Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
EPS 32


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Aku dan Mbah rencananya akan menginap di Jakarta sampai masa libur kenaikan kelas berakhir. Mbak Caeera sudah boleh pulang ke rumah. Keponakanku si Cantik, namanya Reeyma Barsha Buana. Dia sangat menggemaskan, kulitnya putih mirip dengan Mbak Caeera dan perawakannya mirip Mas Raihan.


Iya, Mas Raihan suami Mbak Caeera. Kala di rumah sakit pertama kalinya aku bertemu dengan dia. Kini, semua kecurigaan ku sudah terbayar. Kami baru sempat berkenalan seadanya, karena fokus kami masih ke ibu dan anak yang baru lahir ke dunia.


Hari sabtu ini, semua libur kerja dan berkumpul di rumah Mamah. Aku yang baru selesai mandi turun ke lantai satu, di ruang tamu sudah berkumpul Mbak Humeera, Mas Raksa, Mas Damar, dan Mas Raihan. Sedangkan Mbah dan Mamah kemana? Aku juga tidak tahu.


Sebenarnya aku ingin bergabung juga sedikit canggung, apalagi di sana ada Mas Raihan yang belum begitu ku kenal. Tapi aku hanya ingin sekedar bertanya, Reeyma dimana? Karena aku tidak bisa jauh dengan Reeyma. Selama ini aku ingin punya adik, tapi tidak bisa terwujud. Hahaha.


Aku memilih untuk berdiri di belakang sofa yang di duduki Mbak Humeera. Berniat untuk membisikan pertanyaan ku supaya tidak menganggu perbincangan mereka.


“Mbak, Reeyma di mana?”


Reaksi kaget Mbak Humeera membuat yang lain beralih fokus ke arah ku.


“Reeyma? Kamu tanya Ayahnya langsung aja.” Haduh, jawaban Mbak Humeera sangat tidak bermanfaat.


Aku menghindari bertanya ke Mas Raihan, malah disuruh tanya langsung.


“Kenapa sih dek bisik-bisik, kayak lagi ngomongin rahasia negara aja.” Ledek Mas Damar.


“Ohh, yang ini, Sa?” Kali ini Mas Raihan ikut membuka suara. Dia seakan bertanya ke Mas Raksa, yang ini? Maksudnya gimana?


“Aku cari Reeyma dulu, deh. Dadah.” Pamitku kepada Mbak Humeera, jujur aku ingin menghindari perbincangan orang-orang dewasa ini.


Tapi, “dek, sini duduk dulu. Reeyma lagi dimandiin sama Mbah.” Ucapan Mas Damar menghentikan langkahku. Mau tidak mau aku duduk di sebelah dia, yang sekaligus berhadapan dengan Mas Raksa dan Mas Raihan.


“Kamu kenal aku kan, Ra?” Tanya Mas Raihan. Kenapa ya jantungku berdegup begitu kencang? Seolah aku sedang di sidang, sedangkan ku lihat Mas Raksa menahan tawa. Nampaknya dia tau kalau aku sedang tegang.


“Kenal, Mas Raihan, kan?”


Orang-orang tertawa lepas mendengar jawabanku, loh kenapa?


“Hahaha. Jago juga lo cari cewek.” Puji Mas Raihan kepada Mas Raksa.


“Gue aja bingung, Bang. Kok bisa Aeera mau sama cowok kaku kayak Raksa.” Timpal Mas Damar.


“Gimana nggak kepincut, Dam? Dari orok udah dijagain terus.” Kali ini Mbak Humeera ikut menimpali.


Aduh, ini tuh aku sedang diospek ya?


“Kamu santai aja, Ra. Jangan terlalu tegang begitu.” Aku mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Kakak Ipar ku ini.


“Dari awal aku penasaran sama sosok yang namanya Aeera. Kok bisa buat Raksa yang kaku sama lawan jenis, jadi mau melakukan segala hal?”


“Contoh paling dasar, dia kembali ke Jakarta tujuan utamanya ya karena mau ketemu kamu.”


“Dasar budak cinta.” Ledek Mas Damar.


Aduh, jujur aku salah tingkah sekali. Apalagi Mas Raksa di hadapanku hanya diam sambil memandangku.


“Udah deh, Bang. Lo lihat bocahnya tertekan banget?” Kali ini Mas Raksa ikut bersuara.


“Kamu ke kamar Rara saja, Ae. Reeyma ada di sana.”


Mendengar perintah Mas Raksa, aku hanya mengangguk dan langsung bergegas ke kamar Mbak Caeera. Untung saja Mas Raksa peka, kalau aku tidak nyaman dengan situasi seperti tadi.


Aku menaiki tangga menuju kamar Mbak Caeera yang letaknya berada di sebelah kamarku persis. Ku ketuk pintu terlebih dahulu.


“Mbak, Aeera boleh masuk?”


“Masuk aja, Ae. Nggak dikunci.”


Aku membuka pintu. Melihat Mbak Caeera sedang berbaring di atas kasur sambil menonton acara televisi. Sampai saat ini aku masih tidak percaya, kalau Mbakku yang terkenal cuek dan enggan menjalin hubungan kembali dengan lawan jenis, malah dia duluan yang menikah dan memiliki anak.


Sedangkan Reeyma, keponakan kecil yang sangat menggemaskan sekali sedang pulas di ranjang bayi. Aku memilih duduk di bangku yang memang disediakan di sebelah ranjang Reeyma.


“Ngapain lo?” Tidak ada yang berubah dari Mbak Caeera.


“Aku seneng banget, Mbak, lihat Reeyma.”


“Hahaa. Keinginan punya adik ternyata masih sampai sekarang?”


Aku hanya mengangguk. Meletakkan tangan dan dagu di kayu pinggir ranjang. Menatap Reeyma yang sedang tertidur pulas. Melihat adik bayi sangat teduh, karena tidak ada masalah yang dia pikul.


“Lo udah kenal sama suami gue?” Tanya Mbak Caeera lagi.


“Udah. Mas Raihan, kan?”


“Iya.” Jawabnya singkat. “Dia abang sepupu Raksa.”


“Aku udah tau juga, Mbak.”


Di antara kami sempat hening, hanya suara televisi yang terdengar. Aku masih saja memandang Reeyma begitu teduh.


“Kenapa sih lo dulu sempet mikir gue nikah sama Raksa?”


Ah, masalah ini lagi? Malas sekali untuk membahasnya.


“Aku kalut, sampai nggak buka undangannya. Lihat cover aja, inisial nama kalian.”


Ku dengar tawa kecil dari Mbak Caeera, “kasihan tuh cowok, hidupnya seketika hancur. Kayak nggak ada tujuannya. Dia ke sana-sini cari lo, nggak ada hasilnya juga.”


Ya, yaa. Aku yang salah di sini, karena aku egois, selalu lari dari masalah.


Tapi, benarkah Mas Raksa sampai sekalut itu?


“Tau nggak lo?”


Tak ku jawab pertanyaan retoris dari Mbak Caeera.


“Di acara penting gue sama Raihan, dia sampai nggak datang.”


Tanganku yang awalnya mengelus pipi Reeyma tiba-tiba terhenti. Mendengar cerita dari Mbak Caeera cukup membuat aku kaget.


“Pasti lo nggak sangka? Tapi itu benar adanya.”


“Dia mikirnya, nggak mau bersenang-senang, sedangkan lo di Jogja pasti lagi sedih.”


“Pikirannya juga nggak tenang, tiap hari nanya ke gue, “udah ada kabar dari Ae?”” Lanjutnya sambil memperagakan pertanyaan Mas Raksa.


Tak tau kenapa, senyuman tipis terukir di bibirku. Aku terharu dengan usaha Mas Raksa. Jadi selama ini, dia perduli terhadapku?


“Nggak usah senyum-senyum lo, bocah. Nggak ingat di depan lo kaca segede gaban?”


Ku tegakkan wajah, melihat ke depan. Benar saja, di hadapanku terdapat kaca yang sangat besar. Haduh, selama satu minggu ku habiskan waktu di sini hanya fokus kepada Reeyma. Sampai tidak sadar ada kaca di sana.


“Terus, gimana lo sama Raksa?” Tanyanya lagi.


Kali ini, aku memutuskan untuk duduk menghadap Mbak Caeera, dia juga sudah duduk di atas kasur sambil menyender.


“Biasa aja, Mbak. Ya gitu.”


“Maksudnya, kalian belum resmi pacaran?”


Aku hanya menggeleng, “wah bener-bener tuh bocah. Dulu aja ngebet banget minta dicomblangin, sekarang udah ada kesempatan malah dianggurin.” Celotehnya membuat aku tertawa.


“Mungkin emang Mas Raksa nya nggak mau, Mbak.”

__ADS_1


“Nggak mungkinlah.” Patahnya langsung.


“Gue rasa dia nunggu lo legal dulu, cil.”


Mbak Caeera melanjutkan, “maksud gue, nunggu lo nggak bocil lagi. Sweet seventeen, gitu lohh.” Ujarnya cukup gemas, karena dari tadi aku menampilkan wajah bingung.


Aku hanya ber-oh-ria mendengar penjelasannya? Apa mungkin iya? Tapi aku pun tidak masalah kalau menjalin hubungan dengan dia saat usia enam belas tahun.


“Jangan mikir kenapa, ya, cil.”


Masih saja, Mbak ku ini seakan bisa membaca pikiran yang terputar di benakku.


“Raksa sama lo umurnya jauh, kalau Raksa maksa lo jadi pacar dia sekarang juga. Pasti orang mikir aneh ke dia. Paham nggak sampai sini?”


“Kenapa gitu?”


Hampir saja Mbak Caeera melempar remote televisi ke arahku, untung saja di belakang ada anaknya, jadi dia membatalkan aksi itu.


“Untung anak gue di belakang lo, kalau enggak gue lempar nih remote.”


“Orang mikir aneh, ya karena takut Raksa itu pedofil, cil. Makanya nunggu lo legal dulu.”


Aku hanya mengangguk, benar juga. Ini semua demi kebaikan kami berdua dan juga keluarga pastinya. Ini langkah aman tanpa mengundang gunjingan dari rakyat sekitar.


Kami dikagetkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.


“Minimal ketok pintu, Sa!”


“Lo nggak bisa lebih halus sedikit, Ra? Udah punya buntut juga.”


Ternyata yang membuka pintu kamar adalah Mas Raksa. Entah apa tujuannya dia ke sini.


“Ae, ayo pergi.” Ajaknya.


“Dih, minimal minta izin dulu ke kakaknya.” Sindir Mbak Caeera.


“Gue udah izin ke Kanjeng Ratu rumah ini.”


Aku menahan tawa, maksudnya Mas Raksa adalah Mamah.


Ku balikkan badan ke arah Reeyma. Dia masih tertidur pulas.


“Eyma, ante pergi dulu, ya. Kamu yang anteng, oke?” Ucapku kepada Reeyma, padahal bayi lucu ini pasti tidak mendengar pesanku.


“Aku pergi dulu, ya, Mbak.” Pamit ku kepada Mbak Caeera.


“Iya dah, sana. Wajar, lagi anget-angetnya.” Jawabnya.


“Sampai kapan juga akan hangat.” Ujar Mas Raksa.


Aku hanya bisa tertawa canggung, “hahaha. Dadah, Mbak.”


...❤...


Kami akhirnya sampai di salah satu tempat wisata legendaris di Jakarta, yaitu Kota Tua. Jam sudah menunjukkan sekita pukul empat sore. Ternyata ramai juga ya, orang yang berkunjung di tempat ini saat sore hari. Bahkan di sepanjang jalan banyak penjual makanan kaki lima.


Aku dan Mas Raksa terus berjalan, bingung deh, kenapa cowok ini suka sekali menggenggam jemariku? Seakan takut aku pergi menjauh. Padahal aku pun tak ingin kemana-mana.


Aku melihat ke sepanjang tepi jalan, banyak sekali stand berbagai sovenir. Adapun pembuat tatoo, orang yang cosplay menjadi Noni Belanda, dan banyak lainnya. Tak lupa juga ada organ tunggal yang sedang membawakan lagu-lagu lawas.


“Sudah berapa tahun kamu tidak ke sini?”


Mendengar pertanyaannya membuat aku melihat ke samping, cowok dewasa yang membuat aku nyaman. Kenapa semakin lama, rasa sayangku semakin dalam?


“Heum, waktu Sekolah Dasar?” Aku menjawab dengan kembali bertanya, karena memang tidak yakin akan jawabanku sendiri. Saking lamanya, aku sampai lupa.


“Hm?”


Ku tampilkan cengiran layaknya kuda, “mau itu...” Lanjut ku sedikit ragu. Takut kalau nanti dikira banyak mau.


Pandangan Mas Raksa mengikuti arah yang aku tunjuk, dia tertawa ringan. “Haha, kenapa ngomongnya malu-malu begitu?”


“Menggemaskan sekali.” Lanjutnya sambil mengacak rambutku sejenak.


Akhirnya kami memutuskan membeli dua potong es legendaris itu. Lalu Mas Raksa mengajak aku untuk duduk di lapangan luas dalam Kota Tua.


Wahh, semakin malam ternyata semakin ramai saja orang berkunjung. Banyak yang duduk di lapangan luas itu. Para muda-mudi duduk melingkar sambil tertawa bersama. Namun, sedikit tidak nyaman kala pengamen bergantian untuk datang.


Kami memutuskan untuk duduk lesehan di lapangan luas ini. Mas Raksa duduk di sebelah kananku. Aku dari tadi masih sibuk dengan es potong ini, rasa ketan hitam sangat enak.


“Aeera.” Aktivitas menjilati es potongku langsung terhenti saat menyadari Mas Raksa memanggil namaku.


Saat itu juga aku menengok, melihat matanya yang menatap ke arahku. Senyuman kecil juga terukir di bibirnya.


“Kenapa, Mas?” Sontak tisu yang dari tadi ku genggam langsung ku arahkan ke bibir, takut ada coklat yang menempel di sana.


“Haha. Tidak, kamu tidak belepotan.”


“Terus kenapa lihat Ae sampai kayak gitu?”


Pandangan Mas Raksa langsung tertuju ke depan, “entahlah. Rasanya, Mas tidak ingin berhenti memandang kamu.”


“Mas tidak ingin kamu pergi dari pandangan Mas.”


Aku tersenyum haru, “yaelah, gue nggak pernah pergi Mas. Yang ada lo yang ninggalin gue.” Setelah berucap, aku kembali memakan es potong yang tersisa sedikit.


Dari ekor mata, aku melihat dia memandangku sejenak. Setelah itu memandang ke depan lagi. Orang tua ini kira-kira lagi kenapa ya? Apa dia lagi banyak pikiran?


“Mas minta maaf pernah pergi begitu saja, Aeera.”


Dia sempat berhenti sejenak, padahal aku menunggu lanjutan dari ceritanya.


“Pada saat itu, Mas tidak sempat izin ke kamu. Lantaran Mas dengar kabar buruk.”


Dia memandangku, begitupun diriku. Dia tersenyum samar. “Mas ingat, pada saat itu Mas sedang ulang tahun. Mas ingat muka bahagia dan ceria kamu. Tapi dengan bodohnya, Mas merubah itu semua dengan tangisan.”


“Kamu tahu? Mas sangat menyesal.”


Aku melingkarkan tangan ke kaki yang sudah ku tekuk, “udahlah, Mas. Itukan cerita masa lalu. Anggap aja itu kenangan pahit. Jadi nggak usah dipermasalahkan lagi.”


“Mas tau. Tapi Mas mau kamu tau semuanya. Alasan kenapa Mas pergi begitu saja. Supaya tidak ada yang disembunyikan dari kita.”


Dengan senang hati aku ingin mendengar ceritanya, sungguh. Aku selalu bersedia menjadi pendengar yang baik untuk Mas Raksa.


“Mulai dari saya marah saat kamu memberi kado boneka? Hahaha, itu hal yang paling saya benci, Aeera. Bagaimana bisa saya semarah itu?”


“Pada saat itu, Mas sangat benci boneka. Lantaran, benda itu yang membuat Ayah dan Adik Mas meninggal dalam kecelakaan. Usia remaja tidak bisa mengontrol emosi sedemikian rupa, dan sampai saat ini hal itu membuat saya menyesal.”


“Membayangkan raut wajah kamu langsung berubah drastis, itu membuat saya sakit hati.”


Jujur, aku masih ingat rasa sakit yang ditimbulkan dari reaksi Mas Raksa, reaksi yang tidak pernah aku harapkan. Tapi, mau gimana lagi? Hal itu sudah lalu. Sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi, sekarang hanya perlu dikenang saja.


Aku menaruh kepala di lutut, melihat wajah Mas Raksa dari bawah. Rasanya sangat sedih sekali.


“Ditambah, belum sempat minta maaf, Mamah kamu memanggil Mas. Beliau membisikkan hal yang membuat saya sempat trauma akan bisikan beberapa tahun.”


Aku mengerutkan kening sesaat, bisikan mengerikan apa yang membuat Mas Raksa sampai trauma?

__ADS_1


“Mamah kamu membawa kabar, kalau Bunda Mas meninggal dalam kecelakaan.”


Aku menegakkan badan dan refleks mengatakan, “hah?”


“Mas, maaf banget. Ae nggak tau soal ini sama sekali. Bahkan Mamah nggak pernah cerita sedikitpun.” Saking kagetnya, tak sadar aku sudah menggenggam jemarinya.


“Hahaha. Kenapa harus minta maaf? Toh, kamu tidak bersalah sama sekali, Aeera.”


Dia menggenggam tanganku kembali, “ingat, Mas Raksa hanya ingin bercerita supaya semuanya jelas. Mas tidak mau kalau sampai membuat suasana hati kamu berubah.”


Ku tarik kembali tanganku dan seakan mengatur napas. “Oke, gue santai. Tapi, gue beneran nggak tau masalah itu, Mas. Gue turut berdukacita, ya. Maaf banget nggak bisa temani Mas disaat terpuruk.”


“Justru Mas yang minta maaf, Aeera. Mas meninggalkan kamu disaat keadaanmu tidak baik-baik saja tanpa ada kejelasan alasannya.”


“Mas membuat kamu merasa bersalah, menimbulkan pertanyaan besar di benakmu, apa alasan Mas pergi? Apa karena marah saat diberi kado yang tidak disukai?”


“Sampai membuat kamu trauma sama boneka, kan?”


Aku tersenyum canggung, memang benar sih semua yang dia ucapkan.


“Oke. Jadi setelah Mas tau kabar buruk itu, Mas langsung diterbangkan ke Kalimantan untuk melaksanakan penguburan jenazah Bunda.”


“Dan setelah itu, Mas memutuskan untuk menetap di Kalimantan. Karena di Jakarta Mas tidak memiliki keluarga lagi.”


“Sebisa mungkin Mas menenangkan diri, walaupun Mas tau, seharusnya Mas kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan bisnis Bunda yang selama ini sementara dihandle Tante Edrea.”


Aku membuang napas prihatin, seberat itu yang Mas Raksa lalui? Sedangkan dengan lancangnya aku selalu mencurigai dia kenapa tiba-tiba pergi begitu saja. Mas, sungguh aku minta maaf.


“Hei, kenapa kamu terlihat sedih?” Tanyanya sambil memegang daguku. Dia mengarahkan wajahku untuk menghadap ke arahnya.


“Mas tidak suka melihat kamu sedih seperti ini, Aeera.”


“IH! Gimana nggak sedih sih? Selama ini gue curiga sama lo, kenapa tiba-tiba goshting gitu aja? Tapi, gue nggak tau seberat itu yang lo lalui, Mas.”


“Gue ngerasa jahat banget tau nggak?”


“Hei, hei.” Baru kali ini dia berani merangkul bahuku begitu erat. Tangannya juga mengusap begitu lembut. Kepalaku langsung menyender ke bahunya yang bidang.


“Kamu tidak salah sama sekali. Justru kamu yang membuat saya bangkit.”


“Kalau tidak ada kamu, mungkin saya masih berada di Kalimantan dan terus terpuruk, Aeera.”


“Kamu adalah motivasi terbesar saya untuk memperbaiki kehidupan.”


Bagaimana mungkin aku tidak terharu? Mas Raksa, kenapa gadis biasa sepertiku bisa berperan besar dalam hidupmu yang istimewa itu?


“Makanya, saya tidak mau kamu pergi lagi. Saya tidak mau kita berpisah. Bahkan saya menarik tiga keinginan yang dulu pernah terucap.”


Tiga keinginan? Aku kembali menegakkan badan. Apa?


“Kamu ingat?”


Sebentar, sepertinya aku ingat. Tiga keinginan yang dia ucapkan saat pertama kali kami kembali bertemu, kan? Keinginan itu lantas terwujud begitu saja. Sungguh, aku benci dengan tiga kalimat itu.


“Benci banget gue sama tiga keinginan lo itu. Kenapa sih? Sengaja?”


Dia tertawa begitu saja, “hahaha. Sungguh, saat itu saya hanya bergurau. Sayapun bingung, kenapa dengan instan malah terkabul?”


“ISH! PD gila, lo.”


“Tidak. Justru malah keinginan itu menjadi boomerang untuk saya.”


Kenapa orang tua ini sungguh jujur? Rasa gengsinya seakan sudah hilang begitu saja.


Kalian ingat? Tiga permintaan yang sangat menyebalkan kala itu. Oke, aku kasih tau supaya kalian ingat.


"Kalau saya maunya kita bareng terus gimana?"


"Kalau saya maunya kamu pegang pinggang saya terus gimana?"


"Lalu, kalau saya maunya kamu akan merindukan saya suatu hari nanti, gimana?"


Tiga kalimat menyebalkan yang justru malah menjadi kenyataan. Apa mungkin semua itu kaan terjadi kembali. AKU TIDAK MAU.


“Hei, kenapa malah melamun?”


“Hah? Enggak, gue biasa aja.”


Dia tersenyum lagi, “saya ingin kebersamaan kita tidak ada limitnya. Saya ingin tidak ada lagi kata perpisahan. Dan saya mencabut tiga kalimat sebelumnya. Saya ingin kita selalu bersama seperti ini, Aeera.”


Aku tertawa mendengar keinginannya, “haha. Tiba-tiba berubah begitu aja ya.”


“Kenapa? Kamu tidak mau?”


“Boleh lahh, boleh.”


“Dasar.”


Kami lalui malam indah ini dengan bercanda gurau. Banyak cerita yang akhirnya terungkap. Tidak ada lagi yang ingin kami tutupi satu sama lain. Hal ini supaya kami saling mengenal satu sama lain dan tidak ada lagi kata salah paham.


Akhirnya kami memutuskan untuk beranjak dari lapangan luas ini. Menuju keluar Kota Tua. Namun langkah Mas Raksa tiba-tiba terhenti, tepat di depan tukang kaling cincin tembaga.


“Aeera, kamu ingat gabungan nama Buanaeera?”


Mana mungkin aku bisa lupa? Aku langsung mengangguk tanda ingat akan gabungan itu.


“Oke. Mulai sekarang, kita ubah jadi Raksaeera. Kita buka lembaran baru, memenuhi lembar demi lembar dengan kisah baru, hilangkan semua kesedihan dan luka lama dengan kenangan baru yang kita ukir bersama.”


Hah? Ini Mas Raksa. Dia bisa berbicara lugas seperti ini? Tidak ada lagi kata malu untuk mengajak sesuatu. Tidak ada lagi rasa canggung.


Dia mengambil satu cincin tembaga. Kemudian dia meraih jariku, memasukkan cincin tersebut. Setelah memastikan cincin itu cocok dengan jemariku, lalu dia memberikan kepada tukang yang sedang berjaga.


“Mas, dua cincin ini diukir pakai kata Raksaeera, ya!” Pintanya.


Aku hanya bisa mematung di tempat? Kalaupun ini hanya angan, siapa yang berani berangan sejauh ini? Ini sungguh indah bukan? Seperti kisah di novel remaja yang sering aku baca. Mana mungkin terealisasi dalam kehidupan nyata?


Menunggu cukup lama, akhirnya cincin itu berhasil diukir. Ku lihat, nama kamu terukir indah salam dua buah cincin yang berbeda ukuran. Mas Raksa mengambil satu kalung indah dan menjadikan cincin sebagai liontin.


Tanpa meminta persetujuan ku, dia memasangkan kalung itu ke leherku.


“Indah, kamu semakin cantik menggunakan itu.”


Senyuman lebar terukir di wajahku. Bagaimana mungkin aku tidak terharu. Sebisa mungkin aku menahan air mata yang hendak turun.


“Kalung dan cincin ini sebagai simbol kebersamaan kita, Aeera.”


“Mas berharap, kita bisa menjadi seperti kalung dan cincin ini. Walau kita berbeda, tapi ditakdirkan menjadi satu kesatuan yang sangat indah.”


Seketika aku memeluk erat pria dewasa di depanku. Terharu. Bagaimana mungkin kisah cintaku akan seindah ini? Apakah dunia bercanda?


Pria yang selama ini aku dambakan, pria yang tidak pernah hilang dari hatiku. Bahkan dia yang tidak pernah mengizinkan ku membuka celah untuk orang lain. Pada akhirnya dia menjadi milikku. Pada akhirnya, cinta yang selama ini aku pikir hanya sendirian, bisa terbalas dengan begitu indahnya.


Proses menuju keindahaan ini sungguh tak terduga. Tuhan adalah penulis skenario terhebat yang pernah ku tau. Lika-liku yang terjadi, akan indah saat kami bisa melewatinya bersama.


Terima kasih. Terima kasih atas semua kejadian dan rintangan, dan semuanya menjadi indah pada saat yang tepat.


Pada akhirnya kami dapat bersatu kembali. Raksaeera yang dahulu adalah Buanaeera, mengukir kisah baru dengan sejuta kasih dan kebersamaan yang akan menjadi kenangan di masa depan. Kenangan yang indah dan penuh kisah.

__ADS_1


SENANDIKA: A BUANA


__ADS_2