Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 11


__ADS_3

Setelah menonton televisi bersama, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di kamar. Sekarang sudah pukul dua belas lewat lima malam. Aku sudah berbaring di kasur atas, di bawahku ada Mbak Caeera, dan di seberang ada Mas Damar sedang telepon dengan seseorang.


"Iya bentar lagi aku tidur," ucap Mas Damar, nampaknya dia sedang telepon dengan kekasihnya.


"Kamu juga tidur gih, udah malem." Lanjutnya, aku hanya menghadap dia dan mengulas senyum. Rasanya baru kemarin dia menjagaku dari nakalnya teman SD.


"Pacaran teroos, Mar!" Ejek Mbak Caeera. Sontak aku menurunkan kepala agar bisa melihat Mbak Caeera.


"Ahahahaha." Tawaku yang membuat Mbak Caeera kaget.


"Ae! Lo bikin gue jantungan aja sih, rambut kebawah pala ngegantung, mana ketawa lagi!" Kata dia sambil melotot dan memegang dadanya.


Mas Damar meletakkan ponsel, "mampus lo, ngeledek gue sih tadi. Hahaha. Karma is real madrid, boss." Katanya tertawa puas.


Aku ikut tertawa, badan kududukkan di atas kasur. Lama-lama pusing juga kepala terbalik kayak tadi. Aku lihat Mas Raksa tidak ikut perbincangan kami, dia sibuk dengan ponselnya sambil mengenakan headset.


Tidak perduli juga sih, mau dia sedang apa juga bukan urusanku.


Aku menyimak perdebatan antara Mbak dengan Mas ku, "abisnya mesra-mesraan di depan para jomblo." Elak Mbak Caeera.


"Makanya cari cowok!"


"Gak dulu."


"Hahaha. Jangan gitu Mas Damar, nanti cowoknya marah." Timpal ku.


"Ini lagi anak kecil ikut-ikutan."


"Emang lo udah punya cowok? Ada yang mau gitu sama cewek galak plus cenayang kayak lo?" Mas Damar ini tipe cowok yang bawel sama keluarganya. Aku hanya tertawa mendengar perdebatan mereka.


"Heh mulut tuh, mulut." Ucap Mbak Caeera sambil berdiri menuju ranjang Mas Damar.


"Gitu-gitu, siapa yang bantuin lo deket sama cewek lo?" Lanjutnya sambil berkacak pinggang menghadap ke atas.


Akhirnya Mas Raksa ikut nimbrung, "ternyata Damar minta bantuan lo buat PDKT sama ceweknya?"


"Bukan PDKT doang, sampek jadian!" Timpal Mbak Caeera dengan lantang.


Aku terkekeh geli mendengar jawaban Mbak Caeera, wah ternyata Mbak ku ini jago juga mencarikan orang lain pasangan.


Mas Damar menempelkan jari telunjuknya, "Sttt. Jangan buka kartu dong!"


"Hahahaha, ada-ada aja lo, Dam." Tawa Mas Raksa masih duduk sambil bersandar di ranjangnya.


Kini gantian Mbak Caeera menyerang Mas Raksa, "eh jangan ketawa lo, sadar diri lo juga—" Belum selesai bicara, Mas Raksa sudah menutup mulut Mbak Caeera sambil menariknya. Sehingga dia ikut terduduk di kasur Mas Raksa.


Aku hanya melihat perseteruan mereka bertiga, sebenarnya penasaran juga sih apa yang mau dibilang Mbak Caeera. Dadaku sedikit sesak kala melihat kejadian itu, aku tau seharusnya tidak merasakan hal ini. Bodoh sekali jika aku menyimpan rasa kepada kekasih Mbak ku sendiri.


Mengingat kemarin aku duduk di ujung ranjangnya saja disuruh mundur. Begitu risih nya dia sama aku. Aku tersenyum samar, namun hatiku sakit.


"Pacaran troos." Gantian Mas Damar yang meledek. Aku hanya tersenyum samar melihat itu semua.


"Bacot Damar!"


Kala ku seorang diri hanya berteman sepi dan angin malam


Kucoba merenungi


Tentang jalan hidupku


Aku sedikit tersentak kala mendengar dering ponsel ku berbunyi, segera ku ambil ponsel yang berada di sebelah bantal. Tertera nomor Mas Gema di sana. Dengan ragu aku angkat telepon itu, tumben sekali ada yang menghubungi ku.


"Ha, halo Mas Gema."


Terdengar suara dari seberang, suara khas Mas Gema, sedikit serak dan ngebass. "Hei, sorry ya ganggu. Kamu belum tidur?"


Oke, ini termasuk pertanyaan retoris. Kalau aku sudah tidur, siapa yang berbicara tadi?


"Hm. Maksudnya, aku gak ganggu tidur kamu kan?" Koreksinya terhadap ucapan dia sendiri.


Ku baringkan tubuhku, "engga, Mas. Ada apa?"


Terdengar lagi suara Mas Damar yang mengajak ribut Mbak Caeera, "Bunda, Tante, ada yang pacaran di kamar nih."


Mbak Caeera yang masih duduk di kasur Mas Raksa sontak memukul alas kasur Mas Damar, "Damar mulut lo, ya!"


"Damar masih polos, Kakak." Aku tersenyum geli mendengar hal itu.


Serta jawaban dari seberang juga memenuhi telingaku, "cuman mau ngobrol doang sih. Ternyata di sana masih rame ya, di sini udah pada tidur."


"Najis tau gak sih, Mar!" Aku melirik Mbak Caeera yang masih menggoyahkan alas kasur Mas Damar, sang empu yang ada di atas hanya tertawa geli.


Sedangkan Mas Raksa tak berusaha untuk memberhentikan Mas Damar, sekilas ku lihat dia malah menatap ke arahku. Namun tak ku hiraukan, aku menghadapkan badan ke tembok.


Aku melanjutkan perbincangan dengan Mas Gema, "iya, Mas. Di sini masih pada melek, kalau mau ngobrol di chat aja, ya. Nggak enak sama Kakak-kakak ku." Aku mengatakan hal ini karena tidak enak jika perbincangan ku di dengar oleh orang lain.


Tak lama yang di seberang menjawab, "oh, oke. Nanti aku chat, ya. Good night, Aeera."


"Iya Mas Gema, selamat Malam." Aku segera mengakhiri panggilan itu.


"Biarin aja biarin, nanti kalo putus sama ceweknya, gue ketawa paling kenceng." Ucap Mbak Caeera, ternyata perseteruan mereka masih berlanjut.


Ku hadapkan kembali badanku ke arah mereka, ku lihat sejenak Mas Raksa memalinkan pandangannya. Mbak Caeera sudah berjalan ke arah kasurnya, sedangkan Mas Damar di atas tertawa geli.


"Yah, jangan ngambek dong bidadari nya Raksa." Sepertinya di kamar ini aku harus belajar menahan sesaknya dada.


Jawaban Mbak Caeera sedikit membuat ku bingung, "diem, Raksanya lagi galau." Galau? Tidak seharusnya laki-laki itu galau.


Ku lihat Mas Raksa kembali memakai headset nya, dia tidak menggubris ucapan Mbak Caeera. Berarti apa yang dia bilang itu benar? Mas Raksa galau?


Masak Mas Raksa cemburu sama Mas Damar?


Tingg...


Satu Pesan masuk.


Mas Gema


Online


Kamu lagi apa?


00.21 WIB


^^^Main HP^^^


^^^00.22 WIB^^^


Besok mau ke kebun teh?


00.22 WIB


Aku berpikir sejenak, ke kebun teh? Sama orang lain lagi? Sebenarnya aku ingin mengajak semua keluargaku jalan ke daerah sini, ingin menghabiskan waktu bersama. Jadi, sekarang aku ragu, ingin mengiyakan atau tidak.


Tring...


Pesan kembali masuk, mataku sedikit membulat kala melihat pesan itu. Sejenak aku melihat orang yang masih setia duduk menyandar di sandaran ranjang sambil memakai headset.


Mas Raksa AB (Aneh Banget)


Online


Besok mau ke kebun teh bersama saya?


00.24 WIB


Jantung ku berpacu dalam detik, rasanya ingin copot saja. Aku harus menjawab apa, Mas Gema dan Mas Raksa mengajakku secara bersamaan.


Aku memilih menjawab pesan dari Mas Gema, karena dari tadi belum aku jawab.


Mas Gema


Online


^^^Besok aku kabari ya Mas.^^^


^^^Soalnya gak enak sama yang lain.^^^


^^^00.29 WIB^^^


Oke deh.


Btw, kenapa gak enak?


Ada yang marah ya?


00.30 WIB


^^^Bukan, soalny tdkan udh keluar lama.^^^


^^^00.30 WIB^^^


Tring...


Mas Raksa AB (Aneh Banget)


Online

__ADS_1


Kamu pikirkan saja dulu,


saya tidak memaksa.


00.31 WIB


Jujur guys, menerima pesan dari Mas Raksa sangat berbeda saat menerima pesan dari Mas Gema. Entah kenapa, pesan dari dia bisa membuat jantungku berdegup tak karuan.


Benar, dia ketik pakai jari, aku balas pakai hati.


Aku memilih tak menjawab pesan dia dulu, jariku ketuk-ketukkan pada chasing ponsel. Melihat ke atap, sambil berpikir harus menjawab apa.


Tring...


Mas Raksa AB (Aneh Banget)


Online


Jika kamu masih tidak menjawab,


saya anggap kamu tidak mau.


00.37 WIB


Jantungku semakin berdegup kencang, secara perasaan aku mau, MAU BANGET. Tapi, logikaku mengatakan untuk tidak. Seharusnya Mas Raksa pergi bersama kekasihnya, bukan aku.


^^^Tadi udh ada yg ajakin^^^


^^^00.40 WIB^^^


SIAPA?


00.40 WIB


Maaf tertekan capslock


00.40 WIB


Bibirku menyungging tipis. Melihat ke arah dia sekilas, dia sedang menggerakkan telapak tangannya ke arah Mbak Caeera, seakan mengatakan tidak atau sedang menyapa ya?


Terus di lanjutkan mengibaskan tangannya ke leher, seakan mengatakan habis, selesai, tamat? Aku tidak tahu lah itu, bikin pusing.


Aku memilih menjawab lagi pesan dari dia.


^^^Mas Gema^^^


^^^00.42 WIB^^^


Terus?


00.42 WIB


^^^Apanya?^^^


^^^00.43 WIB^^^


Yang


00.43 WIB


Aku mengernyit, sambil melirik ke arah dia yang masih berada di posisinya seperti tadi.


Maaf, terpotong.


Yang tadi telepon kamu dia juga?


00.44 WIB


^^^Ya^^^


^^^00.45 WIB^^^


Samar aku mendengar ucapan Mas Raksa kepada Mbak Caeera, "keduluan."


Yang diajak bicara menjawab, "salip lagi." Mereka ini sedang membicarakan balapan motor ya?


"Pepet troos." Saut Mas Damar, padahal dia lagi fokus ke ponselnya.


"Your lambe."


Kembali masuk pesan dari Mas Raksa. Namun aku enggan menjawab, aku memilih meletakkan ponselku dan turun ke bawah. Mau ke kamar kecil, hawa dingin bawaannya bikin pingin pipis terus.


Setelah itu aku keluar dari kamar mandi dan menuju ranjang lagi, ternyata air puncak malam begini dingin banget, ya. Ku lipat kedua tanganku di depan dada.


Ku lihat Mas Raksa menatap ke arahku, sedangkan Mbak Caeera sibuk dengan laptopnya.


"Lumayan." Jawabku singkat.


"Pakai jaket Dek kalau dingin." Saran Mas Damar. Harusnya sih aku sudah mengenakan jaket, tapi aku lupa tidak membawa benda itu karena kemarin terburu-buru menyiapkan baju.


Aku tersenyum tipis, "lupa nggak bawa, Mas."


"Waduh, aku juga cuman bawa satu nih." Ucapnya sambil memegang jaket yang dia kenakan.


Mas Raksa bangkit dari duduknya, dia menuju ke lemari mencari sesuatu. Setelah itu dia kembali ke ranjangnya dan melempar sebuah jaket ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya.


"Pakai, lain kali jangan teledor."


Ish, kasar banget jadi cowok. Aku juga enggak minta kali, enak aja main lempar.


Aku jalan ke ranjangnya, menaruh jaket itu dengan perlahan. "Enggak, Mas. Aeera gak butuh."


Setelah itu aku naik ke atas kasurku lagi, tidak peduli dingin atau apalah. Mengingat selimut disini tipis dan kecil, tidak bisa menutupi seluruh badanku.


"Ckckckck, Mas Raksa kasar banget sih ngasihnya." Sindiran Mas Damar.


"Tau tuh, heran gue." Saut Mbak Caeera. Aku jadi tidak enak dengan dia, tidak seharusnya Mas Raksa ingin meminjamkan jaket kepadaku.


Aku tidak memperdulikan ocehan mereka atau reaksi Mas Raksa saat aku tolak tawaran dari dia, aku tau niat dia baik. Tapi, caranya yang tidak aku sukai.


Ku buka pesan masuk dari dia, hanya ku baca. Aku enggan menjawab, perasaanku terlanjur tidak enak.


Mas Raksa AB (Aneh Banget)


Lalu, sudah kamu terima ajakannya?


00.45 WIB


Aku memilih untuk tidur menghadap ke tembok, toh dia juga sudah tidak online. Tak lama coba memejamkan mata, kembali pesan masuk.


Tring...


Mas Raksa AB (Aneh Banget)


Online


Besok ke kebun teh jam 9 pagi bersama saya.


00.55 WIB


Tidak ada niat untuk menjawab. Ku letakkan kembali ponsel ke sebelah bantal ku.


Besok juga bisa aku tolak ajakannya.


...🐣...


Perlahan mataku mengerjap, ku regangkan otot-otot setelah semalam tidur dengan perasaan jengkel. Ku lihat jam pada ponsel, sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh lima menit.


Aku menengok ke arah ranjang sebelah, Mas Raksa dan Mas Damar sudah tidak ada di tempat. Ku dudukkan badanku, aku baru sadar ada jaket yang menutupi tubuhku dari tadi.


Kalau dilihat ini jaketnya Mas Raksa yang semalam dilempar ke arahku. Kenapa tiba-tiba ada di badanku gini, ya? Seingat ku semalam aku mengembalikan jaket ini ke dia.


Aku perlahan menuruni tangga ranjang ini sambil membawa jaket itu. Mencium aroma benda itu, takut kalau bau iler ku nempel di sana. Wangi bunga mint, wah segar banget parfum Mas Raksa.


Setelah memastikan jaket itu tidak bau, ku lipat dengan rapih dan menaruhnya di atas kasur Mas Raksa, sambil di dalam hati mengucapkan terima kasih.


Lalu aku mengambil handuk dan baju ganti di lemari, setelah itu menuju kamar mandi.


Tak lama setelah mandi, aku menuruni anak tangga menuju meja makan. Hari ini hari kedua kami liburan di Puncak. Berarti besok hari terakhir kami di sini, rasanya aku ingin selalu bersama mereka. Tak tahu kenapa sejak semalam perasaanku tidak enak, alias aku takut kehilangan atau jauh dari mereka.


Ku lihat mereka duduk di kursi meja makan, sedang sibuk menyendok makanan ke atas piring masing-masing.


"Morning semuanya." Sapa ku, semuanya sontak melihat ke arahku sambil tersenyum. Kecuali om-om satu itu, melihatku dengan ekspresi datar.


"Pagi manis, sini duduk sebelah, Om." Rayu Mas Damar yang membuatku sedikit ngeri.


Aku memutuskan duduk di sebelah Mas Damar dan di depan Mas Raka, memang di sana satu-satunya kursi kosong. "Sumpah, Mas Damar udah cocok banget jadi Om genit."


Hampir semuanya tertawa, kalian tahu lah yang tidak tertawa siapa. "Om genit ke kamu doang kok sayang." Kata Mas Damar, semakin lama aku semakin geli.


"Udah ah, Mas. Geli lama-lama."


Mas Damar terkekeh, "hahaha. Makan yang banyak, biar kuat menghadapi nyeseknya hati."


Deg, rasanya kok Mas Damar nyindir aku, ya? Apa dia tahu perasaan yang salah dan tidak seharusnya ada ini?


Aku tersenyum singkat, setelah itu mengambil piring dan mengambil satu centong nasi. Setelah itu mengambil satu ikan bawal, tempe, dan sedikit sambal.

__ADS_1


Rasanya aku makan sambil berpikir keras tentang ucapan Mas Damar tadi.


"Hm, hari ini pada mau ke mana?" Tanya Mamah sebagai pembukaan perbincangan kami semua.


"Emang Mamah mau kemana?" Tanya balik Mbak Humeera. Aku hanya menyimak, karena hari ini tidak niat ke mana-mana.


"Mamah sama Tante mau ke swalayan buat belanja kebutuhan barbeque besok."


"Caeera ikut dong. Bingung juga mau kemana."


"Aku juga, mau beli beberapa makanan ringan." Saut Mbak Humeera.


"Aeera, mau ikut juga?" Tanya Tante Edrea.


Sebelum aku menjawab, sudah ada yang mewakili tanpa persetujuan ku.


"Hari ini kami ingin ke kebun teh, Tan." Sontak mataku melihat orang yang duduk di depan, padahal tidak ada persetujuan dariku.


"Emm. Aeera harus bantu kita ya, Ed? Kita kurang orang kan?" Aku sedikit bingung dengan ucapan Mamah, tumben dia mau aku ikut dalam urusan dapur. Biasanya kan dia menolak, karena bukannya membantu aku malah merepotkan.


"Sudah ada Caeera dan Humeera loh, Mbak?"


"Gak papa, Tan. Aku ikut ke supermarket—" naasnya ucapan ku disela oleh Mas Damar.


"Damar juga ikut kok Tan, siap bantu para wanita."


Dengan senang hati aku mau ikut ke swalayan, karena dari awal sudah tidak ingin ke kebun teh bersama Mas Raksa.


"Aeera sama Raksa ke kebun teh saja, nikmati suasana di sini. Sebelum kembali ke Jogja kan?" Aku enggan menjawab, memilih untuk melanjutkan makan. Jujur saja, hari ini malas untuk bicara banyak.


Beberapa menit kami menyelesaikan sarapan, yang lain sudah berangkat ke swalayan menggunakan mobil Tante Edrea. Sedangkan aku sedang mencuci piring di dapur, karena tumben sekali Mamah menyuruhku untuk melalukan hal ini.


Tak lama aku selesai mencuci piring, ingin kembali ke kamar, aku melihat Mas Raksa masih duduk di bangku meja makan tadi.


Baru saja ingin menginjak anak tangga pertama, langkah kakiku terhenti karena ucapan dia. "Mau kemana?"


"Hm, ke kamar, Mas. Tidur. Semalem gue gak bisa tidur, jadi masih ngantuk." Jawabku sedikit mengarang.


Mas Raksa bangkit dari duduknya dan berdiri di belakangku, "kamu berbohong?"


Dengan cepat ku geleng kan kepala, "jelas-jelas semalam tidur kamu nyenyak sekali," Seketika aku memejamkan mata karena malu, walaupun wajahku tidak dapat dilihat oleh dia. "Sampai saya selimuti jaket kamu tidak terbangun."


Deg. Mataku membuka seketika. Jadi, jaket itu dia yang memasangkan ke tubuhku? Haduh, kalau Mbak Caeera lihat gimana ya? Aku jadi was-was gini. Tapi kalau boleh jujur, saat ini jantungku berdegup lebih kencang. Rasanya tidak bisa dikendalikan.


"Em, itu. Sebenarnya," aku bingung harus beralasan apa lagi.


"Lalu, jaket saya mana?"


Ku balikkan badan ke arah dia, menyengir sesaat. "Itu di kasur lo. Tadi gue cium nggak bau kok, jadi gue kembaliin deh."


"U, udah bilang makasih juga. Di dalam hati." Lanjut ku, suaraku semakin memelan.


Mas Raksa memandangku datar, "pinjam bersih, kembali juga harus bersih. Selama di sini, kamu harus pakai jaket itu. Kembalikan saat sudah di Jakarta, dalam keadaan bersih."


Aku memutar bola mata, "saya tidak mau ada setetes air liur kamu di sana."


Aku mendengus, kalau gitu kenapa lo pinjemin, Bambang.


"Yaudah tunggu, gue cuci sekarang. Nanti kalo udah wangi langsung gue balikin."


Mas Raksa menautkan alisnya, "kamu tidak menyimak ucapan saya?"


Ya Tuhan, salah mulu kayaknya.


"Saya bilang, selama di sini kamu gunakan itu. Kembalikan saat sudah di Jakarta." Aku memilih diam, mau jawab apapun akhirnya juga salah kok.


"Saya tunggu di depan." Lanjutnya, dia jalan ke luar Villa. Rasanya ingin menonjok dia dari belakang, kalau perlu ku tendang biar encoknya kambuh. Huh, nyebelin!


Dengan tergesa aku mengambil jaket itu ke kamar, setelah itu memakainya dan turun menghampiri Mas Raksa yang sudah berdiri menyandar pada kolom teras.


Dia melihatku sejenak, "sudah?"


Sumpah, dia kenapa sih akhir-akhir ini dingin banget. Apa ada yang salah ya sama aku, tapi aku sendiri bingung punya salah apa. Dia seakan ngomong sama aku tuh kalau ada perlu saja, dan itu juga sesingkat mungkin.


Aku hanya mengangguk, lalu dia berjalan membuka pagar. Aku mengikuti dari belakang. Setelah itu pager ditutup kembali.


Kami berjalan beriringan, awalnya aku ragu untuk menyamai langkah kaki dia. Tapi langkah kakinya kali ini seirama denganku, tidak seperti saat di Mall waktu itu.


Kami berjalan sambil memasukan ke dua tangan di saku jaket, hawa di sini cukup dingin.


"Kebun teh nya jauh gak, Mas?" Tanyaku, berusaha memecah keheningan juga. Aku merasa aneh kalau dia diam terus, tidak seperti Mas Raksa yang aku kenal.


Dia melihat lurus ke depan, "lumayan."


"Oh." Jawabku singkat, karena dia juga menjawab singkat.


Aku mencoba cari topik lain, "kenapa gak sama Mbak Caeera aja ke sananya, Mas?"


Pertanyaan itu berhasil membuat dia melihat ke arahku sejenak, "maunya sama kamu."


Tiga kata itu mampu membuat jantungku berdegup kencang. Kayaknya aku mulai gila, sebisa mungkin perasaan ini harus aku bendung. Perasaan terlarang ini, aku merasa sangat berdosa kalau terus meladeni ini semua.


Dia melanjutkan, "karena di sana banyak teh yang baru tumbuh, sama halnya dengan kamu."


Aku hanya bisa berkata, "maksudnya?" Sudah berapa kali aku terlihat bodoh di mata dia, jelek, bodoh, rakus, bocah, apalagi ya?


"Belum pernah merasakan sebuh petikan. Jadi belum matang betul."


Aku hanya diam menyimak, intinya aku tidak paham dengan ucapannya. Kalau terus bertanya, nanti dia malah badmood.


"Kamu paham dengan ucapan saya?" Aku hanya menggeleng. "Kenapa tidak tanya?"


Menyengir sejenak, "hehe. Nanti kalau gue tanya terus, takutnya lo risih kayak kemarin." Jawab ku jujur.


Ku rasa Mas Raksa membuang napas perlahan, "kamu tidak pernah membuat saya risih, Aeera."


"Kemarin, waktu di kamar. Kayaknya lo risih banget sama gue, sampai di suruh mundur segala. Lo, ilfeel, ya?"


Mas Raksa menatap wajahku sejenak, setelah itu melihat lurus kembali. "Bukan, ada hal lain yang harus saya hindari."


"Lo, hindarin gue?" Dia mengangguk. "Kenapa?"


"Kamu tidak perlu tahu."


"Ya kalau gitu, lo kenapa ajak gue ke kebun teh kalau mau menghindar dari gue?"


"Kamu tidak akan mengerti. Diam jangan bahas hal itu lagi."


Aku mendengus, dasar aneh, tadi suruh tanya kalau gak paham. Sekarang suruh diam.


"Kalau masalah tadi, teh yang baru tumbuh sama dengan kamu. Masalah hati, belum pernah merasakan dipetik. Jadi, belum mengerti mengenai perasaan."


Aku mencibir, "enak aja, ada orang yang berhasil petik hati gue tau!"


Dia tersenyum sinis, "masa lalu kamu? Itu hanya membuat kamu nyaman, tidak lebih."


Ya Tuhan, rasanya pengen nangeees.


"Aeera!" Sontak aku menengok ke sumber suara, di belakang Mas Gema sedang lari santai.


"Mas Gema!" Sapa ku balik.


"Pagi, Bang." Sapa nya untuk Mas Raksa, yang disapa hanya diam.


"Tumben berdua?" Tanya Mas Gema kepada ku.


"Istilah tumben itu, kalau hal yang baru dilakukan biasanya tidak dia lakukan. Istilah biasanya itu, hal yang dia lakukan sudah beberapa kali. Intinya, Aeera baru sekali sendiri."


Ucapan Mas Raksa panjang tapi seakan nyakitin. Aku sedikit memukul pinggang dia, lalu tersenyum sungkan ke Mas Gema.


Aku takut Mas Gema merasa tidak nyaman di sini. Lagipula untuk apa Mas Raksa berbicara seperti itu.


"Eh, iya, Mas. Ini aku mau ke kebun teh." Jawabku sambil tersenyum, aku dari tadi memegang pinggang Mas Raksa. Kalau-kalau dia ingin berbicara lagi, bisa ku tarik jaketnya.


"Wah seru tuh. Berdua aja?"


Lagi-lagi sebelum ku jawab, "iya, berdua. Dan tidak menerima orang lain." Aku hanya bisa menarik jaket Mas Raksa. Ya ampun, Kata-kata nya itu seakan mengusir Mas Gema.


"Ahahaha." Tawaku kaku. "Iya, Mas. Mau join?"


Mas Gema tersenyum sinis ke arah Mas Raksa, "Engga, Aeera. Kapan-kapan kita jalan berdua lagi, ya. Kalau gak ada yang mau temenin kamu, aku siap nemenin kamu ke mana aja." Lagi-lagi aku tersenyum kaku, setelah itu melihat raut wajah Mas Raksa, berubah lebih menyeramkan sambil melihat Mas Gema.


Aku yang berada di antara mereka hanya bisa menggenggam jaket Mas Raksa, seakan mengatakan tenang Mas jangan kepancing emosi. Padahal kalau dipikir-pikir, seharusnya Mas Raksa tidak akan marah. Toh, apa yang diucapkan Mas Gema benar adanya.


"I, iya, Mas." Jawabku gugup.


"Oke, chat aja kalau ada apa-apa. Aku duluan ya, bye." Ucapnya sambil melanjutkan lari santai.


"Hehe. Bye, Mas Gema." Jawabku sambil melambaikan tangan ke arah Mas Gema. Belum selesai melambai, tanganku sudah di genggam erat oleh Mas Raksa.


Aku sempat ingin melepas genggaman itu, tapi tidak bisa. "Mas. Emm, aku kan bukan anak kecil. Gak akan hilang kok, Mas." Sindir ku agar dia sadar dan segera melepas gandengannya.


"Supaya kamu tidak asal goodbye ke cowok lain."


Lagi, jantungku berdegup kencang. Rasanya pipiku sudah merah karena ucapan Mas Raksa tadi. Ya Tuhan, jauhkan perasaan terlarang ini. Aku tidak mau menghianati Mbak ku sendiri.


...🐣...

__ADS_1


__ADS_2