Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
EPS 33: Sudut Pandang Raksa


__ADS_3

“Ayo Raksa! Cepetan.”


“Tidak bisa, Thor. Saya tidak biasa bicara panjang lebar ke sembarang orang.”


“Bawel banget lo. Ini tuh supaya semuanya jelas. Supaya yang baca nggak mikir, “kok gini? Nggak masuk akal banget? Kok tiba-tiba begitu, maksa banget.” Lo mau Aeera juga diambang rasa penasaran?”


“Jangan bawa-bawa Aeera, Thor.”


“Ya makanya, lo nggak usah bawel. Apa susahnya tinggal cerita dari sudut pandang lo?”


“Susah, Thor.”


“Bawel lo, Sa. Intinya gua kasih deadline satu minggu untuk lo jelasin semuanya ke pembaca.”


“Kalau nggak sampai target, gue ubah jadi sad ending. Kapal Gemaeera bakal berlayar!”


...🥱...


Hai. Nama saya Raksa Alger Buana.


“Ya nggak usah formal banget dong, Sa!”


Tolong mute Author sekarang juga.


Oke. Author sudah di-mute, jadi saya bebas bercerita dengan gaya bahasa seperti apapun.


Kalian pasti akan mengenal saya hanya dari gaya bahasa. Ya, saya Raksa Agler Buana. Sebenarnya saya tidak mau bercerita panjang lebar seperti ini, karena akan membuang waktu. Tapi saya tidak rela jika Aeera akan bersama Gema.


Aeera itu milik saya.


Hm. Cerita dari sudut pandang saya tidak akan panjang, karena saya hanya akan bercerita hal yang mungkin mengganjal atau yang bisa memunculkan pertanyaan dari Aeera ataupun kalian pembaca.


Mulai dari kala itu. Saya meninggalkan Aeera begitu saja disaat dia bersedih karena mendapatkan penolakan kado.


Bukan. Saya pergi bukan karena ulah dia. Kalaupun karena dia, saya tidak akan kembali dan berjuang kembali ke kota maut ini hanya karena gadis itu.


“Buana. Tante mendapat kabar buruk. Sebaiknya kamu pulang, bersiap terbang ke Kalimantan. Bunda lakalantas. Kamu yang kuat ya, Nak.”


Itulah bisikan dari Tante Arkadewi, calon mertua saya.


Siapa yang tidak kaget dan langsung pergi, kala mendapat kabar jika keluarga satu-satunya yang tersisa pun ikut dipanggil maut?


Sebelumnya Ayah dan Adik. Kali ini Bunda. Seolah, kota ini adalah kota maut.


Setelah mendapat kabar, saya langsung terbang ke Kalimantan karena jenazah Bunda sudah sampai di sana. Tak dapat dipungkiri, saya sampai trauma untuk kembali ke Ibu Kota.


Keputusan yang saya ambil adalah, menenangkan diri di Kalimantan. Tinggal sementara bersama Nenek dan keluarga Bang Raihan. Bagaimanapun, di Ibu Kota saya sudah tidak mempunyai keluarga. Walaupun seharusnya saya kembali ke kota itu untuk mengurus perusahaan Bunda dan Ayah. Tapi jala itu, saya adalah laki-laki remaja yang lemah daya.


Selama di Kalimantan, bayang Aeera tidak pernah lepas. Saya merasa bersalah telah meninggalkan dia begitu saja tanpa pamit. Apalagi kesan terakhir bersama dia adalah amarah. Sungguh, Mas sangat menyayangi kamu, Aeera.


Gadis itu lahir tiga tahun setelah Adik meninggal. Akhirnya saya menganggap Aeera adalah pengganti adik. Rasa tanggung jawab dan melindungi sangat melekat untuk gadis itu. Saya tidak bisa melepaskan dia, karena Aeera seperti adik kandung saya sendiri.


Itu awalnya. Pada akhirnya, setelah lima tahun menenangkan diri. Saya sadar bahwa, rasa ini bukan hanya sekadar sayang sebagai adik. Tapi, rasa cinta juga ikut campur di dalamnya.


Dia, Aeera. Adalah satu-satunya faktor saya masih bertahan dan memperbaiki hidup. Dia adalah motivasi eksternal saya sehingga ingin memiliki kualitas yang lebih baik. Kalau tidak ada dia, entah saya sekarang masih bertahan atau tidak.


Saat itu saya berumur 21 tahun. Saya memutuskan untuk kembali ke Ibu Kota. Tidak enak jika harus merepotkan Tante Edrea terus menerus. Tekat saya bulat, untuk melanjutkan perusahaan Ayah dan Bunda.


Selain itu, alasan utama saya adalah untuk bertemu dengan Aeera. Gadis kecil yang tidak pernah lepas dari benak dan pikiran. Entah rupanya sekarang seperti apa. Tapi saya sangat rindu dan ingin kembali melindungi dia.


Saya ingat, kala itu hari Selasa. Saya sampai di rumah Tante Edrea dengan menaiki Taxi dari Bandara. Bang Raihan Arya Buana, Kakak Sepupu saya bersikeras untuk ikut mengantar agar dia tenang.


“Kamu yakin, Sa?”


“Iya, Bang. Saya sudah merepotkan keluarga di Kalimantan dan Tante Edrea harus pegang kendali perusahaan Ayah Bunda.”


“Kamu tidak merepotkan sama sekali, Raksa.”


Akhirnya kami berdua masuk ke kawasan rumah yang sangat besar itu. Menaiki beberapa anak tangga agar dapat sampai di teras dan pintu utama. Namun saya mendengar pembicaraan yang cukup seru, nampaknya.


Dua orang membuka pintu utama sambil berbincang.


“Cepetan, Ra! Keburu dia cabut.”


“Apa sih, anjirr. Sabar dong.”


“Lagian lo mendadak banget sih, Dam! Lo yang mau PDKT gue yang repot.”

__ADS_1


Akhirnya kami berpapasan di anak tangga terakhir. Kami berempat sempat terdiam saling pandang. Nampak bingung, tidak mengenal satu sama lain.


“Buana, ya?” Saya yakin itu Damar, karena kalau boleh jujur wajahnya tidak jauh berubah.


“Hah? Maksud lo, Buana si tameng Bocil?” Haha, yang dia maksud Bocil itu Aeera, ya?


“Halo, apa kabar?” Saya mencoba untuk mencairkan suasana.


“Anjir, Buana! Lo glow up banget. Spill skincare dong.” Caeera tetaplah Caeera, perempuan ini memang mudah bergaul dan bawel.


“Lo mau glowing sampai transparan atau gimana sih, Ra?” Damar sendiri heran dengan Saudaranya, apalagi saya?


“Bacot, Damar!”


“Oh, iya. Lo mau ada urusan sama Tante Edrea, ya?”


Saya baru sadar, kalau datang tidak sendiri. Dari tadi Bang Raihan hanya diam bergeming.


“Iya, Ra. Saya ingin bertemu Tante Edrea.”


“Oh iya. Ini kenalkan Kakak Sepupu saya, namanya Bang Raihan.”


Ku lihat mereka saling berjabat tangan.


“Halo, Bang. Nama gua Damar.”


“Salam kenal, Bang. Nama gue Caeera.”


“Nama saya Raihan. Salam kenal.”


Ya, begitu saja perkenalkan mereka. Sebelum tindakan Bang Raihan cukup mengejutkan hati kecil saya.


“Saya boleh minta nomor telepon kamu?”


Bagaimana tidak? Saya mengenal Bang Raihan sebagai pribadi yang pendiam dan tidak percaya diri, apalagi jika berhadapan dengan perempuan. Tapi kali ini, kenapa Bang Raihan berani meminta nomor telepon Caeera?


“Eh, maksudnya Bang?”


“Oh, sorry. Bukan bermaksud lain, saya hanya ingin memastikan jika Raksa akan baik-baik saja. Jadi saya meminta nomor kamu supaya dapat dihubungi jika Raksa tidak ada kabar.”


“Ohh. Hahaha. Lo jangan kegeeran dulu, Ra.” Saya lihat Damar meledek Caeera sambil sedikit mendorong bahu cewek itu. Sedangkan Caeera hanya tertawa canggung.


“Akan lebih baik jika nomor kalian berdua. Supaya lebih cepat tanggap lagi.”


Akhirnya Caeera dan Damar dengan sukarela memberikan nomor telepon kepada Bang Raihan.


“Anjir, Ra! Keburu gebetan gue cabut. Lo sengaja mau bikin gue gagal jadian, ya?”


Begitulah dua persepupuan ini, selalu ribut dan heboh sendiri. Dari kecil, Caeera dan Damar memang tidak perah akur, selalu ada konflik dan debat kecil di antara mereka. Namun, akan kembali akrab dan baikan dengan cepat.


...🥱...


“Saaa, Raksa! Flat banget narasi lo, bahasanya jangan kaku banget kenapa sih?”


Siapa yang unmute Author?!


Saya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa salahnya?


“Serah lo dah. Lanjutin sana, sampai semua jelas!”


Kamu bawel sekali, seperti Aeera. Tolong mute lagi Author supaya tidak memotong narasi saya.


...🚲...


Oke. Saya lanjutkan. Setelah berbincang dengan Tante Edrea, Bang Raihan langsung memutuskan untuk kembali ke Kalimantan, karena dia sudah memiliki tugas dari kerjaan di sana.


Saya mencoba akrab kembali dengan Damar. Lima tahun berpisah cukup membuat suasana canggung, tapi sepertinya itu menurut saya saja. Buktinya dari tadi Damar bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya.


Disaat kami saling diam, saya memberanikan diri untuk bertanya mengenai alasan utama saya kembali ke sini.


“Aeera apa kabar, Dam?”


Damar yang awalnya fokus ke PlayStation di hadapannya, langsung melihat ke arah saya.


“Lo masih inget?”


“Saya tidak akan pernah lupa sama dia.”

__ADS_1


“Jadi, dia apa kabar?” Saya kembali menanyakan pertanyaan utama.


Cowok itu kembali menghadap ke depan, “gue nggak akan cerita sebelum lo ubah gaya bicara lo.”


“Kaku banget anjir, kayak lagi ngomong sama dosen.”


Aduh, kenapa Damar sama seperti Author? Mempermasalahkan gaya bicara saya.


Oke. Demi Aeera, saya akan coba lakukan yang diminta Damar.


“Oke. Jadi gua harus gimana?” Sungguh sulit berbicara seperti ini.


“Nah, gitu dong. Baru gue semangat. Kayak ngobrol sama temen sendiri.”


Damar menghadap ke arahku, “jadi gini, Sa. Lo udah telat anjir.”


Maksudnya? Aeera sudah dimiliki orang? Loh, bukannya gadis itu masih di bawah umur? Apa saya salah menghitung usia?


“Maksudnya, dia sudah menikah?”


Damar memukul bahuku, “anjir, pikiran lo jauh banget. Dia baru masuk SMP, yang berani macem-macem gue basmi.”


Syukurlah, ternyata saya tidak salah menghitung. Lalu, maksud terlambat dari Damar itu apa?


“Puji Tuhan. Terus maksud lo, gimana?”


“Heh. Lo demen sama sepupu gue?”


Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab. Sampai saat itu, saya masih tidak yakin dengan rasa cinta yang saya miliki. Sebenarnya hanya sayang sebagai adik, atau sebagai pasangan?


Kalau hanya sebagi adik, untuk apa saya berusaha bangkit dan memperbaiki kehidupan agar dapat memantaskan diri? Kenapa saya kaget mendengar ucapan terlambat dari Damar?


“Diem aja. Berarti lo belom yakin.” Kesimpulan Damar berhasil membuat saya sadar dari lamunan.


“Jadi gini, Sa. Anak-anak Tante Arkadewi itu semuanya wajib sekolah di luar kota Jakarta. Alasannya sih biar bisa mandiri.”


“Kak Humeera sama Cewek jadi-jadian. Sorry, maksud gue Caeera. Mereka berdua sekolah di luar kota dari SMA.”


“Tapi beda sendiri nih sama si bontot. Dia dari SMP pindah ke Jogja. Hari ini banget. Makanya tadi gue sama Caeera habis antar dia ke Bandara.”


Mata saya berhasil membelalak, kaget setengah mati mendengar penjelasan dari Damar. Bagaimana mungkin anak sebelia itu dibiarkan sekolah di luar kota? Itu sangat berbahaya.


“Ah! Sebenarnya gue juga udah protes ke Tante Arkadewi. Tapi ya gitu, nggak ngefek.”


“Gue tuh nggak rela My little angel harus berjuang di sana sendiri. Maksud gue, ya ada sih Mbah yang tinggal bareng. Tapi kebiasaan gue jagain dia sejak lo cabut, jadi nggak rela kalau jauh-jauh.”


Syukurlah kalau Aeera di sana tinggal bersama Neneknya. Sudah berapa kali saya bersyukur ketika mendengar kabar soal Aeera? Mengenai ucapan Damar tentang dia yang menjaga Aeera setelah saya pergi, membuat saya semakin merasa bersalah. Mengingat dulu Damar selalu usil dengan Aeera, dan sayalah yang membela gadis itu.


“Syukurlah, berarti dia sehat, ya?”


“Sehat, segar, bugar dia mah.”


“Cakep lagi, Sa. Pasti lo pangling kalau nanti ketemu. Hahaha.”


Tak sadar senyuman saya ikut terukir begitu jelas saat mendengar ucapan Damar.


“Lo mau nomornya? Biar bisa kabar-kabaran lagi.”


Berpikir sejenak. Apa tidak menimbulkan kesan buruk kalau saya menghubungi dan meminta maaf dengan dia melalui pesan elektronik? Sepertinya tidak etis dan tidak sopan.


“Tidak usah, Dam. Lebih baik bertemu secara langsung saja. Supaya lebih berkesan.”


“Anjir, bahasanya balik ke setelan pabrik.” Gumam cowok itu, namun masih jelas dapat saya dengar.


“Asal lo tau sih, Sa. Si bocil bakal ke Jakarta tiga tahun lagi, pas lagi liburan ke lulusan. Gue nggak jamin dia masih jomblo.”


Kali ini, saya tidak dapat bersyukur. Jadi, saya harus menunggu waktu tiga tahun lagi? Bagaimana bisa saya sabar untuk menahan rindu?


Aeera, susah sekali untuk bertemu dengan dirimu lagi.


Saya berharap kamu masih sabar menunggu saya untuk datang kembali.


......🥱......


“Sukurin, overthinking, kan lo, Sa.”


Author bawel sekali. Intinya saya mau cerita ini happy ending.

__ADS_1


__ADS_2