
Aku sarankan kalian memutar lagu ini, dan hayati setiap lirik demi lirik. Sangat menyayat untuk seseorang yang sedang kehilangan.
🎶 Hilang Tanpa Kabar — Langit Sore
......🐣......
Hari ini aku dan Mamah cukup sibuk memasak di dapur. Tidak, yang sibuk memasak Mamah dan Bibi. Aku hanya duduk sambil memperhatikan mereka memasak, harus siap jika disuruh mengambil atau menyiapkan sesuatu. Sesekali aku melihat ponsel kramat, tidak ada satupun pesan atau telepon dari seseorang. Kemarin Mas Raksa menghujaniku dengan telepon, baru sekali ini aku merasakan itu. Hahaha.
Mamah dan Bibi menggunakan celemek, sedangkan aku duduk di bangku bar dapur. Ku lihat Mamah sibuk memotong cabai, bawang merah, dan teman-temannya. Sedangkan Bibi sibuk membersihkan ayam. Aku hanya bisa menopang dagu, soalnya kata Mamah aku hanya merepotkan kalau ikut turun tangan.
"Mamah mau masak apa sih, kok kayaknya banyak banget?" Tanyaku yang mulai bosan dengan aktivitas ku sekarang.
Mamah hanya menjawab tanpa menoleh ke arahku, "macam-macam, ayam goreng balado, telur kecap, oseng buncis, tempe mendoan, banyak, deh."
Aku sedikit tercengang, "hah? Sebanyak itu, Mah?"
"Iya, kalau kamu nanti sudah punya suami. Wajib hukum nya memasakkan berbagai makanan, supaya ndak bosen."
Ah, oke. Aku hanya diam, bagaimana bisa aku masak berbagai macam makanan? Kalau satu makanan pun aku tidak bisa membuatnya. Aku meletakkan kepala di atas meja. Kalau dipikir-pikir, inikan hanya makan malam biasa. Hanya untuk membicarakan rencana liburan ke puncak, tapi Mamah heboh sekali, ya.
Beberapa jam bertapa di dapur, akhirnya aku dapat masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan badanku ke kasur. Lalu aku mencari keberadaan ponselku, ah tidak ada pesan masuk juga. Entah mengapa, dari kemarin malam aku selalu mengecek ponsel. Padahal biasanya ponsel ku sampai lowbat.
"Ae, jangan lupa mandi!" Teriak Mamah dari bawah. Aku sedikit terkejut, kenapa Mamah bisa tahu kalau aku belum mandi? Aku langsung bangkit dari kasur dan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku mengenakan kaos warna hitam dan celana jeans selutut. Hari ini rambut ku cepol sembarang, aku lagi malas sisiran ataupun menata rambut agar terlihat rapih. Melihat ke kaca, sudah cukup rapih, aku langsung turun ke bawah.
Di bawah sudah ada Mamah dan kedua Mbak, ku lihat mereka lagi sibuk menata makanan di meja makan. Aku lihat juga bibi bolak balik mengambil makanan, perlahan aku turun dari tangga. Aku cukup terkesima, banyak sekali makanan di hadapanku. Jadi tidak sabar untuk menyantap semua ini.
"Dek, meneng wae, ayo melu noto iki." Tegur Mbak Humeera saat aku fokus melihat makanan demi makanan yang ada di meja makan.
"Iyo, Mbak."
Aku ikut berbaur dengan mereka, mengambil air putih dari dapur dan menatanya di meja makan bersama beberapa gelas bening. Lalu aku mengambil berbagai macam buah dalam keranjang, lalu menaruhnya di atas meja makan.
"Emang mereka ke sini jam berapa, Mah?" Mbak Caeera bertanya sambil menarik bangku yang hendak dia duduki.
Kami telah selesai menata meja makan, setelah itu kami duduk pada tempat masing-masing. Mamah sebagai kepala rumah tangga selalu duduk di posisinya. Sedangkan Mbak Humeera dan Mbak Caeera duduk berjajar. Kalau aku duduk berhadapan dengan Mbak Humeera. Posisi kami selalu seperti ini, tiga kursi lagi memang selalu kosong jika tidak ada tamu.
Mamah melihat jam tangan yang dia kenakan, "hm, jam tujuh mungkin." Seketika aku melihat jam diding yang berada di tembok belakang Mamah, baru jam setengah tujuh, tapi aku udah ngiler banget.
Mataku terus melihat makanan di depan ku, ada ayam goreng balado di sana. Ku lirik Mamah sedang bermain ponsel sama juga dengan Mbak Humeera, sedangkan Mbak Caeera, biasalah sibuk bermain laptop. Aku memutar bola mata, setelah itu menaruh kepala di atas tangan yang terlipat di atas meja.
Setengah jam lebih kami menunggu kedatangan Tante Edrea, Mas Damar, dan Mas Raksa. Namun, belum juga sampai. Aku mengangkat kepalaku dengan malas, melihat ketiga orang di sini masih dengan aktivitas yang sama.
"Mah, ini nggak boleh icip dulu? Siapa tau keasian kan?" Ku ukir cengiran khas di wajah.
"Sabar, Ae. Sebentar lagi mereka datang."
"Hahaha. Lo udah lapar banget memang, Dek?" Aku hanya mengangguk sambil memegang perutku saat Mbak Caeera bertanya.
"Dasar lesonan, kene wae rong enek seng lesu, E." Bagaimana tidak lapar? Jam makan malam juga sudah lewat, dasar ini perutku tidak bisa diajak kompromi.
"La piye, Mbak. Wong jam mangan wengi wes kelewat." Belaku, supaya tidak terkesan rakus.
"Sak diluk maneh."
Tak lama Mbak Humeera berbicara, terdengar suara bel rumah. Wah, akhirnya yang ditunggu datang juga. Bibi langsung membuka pintu utama, sedangkan Mbak Caeera langsung menutup laptop dan menaruhnya di sebelah kaki.
"Selamat malam." Ucap Tante Edrea, aku sedikit pangling lihat penampilan Tante Edrea. Dia menggunakan gaun putih kalem selutut. Warna gaun itu menyatu dengan kulitnya yang glowing.
"Malam." Jawab kami berempat hampir bersamaan.
Kulihat Mbak Humeera berdiri dan pindah duduk di sebelah kiri Mbak Caeera. Sedangkan Tante Edrea duduk di bangku yang tadi ditempat Mbak Humeera.
"Malam, Tante dan yang lainnya." Ucap Mas Damar yang baru masuk ke rumah bersama Mas Raksa. Berbanding terbalik dengan Tante Edrea, Mas Damar hanya menggunakan kaos polos berwarna putih, sedangkan Mas Raksa menggunakan hoodie berwarna hitam.
"Malam."
Ku lihat Mas Raksa duduk di sebelah ku sekaligus berhadapan dengan Mbak Caeera, dan Mas Damar duduk berhadapan dengan Mbak Humeera atau di sebelah Mas Raksa.
"Maaf banget loh Mbak terlambat, tadi macet. " Ucap Tante Edrea, kalau hal ini sih semua orang juga sudah tahu. Memang kemacetan selalu menghambat perjalanan manusia, tapi manusia itu sendiri yang mengakibatkan kemacetan.
"Ah sudah biasa." Jawab Mamah sambil tersenyum.
"Kita sih nggak papa, Tan. Tapi nggak tahu deh kalau Aeera." Ledek Mbak Caeera sambil melirik ku dan tertawa meledek.
Tante Edrea tersenyum, “kenapa dia?”
“Biasa Tan, udah kelaparan dia.” Saut Mbak Humeera. Memang takdir mengatakan anak bontot selalu menjadi korban perundungan keluarga.
"Dasar rakus," bisik seseorang dari sebelah, tak lain dan tak bukan adalah Mas Raksa.
"Manusiawi." Jawabku dengan berbisik juga.
"Dia sudah kelaparan, Tan. Dari tadi bawaannya pengen icip terus." Tambah Mbak Humeera. Memang seperti ini ya nasib jadi anak bontot, selalu diledek sama Kakaknya.
"Bohong, Tan. Mbak ini sok tahu."
"Ngapusi koe, Ae."
Semua tertawa melihat aku dibully, aku hanya bisa memanyunkan bibir bawah.
"Yasudah mau makan dulu? Kasihan loh, nanti kamu kurus."
Akhirnya kami semua memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Aku mengambil piring, nasi serta lauk pauk yang dari tadi ingin ku icipi.
"Makan yang banyak, biar lo nggak gampang stress sama tugas akhir." Perkataan itu berhasil membuat aku terhenti dari aktivitas ku. Aku melihat Mas Raksa menaruh ayam goreng balado di piring Mbak Caeera.
"Udah banyak lauk gua, nanti gua gemuk."
Satu kalimat yang mampu membuat suhu tubuhku sedikit naik, "lo gemuk juga tetap keren." Entah kenapa tiba-tiba cuaca disini menjadi panas, padahal seharusnya malam ini cukup dingin, mengingat sedang musim penghujan.
Aku memilih tidak ambil pusing, aku melanjutkan mengambil lauk yang aku inginkan. Ada beberapa lauk di atas piringku, ayam goreng balado, tempe mendoan, kentang balado, telur kecap, dan tempe mendoan, tak lupa bihun kecap juga aku ambil. Setelah mendengar ucapan Mas Raksa tadi, napsu makan ku semakin tinggi.
Aku sibuk makan, masakan Mamah memang paling dabest. Sangat mirip dengan masakan Mbah, mungkin resep turunan kali, ya? Semua orang di sini nampak menikmati makanannya.
"Makan yang banyak agar tidak sakit." Nampaknya Mas Raksa kembali berbicara kepada Mbak Caeera, tapi kok suaranya seperti berbisik ya? Aku mengacuhkan ucapan itu, terus memasukan makanan ke dalam mulut.
Sampai satu bisikan yang berhasil membuat aku tersedak, "kamu semakin cantik saja kalau rambutnya dicepol, semakin terlihat segar."
"Uhukk!" Astaga Tuhan, lagi enak makan kenapa harus batuk. Mas Raksa langsung mengambil kan aku segelas air putih. Segera aku meminum air itu, karena panasnya sampai telinga.
"Sorry-sorry." Gumam Mas Raksa.
Aku berhasil membuat semuanya berhenti makan, dan kaget melihat aku tersedak.
"Makanya Ae, kalau makan pelan-pelan. Ndak ada yang mau rebut makanan kamu, loh." Nasehat Mamah, aku hanya mengangguk sambil meringis.
"Kamu tidak apa, Aeera?"
Aku tersenyum sambil menggosok leherku karena terasa panas, "Aman, Tan."
Setelah mendengar jawaban dariku, mereka semua melanjutkan makan malam. Kali ini aku makan dengan perlahan, bukan karena perkataan Mamah. Tapi aku sambil berpikir. Tadi Mas Raksa memuji Mba Caeera di depanku, sekarang dia memuji aku cantik. Apa memang Mas Raksa ini seorang player?
Kalau memang Mas Raksa seperti itu, kenapa dia melakukan hal konyol itu dihadapkan ku? Maksudnya, kenapa tidak diam-diam agar aku tidak mengetahui itu? Tapi, tumben sekali dia tidak memuji Mba Caeera cantik?
Aku teringat ucapan Mbah,
Ndok, wong lanang kui angel dicekel omongane. Lanangan seng tenanan lanang kudu iso ngadek neng pendiriane. Lagek ndelok ko omongan wae, koe wes iso nilai ndekne iki apek opo ora.
...🐣...
Sekitar tiga puluh menit berlalu, kami telah menyelesaikan makan malam. Tadi aku dan kedua Mbak ku sempat membereskan piring dan sisa makanan, sudah pasti dibantu Bibi. Sekarang makanan berat tadi diganti dengan berbagai macam cemilan.
Sesekali tanganku mengambil cemilan kacang telur sambil menyimak obrolan orang-orang di sini, nanti kalian pasti tahu kenapa aku tidak ikut berbicara.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Jumat perjalanan, selasa kembali ke Jakarta?" Pembukaan yang diucapkan oleh Mamah.
"Aku setuju aja, Mbak. Karyawan ku bisa gantikan sementara."
Mbak Humeera juga ikut bersuara, "Humi juga bisa cuti, Mah."
Lalu Mamah melihat Mbak Caeera, "bisa. Lagi tugas akhir, jadi dosen kasih kebebasan untuk nggak masuk kelas."
Sekarang gantian para lelaki untuk berbicara, "aku juga bisa cuti kok, Tan."
Jawaban terkahir yang dinantikan semuanya, termasuk aku. "Karyawan saya bisa meng-handle sementara."
Semuanya tersenyum, kecuali aku. Dari tadi aku sibuk mengunyah kacang telur. Jadi kalian paham kan kenapa aku tidak ikut berbicara, karena aku disini free tidak ada kesibukan sedikitpun.
"Kalau masalah vila, nanti pakai punya Mas Aksa, Mbak. Jadi kita tinggal bawa baju dan bahan masakan saja."
Mamah mengangguk, "oke, berarti besok berangkat, ya. Kalau bisa jam tujuh kalian sampai di sini, supaya tidak terlalu malam sampai sana." Intruksi Mamah disetujui oleh semua orang yang ada di ruang makan.
...🐣...
Setelah selesai berdiskusi, Tante Edrea, Mas Damar, dan Mas Raksa tidak langsung pulang. Momen seperti ini tidak mungkin akan dilewatkan begitu saja. Tadi terkahir aku lihat Mamah, Mbak Humeera, dan Tante Edrea sibuk bermain ponsel sambil membicarakan make up di ruang tamu.
Sedangkan aku dan Mas Damar sedang duduk di kursi yang berada di teras rumah. Kursi yang kemarin aku duduki saat sedang bosan. Mbak Caeera dan Mas Raksa aku lihat sedang duduk di ayunan putih di taman. Mereka nampak asik bercerita.
Mas Damar memangku sebuh gitar, gitar yang biasa aku gunakan sambil bernyanyi ketika sedang rindu dengan Mas Buana. Aku dan Mas Damar memilih untuk bernyanyi bersama, seperti dulu waktu kecil.
Bilur makin terhampar dalam rangkuman asa Kalimat hilang makna logika tak berdaya
Di tepian nestapa hasrat terbungkam sunyi
Entah aku pengecut entah kau tidak peka
Ku mendambakan mu mendambakan ku
Mulutku dari tadi bernyanyi, namun mataku tak bisa lepas dari kedua insan yang sedang duduk di ayunan putih. Mereka nampak bahagia, tertawa bersama, dan mereka cocok. Aku tidak tahu kenapa mataku terus melihat ke arah sana, sampai aku lupa tidak melanjutkan nyanyian ku.
Saking sibuknya melamun ke arah Mas Raksa dan Mbak Caeera, aku tersadar kala Mas Damar melambaikan tangan kirinya di depan wajahku.
"Ae, kamu sehat?"
Aku mengembalikan fokus dan melihat ke Mas Damar, "eh, sehat, Mas. Ayo lanjut lagi, sampai mana tadi lagunya?"
Belum juga Mas Damar menjawab pertanyaan ku, "hey, join dong." Ucap Mbak Caeera, dia menghampiri aku dan Mas Damar. Lalu Mas Raksa datang sambil membawa dua kursi dari garasi.
"Ayo, makin ramai, kan makin seru." Jawab Mas Damar.
"Kalian ini, ya. Dari kecil kebiasaan nya nggak berubah." Ucap Mbak Caeera sambil tersenyum, aku hanya bisa tertawa kaku. Jujur saja, aku sedikit risih kala mereka ikut bergabung.
"Eh, Ra. Suara lo bukannya bagus ya?" Kali ini Mas Raksa ikut bersuara.
"Bagus dari Hongkong." Bantak Mbak Caeera, memang diantara kami bertiga, Mbak Caeera yang memiliki suara paling fals.
"Suara Ae lebih bagus, ya nggak?" Mas Damar meledekku sambil sedikit menyenggol bahuku.
"Apaan sih, Mas Damar." Ucapku malu-malu. Mas Damar ini selalu bisa mengubah mood ku sedikit lebih baik.
"Hm! Mana mungkin?" Tanya ketus Mas Raksa.
"Iya, lo lupa?" Mbak Caeera ikut mendukungku. Tapi aku sedikit bingung dengan ucapan Mbak Caeera, lupa? Apa Mas Raksa sebelum nya sudah tahu?
"Ayo, Ae. Kita nyanyi lagu apa?" Aku berpikir kala Mbak Caeera bertanya, sebenarnya aku sudah lama tidak menyanyikan lagu ini. Karena, aku merasa liriknya sangat menggambarkan perasaan aku ke Mas Buana.
Entah kenapa aku malah menyebut judul lagu itu, "Hilang Tanpa Kabar."
Setelah menyebut lagu itu, aku merasa Mas Raksa melihat ku terus menerus. Tapi aku enggan untuk melihatnya, karena aku takut salah dugaan.
"Rak, lo tahu lagunya nggak?" Tanya Mbak Caeera, mau tidak mau aku melihat wajah Mas Raksa juga.
Aku rasa Mas Raksa memalingkan pandangan saat aku melihat dia juga, sekarang Mas Raksa memilih melihat Mbak Caeera.
Aku terus berjuang
Dari rindu yang panjang
Aku selalu bersabar
Menantimu yang hilang tanpa kabar
Mbak Caeera mulai bernyanyi, ini alasanku kenapa menyebut dia sempurna. Dia memiliki wajah ayu menawan dan juga suara yang indah, walau tidak seindah suara ku dan Mbak Humeera, tapi menurutku suara Mba Caeera masih di atas normal. Tak lupa hatinya juga baik, selalu ceria, tak mau orang lain tahu risalah hatinya.
Ku lihat Mas Raksa selalu memandang wajah Mbak Caeera, tak ada alasan lain sih. Kalau aku jadi cowok, mungkin aku juga akan menyukai Mbak ku yang satu ini.
Setelah Mbak Caeera menyanyikan lirik itu, aku bersiap untuk melanjutkan.
Mereka bilang tuk lupakan
Kau yang telah lama pergi
Dan mulai melanjutkan hidup
Sudahi sedihku ini
Tapi ku yakin kepada hatiku
Perlahan membunuhku
Aku sangat menghayati lirik ini, bernyanyi sambil berusaha untuk tersenyum. Melihat ketiga orang di sini memperhatikan ku. Melihat Mbak Caeera tersenyum sangat teduh, Mas Damar memetik gitar dengan lembut, dan Mas Raksa memandangiku tanpa berkedip.
Aku terus berjuang
Dari rindu yang panjang
Aku selalu bersabar
Menantimu yang hilang
Mas Damar ikut bernyanyi, walaupun suaranya tak seberapa. Tapi Mas Damar selalu menggantikan posisi Mas Buana ketika aku butuh teman bernyanyi.
Aku terus berjuang
Dari rindu yang panjang
Aku selalu bersabar
Menantimu yang hilang
Tanpa kabar
Aku melanjutkan lirik tersebut, huh, hatiku kembali sedikit terluka. Seharusnya aku tidak memilih lagu ini, ketika air mataku hampir terjatuh aku langsung menepisnya, karena aku tidak ingin terlihat cengeng.
Kamu jurang antara kesetiaan dan kegilaan
Sebatas harapan yang mungkin tak jadi kenyataan
Kau adalah kepahitan namun bukan penyesalan
Pelajaran hidup berharga
Bukan, kau bukan kegagalan
Adakah yang tetap waras saat jatuh cinta
Sementara ku hanya bisa menyentuhmu lewat doa
Bagaimana bila di sana kau menemukan seseorang dan bahagia
__ADS_1
Apakah untukmu ku pernah ada?
Aku sedikit tak menyangka kalau Mas Raksa yang akan melanjutkan lirik tersebut, selama dia mengucapkan itu, aku rasa Mas Raksa selalu melihat ku. Seperti, sedang menyampaikan lirik itu untuk ku. Sangat dalam, sampai aku dapat merasakan lagu ini hidup ketika Mas Raksa mengambil alih.
Aku terus berjuang
Dari rindu yang panjang
Aku selalu bersabar
Menantimu yang hilang
Mbak Caeera melanjutkan lirik tersebut, dan bagian paling akhir adalah untukku.
Aku terus berjuang
Dari rindu yang panjang
Aku selalu bersabar
Menantimu yang hilang
Tanpa kabar
Ku pastikan, aku menyanyikan lirik itu sambil menatap mata Mas Raksa. Hampir saja air mataku menetes, untung dapat ku kendalikan dengan melihat Mas Damar dan mengusapnya dengan cepat.
"Yeay! Seru banget, ternyata suara lo bagus juga ya, Rak?" Seru Mbak Caeera. Aku memilih mengambil alih gitar yang dipegang Mas Damar, sambil memetik senar seadanya. Mata ku fokus ke gitar ini, karena aku enggan melihat keseruan mereka berdua. Entah, hatiku yang memilih.
"Soalnya, gua punya guru kecil yang suaranya indah banget." Jawab Mas Damar, sayup-sayup aku masih menyimak pembicaraan mereka.
"Suara lo juga keren, Ra. Kenapa nggak jadi penyanyi?"
"Eh, guys. Gua masuk dulu ya, mau rebahan di sofa."
"Dasar tua!" Aku yakin Mbak Caeera meledek Mas Damar. Dari tadi aku sibuk memetik senar gitar secara abstrak, hanya mendengar perbincangan mereka tanpa melihat.
"Penyanyi, ya? Gua nggak tertarik sih, seharusnya Aeera yang lebih cocok. Secara suara dia keren abis."
Aku kalut dengan perasaanku, rinduku dengan Mas Buana semakin berat, dan perasaanku sekarang yang mengatakan aku sedikit tidak suka melihat keakraban kedua orang ini. Aku meletakkan dagu di atas gitar, kaki ku dari tadi ku letakkan di atas kursi.
Apa mungkin posisi Mas Buana mulai tergantikan?
"Hey, sibuk banget?" Suara itu menyadarkan aku dari lamunan. Ku lihat Mas Damar dan Mbak Caeera sudah tidak ada di sini, tersisa aku dan Mas Raksa.
Aku celingukan mencari keberadaan Mbak Caeera, "loh, Mbak Cae kemana?"
"Sudah masuk." Jawab Mas Raksa, dia mengambil gitar yang dari tadi aku pangku.
"Kamu ini seharusnya menikmati kebersamaan, bukan malah melamun sambil memainkan gitar." Ucap Mas Raksa sambil melihat wajahku. Aku juga merasa aneh, kenapa aku bisa tenggelam dalam lamunan ya? Padahal biasanya kalau sedang dalam keramaian aku tidak pernah seperti ini.
Ku lihat Mas Raksa menyetel gitarku, "eh, Mas, tadi kan udah pas."
"Pas gimana? Ada yang miss satu, masak kamu tidak tahu? Siapa sih yang ajari kamu main gitar?" Pertanyaan beruntun dia lontarkan kepadaku. Laki-laki tua ini bawel sekali.
"Jangan salahin gua. Salahin tuh orang yang harusnya ajarin gua main gitar, tapi malah pergi gitu aja. Sial!" Aeera! Bodoh sekali aku ini, untuk apa aku mengucapkan hal itu di depan Mas Raksa!
Mas Raksa yang awalnya melihatku sampai tangannya berhenti beraktivitas, sekarang tersenyum dan kembali menyetel gitar.
Tak lama dia tertawa geli, "marah dengan rindu, beda tipis, ya."
Aku hanya terdiam, saking malunya. Terus terusan aku mengutuk ucapan ku sendiri. Mudah sekali aku dipancing oleh orang tua ini.
"Sudah jangan disesali ucapan kamu tadi. Saya ingin menyayikan satu buah lagu untuk kamu."
"Sorry, gua nggak ada receh."
Mas Raksa tertawa, "hahaha. Durhaka kamu sama yang lebih tua." Aku ikut tertawa, setidaknya ini sedikit menghilangkan rasa maluku.
Lelaki di hadapan ku mulai memetik senar gitar, lalu dia mulai bernyanyi. Aku memandang wajah nya dan melihat kelihaian tangannya dalam bermain gitar, mengingat kan ku pada, Mas Buana.
Susah susah mudah kau ku dekati
Kucari engkau lari ku diam kau hampiri
Jinak burung dara justru itu kusuka
Bila engkau tertawa hilang semua duka
Gampang naik darah omong tak mau kalah
Kalau datang senang nona cukup ramah
Bila engkau bicara persetan logika
Sedikit keras kepala ah dasar betina
Sepanjang lirik, Mas Raksa tertawa jail ke arahku. Aku juga sedikit menyunggingkan bibir ke atas. Ku pikir sudah dua kali laki-laki bernyanyi untukku, Mas Buana dan Mas Raksa.
Ku suka kamu
Sungguh suka kamu
Ku perlu kamu
Sungguh perlu kamu
Engkau aku sayang sampai dalam tulang
Banyak orang bilang aku mabuk kepayang
Aku cinta kamu bukan cinta uangmu
Aku puja selalu setiap ada waktu
Tapi, saat ini terlintas di kepalaku. Apa benar lagu ini untukku, mengingat dari tadi Mas Raksa lebih asik bersenda gurau bersama Mbak Caeera. Mas Raksa lebih memperlihatkan kepedulian nya dengan Mbak Caeera kepada umum. Pasti hampir semua orang yakin kalau Mas Raksa menyukai Mbak Caeera.
Apa mungkin lagu ini untukku? Apa mungkin Mas Raksa menetapkan hatinya padaku ketimbang Mbak Caeera? Nampaknya tidak mungkin.
Ku suka kamu
Sungguh suka kamu
Ku perlu kamu
Sungguh perlu kamu
Mas Raksa mengakhiri nyanyian dan mainan pada gitarku. Aku yang dari tadi melihat wajahnya sambil berpikir sesuatu yang akhir-akhir ini memenuhi kepalaku, hanya bisa melihatnya tanpa bereaksi.
"Gimana?" Tanya Mas Raksa.
"Bagus, suara lo masuk kok ke dalam musik."
"Bukan itu, liriknya?"
"Hmm. Kalau itu," Aku sedikit berat untuk mengucapkan ini, tapi mau tidak mau aku harus tegar.
"Kayaknya bakal berhasil kalau lo nyatain cinta ke Mbak Caeera sambil nyanyi lagu ini, pasti dia peka." Lanjut ku. Aku berbicara sambil menampilkan senyuman paksa dan ku lihat Mas Raksa nampak sedikit terkejut.
Aku memegang pundak Mas Raksa, "good luck, ya, Mas. Jangan lupa pajak jadian." Setelah itu aku berlalu, berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Mas Raksa yang dari tadi duduk bergeming.
Entahlah, sebenarnya ucapan itu sangat berat keluar dari mulutku. Namun, mau tidak mau aku harus mengucapkan itu. Karena itu memang kenyataannya. Mereka serasi, dan aku tidak boleh berharap apapun. Apalagi, perasaanku selalu dan hanya untuk Mas Buana.
Sadarlah Aeera. Kuharap, besok pagi perasaan yang mengganjal ini akan hilang.
...🐣...
__ADS_1