Senandika: A Buana

Senandika: A Buana
Eps 14


__ADS_3

^^^Jakarta^^^


Pukul sepuluh pagi lewat sedikit kami sampai di Jakarta. Aku sekarang sudah rebahan di kasur sambil memejamkan mata, ingin tidur tapi pikiranku entah kemana. Mamah bilang, nanti sore sekitar jam tiga, kami harusnya menyiapkan pesta ulang tahun Mbak Caeera untuk besok. Sebenarnya yang diundang hanya saudara dekat saja, tapi entah kenapa Mamah memberi konsep yang cukup mewah, menurutku.


Aku ditugaskan untuk mencari catering, alasannya ya karena aku doyan makan. Mamah percaya akan selera lidahku. Mamah juga menugaskan hal yang sama kepada Mas Damar, jadi nanti kita akan berangkat bersama.


Besok Mbak Caeera berumur 21 tahun, semakin dewasa saja. Sebenarnya aku heran untuk apa pesta ulang tahun orang dewasa dirayakan semewah konsep dari Mamah, padahal sweet seven teen sudah lewat empat tahun yang lalu.


Aku membolak-balikan tubuh, rasanya tidak nyaman. Lalu terduduk, tiba-tiba kepikiran Mas Raksa. Masih tidak menyangka kalau dia adalah Mas Buana. Lebih tidak menyangka lagi kalau selama ini perkataannya tertuju padaku.


Aku tersenyum malu, entah kenapa rasanya perutku tiba-tiba melilit.


Dering ponselku berbunyi, ponsel yang dari tadi berada di nakas langsung ku ambil. Di layar tertera nama Mas Raksa AB (Aneh Banget). Kembali tersirat senyuman samar pada bibirku. Dengan semangat aku menerima panggilannya.


"Kamu kok tidak istirahat?" Ucapnya tanpa basa-basi, oh iya, kan aku tidak suka basa-basi, ya.


"Gimana mau istirahat kalau lo telepon?"


"Yakin sebelum Mas hubungi kamu sudah siap untuk tidur?"


"Ya, enggak sih. Ada apa lo telepon gue?"


"Tidak ada apa-apa. Memang tidak boleh?"


Aku tersenyum malu, padahal senyuman itu tidak terlihat oleh dia. Tetap saja aku salah tingkah.


"Boleh aja, kalau lo punya pulsa."


Dia tertawa singkat, "*s*ebenarnya Mas hanya ingin memastikan kamu itu sudah istirahat atau belum."


Mungkin saat ini pipiku sudah semerah buah naga.


"Soalnya Mas tahu perjalanan tadi cukup membuat stamina habis, dan lagi nanti kamu harus cari masakan bersama Damar."


Dia perhatian sekali. Baru kali ini hatiku luluh saat ada seseorang yang mendekati. Selama ini, aku selalu cuek dan menganggap itu hanya rayuan.


"Iya nanti istirahat." Sungguh ini bukan aku yang selama ini.


"Emang, Mas dikasih tugas apa sama Mamah?"


Suara sedikit berisik dari seberang, sesaat baru terdengar ucapannya kembali.


"Mas? Menemani Rara cari baju untuk acaranya besok."


Jawabannya cukup membuat aku nyesek, aku harap ini bukan rasa cemburu.


"Widih, seru dong." Sautku sedikit tertawa.


"Saya juga disuruh mencari baju untuk acara besok,"


Aku meledek nya, "ya, biar couple-an gitu, Mas. Cieee."


Perkataan Cie, mungkin dapat diartikan Cemburu Ini guE.


Dia tidak menggubris sedikit pun, sejenak diam, lalu berbicara lagi. "Hm, ya sudah sampai ketemu besok, ya."


Jujur saya aku sedikit sedih kala dia ingin mengakhiri telepon ini.


"Kamu nanti hati-hati sama Damar, cari makanan yang enak untuk besok. Biar kamu kenyang, terus sehat dan kuat." Lanjutnya.


Aku tertawa singkat, tawa menyakitkan, "anak kecil kali, ah."


"Selamat istirahat, Aeera Barsha."


Entah kenapa ucapan itu mampu membuat air mataku seketika menetes, tanganku lemas terjun ke bawah. Akhir-akhir ini aku cengeng sekali, tiba-tiba nangis, tiba-tiba over thinking.


Tapi jujur saja, ucapan Mas Raksa seperti tertanam di dalam benakku. Rasanya aku akan merindukan perkataan itu. Tapi ku rasa, memang aku ini berlebihan.


...🐣...


Pukul tiga kurang sepuluh menit, aku sudah duduk di kursi yang berada di teras rumah. Seperti biasa aku mengenakan kaos putih dan celana jeans tanggung. Rambut panjang ku ikat tinggi, dan tak lupa di punggungku terdapat tas hitam kecil yang selalu aku bawa.


Aku di sini duduk menunggu Mas Damar sampai. Mamah sudah berangkat untuk mengundang keluarga dekat, Mbak Humeera juga sudah keluar mencari bunga untuk besok, dan Mbak Caeera dari jam setengah tiga sudah berangkat mencari gaun untuk pestanya, bersama Mas Raksa.

__ADS_1


Aku tidak tahu kapan mereka berangkat, waktu aku bangun mereka sudah tidak di rumah. Dan Bibi menjawab semua pertanyaan ku, mengenai keberadaan mereka.


Sebuah motor memasuki kawasan rumahku, memang aku sengaja membuka gerbang karena malas untuk menariknya lagi. Tapi aku perhatikan sepertinya ini bukan motor Mas Damar.


Benar saja, terpampang jelas wajah Mas Raksa saat melepas helm yang dia kenakan. Aku cukup kaget, karena setau aku dia harusnya menemani Mbak Caeera, seperti perintah Mamah.


Aku bangkit menghampiri dia, "lo, ngapain di sini, Mas? Mbak Caeera mana?"


Dia turun dari motor, "Damar bilang lebih pilih menemani Rara daripada kamu." Jawabnya, aku memicingkan mata. Sedikit tidak percaya, rasanya dejavu, waktu itu dia juga sempat menggantikan Mas Damar. Namun berbeda alasan.


"Masak?"


Dia menyisir rambut ke belakang menggunakan tangan, "buktinya sekarang dia tidak ada di sini, kan?" Semakin menambah ketampanan nya saja.


Cukup, hatiku akan meleleh.


Aku berdeham supaya tidak salah fokus, "terus, kenapa Mas mau temenin gue?"


"Saya? Ya, itu, ya karena Damar yang mau."


Aku terdiam sejenak, "padahal Mas Damar bilang, kalau cowok itu gak selalu pandang fisik loh. Tapi dia sendiri yang,"


"Bukan Damar yang minta, tapi saya." Potong nya.


Aku sedikit tersentak, maksudnya, dia yang ingin bersamaku?


"Ma, maksudnya?"


Mas Raksa menatapku, "iya, saya yang minta menemani kamu. Saya tidak rela kalau Damar yang harus menjaga kamu."


Blush, rasanya aku terbang. Sayapnya bukan di punggung, tapi di hati. Rasanya aku dihempaskan ke udara, melayang bebas, dan melepaskan semua beban yang ada.


"Sudah, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak soal Damar."


Aku tersadar dari hayalan, "Mas, kenapa sih harus baku banget kalau ngomong sama gue?"


"Saya kalau di tempat kerja terbiasa pakai bahasa seperti ini."


"Tapi kalau sama yang lain kayaknya enggak, sama Mas Damar, Mbak Caeera, Mbak Humeera."


Aku menyengir, tak ada sedikitpun rasa ingin menolak acakan tangannya. "Ini juga gue pakai sama lo doang, karena lo nyebelin."


Dia tersenyum penuh makna, "nyebelin, tapi nanti jangan kangen, ya."


Nanti? Maksudnya? Lagi-lagi aku over thinking.


...🐣...


Akhirnya kami mulai perjalanan menuju satu persatu tempat catering yang sebelumnya sudah aku hubungi. Seperti biasa aku berpegang pada pinggang Mas Raksa secara kuat, masih sama alasannya, karena aku takut jatuh.


Satu persatu masakan kami rasakan, ada beberapa yang kurang masuk ke lidah ku, dan ada juga yang cukup enak menurutku.


Kami mencoba lima catering yang berbeda, hasilnya nanti akan aku hubungi kembali. Hampir semuanya menurutku tidak ada yang seenak masakan Mamah.


Hari ini aku cukup senang, karena ditemani oleh dia. Orang yang aku kira akan bersenang-senang dengan orang lain. Tawanya memenuhi hidupku hari ini, aku puas melihat itu. Tapi aku harap akan selalu melihat, bukan hanya sekarang.


Akhirnya kami memilih untuk istirahat di salah satu caffe pinggir jalan, karena mencicipi beberapa menu dari lima catering, perutku sudah cukup kenyang. Kami memutuskan hanya membeli kopi cup biasa.


"Gimana? Menurut kamu yang paling enak yang nomor berapa?"


Aku menyesap sedikit kopi, "paling lumayan yang terakhir sih, cuman semua gak seenak masakan Mamah."


Dia mengangguk, "menurut, Mas?"


"Sama." Aku tersenyum simpel dan menyesap kopi lagi.


Dia berdeham sekali, "hm. Kamu, apa sudah dimiliki seseorang?"


Aku menenggak kopi dengan susah, pertanyaan bodoh macam apa itu? Kalau iya, kenapa aku harus menunggu dia selama ini? Bodoh sekali kamu, Mas.


"Menurut, Mas?" Sudah dua kali aku mengatakan ini.


Dia mengedikkan bahu, "entah. Kamu menarik, apa mungkin tidak ada yang mendekati kamu?"

__ADS_1


Aku memutar cup kopi, "banyak, sih."


Dia menatap mataku, "tapi, gak tahu kenapa rasanya hati ku gak sreg sama mereka."


Aku melihat dia mengulas senyum pada bibirnya, "but the why, lo kenapa tanya gitu?"


Dia menggeleng, masih tersenyum, "tidak, hanya memastikan saja, supaya tidak salah langkah."


"Terus," ucapku sambil menautkan alis, "Mas sendiri gimana?"


Dia menyesap kopi sejenak, lalu meletakkan kembali ke meja. "Kamu percaya tidak, kalau Mas hanya pernah menjalin hubungan satu kali selama lima tahun terakhir?"


Aku kembali menautkan alis, "masak?"


Dia membenarkan posisi duduk, nampak sangat antusias. "Apa kamu masih ingat, sebenarnya saya pertama kali bertemu kamu bukan di rumah Tante Edrea."


Lagi-lagi keningku berkerut, "lalu?"


"Di Stasiun Senen. Waktu kamu menabrak seorang wanita."


"Wait, maksud, Mas?"


"Dia mantan kekasih saya, harus kembali ke kampung halaman."


"Hmm. Jadi kalian masih," Ucapku sedikit ragu.


"Tidak, sudah pisah sekitar dua tahun yang lalu." Jawabnya, cukup membuat aku lega. Tapi sesuatu berhasil membuat aku bertanya dalam hening, kenapa dia harus mengantar mantan kekasihnya itu?


"Pasti kamu bertanya-tanya, kenapa saya antar dia ke Stasiun?"


Aku perlahan mengangguk.


"Dia bilang belum bisa melupakan saya,"


Mataku sontak membesar, "wow, berat juga."


"Tenang saja. Pasti perlahan dia juga akan mengerti, kalau kami sudah tidak ada hubungan apa-apa."


Aku percaya, kok.


"Pantas, waktu itu Mbak Humeera lama banget nyusul gue, padahal langkah kaki kita jauh banget bedanya."


Aku ingat waktu itu Mbak Humeera bilang, hal itu penting untukku. Tapi aku bilang tidak peduli. Nampaknya memang aku biang dari semuanya. Aku terlalu cuek dengan hal yang menurutku tidak penting. Padahal aku belum tau itu penting atau tidak. Aku terlalu egois.


"Iya, dia sempat kasih tahu kalau kamu liburan di Jakarta dua minggu."


"Terus, kenapa lo gak sapa gue, Mas?"


"Saya tahu kalau kamu lagi emosi, bukan waktu yang tepat untuk melepas rindu." Jawabnya.


"Apalagi saya sempat dengar ucapan kamu,"


Aku memotong ucapannya, malu kalau diingat-ingat waktu itu aku sedikit emosi, "ah, udahlah, itu karena gue emosi aja."


"Hahaha. Saya diam saja ya karena saya merasa dia bukan cerminan saya."


Aku tertawa renyah karena tawa dia menular. Ternyata aku sudah bertemu dia terlebih dahulu saat aku tiba di Jakarta.


Aku berdeham sejenak, "hm, terus lo sama Mbak Caeera?"


Aku melanjutkan, namun sedikit ragu, "apa, selama dua tahun itu Mbak Caeera berhasil masuk ke hati lo?"


Dia menggenggam tanganku yang terletak bebas di atas meja, matanya menatap dalam mataku.


"Mas sudah berkali-kali bilang, kalau kami itu tidak punya hubungan serius. Kamu jangan lagi meragukan hal itu. Belum ada yang berhasil masuk ke hati saya sepenuhnya, kecuali teman kecil saya yang spesial."


Aku masuk ke dalam ucapannya, teman kecil yang spesial. Aku? Aku orang itu? Apa dia selama ini memang menjaga hatinya untukku? Anak kecil yang terpaut jauh usia darinya.


Aku menatap matanya, seperti tidak ada kebohongan di dalam sana. Aku melihat ketulusan. Aku melihat rindu. Dan aku melihat kejujuran.


Aku mulai merasa rindu yang ku rasa dan penantian yang panjang tidak sia-sia begitu saja. Rasa setiaku akan dibalas sepenuhnya. Tekat ku yang ingin melupakan dan melepaskan dia perlahan mulai memudar, justru rasa ingin memiliki kian mendominasi.


Saat ini, dia yang sekarang mulai merebut hatiku seutuhnya.

__ADS_1


...🐣...


__ADS_2