
^^^Hari ke tiga di Jakarta, 00.45 WIB.^^^
Sekarang aku over thinking. Setelah beberapa menit mandi, aku memutuskan duduk di balkon kamar. Di sana sudah tersedia karpet halus berbulu hangat dan meja kecil, juga ada bantal untuk aku menyangga tangan. Suasana seperti ini sudah lama sekali tidak aku rasakan. Tak lupa di samping ku juga ada gitar cokelat tersandar ke dinding.
Jika aku sedang merindukan seseorang, aku akan duduk di sini sambil memetik gitar dan menyanyikan lagu yang ku rasa cocok dengan suasana hati. Tapi, jika di rumah Mbah, karena tidak ada balkon aku memilih duduk di mbayangan teras rumah yang terbuat dari kayu sambil memainkan gitar kecil peninggalan Mbah Lanang dan sesekali menyeruput teh tubruk.
Di sini, aku merindukan seseorang yang telah lama menghilang dari hidup ku. Tapi, rasa ini bukannya ikut menghilang malah bertumbuh layaknya dikasih pupuk. Aku berharap kala dia semakin pergi dari ku, rasa ini juga perlahan ikut menghilang. Namun nyatanya itu gagal. Aku di sini diserang bara rindu, walau aku tidak tahu keberadaannya kini. Hati ku selalu untuk nya, apa mungkin hatinya sedikit saja untuk ku?
Aku mengambil gitar cokelat di samping, perlahan jariku memetik satu persatu senar gitar. Tak sadar air mata ku mulai turun, otomatis aku langsung menepisnya. Untuk apa menangis? Biarlah ini hanya menjadi kenangan manis, oh bukan. Tentu saja pahit jika semakin diingat.
Dengan sekuat hati, aku memetik gitar dan mulut ku mulai menyanyikan suatu lagu yang menurutku cocok untuk keadaan ini.
Ku hampiri jalan yang kita lewati
Setiap hari kita disini
Ku menanti hadirmu tuk kembali
Hanya kenangan yang tersisa disini
Namun skarang kau tlah pergi dan ku yakini kau takan kembali
Aku memejamkan mata mengingat kembali hari-hari bersamanya, walaupun kala itu usia ku masih dibilang sangat belia, tapi entah kenapa hati ini sudah menggenggam erat hatinya. Semakin aku dewasa rasa ini juga semakin membara.
Mungkin hari ini
Hari esok atau nanti
Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini
Mungkin hari ini
Hari esok atau nanti
Tak lagi saling menyapa
Meski ku masih harapkan mu
Jujur, aku sangat berharap dia kembali. Memberitahu alasan kenapa dia pergi, pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku salah? Aku melukai perasaannya? Tapi aku tidak tahu salah ku dimana.
Sesungguhnya hatiku
Tak sanggup menerima
Dan lupakan segalanya
Mungkin hari ini
Hari esok atau nanti
Meski ku masih harapkan mu
Ku relakan mu
Tidak, sedikit pun aku tidak merelakan dia pergi. Aku masih berharap dia akan kembali, bahkan bukan harapan lagi, tapi aku meyakini itu. Aku yakin dia akan kembali dan memberikan alasan yang logis kenapa dia tiba-tiba pergi, mungkin itu hanya hayalan karena realita tidak akan seindah ekespetasi.
Mas Buana.
Angin malam menerjang tubuhku, membuat helai demi helai rambut hitamku terbang tak beraturan. Aku meletakkan gitar, merangkul lutut dan memejamkan mata. Apa aku harus terus terjebak dalam perasaan ini? Apa aku tidak layak untuk pergi mencari celah yang lebih terang. Sejujurnya aku lelah menanti dia, tapi karena dia hatiku sampai saat ini tidak bisa menerima orang lain. Seakan sudah ada pemilik dan kuncinya sedang berkenala bersamanya.
Cukup lama aku mengenang kembali tawa bahagia bersama Mas Buana, ponsel ku berdering. Aku membuka mata dan segera menghapus air mata yang ternyata gagal untuk aku tahan. Segera aku mengambil ponsel yang terletak di meja kecil. Ada pesan dari nomor tak dikenal.
Aku sedikit mengernyit, siapa? Tumben saat libur seperti ini ada yang memberi ku pesan. Biasanya ponsel ini akan sepi seperti hati.
Karena tidak mau membalas pesan dari orang asing, aku melihat profil nomor ini.
Kalian tahu dia siapa?
Sedikit tidak percaya, karena aku pikir dapat dari mana dia nomor telepon ku. Aku melihat nama yang berada di profilnya.
What? Dia dapat nomor ku dari mana? Dan untuk apa dia mengirim pesan kepada ku selarut ini?
Aku menyipitkan mata, siapa tahu salah bacakan? Namanya juga baru selesai nangis. Tapi, aku seperti nya tidak salah baca dia memang mengirim pesan itu.
Aku meletakkan ponsel ke atas meja kecil, masuk ke kamar untuk mengambil minum. Sambil berpikir, Mas Raksa dapat nomorku darimana? Setelah mengambil sebotol minum air putih, aku kembali ke balkon. Memang keadaan sangat sunyi dan dingin. Sebagian orang pasti berkata itu menyeramkan. Tapi aku nyaman.
Aku kembali mengambil ponsel, ternyata sudah ada balasan dari Mas Raksa.
Apa dia tidak punya kerjaan? Cepat sekali balas pesan dari ku.
Aku kembali mengernyit, maksudnya? Dia tahu kalau aku masih di balkon? Kenapa dia bisa tahu? Seketika aku melihat sekeliling, gelap. Berdiri di ambang balkon dan melihat ke bawah. Tidak. Dia tidak ada di bawah kok, dia tidak ada di sekitarku. Lalu, dia kenapa bisa bilang seperti itu?
Bulu kudukku mulai berdiri.
Seketika aku memutuskan untuk berjalan cepat masuk ke dalam kamar, menutup pintu geser menuju balkon dan menarik gorden panjang untuk menutupi kaca bening pada pintu. Aku sedikit merinding. Apa dia psikopat?
Aku duduk di atas ranjang, ingin membalas pesannya namun berpikir ulang. Apa dia lebih cenayang dari Mbak Caeera?
Kling. Kembali pesan masuk dari dia.
Aku berada di puncak rasa takut dan emosi, apa sih maunya Mas Raksa? Aku memutuskan untuk membalas pesannya.
Aku memukul kening ku sedikit kencang, merasa bodoh. Untuk apa aku ketakutan karena pesan dari dia.
Ah, bodoh sekali kamu Aeera, pantas saja kamu ditinggal Mas Buana. Sudah anak kecil, bodoh lagi.
Aku menaruh ponsel ke meja nakas, memutuskan untuk membaringkan tubuh kemudian memeluk guling. Tak lama terdengar pesan masuk kembali. Aku melihat pada home screen, ternyata Mas Raksa mengirim pesan suara. Untuk saat ini aku tidak tertarik mendengarkannya, tidak tahu besok pagi. Jadi aku memutuskan untuk meletakkan ponsel ku kembali, dan berusaha untuk tidur.
Selamat malam Mas Buana.
...🐣...
Seperti rencana kemarin, hari ini aku harus ke rumah Tante Edrea untuk mengambil flashdisk yang dipegang oleh Mas Raksa. Sebenarnya aku bisa tidak usah datang, karena Mbak Caeera juga akan mengambilnya. Tapi, Tante Edrea mewajibkan ku untuk main ke sana lagi.
Aku yang dulu paling gemar main ke rumah Tante Edrea, sekarang seakan malas ke sana. Alasan satu-satunya karena malas bertemu Mas Raksa. Orang yang baru kenal denganku kemarin, tapi sok asik dan sok dekat. Tadi pagi aku sempat tanya Mas Damar melalui pesan online, sebenarnya Mas Raksa itu siapa? Ternyata dia anak dari temannya Tante Edrea, bisa terbilang dari aku pindah ke Jogja Mas Raksa baru tinggal di rumah Tante Edrea. Pantas saja sebelumnya aku tidak pernah melihat dia.
Mau tidak mau aku harus ke rumah Tante Edrea, karena sudah janji. Setelah mandi dan menggunakan pakaian, seperti biasa aku berfoto di depan kaca sambil berjongkok.
Mbak Caeera bilang Mas Damar akan menjemput ku pukul tiga sore. Tapi sekarang baru jam setengah tiga dan aku sudah duduk di teras rumah menunggu kedatangan sepupuku itu. Mbah bilang, waktu adalah peluang. Mbah selalu mengajarkan ku disiplin waktu, walaupun terlambat satu menit itu juga tidak boleh.
Ndok, ojo gelem karo cah lanang seng mbek wayah wae ora kelingan. Wayah kie mesti nggodak ndekne tapi ngunu ae dilalek ke, piye mbek kue?
Itu lah petuah dari Mbah, yang kira-kira artinya aku cantik. Bercanda, intinya jangan mau dengan laki-laki yang sama waktu saja tidak ingat. Padahal waktu selalu mengejar dia, tapi dia bisa lupa, gimana sama kamu?
Untuk menghilangkan jenuh, aku mengambil ponsel di dalam tas kecil hitam yang selalu aku bawa. Waktu tiga puluh menit lumayan juga untuk push level game yang sekarang sedang aku sukai. Aplikasi game itu mulai aku buka dan ponsel ku miringkan. Lumayan juga tiga puluh menit dapat meningkatkan dua level.
Ponsel kembali aku masukkan ke dalam tas, aku melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah menunjukkan pukul 15.02 namun Mas Damar belum juga sampai.
Awas aja, libur lebaran nanti aku aduin ke Mbah biar kena omel. Libur lebaran adalah hari dimana yang paling aku tunggu, keluarga ku yang tidak begitu besar kumpul di rumah Mbah. Kami menghabiskan waktu bersama seolah masalah semua beban dan masalah sudah tuntas begitu saja.
Menunjukkan pukul tiga lewat enam menit, sebuah motor besar berwarna cokelat hitam memasuki pagar rumah yang sudah dibuka oleh Bibi. Tadi sebelumnya aku minta tolong Bibi yang sedang merapihkan taman mini untuk membuka pagar. Aku berdiri di samping Mas Damar yang masih duduk di atas motor dan menggunakan helmet full face. Aku berkacak pinggang, ingin meneruskan nasehat Mbah yang hampir setiap hari menembus telingaku.
Kepala ku menggeleng, "Mas, Mas. Janji jam tiga, udah jam berapa? Tahu nggak? Mbah bilang harus on time! Kalau dalam hal waktu aja lupa, gimana sama wanita mu nanti."
Mas Damar membuka helm yang dari tadi dia kenakan, kaget bercampur malu ketika aku melihat bukan Mas Damar orang yang tadi aku ceramahi.
Tapi, Mas Raksa.
Untuk apa dia kesini?
"Kalau masalah wanita, saya tidak akan lupa dan akan setia." Hueek! Untung tidak keluar beneran ini isi perut, buaya sedang berbual. Apakah patut dipercaya?
"Lo-loh. Lo ngapain ke sini?" Aku melihat warna motor yang dia kendarai. Aeera ceroboh sekali, jelas-jelas warna motor Mas Damar kan merah hitam bukan cokelat hitam.
Kali ini aku malu sejadi-jadinya, sampai membuang muka ke arah lain. Takut muka ku menjadi warna merah.
"Saya kesini kan mau jemput kamu." Ucap Mas Raksa sambil turun dari motornya, dia menyisir kebelakang rambut yang sedikit panjang itu dengan tangannya.
"Terus Mas Damar?"
__ADS_1
"Damar lebih memilih jemput ceweknya dari pada jemput kamu, kurang kerjaan."
Lalu, kenapa dia mau jemput aku? Dasar orang tidak punya kerjaan, aku semakin malas untuk ke rumah Tante Edrea. Mendingan rebahan di kasur daripada menjemput masalah seperti ini.
"Gua nggak jadi ke rumah Tante, bye." Ucapan terakhir dari mulutku, setelah itu aku melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah.
Namun langkahku gagal, Mas Raksa terlebih dahulu menggenggam pergelangan tanganku. Tidak-tidak, itu terlalu romantis. Mas Raksa menarik ujung kaos yang aku kenakan, seakan dia jijik untuk menyentuhku.
"Eh, kamu sudah berjanji pada Tante. Baru saja kamu menyampaikan pesan nenek kamu tentang ketepatan waktu pada saya. Apa nenek kamu tidak pernah memberikan pesan tentang ketepatan janji?"
Rasa ingin menghajar Mas Raksa naik seratus persen, apalagi sekarang aku masih membelakangi Mas Raksa dan dia masih memegang ujung kaos ku. Aku seperti kotoran yang sedang dia pegang.
Mas jijik sama kamu Aeera, Mas jijik!—Korban sinetron.
"Maksud lo gimana? Mbah gua tuh selalu mengajarkan kebaikan."
"Iya saya percaya."
"Satu lagi, cara lo pegang baju gua tuh kayak jijik banget, ya." Akhirnya aku kembali menghadap ke arah dia. Otomatis tangan Mas Raksa juga terlepas dari ujung bajuku.
"Jijik? Saya hanya menuruti perkataan kamu semalam. Kamu bilang tidak suka dipegang oleh lawan jenis, kan?"
Aku terdiam, ada baiknya juga Mas Raksa. Tapi, aku tidak boleh percaya begitu saja. Biasanya orang yang terlihat baik di awal, akhirnya akan menghanyutkan.
Tetap berjaga-jaga Aeera, jangan gampang terhasut oleh bualan lelaki.
"Ya-ya siapa juga yang mau dipegang lo? Akh, lama. Ayo berangkat!" Ucapku sedikit gugup, malu ku berkali-kali lipat hari ini.
Aku berinisiatif mengambil helm yang ada di motor Mas Raksa, dan apa ini? Kok helm nya bukan warna merah muda lagi, melainkan warna hitam.
"Helm itu, saya lihat kamu selalu menggunakan baju berwarna netral seperti hitam dan putih. Mungkin kamu akan menyukainya."
Langsung ku pakai helm itu, tidak mau menambah ke-GR-an Mas Raksa.
"Nggak penting juga sih, paling ini kali pertama dan terakhir gua pakai helm ini."
Mas Raksa sedikit mendekat ke arah ku, dia hanya ingin mengambil helm kok. Aku tidak perlu takut, nanti malah malu lagi. Tapi, dia berucap, "kamu yakin? Masih ingat permintaan saya semalam? Salah satunya hari ini terlaksana, bukan?"
Aku sedikit terdiam mematung, mengingat apa saja permintaan Mas Raksa? Lelaki itu menaiki motornya, aku langsung ikut naik juga. Tentunya dengan susah payah karena enggan berpegangan dengan Mas Raksa.
Kali ini sedikit berbeda dengan semalam, Mas Raksa tidak menyuruhku untuk berpegangan pada pinggangnya. Dia langsung menarik gas motor dan menekan klakson saat melewati Bibi yang sedang membukakan pintu gerbang.
"Hati-hati, Neng." Ucapan Bibi sampai tak ku hiraukan, saking aku ingin mengingat apa saja permintaan dia semalam?
Mas Raksa mengendarai motor dengan sedikit kencang, posisi ku tanpa berpegangan dengan dia. Rasa takut sedikit menerjang ku, karena kaki ku saja susah payah menyentuh pijakan motor besar ini. Jujur aku takut terjungkal. Menghiraukan rasa malu, dengan perlahan aku memegang pinggang Mas Raksa. Tujuan ku agar Mas Raksa tidak sadar dan tidak merasakan tangan ku pada pinggangnya.
Namun semua salah, saat tangan ku baru memegang jaketnya tiba-tiba tangan kirinya menyentuh permukaan tanganku. Pergerakan dia seolah menyuruhku untuk berpegangan erat, karena dia menempatkan tangan ku lebih maju. Setelah itu tangannya kembali memegang stang motor.
Aku hanya mengikuti pergerakan dia tanpa melawan, apa ini? Kenapa aku tidak melakukan perlawanan sedikit pun, apa karena aku sedang berada dalam keadaan takut? Saat ini aku memilih memegang pinggangnya dengan erat, karena laju motor semakin kencang dan membuatku semakin takut.
...🐣...
Pukul empat sore motor Mas Raksa berhenti di parkiran salah satu Mall yang berada di daerah Jakarta Barat. Aku segera turun dari motor dan melepas helm, begitupun Mas Raksa. Angin di sini cukup kencang sehingga membuat rambutku terbang tak tentu arah.
Duh makin jelek aja, rambutku jadi lepek.
Aku bingung kenapa Mas Raksa mampir ke Mall bukannya langsung ke rumah Tante Edrea, apa dia ingin membeli sesuatu terlebih dahulu?
"Ngapain ke sini, Mas?" Tanya ku sambil memberikan helm berwarna hitam kepada dia.
"Entah, saya rasa Tante Edrea pasti belum pulang kerja. Dari pada kita berduaan di rumah, mendingan jalan-jalan dulu bukan?"
Kembali, aku terdiam. Kali ini berani melihat lebih jauh wajahnya, yang menurutku tidak jelek-jelek amat. Wajah pria dengan kriteria idaman wanita. Kekar dan tegas. Tapi, wajah seperti dia bukan idaman ku. Aku lebih suka wajah seperti Mas Buana.
"Kamu jangan berpikir kalau saya lurus ya, lelaki itu penuh dengan lika-liku." Ucapannya membuyarkan lamunanku, ternyata aku semakin membuat Mas Raksa ke-GR-an.
"Ehem. Kalau dilihat-lihat, lo emang ganteng. Cowok idaman wanita banget. Tapi sayangnya bukan tipe gua, point plus saat lo terlihat baik dan lurus. Tapi, bualan lo yang seakan kepedean tingkat dewa mengurangi nilai plus itu." Aku melingkarkan tangan di depan dada, sambil mendongak melihat wajah Mas Raksa. Sependek itu aku.
Mas Raksa melipat tangan kiri di depan dada untuk menyangga tangan kanannya. Jari tangan kanannya memegang muka mulus dia, wajahnya menunduk untuk melihatku balik.
"Apa ada kesempatan untuk saya menjadi laki-laki tipe kamu?"
"No. Tipe gua yang chubby dan gembul, enak untuk dipeluk. Kalau lu dipeluk aja keras."
"Ehm. Kamu yakin?” Dengan yakin aku menatap matanya sambil menganggukkan kepala.
“Tipe kamu atau laki-laki di masa lalu kamu?" Mas Raksa menatap tajam mataku, apa dia bisa membaca pikiran ku? Kalau yang aku sebutkan tadi adalah ciri-ciri Mas Buana.
"Ah nggak penting. Intinya lo mau ngapain kesini?" Aku mengibaskan tangan kanan di depan wajah ku untuk menyudahi pembicaraan yang lama-lama akan menjurus pada luka lama.
Mas Raksa memasukkan tangannya ke kantung celana, dia melihat sekitar.
"No, lagi nggak ada film bagus. Itu akan buang-buang uang."
"Shoping? Saya yang belanja."
"Enggak deh, gua masih pelajar, uang pas-pasan. Kalau lo yang belikan, gua nggak mau punya hutang."
"Eum. Makan?"
"Boleh juga,"
"Ayo saya punya restoran favorit di mall ini." Mas Raksa menggenggam pergelangan tangan kanan ku. Saat dia melangkah, aku sedikit menahan sehingga dia tidak jadi berjalan dan kembali menghadapkan tubuhnya ke arah ku.
"Kenapa?"
Aku sedikit ragu untuk mengatakan ini, sedangkan dia masih menggenggam tangan ku.
"Eum. Restoran ya?" Aku memutar otak, bagaimana cara menyampaikan kalau uang ku pas-pasan? Kalau restoran favorit dia pasti mahal dan ketar-ketir uang pelajar rantau akan kurang.
"Iya, kenapa?"
Aku menjentikkan jari, "gua punya cara makan enak tapi murah!"
"Ayo lah, Ae. Saya traktir, tenang saja." Pintanya.
Oh, dia sadar juga ya alasan utamaku apa. Tapi aku tidak mau ditraktir dengan orang asing, tidak mau merasa punya hutang dan harus membayarnya.
"Mas Raksa harus tau cara pelajar rantau makan."
"Gimana tuh?"
"Tapi sebelumnya, lepaskan dulu tangan--"
Sebelum aku selesai berbicara, Mas Raksa langung melepas genggamannya dan menggaruk tengkuk kepalanya.
"Ah sorry. Sa-saya terlalu lapar." Ucapnya sambil memegang perut yang ku yakin memiliki 6 roti kotak.
"Udah nggak usah basa-basi, ayo!" Mungkin aku terlalu semangat, sebenarnya aku sadar telah menggenggam balik pergelangan tangan Mas Raksa. Tapi dalam keadaan seperti ini hal wajar, bukan modus juga.
Aku melangkahkan kaki menuju pinggir jalan raya, di mana banyak sekali pedagang gerobak menjual berbagai makanan ringan. Ada siomay bandung, pempek palembang, cilok, gorengan, dan berbagai makanan ringan lainnya. Aku bingung mau makan apa, nampaknya cilok ayam enak juga.
Aku kembali menarik tangan Mas Raksa yang sebelumnya tadi sempat berhenti sejenak.
"Saya tidak akan pergi dari sisi kamu untuk saat ini." Aku sedikit terkejut dengan ucapannya, otomatis melepas genggaman tanganku. Dia semakin ke-geeran, Bund.
Untuk saat ini? Maksudnya nanti? Aku benci dengan kepergian tanpa alasan.
Aku berjalan lebih cepat, tidak memperdulikan Mas Raksa tertinggal atau tidak. Berhenti di sebelah gerobak cilok ayam dan memesan untuk kami berdua.
"Mas, dua ya gocengan."
"Siap, Neng."
Mas Raksa berhenti di sebelahku, "Kamu kenapa melepas genggaman itu?"
"Lo makin kegeeran sih, Om." Ucapku sambil fokus melihat pergerakan penjual cilok.
"Om? Saya tidak setua--"
"Adeknya mau pedas apa enggak?"
Aku menggelengkan kepala ketika penjual cilok bertanya.
"Kalau Omnya?" Aku hanya bisa menahan tawa mendengar Mas Raksa dipanggil Om oleh Mamang cilok, aku tidak tahu alasannya. Hanya Mamang jualan cilok yang tahu.
"Saya tidak pernah menikah dengan tante kamu."
"Nggak usah pedes, Mas. Mulut Om saya sudah pedes dari lahir." Bisik ku kepada penjual cilok, namun aku yakin masih bisa didengar oleh Mas Raksa.
"Telinga saya masih berfungsi dengan baik."
Aku dan pedagang cilok hanya bisa menahan tawa. "Ini, Neng."
Mas Raksa langsung menyodorkan uang sepuluh ribu, lalu aku memberikan kepadanya uang lima ribu.
"Kamu simpan saja buat makan di Jogja."
__ADS_1
"Enak aja, Mbah masih mampu kasih gua makanan bergizi tau!" Dengan sedikit memaksa aku memberikan uang lima ribu kepada Mas Raksa dan berjalan kembali ke dalam mall.
Sesampainya di dalam mall, aku langsung duduk di bangku kayu yang memang disediakan oleh pihak mall. Bangku itu membelakangi kaca pengaman menuju lantai bawah. Mas Raksa pun ikut duduk di sebelah ku.
"Nah, makan murah numpang adem di mall deh. Hahaha." Ucapku sedikit tertawa sambil memberikan satu bungkus cilok kepada Mas Raksa. Dia hanya tersenyum sambil menerima cilok itu.
Aku segera menusuk satu cilok, lalu memasukan ke dalam mulut dan mengunyah nya. Ku lirik Mas Raksa, dia sedikit pun tidak menyentuh cilok itu. Wah padahal enak loh, apa dia tidak bisa makan makanan pinggir jalan ya?
"Kenapa, Mas? Ah, maaf kalau lo nggak bisa makan cilok ini. Nanti gua ganti deh duitnya, hehehe." Aku berinisiatif untuk mengganti uang lima ribu nya, tidak keberatan sih asal cilok yang ada di tangannya bisa masuk ke dalam perutku juga.
"Sok tahu kamu anak kecil." Mas Raksa mengacak sedikit rambutku, refleks aku langsung menangkis tangannya.
"Ish apa sih, tangan lo jangan meper lah!" Mas Raksa tidak memperdulikan ucapan ku, dia mulai memakan cilok ayam itu.
Kami fokus mengunyah cilok enak ini, suasana hening sebelum Mas Raksa mulai membicarakan sesuatu.
"Ehm. Saya sedikit bingung dengan Kakak kamu."
Aku memelankan durasi kunyahan cilok, "Siapa? Mbak Humee atau Mbak Cae?"
"Rara." Oh Mbak Caeera, kenapa dia bingung?
"Yang saya tahu, dia jurusan psikologi. Tapi kenapa dia selalu memenuhi laptopnya dengan cerita novel dan lainnya?"
Sisa cilok yang ada di mulutku, ku telan habis. "Hm, masalah Mbak Cae ya? Yang gua tau, kebiasannya berubah saat ujian berat menimpa dia."
"Ujian?"
Aku mengangguk, sepertinya bukan saatnya aku membicarakan masalah Mbak Caeera kepada orang asing ini. Takutnya Mbak Caeera juga tidak mau masalah nya diketahui oleh orang lain, selain keluarga tentunya.
"Mas Raksa naksir Mbak Cae, ya?" Apakah ini pertanyaan konyol? Soalnya Mas Raksa tidak menjawab dengan ucapan ataupun tindakan, dia masih fokus mengunyah cilok.
"Ujian apa kalau boleh saya tahu?" Dia malah melanjutkan pembicaraan mengenai Mbak Caeera.
Aku memilih mengendikkan bahu, tidak sopan juga jika aku membicarakan masalah Mbak sendiri kepada orang lain.
"Mas tanya saja sendiri, gua nggak punya hak untuk menceritakan itu ke lo."
"Jangan cemburu gitu dong." Ledeknya.
Aku meringis ngeri, cemburu? Tidak sedikitpun rasa itu singgah di hatiku.
"Sadar om,"
"Kenapa?"
"Ya nggak papa."
"Kalau saya naksir Caeera, apa kamu akan protes? Hati kamu lebih tepatnya?"
🐣
Setelah pertanyaan mengerikan keluar dari mulut Mas Raksa, aku memutuskan untuk mengajak dia ke rumah Tante Edrea. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba mengucapkan hal itu. Kalaupun dia suka dengan Mbak Caeera, aku tidak masalah sedikitpun kok. Itu hal wajar, Mbak Caeera cantik dan dia tampan. Sangat serasi bukan?
Sesampainya di depan rumah Tante Edrea, Pak Satpam langsung membuka gerbang supaya kami dapat masuk. Aku langsung turun dan melepas helm lalu memberikan kepada Mas Raksa yang masih duduk di atas motor.
"Makasih atas tumpangannya." Setelah mengucapkan itu, aku bergegas menaiki tangga untuk menuju teras rumah Tante Edrea.
"Ae, tunggu!" Ucap Mas Raksa, sebenarnya aku tidak mau berbincang lagi dengan dia. Tapi, saat namaku dipanggil otomatis aku langsung berhenti dan melihat sumber suara.
"Kamu jangan anggap serius ucapan saya tadi, ya. Saya hanya bergurau." Aku mengernyitkan dahi, bergurau? Ucapan seperti itukan sensitif sekali. Tapi aku tidak mau ambil pusing.
"Semua ucapan Mas Raksa kan gua anggap gurauan belaka." Aku tersenyum masam lalu melanjutkan jalan, membuka pintu rumah Tante Edrea.
"Ya tidak seperti itu juga, Ae." Mas Raksa mengikuti irama langkah kakiku.
"Masak kamu tidak bisa membedakan gurauan dengan ucapan serius?"
Aku memberhentikan langkah, dia pun begitu. Ku hadapkan badan ke arahnya.
"Memang, gua kan masih anak kecil. Seperti yang lo bilang."
Terdengar langkah kaki dari lantai dua, otomatis aku melihat ke sumber suara. Ternyata Tante Edrea sedang menuruni anak tangga menuju ke arah kami.
"Ae, baru sampai kamu? Tante sudah tunggu dari jam dua belas loh." Aku langsung mencium punggung tangan Tante Edrea, begitupun Mas Raksa.
"Loh Tante nggak kerja?"
"Tante sengaja pulang cepat untuk ketemu kamu."
Mataku tertuju pada Mas Raksa yang sekarang sedang pura-pura melihat ke sekitar. Apa yang dia bilang tentang Tante Edrea belum pulang kerja itu hanya gurauan? Ah Aeera, kamu gampang sekali tertipu. Ini konyol!
"Ayo sini duduk." Aku dan Mas Raksa mengekor Tante Edrea menuju ke ruang keluarga.
"Hebat banget, gua sampai nggak bisa bedain antara gurauan sama ucapan serius." Bisik ku kepada Mas Raksa sambil mengacungkan ibu jari kanan.
Mas Raksa menyengir tanpa dosa, "sorry."
Tante Edrea duduk di sofa yang menghadap televisi, sedangkan aku dan Mas Raksa duduk di sofa yang posisinya berhadapan.
"Tante kira yang jemput Aeera Damar loh, ternyata kamu Sa?"
"Iya, Tan. Sebelumnya Rara kabarin saya kalau Damar tidak bisa jemput Aeera." Ah, pantas saja Mas Raksa mau jauh-jauh jemput aku. Ternyata semua permintaan Mbak Caeera.
"Ae mau minum apa? Nanti biar Bibi yang bikin, seperti biasa tinggal pilih saja ya di tablet." Ucap Tante Edrea, kemudian dia melihat jam tangan yang dikenakan.
"Ah, Tante ada kerjaan sebentar. Kalian di sini dulu tidak apa ya?"
Kami berdua hanya mengangguk, itulah Tante Edrea. Tidak punya banyak waktu luang, dia sangat produktif. Setelah Tante kembali ke ruang kerjanya, aku mengambil tab yang dari tadi tergeletak di atas meja kaca.
Suasana gerah dan panas, enaknya minum yang segar. Aku melihat daftar jus, jus mangga enak juga. Baru ingin memilih jus mangga, Mas Raksa sudah bersabda.
"Air putih saja lebih sehat."
Seketika aku melihat ke arahnya yang sedang melihatku juga.
"Lah kok ngatur?"
"Saya hanya memberi tahu,"
"Makasih, tapi gua pengen jus mangga."
"Air putih, mangga nya habis."
"Bawel."
"Perempuan harus sehat jika ingin memiliki anak yang berkualitas."
Aku mengernyit, "so what? Gua masih remaja, jadi belum mikir soal anak."
"Tapi saya sudah, anak kamu, saya, kita."
Aku bergidik ngeri, tidak ingin membahas lebih jauh akhirnya aku mengalah. Air putih pun tak apa.
"Ae,"
"Iya gua tahu itu hanya gurauan."
"Kamu belum bisa membedakannya, ya?" Aku berpura-pura memainkan ponsel, padahal ponsel ini sangat sunyi, sepi, senyap, dan kramat.
"Saya hanya peduli dengan kesehatan kamu, saya tidak mau kamu sakit--"
Aku diam-diam mendengar kan ucapan Mas Raksa, dia nampak peduli. Tapi aku tidak tahu ini ucapan serius atau gurauan? Belum selesai bicara, Mbak Caeera akhirnya datang juga.
"Hello everybody!" Seperti biasa, Mbak Caeera dengan sikap cool-nya.
"Udah lama, Ae?" Aku hanya mengangguk, Mbak Caeera duduk di sebelah Mas Raksa.
"Ah, capek banget gua. Kelas pengganti terus, padahal dosennya yang nggak bisa ngajar." Ucap Mbak Caeera, aku hanya menyimak. Aku rasa dia berbicara kepada Mas Raksa.
"Istirahat lah kalau capek, jangan dipaksa." Jawab Mas Raksa sambil memegang pucuk rambut Mbak Caeera.
"Pengennya gitu, tapi kebanyakan tugas akhir yang bikin lelah."
Ini di luar dugaan, karena aku tidak menyangka kalau mereka sedekat itu. Mas Raksa merangkul bahu Mbak Caeera, dan menempatkan kepala Mbak Caeera pada pundak tegapnya.
"Sini-sini, gua tau lo lagi butuh sandaran." Ah ini Mas Raksa? Bahasanya tidak baku seperti saat berbicara dengan ku.
Aku masih berpura-pura bermain ponsel, padahal sesekali aku melirik mereka berdua. Disini seakan aku seperti obat nyamuk dan mana perhatian Mas Raksa tadi sebelum kehadiran Mbak Caeera? Apa Mas Raksa ini laki-laki tidak setia? Atau dia hanya ingin menggodaku karena aku masih seperti anak kecil yang layak dia jahili?
"Rasanya pengen nyerah, tapi sudah diujung pencapaian." Ucap Mbak Caeera lagi, mereka masih dengan posisi yang sama.
Tuhan, Aeera ingin pulang saja sekarang, disini hanya melihat keuwuan orang lain.
"Istirahat dulu, lo lagi capek. Jangan mikir yang macem-macem. Kesehatan lo juga penting."
Kesehatan? Penting? Peduli? Perempuan harus sehat jika ingin memiliki anak yang berkualitas. Jadi ucapan itu untuk semua wanita, untung saja aku belum ke-geeran.
__ADS_1
"Ehm."