Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 18


__ADS_3

Hari ini, hari ke empat belas aku di Jakarta. Dengan berat hati aku harus kembali ke Jogja. Bukan karena aku tidak cinta keluarga, justru saking cintanya, aku sampai kecewa berat.


Jika aku terus berada di sini, sudah pasti keadaan hati maupun fisik ku akan lebih buruk. Dan juga, jika aku masih di sini, Mbak Caeera dan Mas Raksa akan merasa canggung. Aku tidak boleh menghalangi hubungan mereka.


Aku mulai sadar bahwa perjuangan akan sia-sia jika yang berjuang hanya salah satu pihak. Dengan kata lain, cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin selama dua belas hari Mas Raksa hanya menyenangkan hatiku, tidak lebih. Tapi justru itu membuat luka semakin besar.


"Andai aja selama aku liburan di sini, Mas Raksa gak sok baik sama aku." Aku berandai-andai sambil menyisir rambut di depan kaca.


Setelah mandi dan berganti pakaian, aku siap untuk berangkat ke Stasiun Senen. Hatiku berangsur bisa menerima keadaan ini, walau masih sedikit mengganjal.


"Dari awal kan aku udah menghindar."


Aku menarik napas dan menaruh kembali sisir ke atas meja, "huh, baru inget dia kan suka bergurau. Jadi selama ini cuma aku yang anggep serius omongannya."


Aku melihat jam tangan, "udah jam segini. Selamat tinggal rumah, aku gak janji ya kapan bisa main lagi ke sini."


"Semoga secepatnya." Lanjut ku dengan bergumam.


Setelah itu aku meraih carrier yang kemarin aku gunakan ke Puncak, lalu menggendongnya. Dan tak lupa tas hitam kecil ku gendong di badan depan.


Aku membuang napas lagi, melihat sekeliling kamar, nampaknya aku akan merindukan ini semua.


Mencoba untuk tegar, akhirnya aku keluar dari kamar. Menuruni anak tangga, aku tahu di rumah ini sudah tidak ada orang selain Bibi. Sengaja, supaya tidak tambah berat ketika melihat mereka semua.


"Bi." Aku memanggil Bibi untuk memesan ojek online, karena aku enggan mengaktifkan ponsel.


"Iya, Non Aeera."


"Bi, aku minta tolong, ya. Tolong pesan ojek online ke Stasiun Senen."


"Loh, Non mau kemana?"


Aku tersenyum ramah, "balik ke Jogja, Bi."


Dia nampak bingung, "em, tapi, Non. Keluarga Non Aeera kan sedang tidak di rumah."


Aku memilih duduk di sofa, "gak papa, Bi. Kemarin udah izin ke Mamah."


"Ya sudah, Bibi pesankan dulu, ya, Non." Ucap Bibi sambil berjalan ke belakang untuk mengambil ponselnya.


"Bi, pakai cash aja, biar nanti Aeera yang bayar." Pesanku sedikit berteriak.


...🐣...


Saat ini aku duduk di dalam mobil menuju Stasiun Senen. Aku melihat ke luar jendela, suasana Jakarta pagi ini tidak begitu macet, karena memang sudah jam sepuluh.


Aku menyandarkan kepala ke sandaran bangku. Memejamkan mata, semoga aku secepatnya bisa menghilangkan rasa kecewa ini.


Semoga aku secepatnya bisa menerima keadaan ini.


Oh iya, aku sengaja menonaktifkan ponsel karena tidak mau mendapatkan pesan dari Mas Raksa. Untuk saat ini aku benar-benar menghindari dia, karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah aku tidak mau termakan rayuan gombal dia lagi.


Dan juga, aku ingin melupakan dia. Semoga usahaku berhasil.


...🐣...


Mobil ojek online sudah memasuki kawasan Stasiun, berhenti tepat di dalam sehingga aku tidak perlu jalan jauh. Aku turun lalu mengambil carrier yang aku letakkan di bagasi dibantu oleh supir.


Setelah menggendong kembali carrier itu, aku memberikan uang kepada ojek online tersebut. "terima kasih, Pak."


Aku melihat kembali jam tangan, sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit, tandanya sebentar lagi kereta yang akan aku naiki tiba. Dengan segera aku menuju tempat print tiket, cukup antri. Setelah itu aku mengantri untuk masuk ke dalam.


"Sendirian aja, Dek?" Tanya seorang pria, bisa dibilang masih cukup muda. Dia berdiri di sebelah ku, karena jalur antri ada dua.


Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Nggak berat tuh tas gede banget? Sini mau Aa bantu?"


"Engga," ucapku terpotong.


"Dek," kata petugas sambil menyuruhku untuk maju, ternyata di depanku sudah kosong. Aku menghela napas, untung saja aku dapat terhindar dari orang iseng itu.


Setelah diperiksa tiket dan Kartu Pelajar, aku bergegas untuk menuju ke dalam, karena takut kalau orang tadi mengikuti ku. Saat ingin melihat keberadaan orang tadi, aku sedikit shock, seperti ada orang yang mirip Mas Raksa tadi. Tapi dia hanya sekedar lewat, aku menggelengkan kepala.


Aeera, stop halu! Ini tempat umum, pasti banyak orang yang mirip.


Aku memilih untuk menuruni tangga stasiun, menuju jalur satu di mata kereta akan datang.


Tak lama aku menunggu, kereta yang aku tunggu datang. Aku segera masuk gerbong, tidak begitu ramai hari ini. Mungkin hari biasa dan belum waktunya untuk anak rantau kembali ke kota orang.


Aku berjalan mencari gerbong lima dan tempat duduk nomor 16 A. Akhirnya ketemu juga, dengan segera aku mengangkat carrier ke atas, supaya orang lain tidak terganggu.


"Mau saya bantu?"


Saat tanganku gemetar karena tidak kuat mengangkat tas besar ini, ada orang yang menawari bantuan. Sontak aku melihat sumber suara.

__ADS_1


"Mas,"


"Loh, kamu mau kemana, Aeera?"


"Aku, mau kembali ke Jogja. Mas Gema sendiri mau kemana?"


Kebetulan sekali aku bertemu Mas Gema, ternyata dia memang baik ke semua orang.


"Sama, aku harus kembali ke Jogja buat siapin MOS tahun ajaran baru."


Aku hanya mengangguk, "sini saya bantu." Ucapnya, lalu dia naik ke atas kursi kereta dan mengangkat carrier ku untuk diletakkan di atas.


"Kamu bukannya masih punya waktu untuk liburan?"


Ku duduk kan badan pada bangku nomor 16A. Kereta yang aku tumpangi adalah jenis ekonomi, jadi kami harus duduk berhadap-hadapan.


"Iya, harusnya aku masih ada waktu lima hari lagi di Jakarta." Jawabku sambil melamun.


Ku lihat Mas Gema memilih duduk di depanku.


"Terus?"


"Hm, ada masalah keluarga sedikit, Mas." Jawabku tersenyum canggung.


Mas Gema melihat wajahku dengan teliti, "coba biar aku tebak,"


"Hm, masalah sama calon kakak ipar kamu?"


Aku melihatnya lalu tersenyum, "kelihatan banget, ya, Mas?"


"Aku udah paham banget ciri-ciri orang yang lagi patah hati."


"Murung, pura-pura tersenyum, kusam, mata kamu sedikit bengkak dan hitam, terus,"


Sebenarnya aku sedikit malu, apa seburuk itu keadaanku saat ini?


"Terus apa?"


"Kelihatan butuh kasih sayang." Ucapnya sambil tersenyum jail.


Aku sedikit tertawa, "hahaha. Bisa aja, Mas."


"Kalau misalnya kamu mau cerita nggak apa-apa, Ra. Nggak bagus memendam masalah sendiri, bisa-bisa kamu frustasi."


Aku diam sejenak.


Orang yang aku percaya? Rasanya, untuk sekarang sangat sulit untuk aku percaya kepada siapapun.


Aku melihat ke luar kereta, "aku, sebenarnya punya rasa lebih sama Mas Raksa.”


β€œTapi, dia dijodohin sama Mbak ku sendiri."


"O, oke. Tapi, bukannya kamu udah tahu masalah ini? Secara kamu yang bilang kalau dia calon,"


Aku menggeleng cepat, "enggak, sebelumnya aku nggak tau. Kemarin itu cuma firasat ku aja mereka punya hubungan spesial."


"Ra, mata cowok itu gak bisa dibohongi." Mataku dalam melihat manik Mas Gema, juga telingaku sangat dalam mendengar ucapannya.


"Layaknya air yang melihat jalur menurun, dia gak akan bisa beralih fokus ke jalur menanjak. Aku lihat dia seperti itu ke kamu."


Aku berpikir sejenak, jadi sebenarnya aku gak boleh insecure ya? Air aja akan terus mengalir kalau lewat jalur menurun, justru dia akan berhenti kalau lewat jalur menanjak.


Ah, tapi semua sudah nggak ada harapan. Memang dasarnya aku menjalin cinta sendirian.


"Takdir udah berkata lain, Mas. Mereka akan bertunangan secepat mungkin."


"Ya sudah, kamu tenangkan diri dulu. Semoga masuk sekolah nanti kamu sudah bisa mengesampingkan masalah ini, ya."


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Aku ke gerbong tujuh, ya, Ra. Kamu jaga diri baik-baik, jangan mau diajak ngobrol sama orang asing. Janji?"


Akhirnya tawa kecilku keluar dari mulut, "haha. Janji, Mas. Makasih udah mau dengerin ceritaku."


Dia mengangguk, "kalau ada apa-apa langsung hubungi aku aja, ya!"


Aku mengangkat jempol tangan kananku sambil tersenyum. Lalu dia berlalu menuju gerbong lain. Untung saja kereta ini sepi, jadi Mas Gema tidak mengganggu orang yang seharusnya duduk di depanku.


Hatiku cukup lega, setelah beberapa hari memendam masalah sendiri. Akhirnya aku menceritakan nya dengan orang lain, walau sangat sedikit dan tidak kompleks.


Aku menghembuskan napas sedikit kasar, lalu kepalaku sandarkan pada kaca kereta. Kalau dipikir-pikir banyak juga ya kenangan kita berdua, walaupun aku bertemu dia hanya tiga belas hari.


Mulai dari pandangan dan senyuman dia, terus tolakan dia waktu di rumah Tante Edrea. Huh, kesel juga kalau diingat. Terus pertama kali aku boncengan motor sama dia, rasanya kangen banget, walau awalnya aku sedikit risih dan enggan, tapi akhirnya aku merindukan momen itu.


Aku jadi ingat tiga keinginan dia, dan semuanya sekarang terjadi. Haha, akhirnya aku merindukan dia. Merindukan orang yang menurutku menyebalkan, dan juga asing. Kamu berhasil. Berhasil buat aku layaknya remaja gila.

__ADS_1


Oh iya, waktu itu nggak ada angin nggak ada hujan dia chat aku. Hm, waktu itu aku cuek, karena aku gak ada perasaan sama sekali.


Mataku membelalak, aku baru ingat dia sempat mengirim voice note. Dia bilang waktu itu bernyanyi untukku.


Dengan segera aku mencari ponsel di dalam tas hitam kecil yang dari tadi berada di pangkuan ku. Aku buka aplikasi WhatsApp, untung saja semua dokumen, foto, voice, otomatis ke download. Jadi aku tidak perlu mengaktifkan kembali kartuku.


Aku memasang headset, setelah itu memutar voice note dari Mas Raksa. Terdengar lantunan gitar dia mainkan, rasanya aku rindu sekali. Membayangkan ketika dia bermain gitar dan menyanyikan lagu untukku di depan rumah waktu itu.


Mataku mulai berkaca ketika aku tahu lagu apa yang akan dia nyanyikan dari suara yang dihasilkan dari petikan gitarnya.


Suatu hari


Dikala kita duduk ditepi pantai


Dan memandang


Ombak dilautan yang kian menepi


Benar saja, lagu kenangan kami. Lagu yang selalu kita nyanyikan dulu. Waktu itu aku sempat menyanyikan lagu ini di hadapan dia, ketika di dalam mobil.


Burung camar


Terbang bermain di deru nya air


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Air mataku tidak lagi bisa dibendung, aku menangis, lagi. Aku menghayati lirik demi lirik yang dia nyanyikan.


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Ternyata selama ini dia sudah berusaha untuk memberi tahu aku, tapi, lagi-lagi ini kesalahanku. Aku memang bodoh.


Jika waktu itu, satu menit saja aku meluangkan waktu untuk langsung mendengarkan pesan dari dia, semua tidak akan terjadi. Memang akulah biang kerok nya. Aku yang salah, tapi malah aku yang tersakiti.


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Ingin kukenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram disampingmu


Hatiku damai


Jiwaku tentram bersamamu


Aku menangis sesegukan, tapi sebisa mungkin aku menahan suaranya. Karena malu kalau dilihat orang. Aku terus menghapus setiap air mata yang keluar, tapi begitu derasnya sampai tanganku kewalahan.


Pesan di akhir voice note dari dia yang membuat hatiku sangat sakit dan dadaku begitu sesak yaitu,


"Aeera, kala itu, lagu ini selalu kita nyanyikan di setiap sore sambil melihat senja. Mas berharap kebahagiaan di kala itu tidak akan bisa berlalu. Tapi, Mas sendiri yang mengkhianati nya. Mas minta maaf karena sudah menghilang begitu lama. Mas selalu berdoa kala kembali bertemu, kamu belum ada yang memiliki. Buanaeera, 23 September."


Dadaku sangat sesak sampai susah untuk bernapas. Aku bersalah sekali dalam hal ini. Seharusnya aku yang meminta maaf karena membuat ini semua kacau.


Buanaeera, nama yang selalu kami ukir di sebuah pohon di taman rumahku. Dan tanggal itu, dia selalu berucap bahwa 23 September adalah hari terindah, karena sumber kebahagiaan nya lahir ke dunia.


Aku menekuk kaki ke atas bangku kereta, lalu membenamkan wajah di sana. Sungguh hatiku rasanya tercabik, ternyata luka ini yang menciptakan adalah aku sendiri. Maafkan aku Mas, karena aku tidak bisa mengendalikan keegoisan. Kalau tau begini, aku semakin yakin jodohmu adalah Mbak Caeera. Aku terlalu buruk untukmu.


Dan sekarang, aku merelakan kamu.


Bahagia lah dengan dia.


Aku akan meminta maaf secepat mungkin, jika hatiku sudah sembuh sepenuhnya.


Percayalah, aku wanita yang sangat mencintaimu. Selalu menunggu kedatangan mu kembali, tapi itu dulu. Sekarang aku harap kamu tidak akan hadir di kehidupan ku, lagi.

__ADS_1


...🐣...


__ADS_2