Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Kita pacaran saja!


__ADS_3

“Apakah kalian sudah dengar kabar terbaru,” ucap seorang teman kelas usai berlari dengan nafas tengah-engah.


“Kabar apa, Ly?”


“Saat aku dalam perjalan ke kelas, aku tidak sengaja melihat hal luarbiasa dalam hidupku,” lanjut Laely dengan semangat tinggi, bahkan aura semangat yang dia bawa telah menular ke teman-teman lainnya yang sudah membuat lingkaran di dekatnya.


“Apa itu? Jangan membuat kami mati duluan karena penasaran!” teriak Syafa ikut mengambil bagian dalam lingkaran.


“Kalian kenal Distriani, 'kan?”


“Siswa baru yang terkenal dengan julukan ‘Dewi Sekolah’ itu?” sahut yang lainnya dengan antusias.


“Iya. Barusan dia sedang membuat pengakuan di tengah lapangan! Dia mengatakan cinta kepada Reza, tepat di tengah banyaknya orang!”


“Apaaaa!” Seiring teriakan itu menggema ke seluruh ruangan, beberapa di antara mereka dengan cepat menatap ke arahku.


“Apa?” ucapku kebingungan, namun mereka tidak menghiraukanku kemudian. Mereka dengan cepat kembali memperhatikan Laely.


“Kalian tahu apa jawaban yang diberikan Reza?” lanjut Laely dengan memberikan nyawa kedalam kalimatnya, sontak semua penonton yang mendengarkan semakin terlihat tegang dan gelisah. “Enyahlah! Kamu menganggu jalanku!” lanjutnya seraya mempraktekkan gaya dan intonasi Reza sesempurna mungkin. Aku hampir tertawa ketika membayangkan Reza mengatakan itu dengan segala aura kutub utara di seluruh bagian tubuhnya.


“APAAAA?!” Seiring teriakan itu, mereka kembali menatap ke arahku dengan tatapan yang lebih tajam lagi.


“Kenapa kalian menatapku lagi?” ucapku memutar mata malas. Teman-temanku semakin hari semakin aneh saja.


“Katakan padaku, Zytha! Apa hubunganmu dengan Reza?” seseorang dengan cepat mengambil tempat untuk duduk di depanku dengan pertanyaan anehnya.


“Apa yang kalian pikirkan, uh?” tanyaku menyapu tatapan yang kini semakin tajam dan menyala ke arahku.


“Akhir-akhir ini, kamu dan Reza terlihat sangat dekat.”


“Apa yang salah dekat dengan senior dari jurusan kita sendiri,” jawabku acuh, namun mereka masih saja menatapku dan semakin menakutkan.


“Apa kamu tidak menyadarinya? Reza hanya dekat denganmu. Kami seperti bongkahan kerikil ketika di dekatnya.” Mendengar perkataan Laely membuatku berpikir sejenak, tidak ada yang salah dengan Reza selama ini. Aku terkadang tidak sengaja bertemu dengannya ketika berangkat sekolah, tak sengaja bertemu di kantin saat sedang jam istirahat dan terkadang kami pulang bareng karena kami satu kos. Di mana letak kesalahannya?


Tidak mungkin aku memberitahu teman-teman lainnya bahwa kami satu kos, bukan? Itu melanggar hak privasi Reza.


“Dengar, kami tidak dalam hubungan apapun. Dan ketika kami terlihat bersama, kalian harus yakin bahwa itu terjadi karena ketidaksengajaan!”


“Zytha, Senior mencarimu,” teriak seseorang dari arah pintu ketika aku baru saja selesai membuat pemberitahuan publik. Dan–Reza menghancurkannya.


“Lihat! Itu bukan termasuk dalam ketidaksengajaan!” ucap seseorang dengan mata serigala, terlihat buas dan siap untuk menyerangku.


“Hahahaha, kalian sebaiknya berhenti menyusahkan teman kita,” ucap Syafa dengan senyum palsu. Syafa meraih tas dalam kolom mejaku dan kemudian menarik tanganku untuk berdiri dan keluar dari kerumunan serigala.


Aku merasa hari ini aku mendapatkan musuh baru lagi. Sedangkan Syafa, dia berlari setelah menyerahkan aku kepada penyebab permasalahan ini.


“Kenapa menatapku dengan tatapan membunuh?” tanya Reza kemudian.

__ADS_1


“Kenapa mencariku ke kelas, Senior? Tidak biasanya.”


“Aku kebetulan lewat kelasmu.”


“Lihatlah para pengagummu di sana, hari ini mereka sudah memutuskan untuk menjadi musuhku.”


“Jangan perdulikan mereka. Aku juga sudah terbiasa untuk mengabaikan tatapan para penggemarmu di sana juga.”


“Ahhh…, akhir-akhir ini kehidupan tenangku mulai terusik,” keluhku dengan menghela nafas. Kami berjalan menyusuri koridor sekolah, dan seperti biasanya, dengan segala tatapan minat yang terus mengarah kepada kami.


“Ada apa, Senior?” ucapku kepada Reza yang terlihat berpikir keras setelah memeriksa pesan dari handphone-nya.


“Kita diminta ke gedung timur,” ucapnya datar.


“Ada apa?” tanyaku khawatir setelah melihat ekspresi Reza sesaat, walaupun terlihat datar namun aku dapat melihat semburat ketidaksenangannya di sana.


“Kita akan mengetahuinya setelah berada di sana.”


“Baiklah”


🍀🍀🍀


“Selamat sore,” ucapku melepas hormat ketika memasuki sebuah ruangan kemudian Reza menyusul masuk dan berdiri di sampingku. Aku tersenyum ramah pada seorang pria separuh baya yang sedang duduk pada kursi sofanya, dia adalah pendamping dadakanku. Aku tidak menyadari bahwa dia adalah bagian dari sekolah ini.


“Kenapa kami dipanggil ke sini, Pak?” tanya Reza memulai percakapan. Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku. Terlihat beberapa Senior yang hadir dan seorang mantan sahabatku, Yuli.


“Bapak harus merepotkanmu tahun ini juga untuk mengikuti Olimpiade di London.”


“Maaf, aku menolak! Magangku baru saja jalan selama 2 minggu,” sanggah Reza tidak senang dengan pemberitahuan dadakan ini.


“Pihak sekolah akan memberikanmu kasus khusus, kamu akan mengambil magang pada semester depan.”


Aku melihat Reza dengan tatapan tajam dan menakutkan, tidak biasanya kesabarannya akan hilang di depan seorang tetua.


“…” Reza hanya diam, tidak menjawab apapun. Matanya penuh dengan kata ketidaksukaannya dalam kondisi ini.


“Zytha, kamu juga akan ikut ambil bagian tahun ini. Dua minggu kedepan, kita akan berangkat!”


Apaaa? Apa aku tidak salah dengar? Aku masih siswa baru di sini dan itu belum satu bulan, bagaimana bisa aku menguasai materi untuk tingkat SMA/SMK.


Aku memandang Reza dengan cepat ketika aku tidak bisa mengatakan apapun untuk membantah.


“Ayo kita keluar!” ucap Reza kemudian menarik pergelangan tanganku, aku rasa sikap Reza saat ini sangat tidak masuk akal. Dia sangat tidak sopan dan emosinya semakin tidak bisa terkontrol.


“Saya permisi dulu, Pak!” ucapku ditengah tarikan Reza yang begitu kuat untuk membawaku keluar.


“Senior…,” panggilku lirih.

__ADS_1


“…” Reza tetap diam menarikku hingga sejauh ini.


“Senior!” panggilku dengan sedikit keras. Namun tidak ada respon sama sekali.


“Reza!!” Aku kehabisan kesabaran, pergelanganku sakit. Sesaat kemudian, kesadaran Reza seperti kembali ke dunia ini dan kemudian berhenti berjalan. Aku menghela nafas panjangku. “Lepaskan dulu tanganku, itu mulai terasa sakit!” lanjutku.


Reza kemudian melepaskan pergelangan tanganku dengan ekspresi terkejut. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi padanya. Bukankah mengikuti Olimpiade adalah hal yang sangat membanggakan, aku mengingat beberapa piala yang terpajang di seluruh bagian sekolah adalah sebagian besar disumbangkan atas namanya. Tidak mungkin perkara itu yang membebani pikirannya saat ini.


Reza kemudian berjalan pelan ke arah bangku panjang. Ya, kami sekarang berada di taman belakang sekolah. Keadaan semakin sepi karena siswa lainnya pasti sudah berpuas diri istirahat di rumah, sedangkan langit semakin berwarna jingga dengan hawa dingin yang menyapa kulit.


“Kamu kenapa?” Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


“Dia adalah ayahku…,” ucapnya lirih.


“Ayah?” Aku belum mengerti akan pernyataannya.


“Orang yang memanggil kita tadi adalah ayahku.”


“Apa!” Seberapa banyak keluarganya yang bekerja di sekolah ini, mulai dari kakak dan ayahnya. Aku melihat kepala kantin yang masih membereskan meja, bahkan aku akan mengira bahwa kepala kantin itu adalah ibunya.


“Aku seperti robot yang harus melakukan ini dan itu tanpa persetujuan dariku terlebih dahulu,” ucapnya dengan helaan nafas. Aku baru pertama kali melihat Reza mengeluarkan ekspresi yang begitu terlihat lelah.


“Apa yang salah?” Aku mulai ikut ambil bagian pada kursi panjang itu, duduk di dekatnya dengan menyandarkan punggungku. Melihat dedaunan yang mulai jatuh tertiup angin.


“Seperti yang kamu lihat, dia seenaknya mengatur tentang magang dan keikutsertaan ku pada olimpiade.”


“Sepertinya aku tidak terlalu mengetahui bagaimana perasaan Senior. Ayahku hanyalah seorang tukang kayu, beliau tidak pernah sekalipun membebankan apapun padaku. Keluargaku hanya memintaku untuk fokus pada pendidikan dan mereka akan berusaha untuk memberikan biaya. Seharusnya Senior cukup bangga memiliki seorang ayah yang bisa mengarahkan jalan yang mungkin menurut mereka terbaik, sedangkan aku hanya berusaha dan belajar sendirian.”


“…”


“Kenapa memandangku seperti itu,” tanyaku pada Reza yang mulai merubah ekpresinya. Aku hanya tersenyum kemudian, mungkin bersyukur bahwa kini perasaannya sudah membaik walaupun beralih pada perasaan kasian kepadaku.


“Tidak ada. kamu hanya terlihat keren,” ucapnya kemudian.


“Apa yang terlihat keren menurut Senior? Tidak ada yang keren dalam hidupku.”


“Mungkin karena kamu pintar dan berpikir dewasa.”


“Hahaha, jangan bercanda. Aku hanya berusaha karena keadaan, usahaku melebihi usaha di antara teman-teman seusiaku. Aku juga yakin bahwa Senior juga sudah berusaha melebihi usaha siswa lainnya.” Aku mulai berpikir bagaimana kabar ayah dan ibuku di kampung. Apakah mereka sehat-sehat saja?


Tiba-tiba, bibir hangat menyapu bibirku untuk persekian detik.


“A-apa yang Senior lakukan–lagi?”


“Memberimu ciuman,” jawabnya tanpa keraguan sedikitpun.


“Senior bukan pacarku!”

__ADS_1


“Kalau begitu, kita pacaran saja.”


__ADS_2