka tidak sungkan atau memikirkan perasaanku. Semoga kalian bahagia, selalu bahagia, aku mencoba ikhlas untuk melepas.


...🐣...


Perlahan ku gerakkan badanku, rasanya cukup pegal. Kicauan burung dara memenuhi telingaku. Perlahan mataku mengerjap karena silaunya sinar matahari


masuk melalui jendela yang sudah terbuka. Terdengar pula lantunan lagu Jawa dari luar kamar. Seperti biasa, setiap pagi Mbah selalu memutar musik tradisional.


Walau mataku sudah terbuka, tapi aku enggan beranjak dari ranjang. Aku melihat kuda-kuda rumah dari kayu yang terlihat tanpa ditutupi oleh plafon. Merenung sedikit.


"Semalam aku mimpi datang ke pertunangan mereka berdua."


Aku membuang napas, "huh, semoga kalian langgeng, ya."


Aku cukup dikejutkan dengan kelambu pintu yang dibuka oleh Mbah.


"Wes tangi?" Inilah Mbah ku, Mbah Maheswari. Dia besar di Jogja, namun asli Surabaya. Jadi sudah biasa menggunakan Bahasa khas Jawa Timur.


"Wes, Mbah. Kesel banget loh, awak ku rasane ape rontok." Jawabku sambil beranjak dari ranjang.


"Lho, masa ku dino iki jogging."


Aku lihat penampilan Mbah dari atas sampai bawah, dia sudah siap untuk lari pagi. Mengenakan kaos dan celana training, tak lupa sepatu sport.


"Sesok wae yo, Mbah. Aku lagi ora kepengen."


"Rene, o. Metu, Mbah arep ngomong."


Aku dan Mbah menuju ke ruang tamu, duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.


"Enten opo, Mbah?"


Sambil menunggu ucapan dari Mbah, aku memilih untuk minum dari kendi yang terbuat dari tanah liat.


"Kue, ono masalah opo? Wayahe tasek limang ndino kan neng Jakarta?"


Aku diam sejenak sambil berpikir, enaknya jawab apa? Aku tidak mungkin berkata jujur, bisa-bisa Mbah banyak pikiran.


"Hm,"


"Mboten opo-opo, Mbah. Aku wes biasa urep neng kene, dadi neng Jakarta rondok ora kerasan." Jawabku berbohong, maafkan aku ya Mbah.


Mbah meneliti wajahku, dia nampak tidak percaya. "Ora usah ngapusi!"


Aku sedikit tersentak, lalu tersenyum kaku. "Tenan, Mbah. Mboten enten masalah," Ucapan ku terpotong kala mendengar suara mobil dari teras rumah.


Aku cukup panik, bisa saja itu keluarga dari Jakarta. Untuk saat ini, sungguh aku tidak mau menemui mereka. Rasa kecewa ku belum hilang, aku butuh menenangkan diri.


"Em, Mbah. Anu, itu ada tamu. Aku masuk dulu, ya."


Mbah sempat melihat mobil dari celah di jendela, "yowes."


Aku bergegas memasuki kamar, lalu menutup kembali kelambu pada pintu. Aku berdiri memunggungi tembok yang terbuat dari kayu jati, ingin mendengar siapa yang datang.


"Pripun, Bu?" Aku membelalakkan mata, itu pasti suara Tante Edrea.


"Tumben rene, ono opo?"


"Ngapunten, Bu. Kulo bade tangled, Aeera enten teng mriki?"


Mataku kembali berkaca, aku cukup terharu mendengar ucapan Tante Edrea. Dia merelakan datang ke sini hanya untuk mencari ku, padahal aku tau dia memiliki banyak pekerjaan yang tidak mudah untuk ditinggal. Tapi, di sisi lain, aku sangat kecewa dengan dia. Dengan teganya dia menyembunyikan masalah perjodohan ini, dia ikut mempermainkan perasaanku.


"Cerito, asline enek masalah opo?"


Aku enggan mendengar pembicaraan mereka lebih lanjut, lalu memutuskan untuk kembali merebahkan tubuh di atas kasur. Air mataku kembali menetes, kali ini aku merasa menjadi beban Tante Edrea, dan juga aku sangat kecewa dengan dia.


Tak lama terdengar geseran kelambu kamar ku. Ku lihat Tante Edrea masuk dan duduk di sisi ranjang.


"Aeera, kamu baik-baik saja?" Aku enggan menjawab pertanyaan dia.


"Tante minta maaf,"


Ku dudukkan tubuhku, "aku, nggak apa-apa, Tan. Sekarang aku lagi butuh waktu untuk sendiri." Dengan payahnya aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh.


Tante Edrea mengelus wajahku, "kamu jangan berpikir yang negatif, Aeera."


Aku sesegukan, gimana bisa tidak memikirkan yang negatif, sudah jelas mereka semua membohongi ku.


"Tante, dengan semua ini terjadi. Aku jadi ngerti, kalau gak semua orang dapat dipercaya, bahkan keluarga sendiri."


Aku menjauhkan tangannya dari wajahku, "aku mohon, sekarang kasih aku kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap kalian lagi."


Lalu aku mencoba tersenyum, "makasih udah sambut aku dengan baik selama empat belas hari." Tante Edrea menunduk menangis.


Aku tidak bisa melihat orang yang aku sayang mengeluarkan air mata, apalagi gara-gara aku sendiri. Untuk itu, aku memutuskan mengambil tas hitam, lalu pergi meninggalkan Tante Edrea. Entah tujuan kemana, yang penting aku bisa menenangkan diri.


"Arep neng ndi, Aeera?"


Aku segera menghapus air mata kala melihat Mbah berdiri di depan kamar, "anu, enten urusan, Mbah." Aku segera mencium punggung tangannya, lalu memutuskan pergi dari rumah.


Di jalan aku masih saja meneteskan air mata, bagaimana bisa aku menahannya. Tante Edrea salah satu orang yang aku sayangi, bahkan dia motivasi eksternal ku supaya dapat sukses. Aku berusaha menghapus air mata yang terus turun.


Aku memutuskan mampir ke konter pulsa.


"Mbak, ada kartu telkomsel?"


"Ada, ini pilih mau yang nomor berapa?"


Berderet kartu baru dengan berbagai nomor, karena ini hanya untuk nomor sementara aku tidak begitu memikirkan.

__ADS_1


"Mana aja Mbak,"


Mbak penjaga memberikan satu buah kartu baru, "ini udah sekalian pulsa SMS sama telepon?"


"Untuk seminggu gratis telepon dan SMS."


Setelah itu aku memberikan uang dan segera memasang kartu itu pada ponselku. Aku segera menelepon seseorang, jujur saja aku membutuhkan teman berbincang.


"Halo, Mas Gema."


"Ini siapa, ya?"


"Aku, Aeera. Mas bisa ketemuan sekarang? Aku yang samper juga nggak masalah."


Akhirnya kami janjian untuk bertemu di warung steak dekat rumah Mbah, padahal aku sudah bilang kalau mau hampiri dia. Tapi Mas Gema tetap kekeh mau tahu aku sedang di daerah mana.


Kami duduk saling berhadapan dan di meja sudah ada steak ayam dan sapi.


"Gimana?"


Aku membuang napas, melipat tangan di meja.


"Bingung, Mas."


Dia tertawa sejenak, "memang cinta itu membingungkan."


"Tadi Tante dari Jakarta sengaja ke sini cuman untuk lihat keadaanku."


Dia menyimak ceritaku sambil makan, "aku merasa jadi beban, tapi, aku juga kecewa sama dia."


"Kecewa karena?"


"Selama aku di Jakarta nggak ada yang bilang kalau mereka dijodohkan. Seakan mereka gak perduli kalau aku jatuh hati lebih dalam, apalagi Mas Raksa itu teman kecilku."


"Saat aku tau kalau dia orang yang selama ini aku nanti, aku mulai percaya dan menaruh hati semakin dalam. Tapi, saat itu juga mereka seperti memasukan ku ke lubang yang berisi tumpukkan kaca."


"Di sini aku ngerasa dipermainkan sama keluarga aku sendiri, hati ku emang sakit karena cinta, tapi lebih sakit lagi karena kecewa."


Mas Gema berhenti makan, "sekarang aku tanya, kamu bukannya punya firasat kalau mereka punya hubungan khusus?"


Aku mengangguk, "betapa bodoh nya, padahal aku udah dikasih petunjuk, tapi bandel banget."


"Aku salah ya, Mas, kalau menaruh harapan lebih sama orang yang selama ini aku rindu?"


"Atau, aku kesannya gak tau diri dan kegeeran banget?"


Aku membenamkan wajah pada meja, "aku cuma ikutin kata hati, Mas. Selama lima tahun menanti, bahkan menutup hati tanpa celah buat cowok lain. Dan ketika kami ketemu lagi, apa aku gak boleh berharap lebih?"


Aku merasa ada elusan tangan di kepalaku, "kamu nggak salah, ikutin kata hati juga nggak salah. Yang aku tangkap dari cerita kamu, mungkin ini semua salah paham?"


Tubuhku kembali tegak, ingin menyimak lebih lagi ucapan dia.


"Hm, aku pernah bilang kan, aku lihat Raksa itu punya rasa lebih ke kamu?" Aku hanya mengangguk.


Dia berpikir sejenak, "baru kali ini loh aku salah lihat perasaan orang."


Dari omongan dia aku semakin pesimis, ya, memang kami tidak berjodoh.


Mas Gema melanjutkan, "untuk saat ini, aku gak bisa berkomentar jauh tentang apa yang kamu ceritain. Soalnya orang curhat itu cuma butuh didengar, belum tentu butuh solusi, kan?"


Aku sedikit tersenyum, "makasih ya, Mas. Udah mau dengerin aku cerita." Aku setuju dengan ucapan dia, untuk saat ini aku hanya butuh teman bercerita.


Dia mengangguk sambil tersenyum, "santai aja,"


"Persiapan sekolah udah lengkap?"


"Belum siap-siap sama sekali."


"Aku tau sih di daerah sini toko baju SMA dimana."


"Mau aku antar cari baju sekolah?" Tawarnya.


Aku berpikir sejenak, sebenarnya tidak salah juga pergi dengan Mas Gema. Buat hilangin stress.


"Boleh, besok pagi jam sepuluh ketemu di depan sini, ya?"


...🐣...


Akhirnya aku sampai lagi di depan rumah, setelah jalan kaki kira-kira satu kilometer. Tadi Mas Gema mau mengantar pulang, tapi aku menolak, aku mau menenangkan diri dengan berjalan kaki.


Aku membuang napas lega saat tidak melihat mobil Tante Edrea di teras rumah. Berarti dia sudah pulang.


"Mbah. Aku muleh."


Mbah berjalan dari dapur, "songko ndi wae, nduk?" Dia duduk di kursi ruang tamu.


"Mlaku wae, Mbah." Jawabku kembali berbohong.


"Kimau, wonten cah bagus rene. Pengen petuk awak mu." Cah bagus itu maksudnya cowok ganteng.


Aku mengerutkan kening, ikut duduk di sebelah Mbah. "Sopo, Mbah?"


"Mbuh, Mbah ora kenal. Jenenge, aduh sopo yo. Bu, Buna? Mbah, lali."


Mataku kembali berkaca, apa yang dimaksud oleh Mbah adalah Mas Buana alias Mas Raksa? Untuk apa dia datang ke sini?


"Ono pesen, Mbah?"


Mbah sedikit memukul keningnya, dia beranjak dan mengambil kertas di atas televisi tabung.


"Iki loh, ndekne ngeweki iki."


Aku segera mengambil kertas itu.


Betapa sesaknya dadaku ketika melihat surat undangan pernikahan yang menampilkan inisial RAB & CNB


Aku enggan membuka, di sana tertera undangan tersebut untuk Mbah dan aku. Sebisa mungkin aku menahan air mana, karena di sini ada Mbah, mana mungkin aku menangis?

__ADS_1


"Ndok, kimau Ibuk mu telepon."


Tanganku menggenggam erat undangan itu, aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Mbah.


"Jarene, Kiara nikah sak wulan kas." Mbah selalu salah sebut nama Caeera dengan Kiara.


"Kaira, Mbah." Koreksi ku.


"La yo kui undangan seng mbok cekel, opo cah bagus kimau kurir?"


Aku hanya tersenyum, "mugo-mugo Mbak Caeera seneng yo, Mbah."


"Aku, mlebu kamar ndisik, Mbah. Turu sediluk."


Jujur saja hatiku sakit, dadaku sesak. Untuk apa Mas Raksa ke sini hanya untuk mengantar undangan pernikahan mereka?


Sesampainya aku di kamar, aku duduk di atas kasur. Air mataku berhasil menetes, tidak ada sedikitpun keinginan ku untuk membuka undangan itu. Melihat inisial mereka di cover undangan saja sangat menyakitkan.


Aku tersenyum miris, meratapi nasib. Sungguh gadis yang tidak beruntung. Ku tekuk kaki dan membenamkan wajah di sana, ya Tuhan baru saja aku lega setelah sedikit cerita dengan Mas Gema, sudah sakit lagi hatiku.


Aku sesegukan, mulutku sudah tidak bisa tertutup karena hidungku mampet.


Semoga tahun demi tahun segera terlewati, aku hanya ingin menghilangkan rasa cinta dan kecewa secara bersamaan.


...🤗...


Pagi hari tiba, semalam aku memberi pesan kepada Mas Gema, jika hari ini jadi membeli baju sekolah. Aku sudah siap, walau mataku sedikit bengkak, tapi itu tidak masalah. Aku tidak peduli dengan penampilan saat ini.


"Mbah, aku metu sedilit, yo. Ape tuku klambi sekolah."


"Yo, ati-ati, yo, Ndok." Setelah itu aku mencium punggung tangan Mbah.


Aku segera berjalan menuju warung steak tempat kemarin kami bertemu. Tak jauh dari pandanganku, aku melihat Mas Gema sudah duduk di atas motor di depan warung steak.


Jalanku sedikit cepat, karena tidak enak membuat Mas Gema menunggu.


"Udah lama, Mas?"


Dia menggeleng sambil tersenyum, "belum. Ayo naik."


Dia memberikan helm hitam kepadaku, setelah itu aku menaiki motor beat yang dia gunakan. Motor ini cukup nyaman, tidak terlalu tinggi dan tidak membuat pegal.


"Sudah?"


Aku mengangguk, setelah itu dia mengendarai motor dengan kecepatan normal. Cuaca Jogja hari ini tidak begitu panas, karena memang musim penghujan. Aku berpegang pada jaket tebal milik Mas Gema, biasa aku takut kejengkang.


"Mata kamu kenapa?"


Aku sedikit linglung, "haha. Kelihatan banget ya, Mas, bengkaknya?"


"Ya, menurut kamu?"


Aku berbicara dengan mencondongkan wajah sedikit ke depan, agar suara kami terdengar.


"Aku kemarin dapat kabar, kalau mereka bulan depan menikah. Bahkan yang hantar undangan ke rumah Mas Raksa sendiri."


"Kamu ketemu dia kemarin?"


Aku menggeleng dengan cepat, "untung aja dia balik cepat."


"Seharunya waktu yang tepat buat kalian ngobrol empat mata, biar masalahnya nggak ganjal lagi."


"Iya, Mas. Tapi, aku belum siap."


Aku tidak mendengar ucapan dari Mas Gema lagi. Kami fokus pada jalan yang tidak begitu macet.


Setelah beberapa menit, akhirnya Mas Gema memberhentikan motor di depan sebuah toko kecil. Aku segera turun dan membuka helm.


"Ini toko warga, toko kecil. Kita harus bantu perekonomian mereka." Ucapnya, aku tersenyum mendengar ucapan dia. Baik juga tujuannya.


Kami masuk ke dalam toko kecil itu, "wah Dek Gema,"


"Pagi Pak." Sapa Mas Gema kepada penjual, aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mau cari apa, Dek?"


"Ini, seragam sekolah SMA buat dia."


Bapak itu melihat ku, "ukuran bajunya apa, Ndok?"


"Kalau ada yang M, Pakde."


Penjual itu mengangguk, lalu dia mencari seragam yang aku pesan, baju putih dan rok abu-abu.


"M? Gak kekecilan?"


"Kayaknya pas buat badan, ku."


Bapak penjual kembali dengan membawa baju putih, rok abu-abu, rok putih, dan segaram pramuka.


"Ini, monggo dicoba dulu."


Aku mengambil baju putih dari tangan Pakde, lalu mencoba mencocokkan ke tubuhku.


"Kekecilan, kalau bisa jangan pas bodi. Terlalu pres."


"Pak, coba carikan yang ukuran S aja."


Ucap Mas Gema, padahal menurut aku baju ini pas dengan badan.


"Mas, ini cukup loh."


"Kalau kekecilan, nanti gak sampai kelas tiga." Ucapnya.


Iya juga.


...🐣...

__ADS_1


__ADS_2