Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 6


__ADS_3

"Kamu ini bicara apa?"


Mas Raksa budeg? Perasaan dia tidak setua itu.


Ku sandarkan punggung pada kursi, lalu melipat kedua tangan di bawah dada.


"Gimana ya, Mas."


Mas Raksa menjitak keningku pelan, "jangan sok mikir keras gitu, nanti cepat keriput."


Aku tidak menghiraukan ucapannya, "Mas ini sungguh suka sama Mbak Cae, kan?" Badanku hadapkan ke arah Mas Raksa, kali ini aku ingin kami berdua berbicara serius.


"Kalau saya sukanya sama kamu gimana?" Aku membuang napas lagi. Kenapa laki-laki ini susah sekali diajak ngobrol serius?


"Mana mungkin sih, Mas? Ada emas dan lo lebih pilih batu?" Sebenarnya aku sedikit nyesek dengan ucapan ku sendiri, tapi memang itu kenyataan nya.


Mas Raksa menautkan alisnya, "Kalau ternyata di dalam batu itu ada berliannya, gimana?"


Aku berdecak, "ralat. Ada berlian dan lo pilih batu, nggak mungkinlah!" Ucapku supaya tidak dibalas lagi oleh Mas Raksa.


Mas Raksa sedikit tertawa, "kamu memaksa sekali, ya?" Tangannya tak tinggal diam, dia sedikit mengusap pucuk kepalaku.


Tolonglah jangan begini terus, bantu aku setia sama Mas Buana.


Aku sedikit menepis tangannya, lalu kembali merapihkan rambutku. "Gini, kelebihan? Kayaknya gua nggak punya kelebihan dari Mbak Cae. Kalau kekurangan, ya, nggak usah diomongin sih, kebanyakan soalnya."


Mas Raksa masih serius melihat dan menyimak ucapan ku, "jadi kalau dipikir-pikir, ya nggak mungkin lah, lo lebih suka gua dibanding Mbak Caeera."


"Kalaupun, iya?" Aku berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Mas Raksa.


"Ya, pilihan lo nggak tepat. Ada yang terbaik, kenapa pilih yang terburuk. Hahaha." Aku tertawa kaku, menertawakan kekurangan ku sendiri.


Seketika aku berhenti tertawa kala Mas Raksa berbicara, "nggak lucu."


Aku kembali duduk menghadap depan, "Yang namanya hati, tidak bisa pilih-pilih." Ucap Mas Raksa yang membuat aku sedikit mual.


“Lagi pula, yang namanya cinta tidak pernah mengenal karena dan kenapa.” Lanjutnya.


Udah kenyang bos, sama ucapan seperti itu.


"Basi."


"Walaupun ada wanita seperfect apapun itu, kalau hati memilih yang lain, gimana?"


"Lagu lama, Mas. Mana ada cowok yang nggak tertarik sama cewek sempurna?"


Mas Raksa mengucapkan sesuatu yang membuat aku terdiam, "seperti ini misalnya, kamu tidak tertarik dengan saya, karena hatimu lebih memilih orang di masa lalu?"


"Padahal, semua orang juga bilang lebih tampan saya, bahkan kamu sendiri sebenarnya bilang seperti itu." Lanjutnya.


"Tampan itu relatif! Kata siapa lebih tampan situ?"


"Nah ini, cantik itu relatif. Menurut saya, tidak ada wanita yang sempurna. Justru, saya yang ingin melengkapi kesempurnaan pasangan saya nanti."


Aku hanya mendengar ucapan Mas Raksa, memilih diam karena mencoba untuk menyaring semua ucapannya, kata demi kata. Aku merasa ada benarnya juga ucapan dia.


"Kamu kenapa diam?" Mas Raksa memajukan badannya, bertujuan untuk melihat wajahku.


"Sebentar, Mas. Aeera lagi mencerna kata demi kata yang Mas Raksa ucapkan tadi."


Mas Raksa tertawa, "hahaha! Sudahlah, nanti juga kamu akan mengerti dengan sendirinya. Lupakan ucapan saya untuk saat ini."


Aku sedikit mengangguk, benar juga sih. Kalaupun aku memikirkan hal itu, tidak ada gunanya juga buat diriku. Lagipula, aku sampai detik ini tidak percaya kalau Mas Raksa menyimpan rasa kepadaku. Secara, banyak wanita yang lebih dapat menarik hatinya daripada aku. Baiklah, aku anggap semua itu hanya gurauan, tidak ada yang serius.


Logikaku menganggap semua itu hanya gurauan. Tapi, tidak tahu kalau hati kecilku.

__ADS_1


Karena cinta tidak mengenal logika.


"Oke. Saya lanjutkan ke pertanyaan ke-dua."


Aku menarik napas dan membuang dengan kasar, "Seingin tahu itu tentang Ae?"


Mas Raksa mengangguk dengan yakin. "Kamu kenapa takut dengan boneka? Bukannya kebanyakan wanita suka dengan benda, menji—lucu itu?"


"Hmm."


Mungkin kalau masalah ini tidak apa aku ceritakan? Sebenarnya sudah menjadi konsumsi publik, lebih tepatnya konsumsi keluarga besar.


"Pertama, jangan samain gua dengan wanita lain yang suka sama boneka. Kedua, ada alasan yang bikin gua nggak suka."


"Oke, saya anggap kamu unik. Alasannya?"


Aku terdiam sejenak, meyakinkan hatiku kalau masalah ini tidak apa jika diceritakan ke Mas Raksa, bawel juga lama-lama kalau tidak diceritakan yang sebenarnya.


"Jadi waktu aku masih kecil—"


"Ini hadiah buat Mas Buana!" Ucapku sambil memberikan boneka kecil yang berbentuk karakter laki-laki kartun kesukaan Mas Buana.


Reaksi Mas Buana berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang aku kira, "Ae, kamu tahu Mas tidak suka boneka, tapi kenapa Ae malah memberi kado ini?"


Hari ini, Mas Buana ulang tahun. Jauh hari aku memikirkan kado apa yang pantas aku berikan padanya, aku tahu Mas Buana suka dengan karakter ini. Tapi, aku tidak tahu kalau Mas Buana tidak suka dengan boneka.


Aku hanya menundukkan kepala sambil memegang erat boneka yang seharusnya sudah Mas Buana terima dengan senang hati.


"Sebenarnya, Ae tidak tahu kalau Mas tidak suka dengan boneka." Gumam ku, aku menunduk sambil memperkecil suara karena aku takut kalau Mas Buana masih marah padaku.


"Buana! Kemari!" Seketika aku mengangkat wajahku, melihat Mas Buana pergi menghampiri Mamah.


Tanpa sepatah kata, Mas Buana pergi meninggalkan aku. Aku menangis sejadinya, aku sangat bersalah. Dihari yang seharusnya Mas Buana bahagia, malah aku menghancurkannya. Mungkin Mas Buana benci denganku?


Bahkan Aeera tidak tahu kalau Mas Buana sangat benci dengan boneka, selama ini Aeera kemana saja?


Mas Buana sampai hari ini tidak pernah menemui ku, sudah hampir satu minggu. Aku selalu menunggu dia. Tapi, dia tak kunjung datang. Boneka itu? Sudah aku buang! Aku sangat benci dengan benda kecil itu.


Bodoh sekali Aeera ini, tidak tahu apa yang Mas Buana tidak suka. Aeera bodoh! Bahkan sampai tiga tahun Mas Buana tidak pernah mengunjungi Aeera, sampai Ae harus pindah ke Jogja.


Aku hampir meneteskan air mata jika tidak mendongakkan kepala ke atas. Luka itu sangat dalam, sampai membuat aku cengeng.


Setelah merasa lebih baik, aku menengok ke arah Mas Raksa. Dia menatapku dengan tatapan kosong, jadi dari tadi dia tidak dengar cerita Ae?


"Percaya sama, Mas. Kamu jangan merasa bersalah, ya, Ae. Ae tidak salah."


Aku hanya bisa menatap mata Mas Raksa, gaya bicara dia, seperti Mas—Buana.


Hampir saja air mataku terjatuh di hadapan Mas Raksa, tapi, aku lebih dulu membuang muka. Sehingga Mas Raksa tidak melihat betapa cengengnya aku tentang masalah ini. Segera mungkin aku menghapus air mata segar itu.


"Lo jangan sok tahu, ah." Guyon ku menanggapi ucapan Mas Raksa, supaya suasana tidak larut dengan luka masa lalu.


"Hahaha. Asumsi saya sih, sepertinya dia tidak marah sama kamu. Mungkin ada hal lain yang membuat dia pergi."


Aku mengangguk sambil tersenyum, "mungkin."


"Namanya siapa? Boleh dong saya tahu nama saingan, saya sendiri?" Mendengar nada suaranya aku sedikit bingung, dia bertanya nama Mas Buana atau namanya sendiri?


"Rahasia, kepo banget sih, Mas!"


Mas Raksa tertawa ringan, "Tanpa kamu kasih tahu, saya juga sudah tahu."


"Basi, basi, basi."


"Loh kok basi—" Sebelum selesai berbicara, telepon Mas Raksa berbunyi.

__ADS_1


Mas Raksa segera mengambil ponselnya dari kantung celana depan.


"Halo, Ra?" Aku yang awalnya melihat pergerakan Mas Raksa, memilih memandang sekitar.


"Ada kok, ini sama gua. Di taman."


"Iya, ponselnya hening mungkin."


"Oke, kita ke sana sekarang."


Setelah Mas Raksa selesai menerima telepon yang mungkin dari Mbak Caeera. Dia berdiri dari duduknya.


"Ayo ke parkiran, mereka sudah menunggu."


Tanpa menunggu jawabanku, Mas Raksa sudah berjalan terlebih dahulu. Ya, inilah kenyataan. Sikapnya yang tadi hanya ketika keadaan mendukung, kalau engga ya nggak peduli.


Apa pilihan untuk cerita ke Mas Raksa tentang masa lalu adalah keputusan yang salah?


Aku lihat dari jarak yang lumayan jauh, mereka bertiga sudah berkumpul di parkiran. Nampak berbincang sedikit seru. Aku melihat Mas Raksa sempat melihat ke arahku, namun langsung membuang muka seakan acuh.


Dia kenapa sih, tadi sok care, sekarang cuek gini. Ini tanda kalau kamu nggak boleh baper, ya, Aeera!


"Lama banget kamu, Ae?" Mas Damar bertanya sambil menjulurkan tangannya ke arahku. Aku menerima dan memeluk pinggangnya dari samping.


Aku melihat wajah Mbak Caeera, sekarang tidak sekusut tadi waktu baru sampai rumah Tante Edrea. Sekarang dia tampak ceria, seperti biasa. Dan Mas Raksa, dia melihat tanganku yang melingkari pinggang Mas Damar. Lalu melihat ke mataku, dan dia membuang muka.


Tidak mau ambil pusing, aku menjawab pertanyaan Mas Damar saja, "maklum, Mas. Langkah kakiku kan pendek."


"Lo jadi sama gua 'kan, Ra?" Tanya Mas Raksa kepada Mbak Caeera, aku dan Mas Damar hanya menyimak.


"Iya. Kenapa sih, emang bonceng Aeera berat banget ya?" Ledek Mbak Caeera, sebenarnya tujuan dia itu untuk meledekku. Aku dan dua Mbak ku itu biasa ledek-ledekan, apalagi dengan Mbak Caeera.


"Iya, berat banget. Nggak suka gua." Jawab Mas Raksa sambil melihat tanganku lagi. Sebenarnya aku emosi dengar jawabannya. Kenapa dia seserius itu sih?


"Apa sih, kalau nggak suka tinggal bilang. Gua juga nggak mau dibonceng sama lo!" Aku tidak bisa menahan emosi.


"Eh, kamu kenapa Ae?" Tanya Mas Damar yang aku abaikan.


"Ayo, Mas. Antar Ae pulang." Ucapku sambil menggandeng tangan Mas Damar. Aku tidak peduli dengan tatapan kesal Mas Raksa.


Samar-samar aku mendengar perbincangan Mbak Caeera dengan Mas Raksa.


"Lo kenapa sih sama Aeera?"


"Entah, nggak penting juga."


Dasar, nyebelin banget sih Mas Raksa. Semoga ini hari terkahir aku ketemu sama dia.


Dia kira, dia penting? Nggak! Dan aku juga tidak berharap menjadi penting di hidup dia.


“Halah, sok nggak perduli. Nanti lo—” perlahan ucapan Mbak Caeera tidak terdengar lagi, karena aku memilih untuk tidak mendengarkan. Untuk apa jika hanya membuat sakit hati? Lagipula deruman motor Mas Damar membuatku tuli seketika.


Aku sudah berada di atas motor Mas Damar, lebih tepatnya kami sudah berada di jalan menuju rumah Mamah. Aku memeluk pinggang Mas Damar dan menyandarkan wajahku pada pundaknya.


Mas Damar mengendarai motor dengan santai, aku hanya memejamkan mata. Memikirkan perubahan sikap Mas Raksa yang sangat drastis jika sudah bertemu Mbak Caeera. Aku tadi baru saja berpikir bahwa Mas Raksa itu asik juga, tapi semua kandas.


"Kamu sehat, Ae?"


"Sehat, Mas."


Tiba-tiba motor yang dikendarai Mas Raksa dan Mbak Caeera melaju cepat melewati kami, aku lihat Mbak Caeera memeluk erat pinggang Mas Raksa. Tentu saja dia pasti takut terjatuh, kalau aku jadi Mbak Caeera sudah ku toyor kepala Mas Raksa.


"Lihat tuh, pasangan masih anget-angetnya."


Iyaa..

__ADS_1


__ADS_2