

Aku hanya dapat memandangi beberapa brosur "Penerimaan Siswa Baru" yang tergeletak begitu saja di lantai, untuk kesekian kalinya aku memikirkan arah mana yang harus aku lewati. Sungguh, aku ingin seperti teman-teman lainnya. Dapat memutuskan sesuatu dengan mudah seperti dengan alasan mengikuti teman, dekat dengan rumah atau hanya sekadar coba-coba.
“Biarkan aku masuk ke sekolah yang sama dengan temanku, Ayah.” Itulah keputusanku, dengan berat mencoba mengeluarkan pendapat. Ayahku adalah sosok yang paling tegas dalam keluarga, entah sejak kapan aku merasa bahwa sosok ayah membuatku takut untuk mengambil keputusan. Jika melihat ke masa lalu, ayah adalah sosok yang paling dekat denganku walau pun seberapa besar masalah keluarga yang membuat kami terpisah.
“Ke mana?” Bukan jawaban 'iya' atau 'tidak', tetapi itu adalah sebuah pertanyaan ayah yang mulai serius untuk mendengar jawabanku selanjutnya.
“Tidak ada alasan pasti, hanya saja semua temanku memilih untuk masuk kesana. Rasanya akan menyenangkan memiliki teman yang sudah aku kenal untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru,” ucapku seraya menyerahkan salah satu brosur yang aku ambil dari sekian banyaknya brosur yang berserakan di lantai.
“Nak, tidak kah kamu sudah terbiasa dengan keadaan itu?” Pertanyaan ayah membuatku berpikir kembali, sejak kapan lingkungan baru dapat mengintimidasi pergaulanku? Aku sudah hidup berpindah-pindah seperti manusia purbakala, dari satu wilayah ke wilayah lainnya untuk mencari makan.
“Ya. Ayah benar.” Aku meragukan keputusan kembali.
“Pergilah tidur, ini sudah larut malam. Besok pagi ayah akan mengantarmu.” Sepertinya itu adalah pernyataan mutlak untukku. Aku melihat ikon pesan yang masuk ke inbox handphone milikku, dari seorang sahabat.
Dari : Apriliawan
Dengan prestasimu itu, tentunya sekolah favorit mana saja akan mudah untuk kamu masuki. Walaupun begitu, aku berharap kita satu sekolah lagi.
Aku menghela nafasku dalam-dalam, suatu beban berat terasa menekan dadaku hingga terasa sulit untuk bernafas. Aku tersadar, alasanku lainnya untuk masuk ke SMK itu adalah karena dia ada di sana. Aku selalu kesulitan untuk memutuskan sesuatu, proses untuk sampai pada keputusan itu melalui banyak prediksi kemungkinan yang mengalami perulangan tanpa tanda akhir yang jelas. Aku hanya dapat membaca pesan itu berulang kali tanpa mengetahui jawaban apa yang akan aku balas hingga mataku lelah dan terlelap.
__ADS_1
Aku pikir besoknya ayah akan membawaku pada SMK yang aku ajukan sebelumya, membayangkan untuk memberikan kejutan bahwa kita akan satu sekolah lagi dan berharap satu kelas kembali. Namun pada akhirnya, aku menyadari bahwa arah yang ayah pilih adalah arah yang berbeda dari apa yang aku bayangkan.
SMK Negeri terfavorit dan lebih baik dari segala sekolah yang pernah ada. Bahkan, SMK yang aku inginkan sebelumnya, tak bisa dibandingkan dengan sekolah ini.
Namun memikirkan bahwa sekolah ini bukanlah nama sekolah yang aku inginkan sebelumnya, membuatku menolak untuk memasuki sekolah ini. Banyak pertimbangan yang kini terurai di otakku, di antaranya letak sekolah yang terlalu jauh yang akan membuatku hidup di kos-kosan dan kemudian berimbas pada semakin menjauhnya aku dari orang tua serta adikku. Alasan itu belum bisa aku terima, aku tidak ingin kami terpisah lagi, untuk tiga tahun kedepan. Sudah cukup aku meratapi nasibku yang hidup berpindah-pindah dan hidup terpencar.
Sejak aku kecil, ayah selalu pergi merantau ke negeri asing untuk mencari nafkah, meninggalkan ibu, aku dan kedua adikku. Kami bukanlah sebuah keluarga yang terlahir dengan sendok emas ataupun sendok perak di mulut kami. Keadaan itu yang membuat kami harus hidup lebih keras dari kehidupan orang lain. Membuatku berusaha lebih untuk mendapatkan beasiswa sejak Sekolah Dasar.
“Ayah, aku tak ingin kesini.” Aku mengutarakan hal yang membuat mataku berlinang. Namun ayahku tak bergeming sedikit pun. Mungkin aku hanyalah anak ingusan yang tidak mengerti mengapa ayah memilih arah yang berbeda dengan arah yang aku pikirkan. Langkah kakiku terasa memberat untuk mengikuti langkahnya yang jenjang.
Aku akui, sekolah itu luas dan benar-benar luarbiasa.
“Lihatlah, Nak. Bukankah sekolah ini luarbiasa. Ayah tak memiliki apapun yang dapat ayah janjikan untuk masa depanmu, ayah hanya dapat memberikanmu secercah harapan. Pendidikan terbaik untuk masa depanmu.”
“Mengapa kamu memilih jurusan
ini?” Pertanyaan seseorang yang bertindak sebagai penyeleksi tahap akhir yang kini duduk tegap dibalik meja. Pertanyaan itu membuatku berpikir keras.
“Tidak ada alasan khusus yang membuatku memilih jurusan ini, bahkan pagi tadi aku sempat menolak untuk masuk ke sekolah ini.” Aku tidak dapat memikirkan satu jawaban pun untuk menyenangkan hati seorang pria paruh baya yang kini memberikan pandangan tajam ke arahku. Bukankah seharusnya aku memberikan jawaban bahwa jurusan ini adalah jurusan yang aku impikan? Setidaknya pria paruh baya itu akan memberikan poin lebih untukku.
“Seharusnya kamu tahu, Siswi. Jawabanmu menjadi penentu di sini.”
__ADS_1
“ ... ” Aku masih terdiam. Jujur, aku masih memiliki niat untuk tidak masuk ke sekolah ini.
“Lalu apa yang membuatmu berubah pikiran?”
“Aku hanya mencoba berpegang pada harapan yang Ayahku titipkan.”
“Itu adalah alasan yang menyentuh. Hanya saja, apa yang membuatmu yakin bahwa kami akan menerima siswi yang tidak memiliki minat pada sekolah ini sebelumnya? Di luar sana, banyak pelajar yang memiliki mimpi tinggi untuk sekolah di sini sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa memenuhi apa yang menjadi kriteria sekolah.”
“Dokumen yang anda pegang sekarang lebih dari kriteria itu. Jika melihat kembali kriteria yang anda maksud, tidak ada satu baris pun kriteria yang mengatakan bahwa calon siswa harus memiliki minat yang tinggi untuk sekolah di sini.” Apakah aku mengatakannya dengan angkuh? Ya, aku cukup percaya diri untuk mengatakannya. Tapi, bukankah saat yang lalu aku berniat untuk menyerah? Lalu kenapa apa mencoba untuk menyombongkan diri seolah aku pantas untuk diterima.
Semua panitia terdiam dan hanya saling melempar pandangan ke arah panitia lainnya.
“Baiklah, kamu boleh keluar.” Nada yang aku dengar begitu rendah sesaat setelah tim penyeleksi melihat dokumen yang aku lampirkan sebagai syarat seleksi, membuatku melangkah keluar ruangan dengan ragu. Namun, tatapan hangat yang mengarah kepadaku kemudian membuatku tersenyum ringan. Ayahku telah menunggu di balik pintu.
Jam sudah menunjukkan pukul 2
siang. Aku dan ayahku baru baru kembali dari minimart terdekat untuk mencari minum dan pengganjal perut yang lapar.
Ayahku terus membaca daftar pengumuman siswa yang lulus seleksi di papan mengumuman. Daftar pengumuman masing-masing jurusan dijejerkan dalam mading sekolah. Deretan kertas putih itu tertempel pada sisi paling atas membuatku kesulitan membaca hasilnya. Aku hanya membaca nama-nama siswa lainnya yang tertulis mulai dari baris terakhir sesuai dengan jurusan yang aku lamar. Dari baris pendaftaran terakhir sampai lembar berikutnya aku tidak dapat menemukan namaku, haruskah aku bahagia? Aku memiliki harapan untuk tidak sekolah di sini. Namun, senyum dari bibir ayahku membawa aura lain.
“Siapakah Zytha Putri? Aku kira dia adalah siswa terpintar pada seleksi ini.” Aku menoleh mendengar namaku menjadi pembahasan orang tua yang berada di belakangku. Kini aku tahu alasan senyuman di bibir ayahku. Tuhan tidak mendengarkan doaku.
__ADS_1
“Siapakah dia?”
“Dia seorang anak gadis yang cantik.” Aku tersenyum lucu mendengar jawaban ayahku yang mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan orang tua lain tentang sebuah nama yang berada pada urutan pertama Penerimaan Siswa Baru. Ayahku membanggakan anaknya sendiri.