Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
EPS 26


__ADS_3

^^^Angkringan malam.^^^


Apakah aku salah untuk memberikan kesempatan lagi kepada dia?


Apakah aku salah untuk mempercayai ucapannya?


Tapi, aku tidak bisa bohong. Aku menyambut dengan senang hati setiap pernyataan dan cerita yang dia lontarkan. Aku seperti hidup kembali setelah sekian lama mati suri. Hatiku, merasakan adanya kembang yang bermekaran setelah sekian lama layu.


Terakhir dia bertanya, “kamu, benar sudah menjadi kekasih Gema?”


Jujur saja, wanita sinting darimana yang bisa menolak Mas Gema? Tapi aku salah satu dari wanita sinting itu. Aku menolak pria yang justru selalu ada setiap aku dalam kesusahan. Lagi, sialnya aku menolak dia hanya karena pria yang membuat hatiku sakit dua kali, Mas Raksa.


“Cewek sinting mana yang nolak dia sih, Mas?”


“Baik, pengertian, populer, ganteng, muda, pendengar yang baik, ramah, bahkan gue nggak tau kekurangan dia itu apa—”


“Oke. Berhenti sampai sana saja. Saya enggan untuk mendengar kelanjutannya.”


Aku terkekeh geli mendengar ucapannya. Antisipasi untuk melindungi lara hati Mas Raksa sangat kentara. Keningnya mengernyit kala melihat aku menyembunyikan tawa ringan di balik telapak tangan.


“Kamu menertawakan saya karena gagal mempertahankan cinta pertama saya?” Seketika juga tawa ringan ku langsung kandas begitu saja.


Mendengar ucapannya, justru membuat aku bergeming. Cinta pertama? Maksudnya, aku cinta pertama Mas Raksa? Sepertinya agak mustahil.


“Mana mungkin cinta pertama?” Tanyaku tidak percaya.


Dia menghela napas, “percuma juga saya jelaskan, apa gunanya menjelaskan panjang lebar ke pada kekasih orang?”


Orang tua ini nampaknya pasrah sekali. Aku diam sejenak, bingung harus menjawab apa. Suasana sempat hening sebelum Mbah datang memecah kesunyian.


“Nak Buana, ini minum dulu teh hangatnya.” Ucap Mbah yang tiba-tiba datang sambil membawa dua gelas teh hangat.


Memang cuaca Jogja jika menjelang petang akan sedikit dingin. Mas Raksa langsung mengucapkan terima kasih karena sedikit sungkan.


“Semakin malam, akan semakin dingin. Mungkin Nak Buana mau mandi dulu, atau bebersih?” Tawar Mbah dengan nada suara medok yang khas.


Sebelum Mas Raksa menjawab, aku sudah memotong terlebih dahulu. “Ah, ndak usah, Mbah. Sebentar lagi juga balik Jakarta, ya, Mas?”


Mas Raksa menatapku dalam, aku hanya bersikap acuh tak acuh.


“Mbah kira Nak Buana akan bermalam? Apa ndak terlalu larut untuk kembali ke Jakarta?”


Benar juga yang dikatakan Mbah. Mengingat hari semakin petang, jika tidak segera pulang, Mas Raksa akan pagi sampai Jakarta.


“Tidak apa, Mbah. Sebentar lagi saya akan pamit.”


Jujur saja, jawaban Mas Raksa cukup membuat aku kecewa. Hati kecilku ingin terus bersama dia. Enggan berpisah lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


“Ya sudah. Kalian ngobrol sampai semuanya rampung, nggeh.” Pesan Mbah yang menimbulkan pertanyaan cukup besar di benakku.


Rampung? Apanya yang harus diselesaikan? Mbah tahu sesuatu?


Setelah berucap, Mbah langsung memasuki rumah dengan membawa nampannya lagi. Suasana kembali hening, sebelum aku menanyakan semua yang muncul di benakku.


“Rampung, apanya yang harus diberesin?” Tanyaku sambil melihat wajahnya dari samping. Tak ada yang berubah, dia tetap menawan.


Mas Raksa menengokkan wajahnya ke arahku, alhasil kami saling pandang. Sungguh, pesona wajahnya semakin memperbesar rasa sayangku.


“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus saya bereskan. Mengingat kamu sudah menjadi milik pria lain.”


Nyess. Sakit banget hatiku dengar omongannya. Padahal yang dengar telingaku, tapi kenapa rasanya sampai ke dada.


Aku tersenyum menyinggung, “huh, lagian gue juga merasa nggak pantas buat cowok sebaik Mas Gema.”


“Maksud kamu?”


“Saya terlalu buruk dibandingkan Gema?”


Aku menaikkan salah satu alis, “emang, menurut Mas, Mas lebih baik?”


“Oke. Saya terima jika harus menjadi lebih buruk daripada dia, supaya kamu merasa pantas.”


Senyuman kembali terlihat di bibirku. Ya, aku gampang sekali menerima gombalannya. Berbeda jika gombalan dari laki-laki lain.


“Emang nggak boleh?”


Akhirnya tawa Mas Raksa lepas begitu saja, “kamu berhasil. Berhasil buat saya pesimis seketika. Kecewa dan merasa gagal.”


“Jadi orang kok gampang nyerah.” Sindir ku lagi.


“Saya terima setiap sindiran kamu. Jujur, saya rindu dengan sikap jutek dan judes kamu.”


Tak ingin terlihat semakin salah tingkah. Akhirnya aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.


“Udah-udah. Mending Mas pulang, udah larut banget.”


“Kamu mengusir saya?”


“Iya.”


Tangannya mengacak puncak rambutku. Ini, perlakuan yang aku rindukan dari dia. Sungguh gemas sekali. Akhirnya usapan tangannya kembali mendarat di kepalaku.


“Saya jadi malas pulang.”


“Gimana?” Tanyaku lagi untuk mendapat penjelasan lebih.

__ADS_1


Dia berpikir sejenak, “bagaimana, kalau kita menghabiskan malam ini di Jogja?”


“Gue juga setiap hari menghabiskan malam di Jogja, maksudnya gimana sih? Nggak usah basa-basi.”


“Saya menanti masa seperti saat terakhir di Puncak. Menghabiskan malam bersama kamu, kemarin saat libur lebaran, saya cari kamu kemana saja tidak ketemu.”


Aku enggan menjawab penjelasannya, kali ini aku memilih untuk jadi pendengar saja.


“Jadi, bagaimana kalau malam ini kita mengulang kembali malam terakhir di Puncak?”


Aku mengernyit, “barbeque-an?”


Dia menggeleng, terus apa? Please, bisa tidak jangan bikin aku mikir keras.


“Kita jalan-jalan? Dari tadi saya ingin mengatakan ini, tapi takut kamu tolak.”


Aku menggeleng heran. “Pantes cuman dapet cewek sekelas Aeera, saran gue sih tingkatin lagi rasa percaya diri lo.”


Senyuman manis terlukis di wajahnya. “Haha, apa sih, bocah.”


Siapa sangka jika akhirnya akan seperti ini? Kesedihan yang aku lalui seakan tidak berarti. Bagaimana bisa dia datang dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi? Benar kata Mas Gema, mungkin semuanya hanya salah paham.


Mas Gema? Aku menghargai kejujuran tentang perasaannya. Tapi, siapa sangka jika dia menyimpan rasa lebih? Atau memang aku yang tidak peka?


Mengingat Mas Gema, membuatku teringat kembali kejadian dimana Elvira menyeret ku ke dalam mobil mewahnya. Dia sempat berucap tentang adiknya yang juga membelaku. Siapa adik Elvira? Mengingat aku di Jogja hanya berhubungan baik dengan Mas Gema.


Lagi, saat Mas Gema datang, Elvira nampak sedikit takut dan menyudahi aksinya. Sebelum semuanya gelap, aku sempat mendengar perbincangan mereka. Elvira mengatakan semuanya hanya bercanda. Apa mungkin Mas Gema memiliki hubungan dengan Elvira?


“Hei. Kamu kenapa termenung?” Pertanyaan Mas Raksa berhasil membuatku keluar dari lamunan.


“Apa kamu tidak bersedia keluar dengan saya?” Tanyanya lagi.


Aku hanya melirik laki-laki yang berhasil membolak-balikan hatiku.


“Emang kalau gue nggak mau, lo gimana?”


Ku lihat wajahnya sedikit risau, “saya tidak akan memaksa. Mungkin memang saya yang terlambat.”


Benar saja. Jawabannya sangat pesimis. Orang tua ini harus disulut semangat anak muda.


“Kalau mau keluar, lo mandi dulu ganti baju.” Perintahku.


Terukir senyuman indah di wajahnya. Kenapa bisa aku melihat senyuman ini lagi?


Atau, mungkin semua ini hanya mimpi?


Jika iya, aku tidak ingin bangun kembali.

__ADS_1


......🐣......


__ADS_2