
"Kamu masih belum bisa pulang?" Aku sedikit mengerjapkan mata kala mendengar keributan di luar kamar. Kebiasaan Mamah, kalau lagi telepon orang suara nya kayak speaker masjid.
Aku masih ngantuk please.
Setelah terganggu dengan suara Mamah, aku memutuskan untuk memejamkan mata lagi. Berusaha untuk tidur dan bermanjaan dengan kasur yang telah tiga tahun tidak aku tempati.
Tok, tok, tok.
"Ae, bangun! Mandi, ayo ke rumah Tante Edrea." Ucap Mamah sambil mengetuk pintu kamar ku, otomatis mata ku melotot. Aku kaget, baru mau terlelap sudah dibangunkan.
"Aee." Panggil Mamah lagi kala tidak ada jawaban dari mulut ku.
"Iya Mamah, lima menit lagi." Jawab ku, jujur aku masih sangat mengantuk. Faktor semalam menonton acar bola secara streaming, soalnya kalau di televisi nanti ketahuan Mamah bakal dimarahi.
"Pokoknya Mamah tunggu di bawah tiga puluh menit, kalau tidak muncul juga, Mamah tinggal." Sifat Nenek mulai muncul pada Mamah, sama-sama tegas, tidak mau dibantah.
Akhirnya aku memutuskan mengalah, turun dari ranjang sambil mengucek mata untuk menghilangkan belek. Aku mengambil ponsel dari nakas, ah tentu saja tidak ada chat dari orang istimewa, orang aku jomblo.
Ku lempar ponsel yang menurut ku tidak berguna saat libur panjang ke atas kasur. Bodoamat lah, kalau lagi libur gini nggak ada gunanya tuh alat komunikasi. Beda lagi kalau lagi masuk sekolah, setiap jam pasti ada yang chat. Entah basa-basi tanya tugas, catatan, dan modus untuk pedekate berkedok minta ajar.
Aku berdiri di depan kaca yang cukup besar, melihat wajah ku. Aku nggak buruk-buruk amat kok, tapi kenapa nggak ada yang tertarik ya?
Ups, bukan tidak ada ya. Tapi akunya yang menolak. Sombong abis.
Aku segera memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar ku, sebenarnya rumah ku tidak cukup besar tapi tidak kecil juga. Empat kamar tidur, enam kamar mandi, satu kamar tidur untuk mbok, dapur, ruang tamu, ruang makan, garasi, dan taman. Eum, apalagi ya? Kayaknya itu saja. Ouh, aku memilih kamar di lantai dua ujung karena terdapat balkon untuk melihat ke sekitar rumah. Kegemaran ku saat malam tiba dan merindukan seseorang, akan berdiam diri di balkon ditemani dengan musik lawas dan menghitung bintang.
Setelah ritual di kamar mandi, aku menggunakan pakaian, memilih kaos hitam dan celana jeans biru levis. Tak lupa sepatu dan kali ini rambut ku biarkan terurai bebas.
Aku jongkok di depan kaca, sekali jepretan menggunakan ponsel keramat ini. Nggak jelek-jelek banget kok. Mengingat seorang pria, apakah dia kalau melihat aku sekarang masih tetap---mencintai ku. Ouh, lebih tepatnya, apakah dia pernah mencintaiku?
"Aee! Kamu gelem tak tinggal tenanan?" Aku sedikit tersentak mendengar teriakan Mamah yang bilang, beneran mau Mamah tinggal?
"Ora, Mah." Jawab ku, bergegas mengambil hape, tas kecil hitam, dan berlari keluar kamar.
Melihat aku turun dari tangga dengan tergesa Mbak Humeera sedikit meringis, "alon-alon, Ae. Nanti kamu jatuh."
Aku sedikit tersenyum, "salah Mamah kalau aku jatuh."
"Enak wae." Aku menahan tawa melihat ekspresi Mamah, setelah sampai di ruang tamu aku langsung duduk di sofa sebelah Mamah.
"Dadi kepiye, Mbak? Naik apa kita?" Tanya Mamah ke Mbak Humeera, sepertinya mobil Mbak Humeera belum bisa diambil dari bengkel. Buktinya Mamah tanya kita mau naik apa ke rumah Tante Edrea.
"Naik ojek online aja ya, Mah. Mobil ku belum bisa dipakai." Tuh kan benar dugaan ku, tidak masalah naik apa, yang penting aku bisa ke rumah Tante Edrea.
Mbak Humeera akhirnya memesan ojek online melalui aplikasi hijau, tidak lama menunggu akhirnya mobil yang dipesan Mbak Humeera datang. Kami memasuki mobil itu dan segera menuju ke kediaman Tante Edrea. Ouh, aku pernah bicara kalau punya Mbak satu lagi kan? Iya, namanya Mbak Caeera. Dari kemarin aku sampai Jakarta, Mbak Cae tidak di rumah. Biasanya dia punya alasan yang valid ketika tidak pulang, mungkin tugas dia mengharuskan itu.
Aku melihat keluar jendela, di mana jalan padat merayap. Jakarta nggak pernah lepas dari macet. Tak apa, aku biasa dengan hal ini. Ku ambil hape di kantung celana, lalu memotret ibu dengan anaknya yang mengenakan pakaian lusuh. Mereka sibuk mengambil sampah plastik atau apapun itu di pinggir jalan. Setelah memotret dan mengoles sedikit editing, aku mengunggah foto tersebut ke instagram. Melengkapi nya dengan caption, mengeluh bukan lah jalan untuk melewati rintangan hidup.
Sekitar satu jam kami di perjalanan, akhirnya sampai di depan rumah megah dengan tembok berwarna--eh, perasaan tiga tahun lalu masih warna hijau daun, kok sekarang warna cokelat? Ya, rumah Tante Edrea tergolong sangat luas. Pagarnya saja hampir lima meter, dan di teras terdapat ring basket untuk sekedar iseng jika sedang gabut.
Kami bertiga turun dari mobil ojek online, berjalan ke arah gerbang yang selalu dijaga oleh dua Satpam. Melihat Mamah yang menjadi tamu, dengan sigap salah satu Satpam menarik gerbang warna cokelat itu.
"Pagi Ibu Arkadewi." Sapa Satpam ke pada Mamah sangat ramah, Mamah pun membalas senyum.
"Pagi, Pak. Edrea nya ada?" Mamah bertanya kepada Pak Satpam, sedangkan aku memandangi sekitar. Melihat taman Tante Edrea sangat luas, menghasilkan udara yang sangat sejuk.
"Ada, Bu. Nyonya sudah menunggu dari tadi pagi. Silahkan langsung masuk saja, Bu."
Mamah sekilas mengangguk sambil tersenyum, kami bertiga berjalan sekitar lima belas meter menuju pintu rumah utama. Tak lupa menaiki sekitar lima anak tangga, dan di bawahnya mengalir kolam kecil dipenuhi dengan ikan.
Tante Edrea seorang wanita karier yang memiliki beberapa perusahaan dan usaha yang dia rintis dari nol. Juga suaminya, Om Aksa seorang Nakhoda atau Perwira Laut. Maka dari itu Om Aksa jarang pulang ke rumah karena tugasnya.
Mamah menekan bel yang berada di sebelah pintu utama, tak lama pintu itu terbuka secara otomatis. Soalnya aku tidak lihat Tante Edrea di sana saat pintu itu terbuka. Kami berjalan ke arah ruang tamu dan Tante Edrea baru berjalan menuruni tangga berbentuk melingkar.
"Maaf ya, aku nggak langsung bukakan pintu buat kalian. Aku lihat di CCTV kalian sudah datang, makanya pintu aku buka dulu biar kalian bisa langsung masuk." Tante Edrea menjelaskan itu sambil menuruni anak tangga. Sesampainya di hadapan kami, Tante langsung mencium tangan Mamah. Tak lupa Mbak Humeera mencium tangan Tante Edrea.
Saat berhadapan dengan ku, aku ingin mencium punggung tangan Tante tapi dia langsung memeluk ku erat.
"I miss you, my little Princess." Aku merasakan hangatnya pelukan Tante Edrea, seperti sangat merindukan sesuatu. Perlahan dia mengusap punggung ku, aku pun membalas pelukan itu.
"Miss you too, Tante." Jawab ku, perlahan tante meregangkan pelukannya. Lalu mengecup singkat kening ku.
__ADS_1
"Kamu sehat?”
“Eh, sepertinya Tante salah pertanyaan. Eum, Nenek sehat?" Aku sedikit tertawa, nampaknya Tante masih ingat kebiasaan ku yang tidak pernah suka diajak basa-basi.
"Hahaha. Sehat, Tan. Nenek tambah bugar."
Tante Edrea tersenyum lepas, aku melihat sendu tinggal dalam matanya. Ah, mungkin hanya perasaanku.
"Ayo, masuk." Kami berjalan ke ruang keluarga, ruangan ini cukup luas. Dimana terdapat kaca transparan besar untuk kami dapat melihat taman di luar. Ruangan luas ini hanya diisi oleh tiga sofa, satu meja kaca, televisi, dan furnitur lain hanya sebagai pelengkap.
Akhirnya kami duduk di sana, Tante Nada mengambil iPad yang tergeletak di atas meja kaca, dia seperti memilih menu layaknya di restoran. Dia sempat menanyakan kami ingin minum atau cemilan apa, akhirnya kami memutuskan memilih jus jeruk, panas-panas begini ini enaknya minum yang segar.
"Seperti biasa, kalau mau makan atau minum tinggal pilih aja. Nanti notifikasi langsung masuk ke Bibi." Kami langsung mengangguk sambil tersenyum, rumah ini sangat modern dan--rumah idaman. Jujur, aku kelak ingin memiliki rumah sebagus ini, kalau bisa.
"Caeera tidak ikut kesini?"
Ah iya, soal Mbak Caeera. Dia salah satu mahasiswi akhir Jurusan Psikologi. Akhir-akhir ini setau ku dia selalu sibuk dengan tugas akhir, bahkan biasanya dia menyuruh aku isi kuesioner untuk tugas dia. Setau ku, Mba Caeera juga sering menulis cerita sejak kejadian buruk menimpa dia.
"Dia itu loh, sibuk banget. Heran aku. Padahal dulu Mbak Humeera nggak sesibuk itu." Jawab Mamah, aku memaklumi. Bagaimana dia bisa menahan rasa risau disaat anak perempuannya selalu keluar rumah, naik motor pula. Mbak Caeera itu tidak mau naik mobil, padahal beberapa kali Mamah dan Tante selalu menawarinya.
"Beda, Mah. Dari jurusan aja sudah beda, jadi kesibukannya nggak bisa disama ratakan." Aku juga setuju dengan jawaban Mbak Humeera, rencana ku ingin melanjutkan sekolah teknik. Tapi, entah Mamah mengizinkan atau tidak.
Beberapa jam berlalu, kami sibuk mengobrol dan sesekali menonton televisi. Setelah melihat hape, Tante Edrea menekan sesuatu pada cincinnya.
"Caeera datang," Ouh, ternyata itu cara supaya pintu otomatis terbuka.
Tak lama kemudian Mbak Caeera datang sambil melempar-lemparkan kunci motornya ke atas. Di tangannya terdapat tas laptop berwarna biru muda. Aku tidak kaget lagi dengan kecantikannya, walau dia hanya menggunakan kaos hitam polos dan rambutnya sedikit berantakan, namun cantik tetaplah cantik.
Aku rasa Mbak Caeera lebih banyak mendapatkan gen dari--Ayah, condong ke Eropa. Wajahnya lebih tegas dan postur tubuhnya sangat tinggi. Sedangkan aku dan Mbak Humeera lebih ke Mamah, Jawa-Chinese dengan wajah imut--hueek, dan tinggi tidak seberapa, malah lebih cenderung pendek. Percaya tidak percaya, aku sempat berpikir. Kalau nanti ada cowok yang deketin aku dan mungkin aku tertarik, hal yang pertama ku lakukan adalah mengenalkan dia kepada Mbak Caeera. Kalian tahu kan alasannya apa?
Mbak Caeera tersenyum sumringah ke arah kami, dia langsung mencium tangan Mamah dan Tante Edrea. Lalu melemparkan senyum kepada ku. Dia menguncir rambutnya asal.
"Kabar baik lo?" Ini lah Mbak Caeera, cara bicaranya sangat berbeda dengan kami. Dia itu pokoknya, ah dabest deh!
"Begini lah, adik pulang bukannya disambut," Jawab ku sambil memanyunkan bibir, sebelum selesai berbicara Mbak Caeera sudah memotong terlebih dahulu.
"Urusan gua lebih urgent. Lo nggak usah sok ngambek, kelihatan banget bohongnya." Bodoh sekali kau Aeera, Mbak Caeera kan jurusan psikologi. Dengan mudah dia mengetahui kebohongan ku, darimana dia tahu? Ekspresi kah?
"Betul, Tan. Nggak usah ditawari mobil lagi ya, aku nggak tertarik." Jawab cepat Mbak Caeera, dia ini kuat banget pendiriannya. Padahal dulu Mamah dan Tante bilang kalau bebas pilih mau mobil apa, tapi dia malah pilih motor matic.
"Sudah ku bilang, Ed. Ndak akan mau dia."
"Caeera, kamu tidak perlu luapkan kesedihan dengan membahayakan diri mu sendiri."
"Ah Tante ini ngomong apa, hehehe. Mamah juga tahu kok, memang aku dari kecil suka naik motor." Aku lihat Mamah memegang pundak Tante Edrea, menandakan untuk berhenti merayu Mbak Caeera.
"Ouh iya, Tan. Raksa pulang jam berapa kira-kira?" Aku menyimak ucapan Mbak Caeera, sedikit bingung, siapa itu Raksa? Selama ini kayaknya aku baru dengar nama itu. Apa orang baru ya, ah mungkin ponakan Tante dari jauh.
"Kenapa, tumben kamu menanyakan Raksa? Mbak, tuh anak mu nanyain Raksa."
"Caeera sudah dekat dengan Raksa?" Timpal Mamah.
Aku tidak mengerti maksud dari ucapan mereka, bahkan nama itupun aku tidak tau wajahnya. Apa mungkin kekasih baru Mbak Caeera?
"Enggak, Mamah. Aku itu cuman mau konsultasi laptop, ini udah lemot parah." Mbak Caeera memegang tas laptop yang dia taruh di atas meja kaca. Aku semakin bingung, apa hubungannya laptop dengan Rak--siapa tadi, raksasa? Oh, mungkin dia tukang elektronik ya?
"Biasanya jam lima dia pulang."
"Dia itu sebenarnya usaha apa Tan? Soalnya kemarin kantor aku sempat bekerja sama dengan dia, sepertinya lumayan besar usahanya." Kali ini Mbah Humeera ikut berbicara. Jujur, aku hanya bisa menyimak, soalnya aku tidak tahu sama sekali orang yang sedang dibicarakan. Aku menyimak sambil sesekali mengunyah cemilan yang dari tadi nganggur.
"Spesialis Elektronik, melanjutkan perusahaan Ibunya. Setau Tante, dia juga membuka usaha kecil dari keringat dia sendiri."
"Keren kan?" Aku melihat Mamah berucap sambil melihat Mbak Caeera, Mamah menaik turunkan alisnya sambil nyengir.
Mbak Caeera cuma bisa memutar bola matanya. Sebenarnya aku tertinggal informasi apa, kok aku merasa tidak tahu sendiri di sini?
Beberapa jam berlalu, kami mengobrol ngalor-ngidul. Sampai pukul empat lewat tiga puluh menit seseorang datang mencium tangan Mamah dan Tante Edrea.
"Aku langsung masuk ke kamar ya, Tan." Ucap lelaki itu, matanya sama sekali tidak melihat ke arah kami kecuali tangan Mamah dan Tante yang barusan dia cium. Lelaki itu langsung beranjak keluar ruang keluarga, nggak sopan.
"Raksa," Oh, dia yang namanya Raksa. Dia yang membuat aku seperti orang asing, tidak mengerti sedikit pun yang dibicarakan keluarga ku.
__ADS_1
Lelaki itu membalik kan badannya kala mendengar panggilan dari Tante Edrea. Saat berbalik, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan manik mata ku. Lelaki yang cukup tam--dewasa. Dia sekarang menjadi pandangan utama kami semua, tapi mata dia tak usai memandangku.
Ada yang salah sama aku? Entah kenapa, aku merasa lelaki ini melihat ku dengan lekat, tanpa berkedip. Cukup lama dia berpandangan dengan ku, setelahnya dia melemparkan sedikit senyuman yang membuatku sedikit terpan--ngeri, dan akhirnya aku mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Iya, Tan?"
"Sini duduk di sebelah Caeera dulu." Laki-laki dewasa itu duduk di sebelah Mbak Caeera, lebih tepatnya di hadapan Mbak Humeera yang duduk di sebelah ku.
"Apa kabar Ra, Humee?" Raksa, baik nya aku panggil dia apa ya? Mas? Mas Raksa menyapa Mbak Caeera dan Mbak Humeera dibarengi dengan senyuman tipis.
Aku ingin menjadi buah-buahan saat ini. Bagaimana tidak, di sini yang seperti orang asing adalah aku, Aeera anak Mamah Arkadewi, Adik Mbak Humeera dan Mbak Caeera, serta ponakan Tante Edrea.
"Selama itukah kita nggak ketemu, Sa?" Tanya Mbak Humeera
"Ah, nggak juga, Mee. Terakhir meeting kemarin, basa-basi aja." Lagi-lagi, basa-basi. Kenapa semua orang suka hal itu, huh payah.
"Sepertinya kamu lupa, kemarin kita baru bertemu. Waktu kamu antar--"
"Ouh, iya. Hahaha." Mas Raksa menyelak omongan Mbak Humeera dan tertawa kaku.
"Raksa, mungkin kamu lupa. Itu Adiknya Caeera, namanya Aeera." Untuk apa Mamah memperkenalkan aku ke lelaki ini, dan kenapa dia tidak langsung menyebut aku anaknya? Sebenarnya ada konspirasi apa ini?
"Hallo, Ae." Mas Raksa menjulurkan tangannya ke arah ku, aku cukup kaget. Bukan karena dia mengajak bersalaman, tapi kenapa dia bisa memanggil ku dengan Ae, sedangkan nama ku dibaca Aira. Nama Ae panggilkan keluarga dekat saja.
"Iya," Jawab ku sambil menjangkau tangannya, aku tidak mau terkesan sombong, walau dari tadi aku ngedumel soal dia.
Pandangannya tajam menusuk mataku, seakan dia berkata, hai maniez!
Bukan, seakan dia berkata, rindu.
Mas Raksa tersenyum hangat sambil melepas genggamannya. Tidak disangka, aku membalas senyuman itu.
"Raksa, gua mau konsultasi ke lo."
"Beruntung banget gua hari ini, ada bidadari mau konsultasi."
Ch, ternyata sama saja. Sama seperti lelaki lain, tapi sepertinya hubungan antara Mas Raksa dengan Mbak Caeera itu lebih dari kenalan. Buktinya, sekarang Mamah dan Tante Edrea nampak cengar-cengir dengar ucapan Mas Raksa. Sedangkan Mbak Humeera, dari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Gombal terus deh, gua serius. Ini laptop kenapa bisa lemot banget?" Tangan Mbak Caeera sibuk mengeluarkan laptop berwarna putih dari tas nya.
"Gua tau kebiasaan lo, Ra. Siapkan flashdisk saja. Inap satu hari, besok ambil sudah beres." Aku hanya menyimak obrolan mereka, bingung mau ngapain. Ku tangkap lagi, mata Mas Raksa menatapku penuh arti. Oke, sekarang aku takut kalau dia itu pedofil.
Aeera akui, Mas Raksa cukup tam--bukan, dia manis. Badannya juga cukup bagus, tinggi tegap, serasi dengan Mbak Caeera. Tapi kenapa pandangannya selalu ke arah ku? Apa aku cuma kegeeran?
"Flashdisk? Baru aja tadi dipinjam temen. Mbak Humee,"
"Piye?"
"Bawa flashdisk nggak? Pinjam dulu bentar." Aku pura-pura sibuk main hape, bukan hanya karena risih dengan pandangan Mas Raksa yang terus tertuju pada ku. Tapi, aku juga tidak mau Mbak Caeera meminjam flashdisk. Mengingat, benda itu akan berada di tangan orang asing selama satu malam.
"Kurang kerjaan banget bawa flashdisk, Ca." Wah, secara tidak langsung Mbak Humeera bilang kalau aku tidak ada kerjaan.
"Ch, nggak gitu konsepnya. Ae, gua tau lo pura-pura sibuk main hape."
Aduh, Mbak Caeera ini kayak cenayang saja. Aku pura-pura melihat ke arahnya, tidak tau apa-apa. Ku lirik Mas Raksa sedikit menahan tawa setelah aku ketahuan berbohong.
"Apa sih, Mbak?"
"Nggak usah pura-pura sibuk."
"Emang banyak yang chat aku kok."
"Kamu sudah laku, Dek?" Pertanyaan macam apa ini, uhkk malunya sampai ke ulu hati. Mbak Humeera dari tadi jarang nimbrung, tapi sekalinya bicara sakitnya luar dalam.
"Loh, masa wanita cantik seperti Ae tidak ada yang tertarik?" Ini lagi, Tante Edrea ikut berbicara. Please, tolong aku.
Ku lihat Mas Raksa semakin menahan tawa sampai tangan kanannya menutup mulut, "cewek cuek kayak dia siapa yang mau sih, Tan?" Ejek Mbak Caeera. Kenapa aku jadi terbully, harusnya aku ini disayang-sayang soalnya baru pulang. Huh.
"Raksa, kalau kamu seumuran sama Ae, kamu mau nggak sama dia?" Gonjang-ganjing dunia, runtuh saja saat ini, please. Aku meratapi nasib, Tante kenapa harus tanya dia? Selera dia itu sekelas Mbak Caeera, ingin menangis.
Aku memandang Mas Raksa penuh harapan, iyalah aku nggak mau semakin malu. Untungnya dia juga melihat ku, tentunya sambil menahan tawa. Dia sedikit menaikan kedua alisnya, seperti bicara, gimana mau lo?
__ADS_1
Mas Raksa tersenyum lebar, "kenapa enggak, Tan?"