Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 16


__ADS_3

Setelah selesai menyanyi dan sedikit menenangkan hati, kemarin aku langsung pergi dan tidak menghiraukan tepuk tangan dari para tamu. Aku memilih masuk ke dalam kamar, karena aku tahu, semakin lama di sana, perasaanku semakin tidak baik-baik saja.


Luka ini sungguh perih, lebih perih dari luka yang pernah dia goreskan semasa lalu. Ternyata, Tuhan memberi ujian pada hatiku semakin lama semakin berbobot.


Kalian tahu, rasa kecewa dari kepercayaan terhadap orang-orang yang kalian sayang? Di sini aku merasa telah dipermainkan oleh semua orang. Mulai dari mengenai Mas Raksa yang sebenarnya adalah Mas Buana, sampai kejadian kemarin. Mereka tidak ada yang mencegahku untuk terjun lebih dalam. Apa mereka menganggap aku tidak punya perasaan?


Aku ingin marah, tapi, aku merasa aku yang bodoh.


Dari kemarin aku tidak berhenti menangis, entah sudah berapa banyak tisu yang aku habiskan. Aku memilih duduk di lantai di sebelah ranjang, menekuk kakiku dan membenamkan kepala di sana.


Aku meratapi segala yang terjadi. Kemarin, kebahagiaan mulai menyelimuti hariku, hasil penantian panjang ku berbuah manis, dan aku mulai merasa berharga di mata dia. Tapi sekarang, lihat keadaanku, aku duduk menangis dan merasa hampa. Mataku sudah membengkak, dan dari kemarin aku belum makan.


Rasa sakit hati membuat perutku tidak mau mengganggu, rasanya aku hanya ingin di sini, sendiri dan menangis. Apa aku salah?


Dari kemarin Mbak Humeera sering mengetuk pintu kamarku sambil mengatakan, "Ae, ayo makan. Kamu yang cari catering, harusnya kamu lagi menikmati makanan yang kamu pilih sendiri."


Mendengar ucapannya, aku semakin terisak. Aku masih tidak percaya, orang seperti Mbak Humeera berhasil menyembunyikan ini semua dariku. Dan aku tidak marah, aku hanya kecewa.


Aku tidak menghiraukan setiap ketukan pada pintu kamar. Mamah juga sempat memanggilku, "Aeera, makan! Kalau kamu sakit semua repot." Begitulah Mamah, selalu keras kepada ketiga putrinya.


Yang membuat aku semakin terisak adalah ketukan dan ucapan Mbak Caeera, "Aeera, are you okay? Kita omongin baik-baik dulu, ya. Lo jangan pikir yang enggak-enggak."


Perkataan dari mereka terjadi berangsur, mungkin mereka juga lelah. Akhirnya aku hanya mendengar panggilan dari Mbak Humeera akhir-akhir ini.


Aku pikir, Mbak Caeera selalu bisa mengerti keadaan orang. Dia mengambil jurusan psikologi, tapi, apa dia tidak tahu keadaan hatiku, perasaanku, dan fisikku saat ini? Kalau dia tahu, kenapa dia setega ini?


Sebelum kejadian kemarin, semua nampak baik-baik saja. Mereka seperti tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan Mas Damar seperti mendukung aku untuk bersama Mas Raksa. Walaupun, terkadang dia juga meledek Mas Raksa dengan Mbak Caeera. Berarti di sini hanya aku yang besar kepala?


Aku memilih untuk memutar musik dengan speaker, ku pilih volume tertinggi. Lagu yang mewakili perasaanku saat ini ku putar, cukup membuat hatiku sedikit tenang, namun air mata terus menetes.


Setelah sekian lama aku di kamar, keadaanku sangat tidak beraturan, namun aku tidak perduli karena memang tidak ada yang perduli. Aku juga memilih menonaktifkan ponsel, supaya aku bisa menenangkan diri. Kini perutku terasa sedikit lapar setelah dua hari satu malam tidak makan.


Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, pasti semua sudah masuk kamar masing-masing. Akhirnya aku memilih ke luar kamar, dengan kondisi tubuh yang lemas membuat jalanku pelan tidak seperti biasanya. Aku sedikit malas saat menyadari ruang tamu yang berada di lantai bawah lampunya masih menyala, pertanda masih ada orang di sana.


Langkah kakiku melambat kala mendengar perbincangan mereka, Mamah dan Mbak Caeera. Aku memilih duduk membelakangi pembatas lantai dua supaya mereka tidak melihat keberadaan ku.


"Kamu tetap harus menikah, perjodohan ini tidak boleh dibatalkan."


Tubuhku semakin lemas, rasanya tulang ku sekarang melunak. Tentu saja air mataku mulai keluar lagi, dadaku juga semakin sesak, ditambah perutku yang terus berbunyi.


"Tapi, Mah. Aku tahu perasaan Aeera sekarang, aku gak mungkin bisa bahagia."


"Mamah sudah pikirkan dengan matang, Caeera! Mamah tahu yang terbaik untuk kalian."


Aku kembali menekuk kakiku dan membenamkan wajah di lutut, air mataku semakin banyak, mungkin tidak lama akan kering karena kehabisan cairan. Aku harus menahan suara isak tangis supaya mereka tidak mengetahui keberadaan ku.


"Mah! Aku belajar ilmu psikolog, aku tahu betul hati dan perasaan Ae sekarang. Mental dia, Mah. Mamah harus pikirkan itu!"


Nada suara Mamah meninggi, "kamu jangan terlalu memikirkan kondisi orang lain, pikirkan kondisi kamu juga. Mamah mengambil keputusan tidak main-main, ya Caeera. Mamah juga memikirkan sebab akibat!"


Dari pembicaraan mereka, aku semakin sadar kalau memang aku dan Mas Raksa tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku semakin sedih mendengar perdebatan mereka, aku merasa dikasihani oleh Mbak Caeera dan aku tidak suka hal ini.

__ADS_1


"Ae," ucapan itu membuat aku mengangkat wajah. Mbak Humeera, dia berhasil melihat kondisi aku saat ini.


Dia mencoba memeluk tubuhku, namun sebisa mungkin aku mengelak. Aku tidak butuh tindakan mereka untuk saat ini, karena aku sangat kecewa.


"Tapi, Mah. Aku gak-"


"Hei, stop!" Bentak Mbak Humeera kepada Mamah dan Mbak Caeera dari lantai atas, "Ae.." Ucapan dia melemah seakan mengatakan kepada kedua orang itu bahwa aku ada di sini, jadi berhentilah untuk berdebat.


Aku memilih untuk jalan ke kamar, rasa lapar ku sudah tergantikan dengan rasa kecewa, sakit hati, rasa bersalah, semua campur aduk. Aku duduk di belakang pintu kamar, sungguh, keberadaan ku di sini seperti nya membuat keadaan semakin tidak kondusif.


"Kalian bisa tidak jangan bicarakan hal ini dulu?" Aku dengar nada bicara Mbak Humeera meninggi, baru kali ini aku dengar dia seemosi ini.


"Gue nggak tau kalau Aeera di situ."


"Seenggaknya kalian bisa ngertiin perasaan dia, jangan malah buat-"


Aku berdiri dan jalan menuju meja belajar, supaya suara mereka tidak terdengar lagi. Aku menghapus air mata dengan kasar lalu mengaktifkan komputer dan membuka aplikasi Google. Ku ketik sesuatu di sana.


"Strategi membuat keputusan agar tidak salah langkah." Gumam ku sambil sesegukan menahan tangis.


Muncul banyak sekali blog, aku mengarahkan kursor ke salah satu blog lalu membukanya. Ada lima cara, namun aku tertuju pada satu, buat dampak negatif dan positif yang akan diterima.


Dengan segera aku mengambil binder dan membukanya, lalu mengambil pulpen dari tempatnya. Pada sisi kiri kertas aku menulis negatif, dan sisi kanan aku menulis positif.


Aku menarik napas, sebisa mungkin menahan tangis. Oke, aku akan memulai dari yang negatif dulu. Karena aku lebih suka happy ending dari pada sad ending.


Kalau aku masih mempertahankan rasa cintaku, hal negatif yang akan aku terima, konflik keluargaku akan semakin parah, Mamah kecewa kepadaku, dan belum tentu Mas Raksa juga memiliki perasan yang sama.


Oke, aku menyerah. Aku meletakkan pulpen tersebut di atas kertas yang sudah aku isi dengan tiga hal negatif, dan hanya dengan satu hal positif. Walaupun aku berharap akan happy ending, nyatanya kehendak berkata sebaliknya.


Dengan mendapatkan hasil itu, aku masih ragu. Rasanya berat sekali jika harus merelakan dia, apalagi dengan Mbak ku sendiri. Jika memang mereka sudah dijodohkan, untuk apa mereka tidak mencegahku supaya tidak terjerumus terlalu dalam. Untuk apa Mas Raksa berbicara seakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Kenapa mereka tidak terus terang saja?


Aku menaruh kepala di atas meja, aku masih menangis, bingung harus melakukan apa. Aku kembali membayangkan masa-masa Mas Raksa mendekatiku, dan masa dimana Mbak Caeera nampak setuju dengan hubungan kami berdua.


"Humph, aku harus apa."


Aku memutuskan menekan tombol on pada radio jadul peninggalan dari Ayah. Aku putar musik random dari radio, ku benamkan kembali wajah ke meja belajar. Aku menarik napas dan mencoba berhenti untuk menangis.


"Oke guys, mungkin kalian ada yang lagi patah hati? Atau lagi ada diambang kebingungan? Atau rasa kecewa?" Terdengar suara penyiar radio.


"Nah, gue punya lagu yang cocok buat kalian yang lagi bingung, lepasin dia atau enggak? Hayati lagu ini ya, check it out!"


Musik mulai berputar,


Sepanjang malam aku berfikir


Benarkah keputusan?


Untuk melepas dan membiarkan


Semua ini terjadi

__ADS_1


Aku tak bisa mengerti semua


Tapi aku belajar


Cinta itu membebaskan


Bila benar-benar kau mencintai


Lepaskan dia, relakan dia pergi


Berikan sayap agar dia mengerti


Bahwa cintamu, yang membuatnya terbang tinggi


Lagu ini sangat menggambarkan keadaanku saat ini, apa benar aku harus melepaskan dia? Aku harus merelakan dia? Aku ingat janjiku dulu, jika dia sudah memiliki sumber kebahagiaan baru, aku harus melupakan dia. Tapi, itu sangat sulit.


Bila ternyata, badai mengusik


Menggoyah ketenangan


Mau bertahan atau menyerah


Itu semua pilihan


Aku tak bisa menangkan semua


Tapi aku belajar


Cinta itu merelakan


Bila benar-benar kau mencintai


Lepaskan dia, relakan dia pergi


Berikan sayap agar dia mengerti


Bahwa cintamu, yang membuatnya terbang tinggi


Aku semakin terisak, namun masih berpikir. Mengenai makna dari lagu tersebut. Jika aku menahan dia, aku akan menghancurkan kebahagiaan dia. Aku akan menjadi penghalang, dan tentu saja aku tidak mau.


Aku tahu, aku harus melupakan dia. Tapi apa aku sanggup? Apa aku tidak boleh bersedih?


Tangis ku adalah rasa kekecewaan yang ku alami. Tangis ku bukan tindakan ketidakmauan melepas dia, tapi hanya rasa sakit yang aku ungkapkan secara nyata.


Ternyata melepaskan dia dan menerima kenyataan tidak semudah yang aku pikirkan. Dulu ketika aku menanti dia, aku selalu berdoa pada Tuhan, agar dia baik dan bahagia. Bahkan dengan mudah aku mengatakan kalau aku akan melupakan dia jika sudah dimiliki orang lain, asalkan dia bahagia.


Tapi nyatanya, ucapan ku dulu menagih untuk aku lakukan sekarang. Aku harus belajar merelakan dia, walau sulit.


Mas Raksa, Aeera tahu bahagia mu bukan dengan ku. Rasa cinta bukan hanya ingin memiliki, tapi cinta adalah tentang cara merelakan. Bahagia lah, kepakan sayap mu, karena aku tidak mau menjadi penghalang.


...🐣...

__ADS_1


__ADS_2