
Kepalaku pening setelah mendengar semua penjelasan dari Mas Gema. Siapa sangka, kalau aku berteman baik dengan adik dari cewek yang akhir-akhir ini selalu mengancam ku?
Bahkan, kemarin sempat menyekap ku.
Terlebih, aku menolak cinta dari adiknya cewek itu.
Semua sangat rumit bukan? Iya, aku sendiri bingung, kenapa seolah semua masalah berputar di tempat?
Elvira masih memperjuangkan cintanya ke Mas Raksa, sedangkan secara diam-diam Mas Gema memiliki rasa lebih kepadaku.
Kenapa, ya, aku harus dihadapkan oleh dua orang beradik yang memiliki kekuasaan besar di sini?
Aku tidak bisa menyalahkan Mas Gema atas semua kenyataan ini. Semua orang pasti memiliki kenyataan yang pahit bukan?
Terlebih aku tahu, Mas Gema tidak memiliki sifat gila seperti Elvira. Selama ini dia terlalu baik dan sabar menghadapi semua ocehan mengenai masalahku. Bagaimana mungkin aku bisa marah hanya karena semua ini?
Aku tidak cerita masalah ini ke pada Mas Raksa sedikitpun. Janji dia, akan berkunjung setiap minggu sekali, kan? Aku memilih untuk mengumpulkan banyak cerita, supaya pertemuan kami tidak membosankan.
Satu minggu berlalu. Hubungan pertemanan ku dengan Mas Gema juga baik-baik saja. Elvira? Sampai sekarang dia tidak ada muncul lagi, entah, mungkin dia sudah menyerah?
Jujur saja, komunikasi ku dengan Mas Raksa juga tidak sering. Kami seakan sibuk dengan urusan masing-masing.
Ini hari Jumat sore. Aku dan Mas Gema memutuskan untuk duduk di pendopo taman dekat alun-alun. Di sini, kami belajar bersama, mengingat sebentar lagi akan ada ulangan kenaikan kelas.
Mas Gema ini selain ketua OSIS, dia juga sang juara umum. Dia terkenal akan kepintarannya. Makanya aku memilih untuk belajar langsung dengan sang master.
“Ini loh, Mas. Materi matematika akhir-akhir sedikit susah!” Keluhku sambil menunjukkan materi pada buku paket kepada Mas Gema.
“Mana, coba aku lihat dulu.”
Ku biarkan Mas Gema melihat materi yang menurutku cukup sulit.
Aku memilih untuk mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru taman. Banyak sekali anak kecil sedang bermain, ada yang bermain ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, ada pula yang saling kejar-mengejar satu sama lain.
Mereka terlihat sangat bahagia. Tak lupa juga para orang tua mengawasi anaknya dari pinggir taman, mereka mengobrol dengan asik sambil sesekali memakan rujak yang dibawa dari rumah.
Tak sedikit pula para muda-mudi yang sedang memadu kasih di tempat ini. Mereka yang sedang dilanda asmara begitu terlihat menikmati suasana. Tapi, ada pula yang terlihat sedang ngambek dengan pasangannya.
Mataku tertuju pada dua pasang sejoli yang sedang duduk di pendopo lain. Nampaknya aku kenal dengan dua orang ini. Tapi siapa?
“Ra.” Panggilan Mas Gema menyadarkan lamunanku.
“Eh, iya, Mas?”
“Kamu kenapa bengong ke satu titik?” Mas Gema ikut melihat ke arah yang dari tadi mencuri perhatian ku.
“Itu, loh. Aku kayak kenal sama mereka.”
“Itu, Kak Elvira, bukan ya?” Gumam Mas Gema.
Hah, Elvira? Pantas saja seperti mengenali dua sejoli itu.
Lalu yang laki-laki siapa, ya?
“Ra, itu Mas Raksa bukan?”
Pertanyaan Mas Gema menyadarkan rasa penasaranku.
Serius Mas Raksa? Untuk apa dia di sini? Seharusnya laki-laki itu masih di Jakarta. Lebih tepatnya masih bekerja dengan serius.
Apa mungkin selama ini mereka masih memiliki hubungan spesial? Lalu, permintaannya seminggu sekali untuk berkunjung memiliki makna lain?
Yang dia kunjungi wanita lain?
Ku lihat lagi, mereka saat ini sedang berpelukan.
Jujur saja hatiku sakit melihat adegan itu. Perih, sangat perih. Semua penantian yang aku alami, semua sirna begitu saja? Padahal, aku sudah menyiapkan banyak cerita untuk besok.
Tapi nyatanya, wanita lain yang pertama dia temui. Aku hanyalah juara dua.
“Ra, you okay?”
“Maaf, aku nggak tahu sama sekali mengenai ini.”
Semua ucapan Mas Gema seakan lewat begitu saja. Entah darimana keberanian ku muncul.
Tiba-tiba kakiku melangkah ke arah mereka. Mas Gema sedikit mencegah, tapi tekat ku bulat.
Aku ingin menangis, tapi, kenapa rasanya sudah tidak ada cadangan air mata lagi?
Dadaku sesak, menerima semua kenyataan yang menyakitkan. Kenapa harus mengucapkan begitu banyak kalimat yang manis, jika akhirnya akan sepahit ini?
“Hai.”
Sapaan ku membuat pelukan mereka terlepas begitu saja. Tapi kenapa, kenapa reaksi Mas Raksa begitu tenang. Dia tidak terlihat panik sedikit pun.
Apakah aku tidak sepenting ini?
“Aeera, kamu di sini?” Tanya Mas Raksa dengan tenang.
“Iya. Maaf ganggu momen kalian.” Jawabku cukup sesak.
“Maksud kamu?”
Aku menenangkan diri sejenak.
“Ra, kita pergi aja dari sini, oke?” Ajak Mas Gema cukup halus, tapi, aku belum puas.
“Kita udah ketemu di sini. Jadi lo nggak perlu dateng ke rumah Mbah.”
“Loh, tujuan saya berkunjung ke rumah Mbah. Bertemu di sini hanya kebetulan.”
Kenapa sakit, ya? Ini baru hari Jumat, seharusnya dia datang hari Sabtu. Lalu, apa tujuan dia tetap mengunjungi ku?
Ternyata cadangan air mataku masih ada juga. Kenapa harus keluar sekarang? Aku terkesan cengeng di depan mereka.
__ADS_1
Ku lihat Elvira duduk, dia enggan ikut campur. Jujur aku kesal dengan wanita ini. Kenapa dia selalu menjadi bayangan ku saat ingin bersama Mas Raksa?
Dan laki-laki di hadapanku. Dari raut wajahnya hanya bingung, tapi tidak terlihat bersalah sedikitpun.
Maaf Mbah, aku melanggar pantangan mu. Untuk kali ini saja, yang pertama dan terakhir kalinya. Aku ingin memeluk Mas Raksa, laki-laki yang sangat brengsek ini.
Aku memeluk dia, begitu erat. Tidak sedikitpun balasan dia berikan.
“Kenapa lo harus dateng lagi, kalau akhirnya begini?”
“Gue terima. Gue usahain, lo nggak akan lihat gue lagi.”
“Makasih buat semua, pertemuan dan kenangan, dan luka.”
Setelah itu aku melepas pelukan dari tubuhnya. Bergegas untuk pergi, karena semua ini sangat sakit. Bahkan dia tidak bereaksi sedikit pun.
“Drama.” Sayup kudengar sautan dari Elvira, namun aku memilih untuk tidak menghiraukannya.
“Aeera!”
Panggilan Mas Raksa pun tidak kugubris sedikitpun. Fokus ku hanya pergi dan pulang ke rumah untuk menenangkan diri.
Posisiku duduk di atas becak. Ku basa pesan dari Mas Gema. Salah paham? Memang ada apa? Sudah jelas kulihat mereka pelukan, dan lagi yang membuat aku kecewa adalah tidak ada kabar sedikitpun dari Mas Raksa kalau dia akan menemui wanita itu.
Apa susahnya untuk memberi pesan singkat kalau dia akan bertemu Elvira? Kalau aku tidak melihat kejadian tadi, berarti sampai kapanpun aku tidak akan tau momen itu.
Lagi-lagi aku kecewa.
Aku memilih berhenti di warung steak dekat rumah. Memutuskan untuk tidak langsung pulang, karena kalau ketemu Mbah dalam kondisi seperti ini. Rasanya akan sulit untuk menjelaskan.
Beberapa jamku habiskan di tempat ini. Hanya diam dan sesekali makan. Jika mengingat kejadian tadi, sebenarnya aku geli sendiri. Apa yang sudah aku lakukan? Memeluk Mas Raksa, sambil mengucapkan hal yang sangat menjijikkan.
Please Aeera, kamu tadi ngapain? Aduh aku geli banget. Hiii.
Dan lagi, tadi Elvira bilang kalau aku drama? Oh iya, kalau tadi aku drama, berarti dia artis senior. Wanita itu kenapa tidak mengaca pada dirinya sendiri?
Panggilan masuk dari Mbah membuat aku sedikit kelabakan. Aku memilih untuk melihat ponsel itu sampai mati sendiri, enggan untuk menjawab. Setelah panggilan Mbah berakhir, kulihat jam sudah menunjukkan pukul setelah lima sore. Aku langsung bergegas untuk pulang ke rumah. Sudah pasti Mbah akan mencak-mencak.
🐣
Merusak mood.
Saat melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah Mbah. Sudah jelaskan itu mobil siapa? Masih saja berani datang ke sini. Jujur, aku sudah malas membahas masalah cinta yang tidak ada habisnya.
“Aeera pulang.”
Aku melepas sepatu sebelum masuk ke dalam rumah. Benar saja, Mas Raksa dan Mbah sudah duduk di ruang tamu. Aku menghampiri Mbah untuk mencium tangan. Setelah itu bergegas untuk masuk ke dalam kamar.
“Habis dari mana, ndok?”
Mau tak mau, langkah kakiku berhenti. Lalu berbalik arah ke mereka.
Mbah mengangguk percaya.
“Mbah ndak dibelikan?”
Tumben?
“Eh, kan biasanya Mbah ndak mau?”
Aku memilih untuk pamit, karena orang di sebelah Mbah terus menatapku dengan tatapan sama seperti saat kami pertama bertemu di rumah Tante Nada.
“Aku masuk kamar nggeh, Mbah? Badanku capek semua.” Pamitku.
“Aeera, merene!”
Aku membuat napas malas saat Mbah memanggilku untuk duduk sesaat. Aku berjalan gontai lalu duduk dengan terpaksa.
“Ada apa? Muka mu itu loh, kusut sekali.” Mendengar ucapan Mbah, ku lirik orang di sebelahnya sedang menahan tawa.
“Butuh distrika, Mbah.”
“Ealah, ngawur koe.”
Ku buang pandangan tak perduli saat Mas Raksa melihatku.
“Nak Raksa, hari jumat memang ndak kerja? Kok sudah sampai di sini?” Kali ini pertanyaan Mbah sangat bermutu sekali. Sebisa mungkin ku tajamkan pendengaran.
Demi ceweknya ya bisa aja Mbah kalau harus bolos kerja.
“Saya habis mengantar teman ke bandara Mbah, karena dia harus menetap di Belanda.”
Siapa? Kenapa dia harus berbohong? Dengan jelas aku tau alasannya kenapa dia datang lebih dulu ke Jogja.
“Wah hebat, siapa toh?” Tanya Mbah lagi.
“Namanya Elvira, Mbah. Dulu mantan kekasih saya.”
Deg. Kenapa dia begitu jujur menceritakan mengenai Elvira?
“Dia harus menetap di Belanda karena dipindah tugaskan oleh Ayahnya.”
Jadi maksudnya tadi itu pertemuan terakhir? Ku lihat Mbah hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari Mas Raksa.
“Loh, gadis sehebat itu, kenapa kamu melepaskannya?”
Iya, dia memang hebat. Tapi Mbah tau nggak sih? Dia itu pernah sekap aku sampai pingsan!
Lama-lama aku geram mendengar pembicaraan ini. Terlalu menjunjung Elvira dan tidak tahu kebenarannya.
“Hehe. Sudah tidak cocok, Mbah. Lagi pun ada yang lebih cocok sama saya.”
Mataku sedikit terbuka saat Mas Raksa mengucapkan itu sambil melihatku, karena hal itu membuat Mbah ikut memandangku.
__ADS_1
“Halah. Bocah ngambekan, manja, ndak konsisten begini kok kamu taksir?” Ledek Mbah dengan logat medoknya.
Ingin rasanya menguburkan diri ke bumi saat ini juga. Lagi-lagi imageku buruk di depan Mas Raksa. Tapi bagus, supaya dia tidak lagi datang dan mempermainkan ku.
“Tidak ada alasan pasti, Mbah.”
🐣
Ku rebahkan tubuh ke kasur. Setelah mandi dan makan malam bersama, aku memilih untuk langsung masuk ke kamar. Di ruang tamu, masih ada Mas Raksa. Dia memutuskan untuk kembali menginap, entah orang tua itu kenapa tidak langsung pulang saja? Toh urusannya sudah selesai.
Huh. Salah paham? Hal yang membuat seolah aku adalah manusia paling menderita sedunia. Hal yang membuat seolah hidupku mati suri. Aku tidak mau kenal lagi dengan yang namanya salah paham. Tapi aku kecewa, kecewa karena dia tidak sedikitpun memberi kabar. Sesuah itu memberi kabar, bahkan bisa melalui pesan singkat saja.
“Ae.” Panggil seseorang dari luar kamar. Aku tau itu siapa, suaranya sangat khas.
“Kenapa?” Sahutku dari dalam kamar, tentu saja aku malas melihat wajahnya.
“Aeera.” Panggilnya lagi.
“Ada apa?”
“Aeera.”
Arghh. Dengan sedikit kesal, aku keluar dari kamar. Membuka kelambu dengan sedikit kasar.
“Apa sih?”
Dia berdiri tepat di hadapanku sambil memasukan kedua tangan ke kantung celana depan. Dia tersenyum. Sorry dorry strawberry, aku nggak akan luluh lagi.
“Besok sabtu, kamu libur sekolah?”
“Dulu waktu Mas sekolah gimana?”
“Libur.”
“Ya udah, gitu aja pakai tanya.”
“Cepat, to the point.”
“Oke. Saya mau ajak kamu keluar.”
“Saya sudah izin, Mbah.”
“Kamu mau?”
Aduh. Jalan ke luar? Ini salah satu yang tidak bisa ku tolak. Tapikan gengsi, aku ceritanya lagi marah sama dia.
“Kemana?”
Dia tersenyum mendengar pertanyaan ku, “ke dataran tinggi. Nanti kita makan yang enak sambil melihat pemandangan malam yang indah.”
Menggiurkan sekali. Lagipula aku juga ingin semuanya selesai, supaya tidak ada salah paham ke depannya.
“Ya sudah. Aku mau ganti baju dulu.”
“Pakai sweater, celana panjang, soalnya akan dingin.” Pesannya.
Jujur ya, aku tidak begitu excited untuk perjalanan kali ini. Rasa kecewa masih ada, makanya aku butuh penjelasan yang rinci. Setelah berganti pakaian, kami memutuskan untuk jalan ke dalam mobil. Sebelumnya kami sudah izin kepada Mbah, dan mengejutkannya, Mbah mengizinkan kami pulang sedikit malam.
Akhirnya kami sudah ada di dalam mobil.
“Siap?” Aku hanya mengangguk.
“Kamu lemas sekali, sayang?”
Idiiiih??? Salah tingkah sih, tapi dikit.
Mas Raksa memilih untuk mengendarai mobil. Kamu dilanda kesunyian, tidak ada pembicaraan sedikitpun. Ku lihat pergerakan tangan Mas Raksa memencet tombol di radio mobil. Akhirnya lantunan lagu mulai mengisi kendaraan ini.
“Gimana kegiatan seminggu ini di sekolah?”
“Nothing special.”
Kembali hening.
“Dengar dari Mbah, sebentar lagi Ujian Kenaikan Kelas, ya?”
“Iya.”
Lagi-lagi hening.
“Kamu bisa salto?”
Pertanyaan konyol macam apa itu? Ku lirik Mas Raksa, nampaknya dia menahan senyum sambil matanya masih fokus ke jalan.
Dengan sebisa mungkin aku juga menahan tawa. Masak tiba-tiba aku tertawa lepas? Kan gengsi.
“Atau, kamu bisa panjat pinang?”
“Kata Damar, kamu suka makan batu bata, ya?”
Pertanyaan konyol bertubi-tubi membuat aku gagal untuk menahan tawa.
“Hahaha. Apaan sih Mas?”
“Hahaha.”
Akhirnya suasana tidak secanggung tadi, “gitu dong ceria. Saya bingung mencari topik pembicaraan apa lagi.”
“Dih, random banget lo.”
🐣
__ADS_1