
"Ehem." Sebuah batuk disengaja dari seseorang.
"Adik gua kasihan banget dijadiin obat nyamuk." Mas Damar! Penyelamat ku sudah datang, jujur sekarang aku membutuhkan teman agar tidak merasa menjadi orang tidak penting di sini.
"Ngomong apa sih lo." Saut Mas Raksa.
Aku meletakkan ponsel ke sofa dengan sembarangan, "Mas Damar sini!"
Mas Damar menghampiri ku, seketika aku jatuh dalam pelukannya. Mas Damar menerima pelukanku dengan hangat. Setelah aku melepaskan pelukan itu, aku melihat Mas Raksa dan Mbak Caeera posisinya sudah duduk normal tidak seperti tadi.
"Mas Damar malam banget pulangnya? Pasti antar pacar dulu ya? Makanya nggak mau jemput aku."
"Loh, Raksa bilang dia aja yang jemput kamu. Makanya Mas sedikit lembur." Kenapa ucapan Mas Damar berbeda dengan alasan Mas Raksa mau menjemput aku tadi?
Ketika ingin meminta penjelasan, Mas Raksa terlebih dahulu pura-pura melihat ke sekitar.
"Lo berdua juga, kenapa pacaran di depan anak di bawah umur sih?" Aku melirik Mas Damar, memang aku masih di bawah umur. Tapi, ya tidak begitu juga.
"Aku sudah dewasa Mas Damar!" Gumam ku sambil memukul pelan bahu Mas Damar.
"Siapa yang pacaran?" Tanya balik Mas Raksa, ya jelas-jelas dia dengan Mbak Caeera.
"Ngaco lo, jangan bikin gosip murahan." Mbak Caeera juga menepis tudingan Mas Damar. Sebenarnya mereka ada hubungan apa?
"Lagian, cantik-cantik gini kok dijadiin obat nyamuk. Kalau bukan sepupu Mas, udah Mas pepet walau masih kecil." Aku sedikit tertawa sambil sedikit mengejeknya dengan pergerakan mulut pedopil, enak aja aku juga tidak mau dengan om-om.
"Mas Damar ngaco!" Aku melihat Mbak Caeera sedikit tertawa setelah mendengar ucapan Mas Damar, sedangkan Mas Raksa merubah raut wajahnya datar. Sedikit pun tidak ada senyuman di wajahnya. Padahal menurut aku ini cukup receh, apa selera humor dia tinggi?
"Hm, gua ambil laptop lo dulu." Ucap Mas Raksa masih dengan raut wajah datar, dia beranjak dari sofa lalu menuju ke kamarnya. Aneh, kenapa tiba-tiba mood dia menjadi buruk?
"Kenapa tuh cowok lo?" Gumam Mas Damar kepada Mbak Caeera. Sang empu hanya mengedikkan bahunya.
"Mas Damar kenapa pulangnya larut banget, aku jadi obat nyamuk tahu." Aku berbicara kepada Mas Damar dengan volume sedikit pelan.
"Mas—" Ucapan Mas Damar terpotong setelah Mbak Caeera mengungkapkan idenya yang membuat aku sedikit bergidik ngeri.
"Gimana kalau malam ini kita nonton?" Pasalnya Mbak Caeera sangat suka dengan genre horor dan aku sebaliknya.
Sudah jelas aku tidak setuju, ingat tadi sore Mas Raksa mengajak aku menonton film tapi aku tolak? Ya, karena menurutku sedikit membuang uang dan saat ini tidak ada film bagus. Apalagi yang horor, karena aku tidak menyukai itu.
Mas Raksa datang sambil membawa tas laptop milik Mbak Caeera, "boleh, lo juga lagi suntuk, kan? Nggak ada salahnya cari hiburan." Dia meletakkan laptop Mbak Caeera di atas meja kaca.
Mas Raksa kembali duduk di sebelah Mbak Caeera, nampaknya di sini hanya aku yang kontra akan rencana ini, karena Mas Damar juga ikut bersuara, "Gua ikut aja deh. Lumayan juga sih buat menghilangkan penat."
Aku berdehem dengan sengaja, "hm."
Ketiganya melihat ke arahku, "aku skip, deh."
Ketiganya membuang napas kasar pula, "kenapa? Free buat lo, kan masih tanggung jawab gua." Mbak Caeera sedikit membujuk, masalah utama sudah terselesaikan. Tapi, aku masih belum tahu akan menonton film genre apa, pendirian ku kuat jika horor aku menolak.
Aku tidak menjawab tawaran Mbak Caeera. Hal yang ingin aku tanyakan sudah diwakili oleh Mas Raksa.
"Genre apa?"
Tanpa pikir panjang, Mbak Caeera langsung menjawab. "Horror!"
Sontak aku refleks, "No!" Ketiganya langsung melihat ke arah ku.
"Please, Ae. Annabelle, si boneka lucu."
Lucu pala kau. Dengan bersikeras aku menolak.
"Mbak, poin pertama, Mbak tahu Ae benci boneka. Poin kedua, Mbak tahu Ae nggak suka film horor. Dan poin ke tiga, Mbak tahu kalau aku pasti nggak setuju!" Aku melihat mereka satu persatu, mulai dari Mbak Caeera dengan wajah cantiknya mulai ingin membantah alasan ku. Mas Damar yang nampaknya cukup iba dan ingin berada di pihak ku. Lalu Mas Raksa, melihatku dengan pandangan kosong nampak melamun.
Mas Damar mengelus bahu lalu kepalaku, dia mencoba sedikit menenangkan ku. Sedangkan Mas Raksa membuang muka ke arah Mbak Caeera.
"Kali ini saja, kita berempat. Dua laki-laki, lo pasti aman. Mumpung lo di Jakarta." Mbak Caeera sedikit membujukku, kalau dipikir-pikir benar juga. Tapi, aku tetap tidak mau.
"Sekali enggak, tetap enggak."
Naasnya sekarang kami sudah di teras rumah Tante Edrea. Dengan raut wajah sedatar mungkin, aku berdiri mematung. Beribu paksaan dari Mbak Caeera dan aku juga tidak tega, mendengar keluhannya ke Mas Raksa dia nampak sedang tidak baik-baik saja.
Tapi untuk membuat Mbak Caeera sedikit tenang, kali ini aku yang sedang tidak baik-baik saja.
"Caeera sama gua, ya. Mau konsultasi sedikit." Ucap Mas Damar yang sudah duduk di atas motornya.
"Loh, udah sepakat mau sama gua tadi." Ujar Mas Raksa tidak mau kalah.
Sebenarnya ada masalah apa sih dengan tiga orang dewasa ini? Rebutan bonceng Mbak Caeera seakan tidak ada yang mau sama aku? Astaga, ingin rasanya aku memesan ojek online sekarang.
Aku hanya menyimak debat kusir antara tiga orang yang mengaku sudah dewasa itu.
"Gua cuma mau konsultasi sebentar, Raksa."
"Nggak bisa gitu dong, gua juga ada hal yang mau dibicarakan."
"Nanti pulang lo bebas sama dia, pacarannya nanti dulu."
Mendengar tuduhan Mas Damar, refleks pengelihatan Mas Raksa tertuju ke arahku sekian detik, "siapa yang mau pacaran?"
"Lo sama Cae lah, masak lo sama gua?"
Aku hanya mendengus, sambil melipat kedua tangan ke depan dada. Seru juga debat dua laki-laki dewasa yang sedang merebutkan satu bidadari. Aku kurcaci hanya bisa nyimak dan siap untuk jadi wasit kalau keadaan sudah tidak kondusif.
"Udah-udah.Raksa, gua sama Mas Damar dulu, ya. Nanti kita pulangnya aja."
Nampaknya Mbak Caeera lebih memilih Mas Damar, Bung. Kita lihat apakah Mas Raksa masih tidak terima dan memaksa?
"Ya tapi, nggak bisa gitu dong."
Aku mulai bosan, di sini sebenarnya aku sedang apa sih? Sad girl.
"Bisa, nanti saja, ya." Ugh, Mas Raksa tertolak. Sad boy.
Akhirnya Mbak Caeera memilih berboncengan dengan Mas Damar, dia segera memakai helm yang sudah disiapkan sang supir. Lalu menaiki motor Mas Damar dengan mudah. Mereka berdua segera meninggalkan kawasan rumah Tante Edrea.
Sedangkan aku? Aku siapa? Aku Dimana? Aku kenapa?
Mas Raksa menyodorkan helm hitam yang tadi sore aku kenakan, ekspresi dia—masih datar.
Kalau dia datar, ya aku juga bisa datar. Aku menerima helm yang dia berikan, segera memakainya dan langsung menaiki motor Mas Raksa—lagi.
Tanpa basa-basi Mas Raksa menarik gas motornya meninggalkan area rumah Tante Edrea.
Suasana malam ini cukup ramai, cuaca cukup dingin ditambah sikap Mas Raksa yang tiba-tiba ikut dingin. Aku yang duduk di atas motor sambil berpegangan erat pada besi belakang hanya bisa melihat kendaraan demi kendaraan yang Mas Raksa lewati.
Jujur aku takut, Mas Raksa mengendarai motor cukup kencang. Angin malam membuat aku sedikit terhuyung ke bekalang. Selain harus menjaga keseimbangan karena kaki ku hanya bisa menempel pada pijakan, aku juga harus menahan angin yang menerpa tubuhku.
Saking kencangnya angin dan laju motor, aku sampai memejamkan mata. Aku takut dan saat seperti ini sangat terlihat jelas kalau Mas Raksa tidak peduli kepadaku. Ternyata sikap pedulinya kemarin-kemarin hanya gurauan belaka.
Aku hanya berdoa supaya tidak terjengkang ke belakang.
Ya Tuhan, Aeera masih mau bernapas. Aeera belum ketemu Mas Buana lagi.
Ketika melewati tikungan, Mas Raksa tidak menarik rem sama sekali sehingga membuat aku semakin erat memejamkan mata dan menggenggam besi belakang.
Tiba-tiba laju motor perlahan pelan dan sudah berhenti. Apa sudah sampai? Secepat itu? Tapi aku enggan untuk membuka mata, jangan-jangan Mas Raksa menjahili aku lagi?
"Kamu kenapa memejamkan mata?"
Aku sedikit terkejut, sedikit membuka mata sebelah kiri. Mas Raksa sudah menengokkan kepalanya untuk melihatku. Sontak aku membuka kedua mata dan melepaskan genggaman tangan dari besi belakang. Jangan sampai kelihatan takut.
Aku enggan menjawab pertanyaan Mas Raksa.
"Dari tadi saya lihat dari kaca spion, kamu memejamkan mata terus. Ngantuk?"
"..."
"Kok diam, hm?"
"..."
"Kamu kesambet?"
Aku melihat ke sekitar, malas juga melihat wajahnya.
"Kamu marah sama saya?"
"Memangnya saya punya salah—"
"Bawel banget, sih?"
Mas Raksa mengerutkan keningnya, "lo mau berhenti dipinggir jalan sampai ditilang polisi?" Aku melirik rambu lalu lintas dilarang berhenti.
Mas Raksa yang ikut melihat malah berkata, "tidak masalah kalau ditilang nya bersama kamu."
"Basi."
Mas Raksa masih melihat ke arah ku, apa leher dia tidak pegal ya nengok ke belakang terus?
"Jalan atau gua turun, naik ojek?" Aku sedikit mengancam, sebenarnya dia bisa membiarkan ku turun dan naik ojek, memang dia peduli?
"Oke, oke. Asal kamu pegangan ke saya, ya?"
"Males."
"Saya heran, kenapa kamu tadi tidak pegangan ke saya, ya? Padahal tadi saya sengaja mengendarai motornya kencang, supaya kamu takut lalu—"
"Gua turun." Aku mengambil ancang-ancang ingin turun dari motor tingginya ini.
"Jangan, nanti saya dimarahi Caeera. Oke kita lanjutkan perjalanan ya,"
__ADS_1
Baiklah.
...🐣...
Setelah perdebatan yang menurut ku sangat tidak penting, akhirnya kami sampai di mall yang tadi sore aku dan Mas Raksa kunjungi. Di parkiran mall aku melihat Mbak Caeera dan Mas Damar sudah menunggu kami. Aku langsung turun dan melepas helm lalu memberikannya kepada Mas Raksa dan bergegas menghampiri dua Saudara ku itu.
"Pokoknya aku nggak mau duduk pinggir, ya!" Ucapku kala sampai di hadapan mereka.
"Iya bawel, lama banget deh kalian?" Jawab Mbak Caeera sambil melihat Mas Raksa yang sedang berjalan menghampiri kami.
Aku menengok ke belakang ikut melihat Mas Raksa, "lama banget, Bro?" Tanya Mas Damar.
Mas Raksa sedikit tersenyum, "iya."
"Yaudah ayo beli tiket." Nampaknya Mbak Caeera sangat bersemangat sekali, dia lebih dulu berjalan dan diikuti Mas Damar.
"Hei, kamu sungguh marah sama saya?" Bisik Mas Raksa saat aku mengekor Mas Damar dari belakang.
"Ora, lapo seh wong ra ono masalah." Jawab ku ketus.
"Kamu bicara apa, saya tidak mengerti Bahasa Jawa—" Ucapan Mas Raksa terpotong kala Mbak Caeera menarik tangannya.
"Rak, lo liat kacamata itu!" Mbak Caeera menarik tangan Mas Raksa sambil menunjuk toko kacamata. Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk Mbak Caeera, banyak model frame kaca mata dari yang kotak hingga bulat. Akhirnya mereka berjalan terlebih dahulu.
Sayup-sayup terdengar perbincangan mereka, "lihat kira-kira cocok nggak kalau gua pakai?"
"Kalau yang pakai lo sih apa aja juga cocok."
Mas Damar merangkul pundak ku, "udah siap belum?"
Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku menajamkan telinga supaya dapat mendengar perbincangan antara Mbak Caeera dengan Mas Raksa.
"Sebenarnya gua nggak minus sih,"
"Terus?"
"Yaa, buat kerenan doang, HAHAHA."
Kami terus berjalan dan sudah melewati toko kacamata, Mbak Caeera di depan bersama Mas Raksa dan aku di belakang bersama Mas Damar.
"Hm, kamu ada apa-apa ya sama Raksa?" Pertanyaan yang membuat konsentrasi ku buyar, aku melihat ke samping atas, wajah Mas Damar.
"Your lambe."
"HAHAHA, sebenarnya Mas bingung sih, yang pacaran sama Raksa itu kamu apa Caeera?"
Bibir ku mencibir, "ya Mas bisa lihat sendiri kan?"
Mas Damar menautkan alisnya, "lagian aku sama Mas Raksa tuh bagaikan pohon toge sama pohon beringin."
Mas Damar hanya mengangguk sambil tersenyum penuh makna lalu mengusap pucuk rambutku sekilas. Aku tidak peduli, tidak mau banyak pikiran, masih muda.
...🐣...
Setibanya di dalam bioskop, aku memilih langsung duduk di sofa kosong. Malam ini cukup ramai, banyak pemuda yang ingin menonton pula, baik itu sama pasangannya, teman, keluarga, atau sendiri. Hiks. Hidup jomblo!
"Ayo pesan tiket dulu." Ajak Mbak Caeera.
"Aku terima beres deh, Mbak."
"Yaudah gua temenin, lo." Aku ingin menahan Mas Damar, tapi mustahil. Mereka sudah berjalan menuju kasir. Alhasil aku sama Mas Raksa duduk berdua di sofa bioskop.
Aku melihat sekeliling, bingung harus berbuat apa. Ingin main ponsel, tapi tidak ada yang penting. Ingin ngobrol, tapi sama Mas Raksa. Keburu emosi. Jariku mengetuk-ketuk sofa, supaya sedikit hilang rasa suntuk.
"Hm. Ada dua hal yang mau saya tanyakan ke kamu."
Aku enggan melihat ke sebelah, "penting? Kalau nggak, nggak usah. Gua sibuk."
"Sibuk apa? Saya lihat dari tadi kamu tidak melakukan apapun."
Aku menelan ludah, melihat Mas Damar dan Mbak Caeera masih mengantri cukup panjang. Mau tidak mau aku harus meladeni Mas Raksa.
"Ya, yaudah apa?"
Tiba-tiba datang dua orang, yang satu wanita hamil dan yang satu lagi laki-laki muda.
"Adek, Mas, boleh minta kursinya untuk istri saya yang lagi hamil tua?"
Aku dan Mas Raksa langsung bangkit berdiri, "ah iya, silahkan Mas, Mbak."
"Terima kasih, ya. Semoga anak-anak saya nanti bisa akur seperti kalian berdua."
Aku dan Mas Raksa hanya melihat satu sama lain, aku menahan tawa. Padahal wajah kami tidak mirip sama sekali, berarti orang lain menganggap kami kakak beradik ya? HAHAHA.
"Kita duduk di sana." Mas Raksa menggenggam pergelangan tanganku. Kami berjalan sedikit masuk lorong bioskop, banyak juga manusia yang duduk di pinggiran lorong. Akhirnya aku dan Mas Raksa ikut duduk di sana.
"Nanya apa?"
Aku sedikit melongo, sepenting itu?
"Klise banget, ya karena serem lah, Mas."
Mas Raksa menatapku dalam, "kamu yakin hanya itu?"
"Ya, gimana ya. Ada alasan lain, tapi lo kayaknya nggak perlu tahu."
"Kenapa?"
"Ya, nggak boleh aja."
"Coba saya tebak, apa karena kamu takut kegelapan?"
Aku mengernyit, nih orang cenayang beneran deh kayaknya.
"Lo cenayang ya?" Yang awalnya bersender ke tembok, aku langsung menghadap Mas Raksa dan bergeser ke belakang.
Mas Raksa ikut bergeser juga, "apa sih kamu lebay sekali."
Aku memilih bergeser lagi karena takut dekat sama Mas Raksa. "Ya lo, kenapa seakan bisa tahu tentang gua?"
Mas Raksa tetap mengikuti gerakan ku, "kan saya tadi bilang, hanya menebak."
Aku tetap bergeser, "dusta, masa bisa seakurat itu—" Ucapan ku berhenti saat punggung ku menabrak seseorang.
"Eh, lo kegenitan banget sih nempel-nempel sama cowok gua?"
Aku yang awalnya menghadap Mas Raksa langsung memunggungi dia, dan posisi kita lebih dekat dari awal tadi. "Maaf, Mbak saya nggak lihat."
"Mata lo buta, sejelas ini nggak lihat?" Orang-orang yang ada di sekitar, pandangannya langsung tertuju pada kami, dan mulutnya berbisik sana-sini.
"Udah, Beb." Lerai kekasihnya.
"Mbak, dia kekasih saya. Maaf ya kalau mengganggu kalian." Aku menengok ke Mas Raksa, hah kekasih?
Ku lihat raut wajah wanita yang tadi memarahi ku, dia langsung tersenyum malu.
"Ah tidak apa, Mas. Tidak mengganggu juga."
Apa sih ini? Apa orang dewasa sekonyol ini?
Aku yang masih bingung dengan wanita itu tiba-tiba di tarik oleh Mas Raksa untuk pergi.
"Ko—kok dia bisa gitu?" Tanya ku sambil melihat sekilas wanita tadi, ternyata masih melihat Mas Raksa dan kekasihnya berusaha mengguncang tubuh wanita itu.
"Hahaha, sudah biasa. Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu." Mas Raksa hanya tertawa ringan.
"Kalian dari mana aja, sih?" Suara Mbak Caeera dari arah belakang.
"Duduk di sana."
"Udah dapet, Mbak?"
Ku lihat Mas Damar hanya memandangi aku dan Mas Raksa.
"Udah, tapi tiga puluh menit lagi. Kemana dulu ya kita?" Mbak Caeera berpikir sambil melihat sekeliling, bioskop ini semakin malam semakin ramai saja.
Akhirnya Mas Damar memecahkan keheningan diantara kami berempat, "foto box?"
Aku menggeleng, sedangkan Mbak Caeera dan Mas Raksa mengangguk.
"Lo itu muda tapi kok apa-apa nggak mau, sekali-sekali harus dipaksa." Mbak Caeera langsung menarik pergelangan tanganku. Kami jalan menuju foto box yang berada di lantai bawah. Aku tidak mau karena aku sebenarnya tidak begitu percaya diri kalau foto bersama orang. Lain cerita kalau sendiri.
Sesampainya di depan box untuk berfoto, Mbak Caeera sedikit berbincang dengan Mas penjaga. Setelah itu kami berempat langsung masuk ke dalam.
"Empat kali ya, berarti empat pose." Ucap Mbak Caeera, duh sekarang aku bingung ingin bergaya seperti apa. Aku berada di tengah-tengah antara Mas Damar dan Mas Raksa, sedangkan Mbak Caeera di sebelah Mas Raksa.
Pose pertama, kami semua terlihat tegang, hanya sedikit senyuman terukir di bibir kami.
Pose ke dua, Mbak Caeera mengangkat tangan kanannya dan membentuk huruf V dari jari telunjuk dan tengah. Sama halnya dengan Mas Raksa, namun dia membuat pose itu di atas kepalaku, sungguh buat jengkel! Sedangkan aku menjulurkan lidah, dan Mas Damar hanya tersenyum.
Foto ke tiga, Mbak Caeera tertawa lepas. Mas Raksa masih memberikan pose V dengan tangan kirinya. Sama halnya dengan aku, tapi menggunakan tangan kanan dan lagi-lagi Mas Damar masih seperti pose ke dua.
Foto ke empat, kami semua nampak belum siap. Mbak Caeera sedang membenarkan posisi rambutnya. Mas Raksa sedang melirikku sambil tertawa. Sedangkan aku sendiri sedang memukul bahu Mas Raksa, dan Mas Damar masih saja seperti pose ke dua.
Selesai berfoto yang membuat Mas Damar mati gaya, padahal dia sendiri yang memberi saran. Kami langsung keluar dari box foto dan memutuskan untuk menuju ke bioskop saja. Di tengah perjalanan kami sibuk melihat hasil foto box tadi, yang membuat aku tertawa lepas adalah ekspresi dan gaya Mas Damar sama semua tidak ada bedanya.
"Mas Damar, Mas yang ajak foto. Mas sendiri yang mati gaya. HAHAHA." Mas Damar yang berada di samping Mbak Caeera hanya tertawa geli sambil melirik empat cetakan foto yang ada di tangan ku.
"Gua mau yang ini, tumben gua keliatan cantik." Aku melihat Mbak Caeera mengambil foto ke dua. Menurutku, di semua lembar foto ini Mbak Caeera nampak cantik. Walau candid juga tidak menghilangkan paras ayunya.
Kali ini Mas Raksa yang memilih, "hm, gua yang ini." Aku sedikit tidak ikhlas kala Mas Raksa mengambil foto ke tiga, karena hanya di foto itu aku kelihatan lumayan.
__ADS_1
"Ya—yah, Mas. Cuman di foto itu Aeera keliatan lumayan." Ucapku berharap Mas Raksa peka, namun reaksi dia bukan seperti yang aku inginkan.
"Mas Damar, lihat! Foto tuh kayak gua gini, jangan kaku banget." Samar ledekan Mbak Caeera ke Mas Damar kala aku berharap Mas Raksa peka.
Dia berbisik, "Kamu, difoto manapun tetap terlihat cantik kok." Seketika bulu kuduk ku berdiri.
Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan gurauan Mas Raksa, "ini buat Mas Damar. Fotonya nggak ada kesan hidup sedikitpun." Aku memberikan cetakan foto pertama kepada Mas Damar.
"Ahahaha. Cocoklah sama gaya dia." Tawa Mbak Caeera.
...🐣...
Menunggu cukup lama, akhirnya studio tiga sudah dibuka. Kami mengantri untuk memasuki studio itu. Sebenarnya aku bingung, untuk apa orang-orang ini memilih genre horor, selain menakutkan mereka juga tidak akan bisa konsentrasi ke alur cerita. Kalau aku tidak dipaksa Mbak Caeera, aku tidak akan mau berada di sini. Lebih baik rebahan di kamar.
Kami sudah duduk menghadap layar besar, studio ini gelap sekali, lagi mati lampu ya? Tapi kok layarnya bisa hidup. Huh, aku kesal.
Seperti rencana awal, aku duduk di antara para lelaki. Mas Damar, aku, Mas Raksa, dan Mbak Caeera. Jujur saja, posisi seperti ini sedikit membuat aku lebih tenang. Di tanganku sudah ada segelas pop corn, tujuannya supaya nanti aku bisa memalingkan fokus ku ke pop corn ini.
"Kamu tegang banget sih, Ae?" Menurutku ini pertanyaan retoris yang keluar dari mulut Mas Damar.
Aku berdecak, "udah, deh, Mas. Jangan bikin Ae kesal." Mas Damar sedikit tertawa, setelah itu dia mengambil beberapa pop corn ku. Aku tidak peduli, jujur saja aku tidak ikhlas, tidak ridho, dan tidak mau menonton film ini.
"Hm," Apalagi ini, aku sedikit melirik Mas Raksa yang duduk di sebelah kananku.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi." Aku menarik napas, ku mohon ini bukan waktu yang tepat. Tebakan dia benar kalau aku takut akan kegelapan, tapi kenapa dia seperti tidak peka kalau saat ini aku sedang gundah?
Ah, aku lupa. Dia gemar bergurau.
"Jangan sekarang, apa lo mau gua siram pop corn?" Gumam ku, aku yakin dia dapat mendengar itu.
Mas Raksa sedikit tertawa, "kenapa kamu masih takut dengan kegelapan? Secara kamu kan sudah dewasa."
Otomatis mataku tidak melirik lagi, melainkan langsung melihat ke arah dia. Begitupun Mas Raksa juga memilih melihat ku dan mengangkat kedua alisnya.
Sekilas aku melihat wajahnya, keinginan untuk memukul tiba-tiba meningkat seratus persen. Tapi aku hanya bisa menahan napas, lalu membuang muka ke layar besar di depan.
"Nggak penting buat lo, palingan cuma buat ngeledek gua doang."
"Hah? Saya tidak pernah bermaksud meledek kamu—"
"Rak, sini wefie dulu!" Ajak Mbak Caeera, ku lirik seketika Mas Raksa melihat ke arah kamera ponsel Mbak Caeera.
Untunglah. Aku malas meladeni gurauan Mas Raksa, apalagi disaat seperti ini.
Nampaknya Mas Raksa sudah lupa dengan perbincangan kami tadi, dia tidak membahas sedikitpun dan lebih memilih sibuk dengan Mbak Caeera.
Film sudah mulai diputar, tangan yang aku gunakan untuk memegang pop corn sedikit bergetar. Setakut itu aku dengan film horor.
"Aaaaa!"
Apa? Hanya aku yang teriak di sini? Boneka yang menurut Mbak Caeera imut itu sukses membuat aku terkaget sampai memeluk seseorang di sebelah—kanan ku. Bodoh sekali kau Aeera!
Mas Raksa yang sadar akan pelukanku bukannya menghindar malah mengelus punggung ku perlahan. Tapi, setakut-takutnya, aku masih sadar kalau ini salah. Aku segera beranjak dari dekapannya dan menuju ke pelukan Mas Damar.
Melanjutkan menonton film ini adalah pilihan yang menurutku paling bodoh selama lima belas tahun.
Aku masih berada di pelukan Mas Damar dan sedikit mengintip film itu. Lagi-lagi aku kaget dan membuat pop corn yang aku genggam dengan tangan kanan terjatuh, karena aku memilih menutup mataku dengan kedua tangan. Untung saja aku dapat menahan teriakan, yang dapat membuat aku malu sendiri. Tapi tidak bisa dibohongi, jantungku berdetak tidak aturan.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari studio ini, menjengkelkan! Setibanya di luar bioskop aku menghentakkan kaki, "Aeera bodoh, udah tahu takut, masih saja lanjut nonton!"
Bingung harus kemana, akhirnya aku memutuskan untuk turun ke lantai dasar dan menuju toko buku. Lebih baik baca novel dari pada memacu adrenalin seperti tadi.
Aku duduk di pojokan dekat rak buku, bersender di tembok sambil membaca novel yang menurutku menarik dan sudah terbuka dari legelnya. Baru saja merasa tenang, ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahku dan menyandarkan kepalanya ke tembok, lalu memejamkan mata. Tak lupa dia membuang napas kasar.
"Kamu tidak melihat pesan dari saya?"
Kalian tahu dia siapa?
Mas Raksa masih memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya ke atas. Dia melontarkan pertanyaan itu. Aku mengernyit, ponselku selalu sepi makanya aku memilih mode hening.
Aku hanya menggelengkan kepala, lalu melanjutkan membaca.
"Kamu tahu tidak, rasanya kehilangan—"
"Heum?" Tanyaku sambil melihat ke wajahnya yang sudah melihat wajahku pula.
Aku menunggu dia melanjutkan ucapannya, namun Mas Raksa hanya memandangi wajahku. Fokus melihat bibirku.
"Kehilangan apa, Mas?" Tanyaku lagi sambil menautkan kedua alisku.
Seketika Mas Raksa memalingkan pandangan ke arah lain, "lupakan. Kamu kenapa di sini?" Jawabnya.
"Gua? Harusnya gua yang nanya gitu, lo ngapain di sini?"
"Cari kamu Aeera, lima belas menit tidak kembali ke studio. Gimana bisa tenang?"
"Mas, lo bilang gua udah dewasa kan? Kenapa harus khawatir?"
Mas Raksa tidak menjawab pertanyaan ku, entahlah sebenarnya dia ini kenapa? Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca novel.
"Ae,"
"Hm,"
Dia berdiri, menjulurkan tangannya ke arahku. Seketika aku melihat tangannya, lalu wajahnya.
"Kemana?"
"Cari angin."
Entah kenapa, tanganku tiba-tiba meraih uluran tangannya. Aku berdiri, melepaskan genggaman tangan dia dan memutuskan menaruh kembali novel yang tadi aku baca.
Mas Raksa berjalan terlebih dahulu, ya tahu sendiri aku ini termasuk golongan sangat pendek jika dibandingkan dengan Mas Raksa. Jadi, langkah kakiku tidak akan bisa seimbang dengan dia.
Aku cukup tertinggal jauh, tapi tidak masalah, punggungnya masih terlihat.
Ku lihat Mas Raksa berhenti dan melihat ke arahku, "kamu lama sekali jalannya." Ejek dia saat aku sampai di depannya.
"Waduh, misalnya Mas Raksa masuk tipe cowok gua. Kayaknya gua yang nggak masuk tipe lo." Sebenarnya aku sedikit emosi kala dia mengucapkan hal itu, bukankah itu termasuk body swimming? Eh.
"Sok tahu."
Aku tidak salah bicarakan? Kalaupun Mas Raksa dapat menggantikan posisi Mas Buana di hatiku. Tapi, sepertinya aku bukanlah tipe dia. Secara dia berkata jalanku lama, otomatis dia lebih menyukai wanita tinggi. Itu hanya asumsi ku.
Setelah itu, Mas Raksa melangkahkan kakinya kembali. Aku mencoba mensejajarkan langkah kakiku dengan kakinya. Eh, tapi kok rasanya langkah kaki Mas Raksa jadi seimbang sama Ae?
...🐣...
Kami telah berada di luar gedung, namun masih berada di kawasan Mall. Lebih tepatnya, kami sekarang berada di taman. Taman ini cukup ramai dengan manusia, wajar saja, tempat ini cukup indah karena dihiasi lampu warna-warni dengan berbagai bentuk.
Tempat ini instagramable sekali. Banyak yang mengambil gambar, selfi, ataupun wifie. Banyak juga yang sekedar duduk dan berbincang santai. Sedangkan aku dengan Mas Raksa, masih berjalan, sejujurnya aku tidak tahu ingin kemana. Tapi, taman ini cukup membuatku kagum dan membuat suasana hatiku sedikit ayem.
"Kita, duduk di sana." Ucap Mas Raksa sambil menunjuk bangku taman yang kosong.
Kami segera duduk, aku tak bisa memalingkan pandangan dari hiasan-hiasan lampu di taman ini. Sedikit ikut bahagia kala melihat orang lain tertawa.
"Kamu tidak mau berfoto?" Aku hanya menggelengkan kepala sambil masih melihat ke sekitar.
"Heum, pertanyaan saya yang tadi belum sepenuhnya terjawab." Ucapan ini membuat ku berhenti memandang keadaan taman, dan mulai melihat Mas Raksa.
"Pertanyaan yang mana?"
"Baiklah saya ulang. Kamu tidak suka film bergenre horor, bukan?"
Aku hanya mengangguk.
"Alasan kamu tidak suka, karena kamu takut dengan kegelapan?"
Aku masih saja mengangguk.
"Lalu, kenapa kamu masih takut dengan kegelapan?"
Lidahku membasahi bibir yang terasa kering. Sambil berpikir, enaknya jawab apa ya? Aku meneliti wajah Mas Raksa, melihat ekspresinya. Apa dia mau jailin aku lagi?
Tapi wajahnya nampak serius. Ae, dia ini jago bergurau, kamu jangan mudah tertipu.
Mas Raksa memetik kan jari di depan wajahku, "heum, itu, Mas Raksa tahu yang namanya trauma?"
Kali ini Mas Raksa yang mengangguk, "Nah, itu susah dihilangkan." Lanjut ku singkat.
"Trauma kenapa?"
"Tidak perlu tahu."
"Kenapa?"
Aku kembali meneliti wajahnya, nampak serius, tapi lagi-lagi aku takut dia hanya bergurau. Sebenarnya dia tidak peduli denganku, takutnya begitu.
"Karena, Mas bukan siapa-siapa, Ae. Jadi nggak berhak tahu." Aku tidak jahat 'kan, bicara seperti ini?
Mas Raksa tidak lagi melihat wajahku, dia sejenak melihat rumput dan melihat ke sekitar pula. Lalu melihatku kembali, "kamu benar juga."
Ku anggukkan kepalaku sekali, "tapi, tanpa kamu kasih tahu. Saya sebenarnya sudah tahu."
Akhirnya setelah beberapa hari liburan aku kembali berpikir keras, maksudnya Mas Raksa itu apa? Aku sedikit mengerutkan kening, mencoba membaca ekspresi wajah Mas Raksa. Tapi, wajah dia selalu datar.
Aku mendengus, "huh."
Melihat ke sekitar, "sudahlah Mas, jangan selalu bergurau. Aku memang tidak se-perfect Mbak Caeera, tapi Mas Raksa tidak usah mencoba untuk mempermainkan, Aeera." Malas juga lama-lama melihat wajahnya dan mendengar gurauannya.
...🐣...
__ADS_1