
^^^Beberapa bulan berlalu.^^^
Aku selalu ingat ucapan Mas Gema, ucapan dia cukup membuat aku merinding dan tidak percaya.
“Apa tidak ada celah sedikitpun untuk masuk ke hati kamu, Aeera?”
Untung saja dia bisa menjelaskan, maksud dia, apa cowok lain tidak bisa masuk ke hatiku? Bisa, aku sudah sering mencoba. Tapi, susah, sangat susah. Rasanya Mas Raksa belum mengizinkan orang lain untuk menggantikan posisinya saat ini.
Aku merenung duduk di mbayangan, sudah siap menggunakan seragam sekolah. Sedang menunggu Mas Gema datang.
“Kalau melamun digaji, mungkin kamu sudah jadi milyarder.”
Sindiran itu, aku tau dia siapa. Aku tertawa ringan. Bisa saja dia melucu pagi buta.
“Hahaha. Mas ini bisa aja,” Ucapku. Aku langsung menghampiri dia yang masih nangkring di atas motor.
“Nggak pamit ke Mbah?”
“Oh iya, kelupaan.”
Aku segera jalan ke ambang pintu, “Mbah, Ae mangkat nggeh!”
“Seng ati-ati, nduk” Terdengar sautan Mbah dari pawon.
“Yuk!” Ucapku sumringah.
Pagi ini, seperti biasa. Aku dan Mas Gema berangkat ke sekolah bersama. Ku pegang jaket dia karena aku masih takut ke jengkang saat naik motor.
Jangan harap aku di sekolah bisa tenang, banyak siswi yang menatapku tajam, seakan aku wanita perebut. Mas Gema bukan siswa biasa, statusnya sebagai orang kota asli sangat digandurungi para siswi. Apalagi Mas Gema termasuk siswa paling tampan di sekolah ini.
Aku turun dari motor, memberikan helm kepadanya. Sedikit merapikan rambutku sambil melihat ke kaca spion.
“Cantik juga percuma kalau hati kamu selalu dihuni orang lain.”
Ku hantikan aktivitas, meliriknya. “Biarin, wlee. Siapa tau ada yang bisa nyantol kan?” Ucapku.
Kalian pikir aku tidak berusaha untuk membuka hati? Banyak siswa yang berusaha mendekatiku, tapi, aku tidak tertarik sedikitpun. Huh, susah sekali cari cowok yang menarik perhatian dan mencintaiku dengan tulus.
“Yakin? Udah berapa siswa yang kamu tolak?”
Aku menampilkan cengiran, “ya, belum aja.”
Mas Gema tertawa sambil mengacak pucuk rambutku, “Dasar. Hahaha.”
“Gema. Ono rapat dadakan neng ruang OSIS.” Aku melihat ke sumber suara, Kak Mayang. Berdiri sambil menatap tajam ke arahku, tapi tatapannya sejuk ketika ke arah Mas Gema.
“Oh, ada masalah apa?”
“Ndak tau, Bu Inggit seng merintah.”
Mas Gema melihat ku, “aku duluan, ya. Nanti istirahat makan bareng di kantin.”
“Oke, Mas.”
Dia langsung berjalan menuju ruang OSIS, sebelum membalikkan badan, Kak Mayang sempat menatapku sejenak.
Ngapa si sob? Elah pagi-pagi muka udah ditekuk aja. Pikirku.
Kak Mayang ini kayaknya naksir Mas Gema. Tidak aneh sih, siapa yang tidak naksir cowok beken gitu? Ketua OSIS, ganteng, pintar, ramah, dan tidak norak.
Bayangin aja, setiap ketemu anggota sekolah pasti dia senyum sambil mengangguk. Apa ada yang nggak suka sama dia?
Sebenarnya, apa kekurangan Mas Gema?
Aku mulai berjalan ke kelas, kalau dipikir-pikir siswa yang selama ini mencoba mendekatiku selalu diam-diam, tidak secara terang-terangan. Apa karena aku selalu bersama Mas Gema? Ah, itu tidak penting. Aku tidak mau kehilangan orang terdekat lagi.
Aku nggak siap kalau harus kehilangan Mas Gema.
...🐣...
“Libur lebaran kemana?”
Itu pertanyaan dari Mas Gema, kami sedang di kantin. Aku lagi sibuk aduk mie ayam.
“Palingan nanti semua pulang ke sini.”
Mas Gema diam. Pulang ke sini? Aku langsung menghentikan aktivitas. Berati mereka akan pulang ke rumah Mbah, semua.
Semua? Ada, ada Mas Raksa?
“Apa kamu berpikir sama kayak yang aku pikirkan?” Tanya Mas Gema, aku langsung menatap dia.
“Semua, Mas. Semua pulang ke rumah, Mbah!”
Mas Gema tersenyum, “kamu tenang. Kalau mau move on, jangan menghindar terus.” Ucapnya sambil memegang tanganku.
Aku mengangguk, tapi manik mataku tak bisa berbohong, saat ini aku panik. Apa yang akan terjadi kalau aku ketemu dia? Bisa-bisa Mbak Caeera sedih.
Aku harus cari cara.
...🐣...
“Mbah, aku wes bali.” Ucapku sedikit berteriak.
Aku memilih duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Tak lama Mbah datang, aku langsung mencium punggung tangannya.
“Tek cepet men, tumben.”
“Hooh, Mbah.” Jawabku singkat.
Aku sempat terdiam sejenak, Mbah memilih untuk menyalakan televisi.
“Mbah, aku ape takon.”
“Hem.”
“Libur lebaran, kabeh muleh mrene nggih?”
Mbah hanya mengangguk.
“Mbah wis ra sabar, Nduk. Dulure kene juga nambah siji.”
Ugh, rasanya menusuk ke relung hatiku. Tambah satu, ya? Mas Raksa, ya, itu?
“Nambah loro, Mbah kelalen.”
“Kaleh?”
Mbah mengangguk, “lho, kue ra roh? Mbak mu kui lagi meteng, Nduk!”
__ADS_1
Ha, hamil? Rasanya mendingan aku pingsan, terus tidak bangun lagi sampai kapanpun. Aku akan punya ponakan, anak dari Mas Raksa dan Mbak Caeera? Hahahaha, dunia sungguh panggung sandiwara. Atau lebih tepatnya, dunia ini adalah pusatnya komedi.
Kenapa begitu cepat? Bahkan saat aku belum bisa berpaling.
“Kue kenek opo?”
“Eh, rapopo, Mbah. Aku lagek roh Mbak Caeera wes isi.”
Secepat mungkin aku harus cari cara supaya tidak bertemu mereka dulu dekat-dekat ini. Hatiku cukup terpukul kala tau kalau mereka akan punya anak. Seharusnya aku senang ya akan jadi Bulek?
“Em. Mbah.” Aku cukup ragu untuk mengucapkan ide gila ini.
“Piye?”
“Libur lebaran, aku eneng study tour. Hm, neng,” Aku bingung harus bilang ke kota mana.
“Study tour neng ndi?”
“Hm, Solo, Mbah.”
Mbah tampak curiga, matilah aku.
“Solo? Cedak men? Ngapusi, yo?”
“Hahaha. Ndak wani aku ngapusi, Mbah?” Aku tertawa kaku.
“Kue ra kangen, Ibuk?”
Sejenak aku merenung, aku kangen. Kangen semua orang, mereka orang-orang yang aku sayang. Mana mungkin aku tidak rindu?
“Kangen, Mbah. Tapi iki wes acara sekolah.”
“Gema, melu?”
Mas Gema?
Aku menggeleng, “ora, khusus kelas setunggal.” Lagian Mas Gema pasti akan balik ke Jakarta.
“Huh, yowes. Mangato.” Izin Mbah sambil membuang napas kasar.
“Suwun, Mbah ku seng paleng ayuuu!” Teriakku sumringah.
Rencana lancar, tinggal lihat kenyataan.
Hingga akhirnya hari lebaran tiba.
Dua hari lagi hari raya, besok mereka akan datang. Semua. Rumah ini akan ramai. Penuh kebahagiaan. Aku juga mau, tapi, keadaan berkata lain.
Aku sedang berkemas di dalam kamar. Memasukkan beberapa baju ke dalam tas, bawa tas saja biar Mbah tidak curiga. Kan aku izinnya study tour.
Sebenarnya aku sedih dengan keadaan ini. Ucapan Mas Gema sempat memenuhi pikiran ku.
“Kalau mau move on, jangan menghindar terus.”
Mau ku juga begitu, tapi ini demi kebahagiaan mereka. Tidak terbayang kalau Mbak Caeera akan selalu merasa bersalah, karena sudah menikah dengan laki-laki yang aku cintai.
Ngomongin masalah Mas Gema, dia berlibur ke Jakarta. Keluarga besarnya ada di sana. Sebelumnya dia mau ikut denganku menginap di hotel dekat sini, tapi aku menolak. Aku tidak mau dia melupakan keluarganya hanya untuk menemaniku.
Iya, aku tidak mungkin ke Solo sungguhan. Aku akan menginap di hotel dekat sini sampai mereka kembali ke Jakarta. Gila, ya? Tapi mau gimana lagi.
“Mbah, aku mangkat nggeh? Limang ndino lah kira-kira aku lagek bali neh.”
Aku sudah menggendong ransel hitam penuh dengan baju. Sedang pamit ke Mbah di ruang tamu.
“Nggeh, Mbah. Sekalian ngerjake tugas karo konco.”
“Yowes, kudu kabari, Mbah. Sak jam pisan!”
Satu jam sekali? Ini khawatir atau gimana?
“Beres, Mbah!” Semua akan aku lakuin asal rencana ini berhasil.
...🐣...
Dua hari aku berdiam diri di kamar hotel. Bosan. Bosan sekali, aku bukan termasuk no life. Biasanya kalau bosan, aku akan keluar mencari udara segar. Atau ajak Mas Gema nongkrong di Caffe.
Pasti mereka udah sampai di rumah, ya? Mereka lagi senang dan bahagia. Aku pun ikut senang walau dari jauh.
Huh, tapi aku bosan.
Caffe? Biasanya ada Mas Gema yang temani aku. Tapi tak apalah, sekali-sekali aku menunjukkan status singel ku kepada khalayak umum. Hahaha.
Aku memakai jaket asal. Ke Caffe bukan mau tebar pesona. Cuman ingin menghilangkan rasa bosan.
Sampai di Caffe, aku duduk di tempat biasa. Pelayanan langsung datang menawarkan menu.
“Mbak Aeera tumben sendiri, Mas Gema kemana?” Tanya pelayan, kami sudah saling kenal karena terlalu sering ke sini.
“Mas Gema lagi mudik, ke Jakarta.”
“Hati-hati, Mbak. Kelihatan jomblonya, nanti banyak yang godain.” Ledek pelayan.
“Hahahaha. Bisa aja. Aku pesen kayak biasa, ya!”
Pelayan itu langsung pergi. Membuat mataku dapat melihat pemandangan yang membagongkan.
Aku mengernyit, menggosok mataku beberapa kali. Apa aku nggak salah liat?
Mas, Mas Raksa? Sama siapa? Aku yakin itu bukan Mbak Caeera. Rambut cewek itu pirang karena diwarnain dan dia terlalu pendek.
Aku melihat cewek itu memegang tangan Mas Raksa. Hatiku sakit. Bukan, ini bukan rasa cemburu. Ini rasa amarah, Mbak ku telah diselingkuhi?
“Mbak Aeera, cappucino nya habis!” Ucap Sang Pelayan tadi dari kejauhan.
Ucapan dia membuat Mas Raksa melihat ke arahku. Mata dia tak berkedip. Cukup lama memandang. Aku pun memandang dia dan sesekali melihat tangannya dipegang oleh cewek itu.
Serius, kali ini hatiku sakit bukan karena cemburu. Sakit karena saudara ku dikhianati. Ternyata sakitnya lebih dari kecewa.
Aku bergegas dari tempat ini, ingin menangis. Tapi, kalau Mbak Caeera tau, dia akan lebih sakit hati.
“Aeera!” Akhirnya aku mendengar suara ini lagi, setelah sekian lama. Tapi kenapa suasananya tidak enak begini?
Dia memegang kedua bahuku, dia berdiri tepat di hadapanku.
“Aku, aku, nggak akan kasih tau ke Mbak Caeera.” Kalau aku kasih tau, gimana hancurnya hati dia? Apalagi sedang mengandung. Brengsek sekali cowok yang aku cinta setengah mati ini.
“Aeera.” Suaranya melemah.
Aku tetap menunduk, “aku janji, nggak akan kasih tau ke Mbak Caeera kalau Mas selingkuh.” Lagian inikan urusan rumah tangga mereka, aku tidak mau ikut campur.
__ADS_1
“Kamu, kenapa di sini. Bukannya study tour ke Solo?”
Cowok ini, bukannya bahas soal cewek simpanannya. Malah bahas tentang keberadaan ku. Padahal istri dia lagi hamil!
Aku memberanikan mengangkat wajah, “te, terus. Kamu ngapain disini, Mas? Bukan seharusnya lagi di taman bareng keluarga?” Aku tau aktivitas mereka selama di sini, karena Mbah selalu mengabari.
Mbah selalu membujuk ku untuk pulang lebih dulu dari kegiatan study tour. Dia mau aku menikmati masa bahagia dengan keluarga. Mbah selau mengiming-imingi aku dengan kebahagiaan mereka.
Aku menepis tangannya dari bahuku, “udah. Gue janji nggak bakal kasih tau kelakuan, lo. Tapi, gue aja kecewa. Gimana Mbak Caeera?” Ucapku sambil melangkah pergi dari sini.
Duh, sakit banget. Tau kalau saudara ku sendiri dikhianati. Apalagi aku nggak berhak cerita ke siapapun. Justru sekarang aku menyesal kenapa bisa memergoki orang yang aku cinta, juga suami mbak ku sendiri sedang selingkuh.
Kakiku melangkah dengan lunglai menuju ke hotel. Untung saja tidak terlalu jauh. Kepalaku mendadak pusing memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku yang berusaha menghindari dia, malah bertemu disaat dia memperlihatkan kebrengsekannya.
Tapi kok aku merasa, dari tadi ada yang mengintaiku? Aku memutuskan untuk menengok ke belakang. Nihil, tidak ada siapa-siapa. Huh, mungkin halusinasi? Karena aku masih syok dengan kejadian tadi.
Membayangkan tangan dia dipegang perempuan lain. Membayangkan wajah Mbak Caeera yang selalu terlihat happy. Membayangkan apa yang akan terjadi ke Mbak Caeera kalau tahu suaminya selingkuh. Huh, semua itu melelahkan, dan menyakitkan.
Ternyata orang yang selama ini aku cinta setengah mati tidak sebaik yang aku pikir. Aku kira dia orangnya setia, tapi nyatanya?
Aku membuka pintu kamar hotel, setelah itu mengambrukan badan ke kasur. Padahal baru keluar sebentar, tapi energi ku rasanya terkuras habis.
Apa aku harus cerita semua ini ke Mas Gema, supaya aku sedikit tenang? Tapi pasti dia lagi sibuk sama keluarga di Jakarta. Aku tidak mau mengganggu.
Ku benamkan wajah di kasur. Kenapa aku harus melihat kejadian itu? Kenapa dia kurang ajar? Kenapa dia jahat? Kenapa dia brengsek?
Tak disadari air mataku menetes, lagi-lagi aku menangis karena dia. Sudah menghindar pun tetap begini akhirnya. Kenapa aku selalu menangisi pria brengsek itu?
Tapi, tidak bisa dibohongi, aku semakin sakit hati.
“Kenapa keadaan seburuk ini?”
Tok. Tok. Tok.
Aku menengok ke arah pintu. Siapa? Aku tidak pesan makan atau apapun kok.
Ku intip dari door viewer. Cewek? Siapa? Kayak pernah liat warna bajunya.
Pintu hotel akhirnya ku buka. Menampilkan cewek berambut pirang dan memiliki wajah sinis. Pakaiannya cukup modis untuk ukuran orang sini. Tapi, sepertinya aku pernah ketemu.
“Cari siapa ya, Kak?” Tanyaku, jujur saja aku tidak tau dia siapa.
“Lo lupa sama gue?” Tanya dia balik, suaranya judes sekali.
Aku mengernyit, lupa? Dia siapa sih?
“Gue, cewek yang lo tabrak di stasiun. Cewek yang lo ganggu tadi di caffe.”
Mataku membesar. Jadi, dia cewek yang aku tabrak di stasiun dan cewek, simpanan Mas Raksa? Bukannya dia mantan Mas Raksa? Ah, hari ini cukup membingungkan.
“Masih lupa?” Pertanyaan dia mampu membuat aku buyar dari lamunan.
Seorang berbaju hitam datang, “Non, benar dia yang Anda maksud?”
Cewek itu hanya mengangguk sambil mengisyaratkan orang itu untuk pergi menggunakan tangan. Wah, bodyguard, ya? Kaya sekali dia. Tapi apa gunanya kalau jadi simpanan orang?
Ternyata dia yang mengintaiku dari caffe, ya? Pantas saja aku merasa ada yang mengikuti.
“Mau apa?” Tanyaku judes, aku sudah muak dengan wanita ini. Wanita pengganggu.
“Bisa kita bicara di caffe bawah, Aeera Barsha?” Aku mengernyit, darimana dia tau namaku?
“Oh, lupa. Saya Elvira De Geass. Kamu bisa search di Google kalau penasaran saya siapa.”
Aku masuk ke hotel dengan buru-buru lalu mengambil ponsel. Sambil jalan ke arahnya, aku search di Google. Mataku hampir copot saat tau dia adalah seorang pemilik perusahaan kosmetik terbesar di Jogja. Gila, keren banget! Tapi, apa gunanya kalau jadi cewek simpanan?
Yang awalnya mataku terkesima, kembali ke mata sinis dan lelah.
“Terus, mau apa?”
“Bicara di caffe bawah. Jalan sendiri, atau di seret bodyguard saya?”
Woah, agak ngeri yah, Bund.
“Gue punya kaki.” Setelah itu aku menutup pintu hotel dan menguncinya. Aku berjalan di belakang dia, ku lihat dari belakang, tubuhnya indah sekali dan jalannya anggun. Berbeda seratus delapan puluh derajat dariku.
Kenapa ya, aku selalu punya urusan sama perempuan yang bedanya seratus delapan puluh derajat sama aku sendiri?
Kami sampai di caffe. Aku lihat ada tiga orang berpakaian hitam berjaga di sekitar. Penting sekali ya cewek ini? Yang aku ingat, beberapa bulan lalu dia malas kembali ke kampung halaman.
Setelah kami duduk, “hm. Ini, ya, rupanya perempuan yang selalu dia sebut?”
Dahi ku mengernyit, “maksudnya?”
“Nggak lebih baik dari saya.” Gumamnya merendahkan, tapi aku masih bisa dengar. Dasar bodoh!
“Apa kelebihan kamu, sampai Raksa Agler Buana tergila-gila sama teman kecilnya yang istimewa?”
“Tapi menurut saya tidak ada istimewa-istimewanya.” Gumamnya lagi sambil tersenyum sinis.
Maksud dia apa sih? Tentang Mas Raksa? Cewek ini kurang ajar banget. Status dia hanya mantan dan sekarang berani jadi simpanan? Gayanya berkelas, tapi kok ya murahan.
“Lo sendiri gimana? Puas jadi simpanan dia?”
“Apa istimewa nya dia sampai lo mau jadi simpanannya?”
Di sini aku beneran penasaran dan marah. Marah bukan karena direndahkan, tapi marah karena dia ingin merenggut kebahagiaan Mbak ku.
Elvira sedikit memukul meja, tiga bodyguard nya otomatis melihat ke arah sini.
“Memang kamu sudah punya hubungan apa sama dia sampai berani bilang saya simpanan, hah?”
Loh, kok, aku? Ini gimana sih? Kan dia simpanan Mas Raksa, karena cowok itu udah jadi suami sah Mbak Caeera.
“Dia kakak ipar gue. Jadi berhak dong gue bilang lo simpanan!” Bentak ku, tiga bodyguard nya semakin mendekat.
“Hahahaha. Kamu mengigau? Kasihan, ya, masih muda, loh.”
“Ternyata pesaing saya tidak terlalu mengkhawatirkan yang saya kira.” Gumamnya.
Jujur, aku bingung. Bingung banget. Aku dibilang mengigau?
“Pesanlah apa yang kamu mau, ini restoran milik saya, jadi gratis buat kamu hari ini.” Dia langsung pergi begitu saja, diikuti oleh ketiga bodyguard nya.
Hah? Kenapa aku kayak orang bodoh di sini? Mengigau? Jelas-jelas status Mas Raksa sudah menjadi suami orang. Apa dia tidak tahu?
Cantik doang, pinter kaga.
Tapikan dia pengusaha sukses. Hueee, Aeera kamu tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
...^^^🐣^^^...