Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 7


__ADS_3

Kala ku seorang diri hanya berteman sepi dan angin malam


Kucoba merenungi


Tentang jalan hidupku


Ku langkahkan kakiku dan menyimak arti sebuah kehidupan


Namun hati bertanya adakah janji suci


Dalam cinta ha-ha


Adakah cintamu ha-ha-ha-ha-ha


Seberkas cahaya terang


Menyinari hidupku


Sesejuk embun embun di pagi hari


Dambaan insan di dunia ini


Kulangkahkan kakiku dan menyimak arti sebuah kehidupan


Namun hati bertanya adakah janji suci


Dalam cinta ha-ha


Adakah cintamu ha-ha-ha-ha-ha


Ini bukan lagu yang sengaja aku putar untuk menemani tidur, tapi nada dering ponselku yang aku letakkan di nakas. Bukannya kuangkat, aku malah menikmati lagu itu sampai mati sendiri. Namun, telepon itu terus berbunyi, lama-lama bosan juga mendengar lagu secara berulang.


Beberapa kali aku mengubah posisi tidurku, yang awalnya tengkurap sambil memeluk guling, kini jadi miring menghadap ke arah pintu kaca yang tertutup gorden cokelat.


Baru ingin terlarut dalam tidur, lagi-lagi ponsel sialan ini berdering. Dari awal aku enggan mengangkat karena kantuk ku masih teramat berat. Oh iya, semalam Mamah berpesan agar ponselku tidak dalam mode hening. Ternyata saat aku di mall, Mamah beberapa kali menelepon dan tidak aku angkat.


   Aku menyerah, sudah hampir lima kali ponselku berbunyi. Dengan malas dan mata masih erat menempel, ku ayunkan tanganku ke nakas. Mencari dimana letak ponsel sialan itu.


   "Argh! Dimana sih, lagian siapa pagi buta telepon sampai lima kali." Geram ku, aku terpaksa duduk karena tidak mendapatkan ponsel itu.


   Dengan sedikit emosi ku ambil benda kecil itu sedikit kasar,


Seberkas cahaya terang


Menyinari hidupku


Sesejuk embun—


   Baru ingin menjawab, telepon itu sudah diputus, "sialan!"


   Aku melihat nomor tanpa nama telah menelepon ku lebih dari lima kali, orang iseng atau bagaimana, pagi-pagi buta menyampah seperti ini. Lalu aku membuka aplikasi chat, karena ada angka satu pada aplikasi tersebut, menandakan kalau ada pesan baru masuk.


   Dahi ku mengernyit kala melihat pesan tersebut juga dari nomor tak dikenal, tapi dalam aplikasi ini aku tahu siapa orang itu. Karena, terdapat foto profil dan dia sudah pernah chat aku sebelumnya. Ternyata aku belum menyimpan nomor Mas Raksa.


   Aku buka chat dari dia, Gorden kamu belum terbuka, kamu masih tertidur?


   Aku mendengus, "ya Tuhan, penting banget, ya?"


   Beberapa detik aku baru tersadar, kalau dia tahu gorden ku belum terbuka. Berarti dia ada di sekitar sini dong? Otomatis aku melangkahkan kaki menuju pintu kaca, ku geser gorden ke arah kanan, lalu memutar kunci pintu dan menggeser pintu kaca itu.


   Ku langkahkan kaki menuju balkon, dan melihat ke bawah, lebih tepatnya ke halaman rumah. Sedikit kaget, ternyata Mas Raksa sudah berdiri di depan pagar yang terbuka dan di belakangnya terdapat motor miliknya.


  Dia melambaikan tangan ke arahku, bukannya membalas lambaian itu, aku malah membuka aplikasi chat dan ingin menanyakan untuk apa dia di sana? Namun, sebelum pesan itu terkirim dering ponselku kembali berbunyi.


   "Lo ngapain pagi-pagi buta di sini, Mas?" Langsung ku berikan pertanyaan, karena aku tidak suka basa-basi.


   "Saya ingin bertemu putrinya Tante Arkadewi yang unik dan cantik." Aku lihat, Mas Raksa terus melihat ke arahku.


   Aku berdecak, bukan karena kecewa bahwa Mas Raksa kesini untuk ketemu Mbak Caeera, aku kesal karena untuk apa Mas Raksa menghujani telepon kepadaku jika tidak ada yang penting. Mengganggu orang tidur saja.


   Aku enggan menjawab ucapannya, ku lihat dia mengenakan handsfree dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang dia kenakan.


   "Kok kamu diam? Saya ingin mengantar Caeera ke kampus terlebih dahulu, kan motor dia masih berada di rumah Tante Edrea."


   Sungguh aku tidak meminta penjelasan itu. Menurutku, tanpa dia jelaskan juga semua sudah jelas.


   "Sinting!" Umpat Ku.


   "Terus lo ngapain telepon gua, Mas Raksa? Nggak ada yang penting juga kan?"


   Belum juga pertanyaan ku dijawab oleh Mas Raksa, tiba-tiba Mbak Caeera datang menghampiri Mas Raksa. Seperti biasa, Mbak Caeera nampak sangat cantik, terkadang aku meragukan apakah aku adik kandung dia? Hahaha.


   "Sorry, Sa. Kelamaan, ya?" Samar ku mendengar ucapan Mbak Caeera dari ponsel.


   "Lumayan, lo tanpa pakai make up juga udah cantik." Rasanya ingin muntah, pagi-pagi sarapan gombalan pria.

__ADS_1


   Memang semudah itu ya, laki-laki mengucapkan kata cantik untuk perempuan? Ah lupa, Mas Raksa kan lagi kasmaran. Wajar saja dia mengucapkan kata cantik ke Mbak Caeera, tapi kenapa kepadaku juga? Dasar buaya!


   "Tuan Putri mau diantar ke mana dulu? Udah makan?" Sebenarnya aku di sini hanya untuk mendengar perbincangan orang pacaran, ya? Kenapa setiap hari aku selalu disajikan siaran langsung ke-uwuan orang lain? God, when?


   "Udah tadi sama Mamah, gua ada kelas pagi, Sa. Jadi langsung ke kampus aja."


   Ku lihat Mas Raksa hanya mengangguk, lalu dia memberikan helm berwarna merah muda kepada Mbak Caeera.


   Ooh, helm itu ternyata punya Mbak Cae, jadi nggak enak, aku. Tapi sejak kapan Mbak Cae suka warna merah muda?


   Setelah mengenakan helm, mereka berdua langsung menaiki motor yang dari tadi menjadi saksi bisu gombalan Mas Raksa. Sebelum menarik gas motornya, Mas Raksa melihat ke arah ku.


   Aku hanya bisa mengepalkan tangan kanan ke atas dan bilang, "semangat, Mas!"


   "Untuk?"


   "Dapetin hati Mbak Caeera, Jia you!" Setelah itu aku langsung memilih untuk memutus telepon ini, tidak ada gunanya juga kan? Mending melanjutkan rebahan di kasur.


   Mas Raksa terus melihat ke arahku, sedangkan aku memilih untuk memasuki kamar sebelum Mbak Caeera melihat keberadaan ku, dan memikirkan hal yang tidak-tidak.


Lagi pun kalau terus mendengarkan pembicaraan mereka, dadaku sedikit sesak. Kok bisa? Aku juga bingung.


...🐣...


   Setelah mandi dan sarapan, aku memilih untuk duduk di kursi teras. Rumah ini sepi sekali kalau Mbak Humeera dan Mbak Caeera melakukan aktivitas rutinnya. Mamah sendiri sibuk di dalam rumah, entah melihat resep kue atau membantu Bibi membersihkan rumah.


   Terkadang saat seperti ini, aku ingin kembali sekolah dan menemui Mbah di Jogja. Namun, saat di sana, aku ingin ke Jakarta menemui Mamah dan kedua Mbak ku. Ngomong-ngomong, Mbah lagi apa ya?


   Beralih dari Mbah, aku sekarang memikirkan Mas Raksa. Cowok itu, menurutku dia terlalu tidak jelas. Kala tidak ada Mbak Caeera dia nampak sangat peduli padaku, dan ketika ada Mbak Caeera seakan dia acuh dan tidak kenal. Baru kemarin aku berpikir bahwa dia asik juga kalau diajak cerita, tapi semua sirna saat sikap dia berubah seratus delapan puluh derajat.


   Lalu pagi ini, dia menghujani ponselku dengan telepon beberapa kali. Padahal tidak ada hal penting, apa dia hanya ingin pamer kemesraan bersama Mbak Caeera? Tapi, aku memang salah apa?


  Aku mengangkat kedua kaki ku ke atas kursi dan melipatnya, melanjutkan pikiran yang seharusnya tidak aku pikirkan. Karena ini semua tidak ada gunanya. Mataku kosong mengarah ke depan, taman kecil kesayangan Mamah.


   Kalau memang Mas Raksa ada hubungan dengan Mbak Caeera, aku rasa tidak ada sangkut pautnya denganku. Kenapa juga dia gemar bergurau kepadaku, padahal dia baru kenal aku empat hari yang lalu, eh bahkan tiga hari. Tidak seharunya dia bersikap seperti itu, mengingat dia belum kenal jauh tentang aku dan sebaliknya.


   Sibuk memikirkan hal fana, aku sedikit terkejut kala mendengar siulan singkat. Otomatis aku mengalihkan pandangan ke samping kanan.


   "Astaga!" Aku terkejut, kenapa tiba-tiba orang ini duduk di sebelah ku? Aku lihat motornya juga sudah terparkir di teras. Halusinasi ku separah ini? Orang yang sedang aku pikirkan tiba-tiba bisa menjadi objek nyata?


   "Kamu kenapa? Seperti lihat hantu saja." Tanya Mas Raksa sambil ikut melihat apa yang aku lihat.


   Ku tatap matanya, "ini lebih serem dari hantu, Mas. Dedemit."


   "Durhaka loh kamu sama yang lebih tua." Aku menahan tawa, akhirnya dia sadar juga.


   Aku melirik Mas Raksa. Hei, hanya sekedar menemani mengobrol? Ku alihkan arah pembicaraan supaya dia tidak melulu menggodaku.


   "Ngapain lo di sini?"


   "Saya?"


   Aku enggan menjawab, sudah jelas di sini hanya ada kami berdua. Untuk apa bertanya lagi?


   "Saya kan mau bertemu anaknya Tante Arkadewi yang unik dan cantik."—"Unik dan cantik." Aku ikuti omongannya, bertujuan untuk meledek.


   "Nah itu kamu tahu."


   Aku mengernyit, "Ya tapi kan, anaknya Tante Arkadewi yang cantik dan unik udah nggak di rumah, Mas. Mau apa ke sini lagi?"


   "Ini, kamu, kan? Atau dedemit yang menyamar jadi kamu?" Mas Raksa mendorong-dorong pelan tubuhku menggunakan jari telunjuknya.


   "Dasar orang tua, mistis terus pikirannya." Sindirku.


   "Kamu yang ajarin."


   Aku mendengus, "nggak usahlah sok gombalin gua, nggak mempan. Tameng gua tebal."


   "Memang benar kok yang saya maksud itu, kamu."


   Deg, jantungku seketika berdetak tidak beraturan. Apa ini? Aku masih muda, masak sudah kena penyakit jantung?


   "Coba kamu pahami lagi ucapan saya tadi, Saya ingin mengantar Caeera ke kampus terlebih dahulu."


   "Bahasa Indonesia kamu lulus KKM tidak, sih?"


   Aku diam, berpikir, menelaah, mencerna, dan memahami ucapan Mas Raksa. Wait, terlebih dahulu? Hah, apa maksud dia mengantar Mbak Caeera bukan tujuan utama?


   "Benar, apa yang kamu pikirkan."


   Aku kembali menolehkan kepala dan melihat Mas Raksa, "sok tahu."


   "Loh, benar kok, mengantar Rara bukanlah tujuan utama saya."


   Aku menelan ludah dengan susah payah, dia cenayang beneran atau gimana sih?

__ADS_1


   "Terus, tujuan utama lo apa?" Aku pura-pura bertanya lagi. Dalam benak ku, aku berpikir bahwa tujuan utama Mas Raksa adalah menemui aku. Tapi, aku tidak mau besar kepala terlebih dahulu, mengingat Mas Raksa sering bergurau.


   "Bertemu kamu, mau jalan?"


   Deg, deg. Deg, deg.


Jantung ku semakin aktif, baru pertama kali ada cowok yang menawariku jalan. Biasanya mereka akan segan dan takut, bukan hanya karena keputusanku akan menolak, tapi mereka juga enggan meminta izin ke Mbah yang super galak.


   Aku hanya menggeleng sambil melihat taman, semakin ku menatap matanya, semakin aktif pula jantung ku berdetak.


   "Makan di luar?"


   Lagi-lagi aku menggeleng, suasana ini tidak sehat untuk jantung.


   "Lalu, hari ini kamu isi dengan kegiatan apa?"


   "Kegiatan positif," jawabku spontan, jujur saja pikiranku sedang tidak jernih.


   Mas Raksa mengacak pucuk kepalaku sambil berkata, "anak baik." Dia tertawa gemas, entah gemas karena aku memang menggemaskan. Atau gemas akan kebodohan ku.


   Ya Tuhan, kenapa jantung Aeera berdetak cepat banget?


Aku semakin gugup, bingung harus bersikap seperti apa. Jujur saja, sikap Mas Raksa manis sekali. Dia pandai membuat jantung seseorang berdetak tidak normal.


   "Pulang sana!"


   "Kamu mengusir saya?"


   "Enggak."


   "Ae, saya ingin bertanya."


   "Gak dulu."


   "Kamu kenapa lihat ke taman terus? Saya kalah menarik ya dari taman?"


   "Iya."


   "Padahal saya kesini ingin melihat wajah cantik kamu. Kalau kamu selalu melihat ke arah lain, berarti usaha saya gagal."


   Blush, semoga pipiku tidak merah. Tapi, aku baru sadar, tadi pagi dia berkata Mbak Caeera cantik. Sekarang dia juga bilang kalau aku cantik, apa maksud dan tujuan dia?


   Seketika jantungku berdetak normal, dan sedikit kecewa akan kenyataan? Aku melihat matanya. "Mas, jangan semudah itu bilang cantik ke perempuan."


   "Salah saya di mana, perempuan sudah pasti cantik, bukan?"


   "Memang. Tapi, jangan lo ucapin ke semua cewek. Cukup ke satu cewek saja, Mas. Cewek yang menurut lo spesial."


   Pagi menjelang siang ini, tiba-tiba mood ku berubah sedikit asam. Aku berpikir bahwa Mas Raksa ini semacam berang-berang, atau cowok yang tidak setia. Bagaimana perasaan pasangan dia nanti, jika mendengar Mas Raksa memuji kecantikan wanita lain? Sakit bukan?


   "Oke, saya akan lakukan itu."


   Aku menyandarkan kepala pada tembok di belakang kursi, bosan juga lama-lama.


   "Eh, ada nak Raksa?" Aku menegakkan kembali badanku, melihat Mamah yang memakai celemek baru keluar dari rumah.


   Mas Raksa langsung mencium punggung tangan Mamah, "iya, Tan." Jawab Mas Raksa sambil tersenyum.


   "Kamu tidak kerja?"


   "Bisa ditangani oleh karyawan saya, Tan."


   Aku hanya duduk sambil menyimak obrolan mereka.


   "Oh, seperti itu." Mamah tersenyum, tapi aku lihat senyumnya tidak tulus. Mamah langsung menarik tanganku, agar aku bangkit berdiri.


   "Ae, bantu Mamah di dapur." Ucap Mamah, tumben sekali Mamah minta bantuan ku, padahal biasanya dia tidak mau aku ikut campur dalam urusan dapur, karena menurut Mamah akan lebih merepotkan.


   "Tumben, Mah."


   "Nak Raksa, Aeera nya masuk dulu, ya." Senyum Mamah lagi-lagi tidak tulus, Mas Raksa kelihatan sekali kalau bingung. Jangankan Mas Raksa, aku saja bingung dengan sikap Mamah.


   Mas Raksa mengangguk sambil tersenyum kaku, "Tante, hampir saja saya lupa. Tante Edrea mengajak untuk liburan ke Puncak."


   "Wah ide bagus, kamu sampaikan ke Edrea, ya. Makan malam bersama besok jam tujuh, sekalian kita bicarakan masalah liburan."


   Mas Raksa mengangguk, "iya, Tan."


   "Yasudah, kami masuk dulu, ya." Ucap Mamah dan segera menarik ku ke dalam rumah.


   "See you, Ae." Ucapan terkahir yang aku dengar dari mulut Mas Raksa. Aku belum sempat menjawab, Mamah sudah menutup pintu saja. Mamah ini kenapa tiba-tiba aneh seperi ini?


   Aku hanya bisa mengikuti Mamah, aku pun tidak tahu alasan dari semua ini. Padahal di dalam rumah pun aku tidak membantu Mamah sama sekali, hanya melihat saja. Sejujurnya aku tidak enak dengan Mas Raksa, karena seperti orang terusir.


   Aku mengambil ponsel dari kantong celana samping, membuka aplikasi chat. Mengetik pesan untuk Mas Raksa, sorry atas tindakan Mamah gua tadi.

__ADS_1


   Tak lama pesan dibalas oleh Mas Raksa, tidak masalah. Setelah membaca pesan itu, aku enggan untuk menjawab lagi. Yang penting, aku sudah minta maaf.


...🐣...


__ADS_2