Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 15


__ADS_3

Hari ulang tahun Mbak Caeera tiba, orang suruhan Mamah di bawah sudah sibuk mempersiapkan pesta. Sudah aku bilang kalau pesta ini cukup mewah. Konsep acara ini berwarna putih, sampai mengundang organ tunggal untuk meramaikan pesta.


Aku di kamar sedang merapihkan pakaian, pakaian ku cukup anggun hari ini, karena Mamah menyuruhku untuk bernyanyi nanti. Sebenarnya agak grogi, tapi sekali-sekali juga tidak masalah. Aku kembali menyisir rambut, kali ini rambut ku gerai, ku lihat pantulan wajah di kaca. Cantik juga aku hari ini.


Wajahku juga sudah dipoles sedikit make up, tadi Mbak Humeera sibuk memaksaku untuk mau dirias. Perasaanku pagi ini cukup senang, karena tadi mendapat pesan selamat pagi dari Mas Raksa. Pesan singkat namun cukup membuat aku tersenyum.


"La.. La.. La.." Senandung dari mulutku.


Aku bersenandung sambil memiringkan badan dan melihat ke kaca, lalu berputar sambil melonggarkan gaun yang aku kenakan. Tidak bisa dipungkiri, pesan dari Mas Raksa sangat berpengaruh untuk hariku.


Sekali lagi ku lihat kaca, sepertinya sudah beres. Aku lalu bergegas keluar kamar. Menuju ke ambang lantai dua, melihat ke bawah, sudah hampir selesai rupanya. Perlahan ku langkahkan kaki menuruni anak tangga, lalu menghampiri Mbak Humeera yang sedang memantau para pekerja.


"Udah hampir beres, Mbak?"


"Eh, Ae." Mbak Humeera melihatku dari ujung kaki sampai rambut, "kamu cantik banget, loh." Pujinya, aku hanya tersenyum malu.


"Makasih."


Dia tersenyum sambil menyentuh bahuku, "udah delapan puluh persen, kok. Tinggal tunggu tamu datang, sama Mbak Cae masih dandan di kamar." Jelasnya.


Aku tidak sabar melihat penampilan Mbak Caeera, pasti sangat cantik sekali. Aku tersenyum membayangkan betapa mempesonanya kakak ku satu itu.


"Gak sabar deh mau lihat Mbak Caeera, pasti cantik banget."


"Pasti dong," ucapnya setuju. "Eh, kamu udah cek makanan?"


"Oh iya, aku belum cek lagi, udah lengkap atau belum." Jawabku.


Aku langsung bergegas ke arah makanan, ditata secara prasmanan. Ku lihat menu yang ada, cukup banyak dan nampaknya sudah lengkap. Aku keliling melihat suasana ruang tamu sekaligus ruang keluarga menjadi indah, banyak bunga dan kain putih. Nuansanya sangat nyaman.


Oh iya, aku juga penasaran dengan penampilan Mas Raksa. Pasti dia semakin tampan hari ini.


Sungguh tidak sabar.


...🐣...


Pukul sepuluh pagi, hampir semua tamu sudah tiba. Mas Raksa pagi ini juga sungguh menawan, menggunakan setelan jas putih, rambutnya juga rapih. Semakin terkesima aku dengan karismanya.


"Kamu cantik begini tidak takut ditaksir sama pria lain?" Ucapnya sambil memegang secangkir air putih, padahal di sini banyak minuman soda.


Aku yang dari tadi sibuk makan es krim padahal belum waktunya makan, langsung tersenyum malu.


"Gapapa, Mas. Biar gue laku."


"Bukan tidak laku, kamu nya saja yang tidak mau." Ucapnya, aku tolak semua pria kan karena dia.


Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan makan es krim.


"Karena sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, kita akan memulai acara ulang tahun hari ini." Ucap pembawa acara.


Semua tamu yang sibuk berbincang langsung diam mendengarkan pembawa acara berbicara. Namun dari tadi aku belum melihat Mbak Caeera dan Mamah.


"Hei, cantik banget kamu, Dek." Sapa Mas Damar yang baru datang menghampiri kami, "mau gak jadi pacar, Mas?" Tanya dia sambil menaik turunkan alisnya.


Aku mendelik geli, "Ish, Mas!"


"Bercanda, sayang." Ledeknya sambil menoel daguku.


Mas Raksa sedikit menyingkirkan tangan Mas Damar, "kalem, boss." Kata Mas Damar.


"Karena yang berulang tahun belum kelihatan, mari kita panggil, Caeera Nayana Barsha!" Seru sang pembawa acara sambil meregangkan tangannya ke arah tangga.


Sontak semua tamu termasuk aku memfokuskan pandangan ke arah tangga. Aku sangat terkejut melihat penampilan Mbak Caeera.


Dia sangat cantik!


Dengan menggunakan gaun putih elegan bermotif bunga emas, dan rambut disanggul modern beberapa poninya dibiarkan jatuh ke bawah, juga make up yang tipis dipoles ke wajahnya. Sungguh hari ini dia sangat mempesona, bohong jika laki-laki tidak tertarik.


Semua hampir tidak berkedip, ku lihat Mamah dan Tante Edrea sibuk berjalan di belakang Mbak Caeera sambil mengangkat gaun yang dapat menyapu lantai. Mbak Caeera tersenyum simpel ke arah tamu. Senyuman itu dapat menyebabkan diabetes, karena sangat manis.


"Gila, Caeera natural aja cantiknya astagfirullah. Apalagi kalau gini, bidadari nyasar." Puji Mas Damar, aku tersenyum mendengar itu. Benar apa yang dikatakan Mas Damar, kecantikan Mbak Caeera tidak manusiawi.


Aku tidak mendengar pujian sedikitpun dari Mas Raksa, ku lirik sejenak, dia hanya melihat Mbak Caeera menuruni anak tangga. Mungkin saking terkesima nya, dia sampai tidak dapat berkomentar. Sungguh manusiawi.


Mbak Caeera jalan ke panggung yang sudah dilapisi karpet putih, di atas sana juga sudah ada kue ulang tahun yang cukup besar.


"Wah, wah. Yang ulang tahun hari ini cantik sekali, pantas saja para tamu semuanya semangat."


Para tamu sedikit tertawa, yang dipuji hanya senyum simpel.


"Mbak gue tuh, cantik banget kan?" Ucapku bangga kepada kedua orang yang berdiri di sampingku.


"Kadang aku mikir, Dek. Kalian berdua sebenarnya saudara kandung gak sih?" Pertanyaan Mas Damar sama seperti pikiranku.


Aku mengelus dagu, "jangankan Mas Damar, aku aja juga ragu."


"Cantik, belum tentu menarik. Cantik akan kalah dengan rasa nyaman. Cantik belum tentu membuat rindu." Bisikan itu membuat aku merinding. Aku diam tak menggubris bisikan Mas Raksa.


"Oke. Kita mulai acara pertama, ya. Yaitu meniup lilin, sebelumnya Caeera make a wish dulu, ya!"


Para tamu tepuk tangan sejenak, aku pun ikut meramaikan. Tepuk tangan sambil sesekali bersiul.


Setelah Mbak Caeera make a wish, "amin, semoga cepat dapat jodoh, ya." Ucap sang pembawa acara.


"Aminn." Saut para tamu. Aku hampir terbahak melihat itu semua.


Mbak Caeera hanya tersenyum, setelah itu dia meniup lilin dengan anggun. Tiba-tiba party popper meledak dari samping kanan dan kiri, kertas warna warni berterbangan, dan dibarengi dengan lagu selamat ulang tahun dari Jambrud.


Hari ini hari yang kau tunggu


Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu


Yang kuberi bukan jam dan cincin


Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati


Maaf, bukannya pelit


Atau nggak mau ngemodal dikit


Yang ingin aku beri padamu doa s'tulus hati


S'moga Tuhan melindungi kamu


Serta tercapai semua angan dan cita-citamu

__ADS_1


Mudah-mudahan dib'ri umur panjang


Sehat selama-lamanya


Aku bernyanyi sambil sedikit menari, sesekali siulan ku keluar dari mulut. Hari ini aku sangat bahagia, melihat Mbak Caeera dan semua tamu bahagia.


Setelah musik berhenti, "ada sepatah dua patah gak dari kamu, cantik?"


Pembawa acara itu memberikan microphone ke Mbak Caeera.


Dia sedikit tertawa, "terima kasih, Mas Ferdi."


"Hallo semua, terima kasih sudah mau datang ke acara ulang tahunku. Terimakasih juga ke Mamah dan saudara-saudara yang udah bantu buat acara semeriah ini. Aku semakin dewasa, semoga makin membanggakan keluarga. Aku sayang kalian semua!" Ucapan itu cukup membuat mataku berkaca.


Lalu microphone kembali diberikan ke pembawa acara, "oke, sungguh menyentuh sekali, ya. Hampir aja saya bengek." Perkataan pembawa acara berhasil merubah suasana kembali ceria, hampir semua tamu tertawa.


"Hahaha. Sekali lagi selamat ulang tahun ya buat Caeera. Nah, waktunya potong kue, kasih kue ke orang yang spesial!"


"Ini nih momen yang mendebarkan, Kira-kira siapa ya orang itu." Lanjut sang pembawa acara.


Mbak Caeera sedikit tertawa, lalu dia mengambil pisau dan memotong kue ulang tahun yang cukup besar itu. Setelah itu dia berbisik ke Mas Ferdi.


"Mamah? Oke, Mamah mohon ke atas panggung."


Aku tersenyum, rasanya bahagia sekali melihat Mamah tertawa haru. Aku lihat Mamah mencium pipi Mbak Caeera, setelah itu dia menerima sepiring kecil potongan kue ulang tahun.


"So sweet." Keluh Mas Ferdi, "Caeera, cowok yang spesial ada?"


Semua hening, termasuk Mbak Caeera. Dia menatap semua tamu, diam sejenak, lalu dia menggeleng sambil tersenyum.


"Wah, berarti peluangnya masih besar kawan-kawan." Lagi-lagi ucapan Mas Ferdi membuat suasana cair kembali.


Di sini, aku tersenyum sambil berpikir, berarti apa yang diucapkan Mas Raksa benar adanya. Mereka memang tidak memiliki hubungan khusus. Aku semakin yakin dan semakin mencintai dia.


"Kalau gue bukan saudaranya, udah gue pepet tuh!" Ucap Mas Damar semangat.


"Semuanya aja, Mas."


"Dianya yang gak mau sama lo." Saut Mas Raksa.


"Maunya sama lo kali, Sa?" Ucapan itu membuat aku bergeming.


"Ngaco!"


Mas Ferdi kembali berbicara, "saya mendengar suara aneh. Ternyata bunyi perut saya, hehehe."


"Kalau begitu, acara selanjutnya, para tamu diperbolehkan makan dengan puas!!!"


Para tamu tersenyum sambil menuju tempat makanan yang mereka mau, ruangan ini dipenuhi dengan lagu yang dimainkan oleh organ tunggal.


Aku, Mas Damar, Mas Raksa, Mbak Humeera, dan Mbak Caeera berkumpul di satu meja. Kami berdiri mengelilingi meja itu, memang di sini tidak disediakan kursi.


"Gimana, Mar? Ada yang cakep gak?" Pertanyaan itu keluar dari mulu Mbak Humeera.


Mas Damar menggeleng, "kurang, gak ada yang menarik."


Aku dengan cepat menelan daging satai, "Mas Damar tertarik ke Mbak Caeera, tuh!!"


Mbak Caeera memicing kan matanya, "idihh, ogah gue!"


"Lo maunya sama yang kayak gimana sih? Kayak Raksa? Susah banget kecantol sama cowok."


Aku juga heran, kenapa semua diam sesaat seperti ini?


"Kecantol pala kau, lo pikir baju dicantol-cantol." Jawab Mbak Caeera, "gue lagi dandan feminim, ya. Jangan sampai lo gue makan!"


Semua tertawa mendengar ancaman dari Mbak Caeera, termasuk Mas Raksa.


"Yang gue mau tuh, yang setia. Gak kayak lo, lirik sana lirik sini." Lanjutnya.


Mas Raksa menyaut, "dengerin tuh, Mar. Saudara lo aja ogah sama lo. Hahaha."


"Iya deh iya, nanti gue cariin yang setia." Ucap Mas Damar.


"Aku juga mau!" Saut Mbak Humeera.


"Aku juga!!" Aku pun tidak mau kalah. Walaupun ucapan ku mendapatkan lirikan tajam dari Mas Raksa.


"Yeh, malah kayak biro jodoh, gue."


Kami tertawa ringan.


"Okeee! Sudah kenyang, semakin bertenaga. Mari kita masuk ke acara yang sangat penting pada pesta ini."


Aku bertanya-tanya, acara sangat penting? Acara apa?


"Caeera, ayo naik ke panggung lagi. Sini temani saya, biar gak jomblo banget."


Mbak Caeera tersenyum, lalu berjalan menuju panggung. Mbak Humeera sontak mengangkat gaun belakang yang dikenakan oleh Mbak Caeera.


"Acara penting apa?" Tanyaku pada kedua pria yang berada di sebelah ku.


"Mas juga gak tau." Jawab Mas Damar.


"Entah."


Suara Mas Ferdi terdengar lagi, lama-lama Mas Ferdi ini meresahkan, ya.


"Bidadari sudah berada di atas panggung. Sekarang Bu Arkadewi silakan bergabung."


Aku semakin bingung, ku lihat Mamah jalan menuju ke panggung. Lalu dia mengambil alih microphone, wajahnya penuh dengan senyuman.


"Baik. Selamat siang semuanya."


"Siang."


"Di acara yang tepat ini, saya hanya ingin menyampaikan wasiat atau pesan dari mendiang teman saya."


Para tamu saling pandang, aku pun mengerutkan kening sambil fokus ke arah Mamah.


"Dimana beliau berpesan agar menikahkan putri saya dengan putranya."


Aku semakin kaget. Begitupun para tamu. Siapa yang akan dinikahkan? Mbak Caeera dengan siapa?


"Putri saya Caeera Nayana Barsha dengan Putranya," jantungku berdegup kencang, kalau Mamah menyebutkan namanya berarti orang itu ada di sini sekarang?

__ADS_1


"Raksa Agler Buana."


Deg. Seketika jantungku melemah. Bukan hanya itu, rasanya imun tubuhku juga merasakan hal yang sama.


Apa ini? Perjodohan antara Mas Raksa dan Mbak Caeera? Apa aku bermimpi?


Mataku berkaca, sebisa mungkin aku menahan agar tidak jauh. Aku hanya bisa diam menatap ke depan, tak sanggup melihat dia yang sekarang berdiri di sebelah ku.


"Kesini, Nak." Lanjut Mamah.


Aku melihat Mas Raksa berjalan ke arah panggung, sempat menengok melihat ku. Aku dibodohi? Aku dipermainkan? Ada apa dengan semua ini?


Mas Damar mencoba merangkul bahuku, namun perlahan aku jatuhkan tangannya. Aku tidak perlu gerakan menenangkan kali ini, aku tidak bisa tenang. Sedikitpun tidak.


Setelah kepercayaan ku akan bersama dia untuk selamanya. Setelah kepercayaan ku akan arti penantian ku selama ini. Setelah kepercayaan ku menjadi wanita spesial dalam hatinya. Semua gugur, tercecer, pecah, dan berantakan.


Mungkin aku yang terlalu bocah, mungkin aku yang terlalu bodoh, memang aku yang mudah diperdaya dan dipermainkan. Spontan air mataku menetes dan aku hanya bisa membuangnya dengan cepat.


"Ibu Nak Raksa berpesan untuk menjodohkan anak kami, jadi saya umumkan perjodohan hari ini. Mereka akan bertunangan pada waktu dekat. Semakin cepat maka semakin baik, karena amanah harus segera dilaksanakan." Semua tamu bertepuk tangan, banyak bisikan kalau mereka berdua memang sangat cocok.


Dadaku semakin sakit, air mataku semakin membanjiri pipi. Aku sangat tidak menyangka semua ini terjadi, jika memang akan semenyakitkan ini, kenapa hari kemarin aku harus terbang tinggi mengepakkan sayap? Dan hari ini aku harus jatuh tersungkur ke jurang yang begitu dalam.


Jika akhirnya akan semenyakitkan ini, untuk apa kami dipertemukan kembali, kalau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.


"Wahhh, memang pasangan yang serasi, ya."


"Sekarang saatnya adik tercinta dari Caeera akan mempersembahkan sebuah lagu. Dengar-dengar suaranya merdu sekali loh."


Aku bergeming, sebisa mungkin aku harus menguasai diri. Bukan saatnya untuk menangis. Bukan saatnya untuk meratapi semua yang terjadi.


"Aeera, are you okay?" Pertanyaan dari Mas Damar tidak ku jawab sama sekali, karena aku berpikir mereka semua sangat tega menyembunyikan ini dariku.


Aku kecewa.


Berusaha untuk tenang, menegakkan badan, aku berjalan ke arah organ tunggal di sebelah panggung. Aku enggan melihat semua orang, mataku hanya tertuju pada microphone, gitar, dan kursi yang sudah disiapkan.


Aku duduk di kursi itu, air mataku ingin menetes kembali. Tapi, aku harus berusaha untuk tenang.


Tegar, Aeera, semua akan baik-baik saja. Tuhan akan selalu bersama kamu.


Perlahan aku memetik gitar, mataku enggan melihat para tamu dan keluarga yang sudah memusatkan pandangannya ke arahku. Aku hanya mampu menunduk melihat senar gitar.


Kau pernah janji tak menyakiti


Tapi berulang kali kau lukai hati


Janji tak ditepati


Seakan tak pernah peduli


Kita tak sama, tak lagi sama, hoo


Wajahku angkat, aku menutup mata, karena semua ini terlalu menyakitkan.


Jangan pernah lagi singgah


Jika tak punya sungguh-sungguh


Jangan menyakiti


Jika tak mengobati


Jangan pernah datang lagi


Jika hanya berujung pergi


Tak perlu lagi perbaiki


Kau datang hanya untuk pergi


Aku membuka mata, melihat tepat ke arah sana. Dia yang pernah pergi, datang, dan sempat membuat aku terbang. Kini, dia hanya membuat luka hatiku semakin perih, dia hanya membuat aku semakin kecewa.


Aku menatap matanya, tatapan penuh tanya. Kenapa dia sungguh tega? Air mataku mulai menetes, sungguh bodoh! Aku tidak bisa menahannya, ini sungguh memalukan.


Janji tak ditepati


Seakan tak pernah peduli


Kita tak sama


Tak lagi sama


Jangan pernah lagi singgah


Jika tak punya sungguh-sungguh


Jangan menyakiti


Jika tak mengobati


Kau takkan mengobati


Air mataku semakin banyak menetes, aku tidak bisa menepisnya dengan tangan. Kali ini aku menyanyi dengan hati, hati yang tersakiti, yang penuh luka segar. Aku kembali memejamkan mata, berharap air mata ini tidak lagi menetes jika tidak melihat dia.


Jangan pernah lagi singgah


Jika tak punya sungguh-sungguh


Jangan menyakiti


Jika tak mengobati


Jangan pernah datang lagi


Jika hanya berujung pergi


Tak perlu lagi perbaiki


Kau datang hanya untuk pergi


Kau datang hanya untuk pergi


Aku menarik napas dalam, menunduk sambil memejamkan mata. Tanganku menggenggam erat gitar yang ada di pangkuan ku.


Tuhan, jika memang kami tidak akan menyatu, untuk apa pertemuan ini? Untuk apa ada perasaan terpenuhi dari rasa penantian selama ini? Jika memang aku akan tersakiti, untuk apa ada rasa percaya jika semua akan baik-baik saja? Apakah kembali bertemu hanya untuk kembali berpisah?

__ADS_1


Tuhan, aku akan melepaskannya. Aku akan pergi dari kehidupan dia, membawa luka yang akan ku kenang sepanjang masa.


...🐣...


__ADS_2