
Sudah dua hari aku dan Mas Gema tidak tegur sapa. Sebenarnya dia selalu mengirim pesan kepadaku, dia selalu menawarkan berangkat dan pulang sekolah bersama, tapi aku enggan menjawab. Aku pernah bilangkan, dia orangnya ramah sekali sama semua orang? Nah setiap papasan sama aku dia selalu senyum dan menyapa, bahkan aku tau dia ingin berbicara. Tapi aku selalu menghindar.
Ini semua karena aku tidak mau dapat masalah lagi. Aku tidak mau ada musuh ataupun orang menjadikan ku musuh. Apalagi satu sekolahan. Seram juga sih, padahal kami hanya berteman, tapi sampai dimusuhi satu sekolahan.
Seperti biasa, kalau aku tidak pulang bareng Mas Gema, pasti aku naik becak. Sekarang aku sedang menunggu becak yang lewat di dekat sekolah. Rasanya ingin langsung pulang, tidak mau kemana-mana lagi.
Aku cukup bingung saat mobil elite berhenti di hadapanku. Mataku memicing saat yang keluar dari mobil seperti bodyguard nya Elvira. Karena panik, aku berinisiatif untuk kabur. Tapi naas, mereka sudah memegang tanganku.
“Apa, nih?” Berontak ku.
“Diam.”
“Tolo—” Belum juga teriak dengan lantang, salah satu tangan mereka sudah membekap mulutku yang kecil.
Aku terus memberontak, mereka mau apa sih? Lalu mereka menyeret ku untuk masuk ke mobil.
“Ep, teeleep.” Aku masih berusaha teriak walau aku yakin tidak akan ada yang mendengar. Mengingat kawasan sini cukup sepi.
Badanku terdorong masuk ke mobil yang mirip punya Tante Edrea itu. Mobil mahal. Sudah tidak kaget, di dalam ada Elvira yang sedang duduk manis sambil tersenyum padaku.
“Apa lagi sih? Dia udah balik ke Jakarta, gue udah nggak ada urusan lagi sama dia!”
“Lakban!” Salah satu bodyguard langsung melakban mulutku.
Ah ini gila! Ada apa lagi? Aku sudah berapa hari tidak bertemu Mas Raksa. Masak aku masih salah? Ini semua tidak masuk akal.
Baru mau ku lepas lakban dari mulut, tanganku sudah diikat oleh bodyguard nya yang lain.
Aku terus memberontak sampai keringat ku banyak yang keluar.
“Gue lihat-lihat, kelebihan lo apa sih?” Tanya dia sambil memegang pipiku dan meneliti wajahku.
Ya mana aku tau? Orang wajah juga pas-pasan. Yang lebih bikin bingung, dia ini cantik dan kaya, masa iya takut tersaingi sama aku?
Dia mendorong wajahku ke samping, “muka pas-pasan gini belagu.”
Rambutku mulai acak-acakan. Rasanya ingin menangis. Aku salah apa lagi?
“Kemarin Agler, sekarang adek gue. Mau lo apa sih?”
What? Adeknya? Siapa?
Aku hanya menggeleng tidak mengerti, rambut yang awalnya rapih dikuncir oleh Mbah, sekarang berantakan dan banyak yang lepas.
“Terus mau lo apa?”
Aku kembali menggeleng, ingin rasanya bilang, “gue nggak tau apa-apa!”
“Gue orang berpengaruh di kota ini! Lo jangan macem-macem kalau nggak mau cari masalah.”
Kalau dia orang berpengaruh, terus kenapa? Apa ada jaminan dia boleh melakukan semua keinginannya?
Dia kembali memegang pipiku, kini sangat kencang. Wajahku cukup sakit. Air mataku kembali menetes. Aku lelah dengan semua masalah yang datang.
“Kalau lo ngadu ini semua ke Agler ataupun Adek gue, besok lo bisa abis di tangan gue!”
Tok... Tok...
Ada yang mengetuk kaca mobil. Please, bantu aku siapapun kamu. Wajah Elvira cukup kaget.
Tok... Tok...
Ketukan di kaca mobil terdengar lebih keras. Tangan Elvira langsung terlepas dari wajahku. Aku menengok ke belakang, ke jendela yang diketuk orang.
Mas Gema?
Aku tau dia tidak bisa melihat aku yang ada di dalam. Aku lihat dia seperti mengancam kalau tidak membukakan pintu mobil, dia akan memecahkan kaca itu.
“SHIT!” Gumam Elvira. “Buka!” Perintahnya.
Pintu mobil langsung terbuka. Mas Gema berusaha melepas ikatan pada tanganku dan juga menarik lakban di mulutku.
Ah, rasanya perih sekali.
“Ra, keluar!”
Aku cukup takut dengan Mas Gema kali ini, dia terlihat sangat marah. Setelah mendengar perintahnya aku bergegas turun dari mobil dan langsung duduk di trotoar. Sungguh rasanya badanku lemas sekali.
“Mau lo apa, hah?”
“Apa sih? Gue cuman bercanda!”
“Bercanda mata lo! Udah gue peringatin—”
Perdebatan mereka beberapa dapat ku dengar. Tapi, semuanya langsung gelap begitu saja. Mataku buram saat saat melihat Mas Gema dari belakang dan setelah itu semua hilang.
“Nduk, tangi loh, ayo siuman!” Samar ku dengar Mbah sedang panik, yang aku cium pertama kali adalah aroma minyak kayu putih.
Kepalaku rasanya pusing dan berat.
“Aduh,” keluhku sambil memegang kepala.
“Nduk.”
“Ra, udah sadar?”
Sebisa mungkin aku tersenyum, di sini ada Mbah dan Mas Gema. Mereka berdua terlihat khawatir. Aku jadi tidak enak.
“Aku sehat kok, cuman kecapekan aja.”
“Yowes, koe istirahat ndisik, yo.”
“Gema, tunggu di luar aja, nggeh?”
Mas Gema mengangguk, sebelum keluar kamar dia melihatku sejenak. Aku tahu dia sedang khawatir dan merasa bersalah. Aku pun tidak tahu kenapa tatapan dia menyiratkan seperti itu.
Beberapa jam aku istirahat. Badanku sudah sedikit enakan. Aku memutuskan untuk mandi, karena keringat ku begitu banyak keluar. Setelah mandi, Mbah bilang kalau Mas Gema masih menunggu di mbayangan. Aku jadi tidak enak.
“Mas masih disini?”
Tanyaku sambil jalan lalu duduk di sebelahnya. Dia menatapku cukup lama.
“Mas minta maaf, ya. Nggak bisa jaga kamu.”
Aku mengangguk, “nggak papa, Mas. Lagian masalah sama Elvira itu juga nggak ada sangkut pautnya sama kamu.”
Mas Gema terdiam sejenak, “terlepas dari itu. Mas mau ngomong serius.”
Aku mengerutkan kening, “hm, apa?”
Kami saling tatap, “Mas tau, cinta kamu ke Raksa sangat besar. Tapi, apa kamu nggak mau mencoba buat bikin celah sedikit untuk orang lain?”
Aku diam, tidak mengerti maksudnya. Kalau untuk berusaha membuat celah, sepertinya dia tau aku sudah melakukan itu.
“Aku belajar banyak dari kamu, Ra. Aku kira nggak ada yang namanya cinta sejati.”
“Tapi setelah kenal dan tau kisah kamu, aku sadar kalau cinta sejati itu ada.”
“Jujur saja, aku berharap bisa merasakan cinta itu. Dari kamu,”
Apa? Dari aku? Maksudnya gimana?
__ADS_1
“Ma, maksudnya?”
Dia mengambil gitar kecil yang tersandar di dinding kayu. Lalu memainkannya.
“Kita teman dekat...
Sudah saling percaya...
Cerita tentang kamu...
Sudah menjadi makananku...”
Lagu ini, sepertinya aku tau.
“Putus lagi, nyambung lagi...
Ribut lagi, baik lagi...
Kau menangis di pundakku...
Di pelukanku...”
Aku terus melihat dia, melihat tangannya yang lihai memetik senar gitar. Jadi teringat Mas Raksa.
“Maafkan aku jadi suka sama kamu.
Awalnya curhat lama-lama kucemburu.
Maafkan aku yang mengharapkan cintamu.
Bila belum saatnya kusabar menunggu.
Bila masih bersama kutunggu kau putus.”
Maksudnya, Mas Gema suka sama aku? Menaruh rasa lebih?
Dia meletakkan kembali gitar kecil itu, kembali menatapku. Aku hanya diam kebingungan.
“Hahaha. Rasanya nggak sopan ya, Ra?”
“Sebenarnya aku nggak ada niat bilang ini ke kamu.”
“Karena, aku sendiri tahu kalau hari kamu masih sibuk dengan masa lalu.”
“Tapi, semakin aku lihat kamu nangis gara-gara dia, semakin aku sakit hati.”
Mas Gema ini orangnya baik sekali, sumpah! Dia juga tampan. Aku kan pernah tanya, apa kekurangan cowok ini? Setelah berteman cukup lama, sedikitpun aku tidak menemukannya.
Tapi, entah kenapa aku tidak punya rasa lebih untuk dia.
“Ra, aku cuma mau bisa lebih jagain kamu.”
Sampai sekarang aku belum bisa ngomong sama sekali. Pikiranku gundah. Dia sudah aku anggap sebagai Mas ku sendiri, seperti Mas Damar.
“Kalaupun kamu nggak bisa terima, nggak papa, Ra. Tapi aku harap kamu jangan berubah, jangan minta kita buat jaga jarak.”
Hatiku cukup tersayat mendengar ucapannya. Bukan aku yang mau kita jaga jarak, tapi keadaan yang memaksa.
“Mas, jujur, aku selalu berusaha buat bikin celah untuk orang lain. Tapi, aku juga nggak tau kenapa bisa sesulit ini.” Lagi-lagi air mataku menetes sia-sia.
Mas Gema memelukku, aku jatuh dalam dekapannya. Disini aku hanya ingin jujur. Hatiku belum bisa berpaling. Bodoh memang, sangat bodoh.
Aku menangis, rasanya akhir-akhir ini aku teramat cengeng. “Makasih Mas Gema udah selalu jagain aku.”
“Makasih Mas Gema udah selalu mau dengar curahan hatiku. Tapi, aku nggak berani terima orang kalau hatiku sendiri belum berdamai dengan masa lalu.” Ucapku sambil perlahan keluar dari dekapannya.
“Mas terima apapun keputusan kamu, asal itu terbaik buat kamu, Ra.”
“Cuman, aku berharap kamu nggak menjauh lagi. Sikap kamu bikin aku bingung.”
Mendengar ucapannya, aku tertegun. Sepertinya sifat ku yang berubah drastis membuat dia banyak pikiran. “Sejujurnya, bukan aku yang mau kita jaga jarak. Tapi,”
“Kenapa?”
“Satu sekolah yang mau.”
“Kamu dengerin ucapan mereka? Ra, hidup kamu yang jalanin ya kamu. Nggak ada hak mereka buat ikut campur.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Mas Gema, “yaudah, kamu istirahat, Mas mau pulang dulu, ya!”
Aku mengangguk, sekali lagi aku dekap tubuhnya. Rasanya ingin mengucapkan beribu terima kasih. Beruntung sekali aku dicintai orang sebaik dia.
“Makasih, Mas.”
Ku lepas pelukan itu, dia beranjak dari sini, “dah—” Ucapan ku tertahan saat melihat ada orang yang entah dari kapan berdiri di samping mobilnya.
Mas Gema melihatku seperti mengisyaratkan untuk semangat. Aku hanya tersenyum kaku sambil mengangguk. Setelah Mas Gema pergi, cowok itu datang menghampiri ku.
“Itu alasan kamu mengindari saya terus?”
Dari gaya bicaranya, kalian tau dia siapa?
“Bukan. Mas ngapain masih di sini? Bukannya kemarin udah balik?”
Dia duduk di sampingku, menatap ke depan.
“Sudah, tapi Mbah kabarin keluarga di Jakarta, katanya kamu pingsan.”
Oh, aku tersentuh. Sebegitu sayangnya Mbah sama aku, pengen peluk Mbah saat ini juga.
“Ternyata lagi enak-enakan berduaan sama dia, ya?”
Aku melirik dia sejenak, seenak jidatnya.
“Percuma saya tinggalin kerjaan.” Samar aku mendengar gumaman nya.
“Hm. Lagian, Mas. Kurang kerjaan banget? Bukannya jagain istri yang lain hamil, malah kesini.”
“Heh, siapa yang hamil?”
Aku melihat dia dengan tampang bingung. Kok bisa dia kaget seperti itu?
“Ohh, seketika lupa. Ke sini mau ketemu Elvira, ya?”
“Kalau mau selingkuh tuh jangan di depan adek ipar—”
“Sttt. Stt.” Dia mengisyaratkan ku untuk diam.
“Selingkuh apa? Adek ipar siapa?”
Ingin rasanya menoyor kepala cowok ini. Untung saja dia lebih tua, jadi aku takut kualat.
“Ini semua sebenarnya ada apa sih? Kok lo ataupun Elvira seakan-akan nggak menganggap adanya pernikahan?”
“Seharusnya saya yang tanya. Nikah nikah terus yang kamu bahas. Siapa yang menikah?”
Hah? HAH? HAHAHA!
Aku cuman bisa bengong, masih tidak mengerti tentang apa yang dia ucapkan.
“Terus, audah berapa lama kamu jadian sama dia? Gampang sekali berpaling?”
__ADS_1
Gampang mata lo soek!
“Ini lagi, jadian apaan sih?”
“Saya punya mata ya, Aeera. Peluk-pelukan seperti tadi, memang etis dilihat orang?”
Duh susah ngomong sama orang kolot.
“Peluk bukan berarti—”
“Loh, Nak Raksa?” Ucapan ku dipotong oleh Mbah yang tiba-tiba datang.
Mas Raksa langsung berdiri dan mencium punggung tangan Mbah.
“Mbah, piye kabarnya?” Aku menahan tawa mendengar logat dia.
“Baik. Kamu lapoto ke sini?”
Ku lihat Mas Raksa menyengir sambil menggaruk bahunya, “ah ini, anu, Mbah,”
“Ae, iki loh sing Mbah maksud.”
“Hah?” Saut ku, karena memang tidak mengerti arah pembicaraan Mbah.
“Seng arep ngomong karo awakmu. Iki loh.”
Mas Raksa?
“Loh, Mbah, bukannya dia—”
Ucapan ku terpotong lagi oleh omongan Mbah. Padahal aku pengen ngomong, bukannya dia suami Mbak Caeera?
“Gimana, Kiara? Sehat, kan, bayinya?”
Duh lagi-lagi Mbah salah sebut nama. Tuh kan Mbah tanya ke Mas Raksa. Otomatis benarkan mereka itu menikah. Untuk apa tadi aku cukup ragu?
“Sehat, Mbah.”
“Suaminya sudah balik dari dinas?”
BOOM! Rasanya aku ingin meledak. Suaminya? SUAMINYA? Lah di depan Mbah, kan, suaminya!
“Belum, Mbah. Di Kalimantan masih seminggu kalau kata Tante Edrea.”
Jujur, ini ada apa lagi? Mas Raksa bukan suami Mbak Caeera? Mereka bukannya menikah? Bukannya mereka dijodohkan? Jelas-jelas di cover undangan nikah tertera inisial RAB & CNB!
Aku ketinggalan berita apa?
“Yowes, yang penting cicit Mbah sehat. Kamu lanjut ngobrol lagi sama Aeera, Mbah buatkan minum.”
Aku duduk di mbayangan sambil melamun, melihat ke depan. Rasanya buram. Rasanya aku seperti orang linglung. Jadi mereka tidak nikah?
“Kamu kenapa?” Ku lihat tangannya melambai-lambai di hadapan ku.
Aku melihat matanya, “jadi, yang nikah itu bukan lo sama Mbak Caeera?”
“Bukan.” Dengan entengnya dia menjawab seperti ini.
“Tapi, cover surat undangan?”
“Kenapa?” Malah balik tanya, dasar tua!
“Memang yang boleh memiliki inisial RAB cuman saya saja? Namanya Raihan Arifin Buana.”
“Hah?” Aku hanya bisa hah, hoh. Seperti orang bodoh.
Mana mungkin nama semirip itu? Ah, ini mah aku dikerjai lagi.
Dengan segera aku berlari ke kamar, mengambil undangan itu yang dari kemarin aku simpan di lemari. Aku kembali ke mbayangan dan duduk di sebelah Mas Raksa.
Undangan itu langsung kubuka. Benar saja, nama yang tertera di sana adalah Raihan Arifin Buana & Caeera Nayana Barsha.
Seketika aku ling-lung, aku menutup kembali undangan itu, lalu melihat wajah Mas Raksa sedang menahan senyum.
Mas Raksa tertawa sejenak, “wajah kamu jadi bingung begitu?”
“Nggak lucu, cepat jelasin!”
“Raihan itu saudara jauh dari Ayah. Makanya nama kami sama pada bagian belakang.”
“Soal mereka dekat, sebenarnya saya juga baru tahu saat setelah kami dijodohkan. Caeera langsung cerita itu semua ke kami.”
Aku menelan ludah secara susah payah. Mana mungkin aku dapat percaya begitu saja? Setelah semua over thinking dan drama yang aku alami.
“Gantian kamu yang cerita soal hubungan bersama Gema.”
Apa sih! Pengen aku getok kepalanya.
Aku menatap tajam cowok ini. Gila, ya? Sekarang aku harus apa? Harus senang? Harus kelihatan tidak percaya? Atau harus pura-pura pingsan?
“Jadi kamu sudah jadian ya sama Gema? Huh, saya terlambat.”
“Saat itu saya datang ke rumah kamu. Tapi, Bibi bulang kamu sudah berangkat ke Jogja. Saya sudah cari kamu ke Stasiun, tapi kamu tidak ada.”
“Saya sudah coba antar undangan ke sini, sengaja ingin bertemu kamu. Tapi kamu tidak ada juga.”
“Terakhir, saya ikut berlibur ke sini, berharap bisa bertemu kamu. Tapi kamu juga tidak ada.”
Dia melihatku sejenak sambil tersenyum, “apa mungkin memang tidak jodoh, ya?”
ANJING! Maaf aku kelepasan. Dengan bodohnya dia bilang kita tidak berjodoh. Aku sangat sakit hati.
“Terus, Mas ngapain bela-belain ke sini, kalau memang menurut Mas kita nggak jodoh?”
“Hmm.” Dia berpikir sejenak, “Mungkin khawatir?”
Dia mengedikkan pundaknya, “setelah baca kabar di grup keluarga, rasanya saja tidak bisa konsentrasi bekerja.”
“Ingin memaksa, tapi tidak bisa bohong, saya risau dengan keadaan kamu.”
Aku menahan senyum, gemas sekaliiii!
“Eh, tapi. Sampai sini malah melihat pemandangan yang membuat mata saya panas, hati juga sih.”
Perkataan dia jadi bikin aku ingat kejadian kemarin, saat aku lihat dia berdua sama Elvira.
“Lah, lo sendiri juga jalan sama Elvira. Apa bedanya?”
“Elvira, ya? Hm.”
“Saat itu dia tau saya berlibur ke sini. Makanya dia paksa saya untuk bertemu. Alasannya ingin bekerja sama untuk pekerjaan.”
“Tapi,” ucapan dia dijeda, membuat aku penasaran dan melihat ke arahnya.
“Untung saja kamu datang, saya rasa kerjasama untuk pekerjaan hanya alibi.”
Lagi-lagi aku mengulum senyum, seakan masalahku sudah selesai begitu saja.
“Kamu, benar sudah menjadi kekasih Gema?”
Maunya sih gitu Mas. Mas Gema itu tidak punya kekurangan. Tapi kenapa hatiku tidak bisa berpaling dari kamu?
__ADS_1
...🤭...