
Aku terbangun oleh alarm yang aku atur kemarin malam, jam sudah menunjukkan pukul 04:00 pagi. Kantuk luar biasa terasa menggantung di kelopak mata.
“Apakah kamu bisa masak, Shinta?” Aku bertanya dengan lemah. bibirku masih terasa kaku untuk bergerak.
“Tentu, itulah alasanku memasuki jurusan Tata Boga.”
Aku “…”
Bukankah aku harus senang memiliki teman yang pandai memasak? Aku menunjukkan senyum tipis. “Kalau begitu, bantu aku masak!”
“Tentu, tentu. Tetapi biarkan aku mencuci wajahku dahulu.” Suaranya serak dengan mata masih tertutup. Kami mencoba bangkit dengan langkah yang tertatih-tatih. Kehidupan mandiri dimulai dari sekarang–diawali dengan memasak.
Beberapa kali aku akan melirik Shinta untuk bertanya cara memasak. Seperti bahan mana yang harus aku masukkan duluan, bagaimana ukuran garam yang pas dengan lidah atau bagaimana rupa sayur itu jika sudah matang. Memasak sungguh merepotkan!
“Lebih baik kamu mandi dan siap-siap lebih dahulu, Zytha. Biarkan aku menangani sisanya.” Ini yang aku tunggu dari awal. Aku langsung bergegas seolah lari dari dapur, aku belum terbiasa. Walaupun aku hidup dari keluarga yang serba kekurangan, namun ibuku tidak pernah membiarkan aku masuk dapur untuk membantunya memasak. Ibuku hanya meminyaki untuk belajar, belajar dan belajar.
Beberapa waktu kemudian kami akhirnya menyelesaikan aktifitas yang melelahkan dan merasakan kenyang di perut. Kami memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah sesegera mungkin karena kami harus berjalan kaki dan tidak boleh terlambat. Kami tidak ingin dipermalukan untuk menerima hukuman dihadapan siswa baru lainnya.
Jarak antara sekolah dan kos kami membutuhkan waktu tempuh selama 10 menit. Kami tidak harus melewati jalan raya besar, kami akan melewati gang kecil di belakang kos yang langsung membawa kami ke depan pintu gerbang sekolah.
Hawa dingin terasa menusuk ke tulang, embun pagi dari pepohonan di pinggir jalan sesekali akan menetes kearah wajahku. Jalan masih tampak gelap dan berkabut, namun kami bersyukur pada lampu penerang yang masih menyala disetiap gerbang rumah warga. Walaupun ada di area tertentu yang sepi dan tidak memiliki penerang, kami harus waspada dan hati-hati.
“Kamu dengar suara jejak kaki di belakang kita, Zytha?” Suara Shinta yang bergetar membuatku bergidik ngeri. Kami baru saja memasuki area yang tidak memiliki lampu penerang. Suara kaki itu terdengar lebih dari dua pasang.
“Diamlah, itu pasti warga atau siswa baru seperti kita. Jangan mengundang perhatian mereka,” ucapku dengan suara rendah, namun suara langkah itu kian mendekat dan kemudian tetap berada pada jarak yang tetap sama di belakang kami.
Mengapa mereka tetap di belakang kami? Aku mulai memanjatkan doa dan meremas tangan temanku ini, entah doa mana yang aku lantunkan karena ketakutanku. Beberapa waktu kemudian, kabut mulai menyingsing dan sinar matahari tampak mulai terang dari timur.
“Kalian harus berjalan dengan cepat, kalau tidak kita akan terlambat!” Suaranya terburu-buru dan terdengar dingin tetapi aku merasakan kemarahan di sana.
Suara itu berasal dari sang penguntit. Tidak, mungkin bukan penguntit. Mereka jelas-jelas tahu bahwa kami adalah siswa baru, apakah mereka juga siswa baru dari sekolah yang sama? Dengan keingintahuanku yang besar, aku memberanikan diri untuk menoleh.
Si cowok dengan tatapan sedingin es kutub utara tepat berjalan di belakangku–Ramli.
“Mengapa kalian berjalan dengan kecepatan siput, ah?” Lihatlah, setiap bertemu denganku dia akan menatapku dengan tatapan dingin melebihi dingin embun pagi ini dan kini dia mencoba memarahiku. Entah dosa apa yang aku lakukan sejak awal pertemuan kami.
“Itu urusan kami, apakah kami harus berjalan lebih lambat atau lebih cepat.” Oh Tuhan, kata-kataku tidak bisa ditahan. Aku ingin menggembok mulutku saat ini, benar-benar mulut tak tahu diri.
__ADS_1
“Ow, Ow.. Jangan diambil hati, Dek Zytha.” Jaelani mencoba memadamkan api di antara kami. “Kami melihatmu dari kejauhan sebelumnya dan tampak ketakutan. Kami di sini hanya mencoba menemani kalian,” lanjutnya.
Aku “…”
“Jadi jangan salah sangka, oke?” Jaelani mencoba mendekatkan wajahnya untuk melihat jawaban apa yang akan aku utarakan.
“Untuk apa menjelaskan hal-hal yang tidak berguna.” Ramli berjalan mendahuluiku setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Kata ‘terima kasih’ ku kini telah terbakar dan tak tersisa untuk diucapkan kepadanya.
“Kami duluan ya, jangan sampai telat. Kalau tidak, kakak tidak bisa membantumu.” Pernyataan Jaelani membuatku berfikir sebentar dan kemudian dengan cepat mendorong Shinta untuk mempercepat langkahnya.
“Aku tidak bisa berjalan dengan terburu-buru lagi, Zytha. Aku lelah!” Oh Tuhan, maka dari itu kamu harus menurunkan berat badanmu itu!
Beberapa saat kemudian kami tiba tepat saat gerbang akan ditutup oleh satpam. Besok kami harus berangkat lebih awal dan tidak lupa membawa alat penerang jalan.
Semua siswa baru berkumpul di lapangan sekolah, duduk dengan kaki menyilang. Tidak ada space yang cukup untuk merenggangkan badan. Sinar matahari mulai memanggang kulit kami, aku belum terbiasa dengan ini bahkan mungkin aku tak akan terbiasa karena musuhku adalah sinar terik matahari, kami ditakdirkan untuk tidak bisa bersama dalam waktu yang lama.
“Perhatian! Semua siswa berdiri dan kemudian membentuk kelompok bedasarkan gugus masing-masing!” Aku mendengar arahan senior dari arah depan lapangan, terdengar dingin dan kejam. Mengapa aku mengingat si cowok kutub utara? Aku dengan tanpa sadar menepuk kepalaku yang mulai terkontaminasi. Menjauhlah!!
“Sangat tampan, ya!”
“Bukan hanya tampan, selain menjadi ketua OSIS, dia juga juga berada pada peringkat paling atas dengan semua nilai-nilai sempurnanya.”
“Aku rasa sudah! Bagaimana mungkin wajah dan otak yang hampir sempurna itu masih sendiri? Mungkin cewek di sekolah ini buta untuk membiarkannya sendirian.”
“Haruskah aku mencari informasi?”
“Bisakah kamu diandalkan?”
Satu demi satu siswa baru mulai saling menukar pendapat dan informasi mengenai Ketua OSIS yang kini berada di depan lapangan, aku mulai penasaran dengan keberadaannya. Namun mataku tak memungkinkan melihat jarak jauh. Mungkin di lain waktu ketika ada kesempatan dan saat aku tak melupakan kacamataku lagi.
Untuk sekarang, aku harus mengasihani diriku sendiri. Aku ingin menangis bunda.
Mengapa Indonesia tidak memiliki 4 musim seperti negara tetangga dan menghilangkan musim panas dalam daftar? Mengapa? Mengapaaa?
“Gugus Rindu?”
“Ya, Siap!” Kami auto menjawab dengan sikap tegak ketika nama gugus kami disebutkan namun sesaat kemudian aku mulai pusing dan pandanganku mulai buram.
__ADS_1
“Pimpinan saya ambil alih!”
“Siap!”
Suara yang terdengar samar-samar di antara siswa baru kini hilang bagai ditelan bumi. Siapa gerangan yang mengambil perintah di depan hingga membuat semua penggosip dalam gugusku terdiam? Terserahlah, aku hanya perlu untuk berdiri dan mencoba bertahan.
“NIM 3639.”
Angkanya seperti familier di telingaku.
“NIM 3639!!” Suaranya semakin keras dan lantang.
“Siap!” Tuhan, aku melupakan NIM-ku sendiri. Aku belum terbiasa dengan angka ini. Mamp*s dah, aku menyadari kesalahanku. Suara langkah kaki dengan pelan mengarah kepadaku dan membuat jantungku semakin berpacu dengan cepat. Sesekali aku akan mencoba melirik arah suara kaki dan melihat siapa yang kini akan memakanku hidup-hidup.
Si cowok kutub utara–lagi?
Tuhan, pingsan sekarang pun aku tak akan mengeluh. Mengapa dia harus satu sekolah denganku dan mengapa dia harus menjadi seniorku.
“Mengapa kucir rambutmu kurang dari 25?”
What The F*ck… Aku telah berdosa sejak bertemu dengannya. Bagaimana pula dia mengetahui jumlah kucir rambutku kurang atau lebih.
Aku “…,” aku kehilangan kata-kata olehnya.
“Hitung!”
“Bagaimana caraku menghitung? Mengucirnya pun, aku dibantu oleh teman kamarku.” Aku tak akan mundur. Persetan dengan senior!
“Inikah sopan santunmu kepada seniormu? Kamu jurusan mana?” Suaranya semakin dingin dan terasa membekukan jantung seketika.
“Maaf jika kata-kataku kurang berkenan di hati senior, hanya saja tidak ada ketentuan jumlah kucir rambut ketika pemberitahuan kemarin.”
“Kamu tidak pernah mendengar hukum pasal satu bahwa senior tidak pernah salah?”
Sekarang aku yakin bahwa dia memang menargetkan aku sejak awal. Aku menatapnya tepat di bola matanya, seakan ada kilatan yang akan keluar dari mataku.
“Lalu, apapun yang menjadi jawabanku akan menjadi kesalahanku dan menjadi kebenaran untuk senior. Aku siap menerima hukuman.”
__ADS_1
“NIM 3639, dalam posisi ****-up!”
Aku akan mengutuk nenekmu hingga keturunanmu kelak!