Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 20


__ADS_3

Ini hari senin.


Hari dimana aku harus menjalani MOS sebagai siswa SMA. aku memang belum bisa menerima semua keadaan yang belakangan ini aku alami. Tapi, untuk saat ini aku fokus ke sekolah dulu.


Aku sudah siap menggunakan seragam putih biru, topi setengah bola, dan tas dari karung beras.


“Mbah, Aeera pamit, yo.”


Aku sedikit berteriak, karena Mbah sedang di dapur.


“Yo, Nduk. Seng ati-ati, yo. Mugo-mugo lancar.”


“Amin, Mbah.”


Akhirnya aku keluar rumah, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dimana lima belas menit lagi sudah masuk. Dan jarak rumah ke sekolah cukup jauh.


Aku memberhentikan sebuah becak dan naik menuju sekolah.


“Aduh, bentar lagi masuk. Aeera kamu ceroboh banget, baru hari pertama masak udah telat.” Gumam ku sedikit panik.


Keringat dingin muai mengucur saat aku melihat jam menunjukkan pukul enam lewat empat puluh emat menit.


Aku segera lari ke arah gerbang sekolah yang naas sudah ditutup oleh satpam. Di sana juga sudah berdiri dua siswi, aku yakini adalah anggota OSIS.


“Masih anak baru, wes berani telat kamu, yo?” Kata salah satu dari mereka dengan name tag Mayang.


“Maaf, Kak. Tadi aku naik becak, jadi agak lama.”


Aku mendengar bisikan dari temannya Kak Mayang, “kayane uduk wong kene asli. Sikat wae.”


Aku mengernyit, maksudnya kalau memang aku bukan orang Jogja asli, lalu kenapa?


“Alasan mu ndak masuk akal. Terus, mau mu piye?”


“Masuk lah, Kak. Masak di sini terus, tujuan gue ke sini kan mau sekolah.” Ucapku cukup berani, bagiamana tidak? Aku sudah cukup stress dengan masalah kemarin, sekarang harus menghadapi orang seperti ini.


“Wuh, galak tenan rek.” Ledek mereka berdua.


“Sikat.” Bisik teman Kak Mayang lagi.


“Oleh mlebu,” Kata Kak Mayang menggantung.


Aku menunggu kata selanjutnya, “tapi, meneko pager. Aku males mbukake.”


Teman Kak Mayang cekikikan mendengar itu. Aku bingung, kenapa perintahnya seekstrim ini?


“Ngapunten, Kak. Yang namanya gerbang punya roda. Yang namanya roda itu alat pembantu buat gerbang ini supaya bisa bergerak. Lo pikir gue maling?”


Raut wajah Kak Mayang nampak emosi, sedangkan temannya membisikkan sesuatu.


“Wes, sak ki ngene wae. Neng kene seng salah sopo?”


“Ndekne.” Jawab temannya.


“Dadi seng oleh ngeweki human, sopo?”


“Kowe.”


“Pinter. Seng salah sopo?”


“Ndekne.”


“Dadi?”


“Ndekne kudu patuh karo hukuman mu.”


Aku mengernyit dan membatin, mereka berdua nggak waras, ya?


“Paham?” Tanya Kak Mayang dengan nada membentak.


Aku tidak memberikan respons, karena ini tidak masuk akal.


“Yowes, kalau nggak mau. Aku bakal lapor ke ketua OSIS, ben malah berat hukuman mu.”


Aku berdecak, masak baru pertama kali sekolah sudah bermasalah dengan ketua OSIS, pasti urusannya bakal panjang. Dengan keras hati, aku menuruti perintah mereka.


Lengan baju yang lumayan panjang, karena kemarin sama Mas Gema disuruh beli yang over size, aku tekuk ke atas. Lalu aku mengambil ancang-ancang untuk naik ke atas gerbang.


“Stop!”


Mendengar perintah itu, aku berhenti dari aktivitas dan melihat ke sumber suara.


“Sopo seng gawe hukuman membahayakan koyok ngene?”


Sungguh. Aku tidak percaya. Orang itu adalah Mas Gema.


Ku lihat Kak Mayang dan temannya gelisah, keduanya saling senggol menyenggol bahu. Aku melihat Mas Gema, tangannya seperti memerintah ku untuk turun. Akhirnya aku menuruti perintahnya.


Terima kasih, Tuhan.


“Belum ada yang jawab, ya.” Mas Gema berjalan mendekat ke arah kami, yang dipisahkan oleh gerbang sekolah.


“Ojo mok senggolan, jawab!”

__ADS_1


“Opo ora ngerti karo isi briefing sak urunge? Ora ono seng jenenge penindasan, ora ono seng jenenge membahayakan.”


Aku ikut menunduk, Mas Gema tegas sekali ya hari ini.


“Ngerti ora?” Tanya Mas Gema dengan nada membentak.


“Iyo.” Jawab Kak Mayang dan temannya dengan nada lemas.


“Kamu,” otomatis aku mengangkat wajah.


“Kenapa terlambat?”


Aku sedikit gugup, “anu, itu, tadi naik becak. Jadi agak lama.”


“Itu bukan alasan, manage waktu yang tepat. Bilang saja kamu teledor.” Ucapnya dengan tegas, aku hanya mengangguk.


“Masuk, jalan jongkok sampai ke lapangan!” Perintahnya, lalu dia pergi meninggalkan kami bertiga.


Akhirnya Kak Mayang membuka gerbang sekolah, mau tidak mau aku mengikuti hukuman dari Mas Gema, karena memang aku salah di sini.


Aku mulai jalan jongkok ke lapangan tempat murid baru lain berkumpul. Ternyata jarak lapangan jauh juga, napas ku sudah tersengal. Keringatku bercucuran dari dahi ke pelipis dan pipi. Mulai menetes jatuh ke aspal atau rok yang aku gunakan.


Ayo Aeera, kamu pasti bisa! Semangatku untuk diri sendiri.


Dengan berusaha supaya tidak pingsan, akhirnya aku sampai di barisan paling belakang. Tidak pikir panjang, aku langsung duduk di aspal lapangan, kaki ku rasanya sangat lemas.


Sebelum mengambil napas panjang,


“Seng neng belakang, kenapa ngelepon? Tulang lunak?”


Setelah suara itu terdengar dari speaker, semua murid baru tertawa, termasuk para OSIS.


Tak mau mencari masalah lagi, aku langsung berdiri.


“Loh, aku kan gelem sampeyan mengarep Adek ayu.”


Semua murid memandang ku, sebagian siswa memandang tanpa berkedip. Sedangkan para siswi memandang ku cukup sinis.


Seperti yang aku bilang dulu, aku tidak suka menjadi pusat perhatian laki-laki. Semua ini membuatku risih.


Tanpa berpikir panjang, karena mood ku juga sudah hancur. Aku memutuskan berjalan menuju ke depan. Sudah terlanjur masuk ke maslah ini, jadi menurut ku tanggung kalau tidak dilanjutkan.


Aku sempat melihat Mas Gema memandang ku dari pinggir lapangan, dengan gaya memasukkan tangan ke saku celana, menurutku itu pasti membuat kaum hawa berteriak di dalam hati.


Akhirnya aku berdiri di depan lapangan, menghadap teman seangkatan. OSIS yang tadi berbicara melalui microphone menghampiriku.


“Iki loh, bocah seng pisanan sekolah wes terlambat.”


Aku hanya menunduk, karena aku merasa pandangan lelaki semua tertuju pada tubuh dan wajahku.


“Iyo, Mas Gunawan.”


“Tapi good looking, Mas.” Celetuk salah satu Siswa yang ingin ku hajar kepalanya.


“Huuu.” Sorak para siswi, sedangkan siswa hanya tertawa.


“Wes, wes.”


“Iyo sih, good looking, tapi nek ancen salah yo tetep salah.” Jawab OSIS itu, sekarang aku mulai sadar bahwa telah salah mendaftar ke sekolah ini.


“Sak iki, perkenalkan diri dulu, Dek. Tak kenal maka tidak dapat berpacaran.” Jika di sini ada Mas Raksa, pasti OSIS ini sudah hancur dibuatnya.


“Huuu!”


Tapi, semua sudah tinggal kenangan. Tak ada lagi yang membelaku.


Microphone yang awalnya dia pegang, diberikan kepadaku.


“Nama saya, Aeera Barsha.” Setelah itu aku memberikan microphone itu kepada OSIS lagi.


“Barsha Besari, siapanya Fiersa Besari?”


“Hahaha.” Lagi-lagi aku dijadikan bahan lelucon.


“Gun,”


Aku melihat OSIS kurang ajar tadi memberikan microphone ke Mas Gema yang telah berdiri di sebelahku.


“Kamu, lucu sekali.” Ucap Mas Gema kepada siswa yang tadi meledekku.


“Push up, dua puluh kali!” Perintahnya. Aku sedikit lega.


Kini giliran ku yang menjadi pusat pembicaraan Mas Gema, kalau aku lihat sih kayaknya dia ketua OSIS. Karena semua OSIS tampak nurut dengan dia.


“Kalian tahu, ini kesalahan yang sangat teledor. Sebelumnya sudah diinformasikan bahwa murid ajaran baru harus sampai sekolah pada pukul enam lewat tiga puluh menit.”


Mataku sedikit terbuka, lah, sejak kapan ada pengumuman itu? Nampaknya aku terlalu sibuk dengan urusan keluarga di Jakarta.


“Ini adalah contoh yang tidak baik, jangan kalian tiru.”


“Kamu, hari pertama sudah dapat gelar ratu teledor.”


Semua murid dan anggota OSIS menahan tawa. Jujur saja, aku sedikit kesal dengan Mas Gema. Tapi tidak dipungkiri, ini semua memang kesalahan ku.

__ADS_1


“Ya sudah, kalian boleh masuk ke kelas masing-masing. Tertib, saya tidak mau ada kegaduhan.”


Semua murid ajaran baru mengambil tas mereka yang dari tadi diletakkan di aspal lapangan, lalu bergegas meninggalkan lapangan. Aku yang hendak memasuki kelas, sempat mendengar sebuah kata samar.


“Sorry.”


Aku menengok ke belakang, di mana Mas Gema berdiri melihatku sambil tersenyum. Senyuman tulus seperti Mas Raksa. Aku membalas sebuah senyuman tipis di bibir. Setelah itu aku kembali menuju ke kelas.


...🐣...


Setelah diisi ceramah dari para guru dan perkenalan anggota OSIS. Akhirnya kami diperbolehkan untuk istirahat di kantin. Sejujurnya agenda OSIS di sekolah ini tidak begitu berat, namun hanya beberapa oknum OSIS yang menjadikan jabatan sebagai ajang kesempatan.


Suasana kantin tidak begitu ramai, hanya ada peserta didik baru dan beberapa anggota OSIS sedang makan dan mengobrol. Sedangkan aku sedang duduk sendiri di sini sambil sesekali memijat betis, rasanya sungguh pegal dan lemas.


Tatapan para siswa dan kakak kelas membuat aku sedikit risih, namun sebisa mungkin aku tidak menghiraukan, karena di sini tidak boleh menggunakan topi jadi aku memilih untuk menunduk.


“Dek, dewekan wae. Ra butoh gacoan tah?” Aku mendengar suara itu, dari memanggil Dek pasti dia anggota OSIS.


Aku tetap diam seribu bahasa, tetap menunduk sambil mengurut pelan betis ku. Merutuk nasibku tiga tahun yang akan datang, baru aku bisa lepas dari sekolah ini.


“Minum.”


Wajahku otomatis mendongak, melihat Mas Gema menaruh satu botol air mineral. Dia duduk di hadapanku.


“Thanks.”


“Kamu masih kuat?”


Aku membutuhkan penjelasan lebih, “hah?”


“Makanya minum dulu, biar bisa konsentrasi.” Ucapnya sambil mendekatkan botol air mineral ke arahku.


Aku melihat sekeliling, banyak sekali mata memandang ke arah kami.


“Mas, yakin duduk di sini?” Tanya ku berbisik.


“Minum dulu, baru aku jawab.”


Aku memutuskan menenggak air putih itu, cukup banyak sampai dua pertiga botol.


Mas Gema tersenyum, “udah nggak minum berapa hari?” Ledeknya.


Aku tersenyum simpel, “Mas, yakin duduk di sini?” Tanyaku lagi.


“Dua kali kamu tanya hal yang sama, kenapa?”


Aku kembali melihat ke sekitar, mereka masih mencuri pandang ke arah kami. Para siswi memandangku sinis seperti tidak suka jika Mas Gema duduk di sini. Sedangkan para siswa memandangku dengan senyum nakal.


“Mas, nggak sadar?” Aku melirik ke sekitar, memberi kode ke Mas Gema.


“Cuekin.” Jawabnya enteng.


Aku menegakkan badan dan membuang napas, oke, benar kata dia. Untuk apa memikirkan pandangan dan pikiran orang lain tentang kita?


“Kenapa bisa telat?”


“Kayak yang tadi aku bilang, Mas.”


“Kan udah dikasih tau datang jam,” aku memotong ucapannya.


“Sorry, jujur aja aku belum tau kalau ada informasi harus datang lebih awal. Mas Gema juga gak kasih tau aku, kan?”


“Aku aja baru tau kamu sekolah di sini.” Ucapnya gemas, sambil mengacak rambutku.


Tindakan itu membuat bisikan penghuni kantin terdengar lebih jelas. Aku segera menghalangi tangan Mas Gema.


“Aku sendiri juga baru tau.” Ucapku sambil tersenyum kaku.


Hening menyelimuti kami, kecuali suara obrolan penghuni kantin.


“Em, sorry buat yang tadi.”


“Aku tau kamu lagi patah hati, tapi setidaknya bedakan masalah hati sama sekolah, ya.”


Aku tertawa paksa, “haha. Aku tau Mas Gema bersikap profesional.”


“Untunglah kamu paham. Kalau kamu salah aku gak bisa bantu atau bela.”


Aku mengangguk, tadi aku sempat berfikir, kalau ada Mas Raksa di sini pasti dia sudah membelaku. Tapi, memang aku yang salah. Benar kata Mas Gema, aku tidak patut dibela.


“Iya, Mas.”


“Gema!”


Aku melihat ke sumber suara, itu suara Kak Mayang.


“Iya,” jawabnya. “Aku ke ruang OSIS dulu, ya. Jangan lupa makan.” Aku mengangguk dan tersenyum.


Setelah kepergian Mas Gema aku berpikir, dia perhatian juga. Aku bersyukur disaat seperti ini masih ada yang peduli dan perhatian kepadaku. Ternyata perhatian itu tidak hanya bisa diberikan oleh Mas Raksa.


Aku rindu. Tapi, keadaan memaksaku untuk membisu.


...🐣...

__ADS_1


__ADS_2