Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Gadisnya Reza?


__ADS_3

“Makan dengan pelan,” ucap Reza mendorong sepiring makanan yang telah dia pesan ke arah ku, kini beberapa jenis makanan seakan berpusat kepadaku saja. Disaat teman lainnya hanya memiliki dua jenis menu di hadapan mereka, aku bahkan memiliki lima jenis menu di hadapanku sekaligus.


“Apakah aku serakus itu?” Aku tak percaya dengan perbedaan besar yang tampak di meja makan.


“Apakah menu ini ada di kantin sekolah kita?” celetuk Nurul dari arah sampingku, dia bahkan tidak perduli dengan keluhanku setelah mendengarnya.


“Apa yang aneh dengan menu ini di kantin sekolah kita yang luar biasa,” ucap suci menjawab. Nurul dan Syafa kemudian mengangguk pelan bersamaan.


“Aku tidak dapat menghabiskannya sendirian,” ucapku kembali.


“Aku mendengar cerita, setiap semester sekolah akan mendatangkan koki terbaik untuk memberikan pelatihan kepada jurusan Tata Boga.”


“Waahhh, pantas saja. Aku tidak akan heran kalau kantin kita memiliki beberapa menu barat.”


“Haruskah kita memesan menu ini juga, Nurul?” tanya Syafa mengabaikan ku kembali. Aku seperti sebuah roh yang tak terlihat di sini, benar-benar tak ada yang menyadari keberadaanku. Aku menatap Reza sejurus kemudian, namun dia tengah menikmati makanan layaknya seorang bangsawan. Ketenangannya seperti berbicara bahwa ketika di meja makan, tidak boleh ada yang berbicara.


“Ini hanya Sayap Ayam Bumbu Kecap. Apa yang istimewa!” ucapku kesal.


Semua pandangan akhirnya mengarah kepadaku. Tak terkecuali Reza, Dia sampai melepaskan sendok dan garpunya dengan cepat.


Hahahahaha


“Kenapa kalian tertawa!” Aku seperti dipermainkan oleh teman-temanku sendiri.


“Makanlah. Jangan protes apapun,” ucap Reza segera merespon ku, terlihat canggung untuk beberapa saat.


Syafa berbisik, “itu bukan Sayap Ayam Bumbu Kecap. Itu adalah makanan barat, Chicken wings BBQ.”


Wajahku seperti direndam dalam bara api, terasa panas. Aku ingin menyembunyikan wajahku ke kolong mejaku. Memalukan!!!


Aku melihat Reza sekali lagi, hanya dia yang tersenyum ditengah tertawaan teman-temanku lainnya. Mungkin lebih tepatnya disebut menahan tawa, senyumnya terlihat bergetar di sudut bibirnya.


Aku sudah terlanjur malu. Persetan dengan makanan ini akan habis atau tidak, aku hanya perlu untuk memakannya.


Aku mulai memakannya dengan muka tebal. Bukan salahku tidak mengenali menu barat, bahkan memiliki kesempatan memakan menu kota adalah anugerah.


“Sudah, sudah! Aku sudah tidak sanggup lagi untuk tertawa,” ucap Syafa seraya menyeka ujung matanya. Aku hanya memberikan tatapan mematikan padanya, namun sekali lagi dia mengabaikanku.


Beberapa saat kemudian, aku hanya mampu untuk menghabiskan semangkok bakso yang sebelumnya aku pesan. Sedangkan menu lainnya, tidak tampak adanya perubahan besar dari porsi sebelumnya.


Tunggu sebentar, berapa harga yang harus aku bayar? Aku sepertinya harus menghabiskan sisa uangku lebih cepat kali ini.


“Ayo kita ke UKS sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai,” ucap Reza memecah lamunanku.


“Aku belum membayar–”


“Gio?”


“Ya..., aku paham tuan– Ah, Reza.”

__ADS_1


“Uh? Apa maksudnya?” Aku menatap Reza dan Gio secara bergiliran, aku seperti berada dalam situasi yang salah. Aku dalam keadaan bingung, aku akan membayar atau tidak.


“Reza sudah membayarnya,” ucap Gio kemudian dengan senyuman yang tiba-tiba merekah namun masih terlihat canggung ke arahku.


“Kami akan ke kelas terlebih dahulu. Jangan menyulitkan Reza,” ucap Syafa kemudian dengan cepat menggandeng Nurul dan Suci untuk pergi meninggalkan aku.


Teman macam apa kalian?


🍀🍀🍀


Tok tok tok


Reza memberikan ketukan beberapa kali ke pintu UKS sebelum melangkahkan kaki kedalam.


“Dokter,” panggil Reza kepada seorang wanita cantik yang memakai jubah putih, wanita itu masih terlihat muda untuk mendapatkan gelar dokter. Benar-benar mengagumkan.


“Reza, kamu sakit apa?” ucap dokter dengan khawatir dan segera berjalan ke arah Reza.


“Bukan aku. Tapi dia,” ucap Reza mengarahkan pandangannya kepadaku. Dokter itu seperti memberikan pandangan heran untuk sesaat dan dengan segera menghampiriku kemudian. Karena aku berada di belakang tubuh Reza yang dapat menghalangi pandangannya, dokter itu dengan cepat mendorong Reza dari tempatnya berdiri.


“Kamu Zytha, kan? Kamu memang cantik. Duduk dulu sini,” ucapnya ramah kepadaku. Aku tidak akan heran lagi kenapa semua orang di sekolah dapat mengenaliku, pasti karena spanduk selamat datang. “Kamu pasti kesulitan karena Reza,” lanjutnya.


“Jangan mengatakan hal-hal yang membuatnya bingung. Lakukan saja tugasmu!” Reza terlihat tak sabaran dan bagaimana bisa dokter ini mengetahui kesulitanku. Pasti sudah kebiasaan Reza untuk membuat hidup orang lain kesulitan.


“Lihat! Jangan membentak kakakmu sendiri!”


Aaah... Kakak?


Aku hanya menganggukkan kepala untuk membuat persetujuan. Aku mulai memijat kecil area bahuku, area itu terasa sakit lagi.


“Reza, kamu keluar!” ucap dokter dengan tegas. Sikapnya sangat berbeda dari beberapa saat yang lalu.


“Kenapa harus? Aku akan menunggu di sini.”


“Ini urusan wanita!”


Untuk sesaat Reza terdiam dan kemudian mulai menganggukkan kepalanya.


“Aku akan menunggumu di luar,” ucap Reza padaku.


“Buka bajumu, biarkan aku lihat bahumu,” ucap dokter dengan khawatir.


Setelah mendengar pintu tertutup dan memastikan Reza sudah keluar, aku membuka baju seragam putihku. Dan benar, bahuku terlihat memerah dan sedikit kebiruan.


“Bagaimana itu bisa terjadi?”


“Aku sedikit tidak hati-hati hingga menabrak seorang teman.”


“Benarkah? Aku tidak tahu bahwa menabrak orang lain akan menimbulkan luka seperti ini, kecuali temanmu itu sedang berlari atau dengan sengaja menabrakmu dengan usaha yang keras.”

__ADS_1


“Hmmm... Aku rasa, dia tidak sengaja dan sedang terburu-buru” ucapku lemah. Aku merasa sangat sedih ketika mengingatnya, entah kenapa hatiku sangat sakit.


“Baiklah. Jangan khawatir. Kakak akan memberikanmu obat pereda nyeri dan salep,” ucapnya lembut.


“Terima kasih, Dokter!”


“Tidak! Tidak! Panggil kakak. Aku tidak suka mendengarmu memanggilku dengan sebutan orang asing.”


“Kenapa?” Aku rasa aku sangat bodoh untuk bertanya setelah seseorang memberikan kemurahan hatinya padaku.


“Gadisnya Reza tentunya adalah adikku,” ucapnya lugas.


“Dokter salah sangka! Kami tidak memiliki hubungan ke arah sana. Kami teman!” ucapku dengan cepat. Bagaimana bisa dokter langsung memberikan kesimpulan seperti itu.


“Benarkah?” ucapnya kemudian setelah selesai mengoleskan salep pada bahuku.


“Benar!”


Dokter itu hanya tersenyum padaku, seperti menyembunyikan sesuatu dalam pikirannya. Aku rasa dia tidak percaya.


“Kenapa lama sekali!” Reza masuk dengan wajah semakin dingin di wajahnya.


“Yak! Bagaimana bisa kamu masuk begitu saja. Bagaimana kalau Zytha belum selesai memasang bajunya!”


Reza mengamatiku dengan cepat. “Dia sudah selesai,” lanjutnya.


“Aduuuh, adikku memang bodoh kalau menyangkut hal-hal tentang hati.” Apa yang dibicarakan dua orang bersaudara ini, satu terlihat pasrah dan satu lagi terlihat bodoh. “Ini obatmu, Zytha” lanjutnya seraya memberikan sebutir obat seukuran 'ban mobil'. Astagaaaaa, ukurannya sangat-sangat menakutkan.


“Hei! Kenapa kamu mencuri obat Zytha! Berikan padanya!” Dokter itu berteriak histeris melihat Reza merampas obat begitu saja dari telapak tanganku.


“Dia tidak bisa meminumnya jika tidak dipecah,” ucap Reza tenang, sedangkan dokter membuat ekspresi bingung di wajahnya dan memandangku kemudian.


“Heheh, aku takut minum obat,” ucapku merasa bersalah sambil menggaruk leherku dengan cemas. Aku tidak berani untuk melihat dokter kemudian, wajah dinginnya sama persis seperti Reza.


“Ya ampuuuuun, Zytha. Kamu sudah besar.” Teriaknya tak percaya padaku. Aku hanya tersenyum bodoh merasa bersalah tanpa alasan.


“Dia sedang sakit! Jangan membentaknya!” Reza mulai kehilangan kesabaran. Ada apa dengan dua bersaudara ini. Oh Tuhan!


“Aku tidak bermaksud membentaknya, aku hanya khawatir,” ucap dokter tanpa menurunkan intonasinya.


Reza kemudian berhenti bersikap keras dengan kakaknya dan kemudian membelah pil obat dengan cepat.


“Minumlah dengan pelan,” ucapnya padaku.


“Mn”


“Aaah.... Kalian merusak mataku. Lebih baik aku pergi. Aku ada urusan. Kakak pergi dulu ya, Zytha,” ucap Dokter dengan ramah padaku.


“Lima menit lagi jam pelajaran berikutnya, bagaimana kondisimu?” tanya Reza kemudian setelah pintu UKS tertutup dari luar.

__ADS_1


“Aku rasa sudah baikan. Ayoo kita pergi juga. Aku tidak mau telat pada Minggu pertamaku.”


__ADS_2