Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

“Terima kasih ya, Nak. Waktu istirahatmu jadi terbuang karena membantu ibu,” ucap Ibu Desy dengan perasaan bersalah. Beberapa menit yang lalu bel masuk sudah berbunyi menyebabkan semua siswa senior telah duduk di tempatnya masing-masing. Sedangkan aku dan Reza masih berdiri di depan kelas untuk berpamitan kepada sang guru.


“Tidak apa Ibu, aku senang membantu,” ucapku tenang. Pekerjaan lalu cukup menyenangkan, selain dapat membunuh waktu istirahat, aku juga dapat memperbaiki hubunganku dengan Reza, setidaknya kami tidak harus bertengkar setiap waktu dan membuatku lelah, seperti anjing dan kucing.


“Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Sekali lagi, terima kasih ya.”


“Sama-sama Ibu, aku permisi,” jawab ku kemudian dan segera meninggalkan beliau.


“Apa pelajaranmu selanjutnya?”


“Matematika. Oh, kenapa Senior ikut keluar? Bukankah senior harus membantu Ibu Desy di kelas,” ucapku kepada Reza yang mengikutiku keluar beberapa saat yang lalu.


“Aku akan mengantarmu terlebih dahulu. Bukankah kamu gampang tersesat?”


“Bukan seperti itu, aku hanya belum mengenal area seluruh sekolah. Siswa lain juga seperti itu, mereka pasti akan tersesat!” ucapku yakin. Lihatlah area sekolah ini, begitu besar dan luas dengan segala gendung yang bertingkat-tingkat. Bukankah wajar bagi siswa baru untuk kehilangan arah.


“Berikan ID-Line mu,” pintanya kemudian.


“Kenapa?” Aku memandang curiga kepada Reza.


“Aku akan mengirimkan peta sekolah kita.”


“APA? Senior memiliki peta sekolah? Kenapa tidak memberikan itu sejak awal padaku. Setidaknya aku tidak akan tersesat lagi.” Aku segera mengeluarkan handphone-ku dari dalam tas dan kemudian menyebutkan beberapa angka.


Beep


Suara satu pesan telah aku terima. Gambar peta sekolah telah memenuhi layar handphone-ku. Seharusnya aku tidak akan tersesat lagi, aku tersenyum senang.


“Kalau begitu kita berpisah sampai sini saja, Senior.”


“Aku akan mengantarmu,” ucapnya datar. Kenapa tetap mengantarku? Bukankah dia memberikan peta untukku agar aku dapat menemukan jalanku sendiri dan tidak merepotkan dia?


“Tidak-tidak. Senior harus kembali ke lab. Aku tidak akan mengganggu waktumu,” ucapku menolak tawaran Reza–Bukan! Itu bukan tawaran. Itu adalah perintahnya. Dia tidak mengindahkan penolakanku dan terus berjalan.


“Aku akan menunggumu di kantin timur saat istirahat siang nanti,” ucapnya tiba-tiba. Aku kira dia telah melupakannya, daya ingatnya sangat baik.

__ADS_1


“Aku akan makan dengan teman-temanku di kantin barat.” Aku harus menolaknya.


“Aku tidak menerima penolakan,” ucap Reza tegas. Sepertinya aku harus mengalah sekarang.


“Kelasmu ada di lantai dua,” ucap Reza sambil menatap jendela gedung dari arah bawah.


“Hei, Zytha. Buruan naik sebelum guru masuk.” Teriak Syafa sambil melambaikan tangannya keluar jendela. Teriakannya sekarang telah membuat perhatian semua siswa yang berada di dekat jendela melihat ke arah kami.


“Benar-benar memalukan,” lirihku seraya menutup wajahku dengan sebelah tangan. Aku segera berlari kecil setelah mengucapkan terima kasih kepada Reza karena mengantarku.


“Ternyata kalian diam-diam telah berkencan ya di belakang kami. Pantas saja kamu tidak menyusul ke kantin, sekarang aku tahu alasannya,” ucapan sambutan dari Nurul membuatku membelalakkan mata tak percaya. Bagaimana mungkin mereka membuat kesimpulan seperti itu.


“Jangan membuat kesimpulan tidak masuk akal. Tidak ada apa-apa di antara kami,” ucapku dengan wajah serius. Namun wajah Syafa terlihat semakin tak percaya dengan ekspresi menggoda.


“Benarkah tidak ada apa-apa? Lihatlah ke bawah sana!” ucap Syafa seraya mengeluarkan wajahnya ke arah jendela.


“Ada apa di sana?” ucapku penasaran, tentunya dengan ragu melihat ke arah bawah.


Reza masih berdiri pada tempat sebelumnya, menatap ke arah jendela seperti sebelumnya. Saat aku memutuskan untuk melihat ke bawah, tatapan kami bertemu.


Ada apa? Kenapa kamu masih disana?


“Ahh? Reza sudah gila,” ucapku terperangah.


“Jadi, kamu tidak mau mengaku?” ucap Syafa kemudian.


“Tidaklah. Kami tidak ada dalam hubungan apapun. Dia hanya senang melihat kalian histeris seperti barusan. Dia senang menggoda kalian.”


“Benarkah?” ucap Suci tiba-tiba. Dia jarang sekali untuk ikut dalam percakapan, namun kini dia seperti menghadapi kebimbingan ulah teman-teman lainnya.


“Temanku yang polos. Jangan perdulikan mereka,” ucapku seraya merangkul Suci yang semakin menunjukkan kebingungannya.


“Bagaimana kalau nanti kita makan ke kantin timur? Katanya di sana banyak sekali senior yang tampan-tampan,” ucap Syafa semangat, hanya dia yang bisa seterang ini masalah cowok.


“Terserah kamu saja,” jawab Nurul pasrah untuk mengikuti kemauan Syafa. Sedangkan Syafa hanya tersenyum konyol merasa puas dengan dirinya sendiri. Dia selalu menang untuk mendebatkan satu hal bersama teman lainnya.

__ADS_1


“Kamu harus ikut Zytha! Tidak boleh menolak,” ucap Syafa kearahku.


“Iya-iya,” jawabku ikut pasrah. Apalagi alasan yang harus aku buat untuk menolak, sedangkan teman lainnya tanpa sengaja memilih kantin timur juga seperti Reza.


Aahhh…, hari masih panjang.


“Buruan-buruan!” Syafa terus menarik kami tanpa kesabaran setelah mendengar bel istirahat kedua terdengar.


“Iya-iya. Berhenti untuk menarik kami, lenganku juga sakit,” keluhku kepada Syafa.


Kami pun keluar ruangan setelah menguras otak untuk menghitung berbagai rumus aritmatika, terdengar berbagai keluhan dari teman-teman lainnya tentang hal itu. Tidak disangka, hari pertama kami di sekolah ini harus dihadapi dengan mata pelajaran yang lumayan rumit. Tapi aku percaya akan kemampuan mereka, bukankah kelas kami adalah kelas terbaik? Aku sedikit membanggakan hal itu.


Aakhhh


Seseorang dengan sengaja menabrak bahuku saat berjalan menuju kantin timur, terasa sangat menyakitkan hingga terasa nyilu.


“Kamu tidak apa-apa, Zytha?” tanya Suci khawatir kearahku. Aku memegang bahuku yang terasa semakin sakit.


“Kamu kalau jalan tidak pakai mata ya untuk melihat arah!” bentak Syafa ke arah lawan. Suara keras itu membuatku mengedarkan pandangan mencari seseorang yang sengaja untuk mencari masalah denganku.


“Ka-mu…,” ucapku terbata-bata. Aku melihat seringai senyuman yang melihat kearahku dengan jijik–Dia adalah sahabat lamaku.


Seorang pemilik dari surat-surat yang telah terkoyak oleh rayap. Surat-surat yang dahulu begitu sangat berharga bagiku. Namun kini, sahabat itu memandang ke arahku dengan tatapan jijik dan tak menyenangkan, Yuli Astuti.


Setelah 3 tahun tidak pernah bertemu karena dia memasuki SMP ke sekolah yang berbeda denganku. Dan sekarang, takdir telah mempertemukan kami kembali begitu saja.


“Sudahlah, kita pergi saja,” ucapku kepada Syafa dan memegang lengannya dengan erat. Tubuhku terasa bergetar ringan untuk beberapa saat.


“Kamu tidak apa-apa?” ucap Syafa menarik perhatiannya dari Yuli.


“Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi!” ucapku menarik lengan Syafa dan lainnya. Meninggalkan Yuli dengan sikap acuh tak acuh, padangannya terlihat benar-benar jijik ke arahku. Dia tidak menyambut pertemuan kami dengan baik, dia masih dendam kepadaku.


“Ada apa dengannya?” keluh Nurul dengan sikap kesal. Jelas dia sangat tidak suka dengan sikap Yuli yang seperti tadi.


“Apakah kamu mengenalnya, Zytha?” tanya Suci khawatir, suaranya sedikit lebih tenang dibandingkan dengan Syafa dan Nurul yang mulai kesal dan ingin mengamuk.

__ADS_1


“Aku lapar…,” keluh ku seraya memegang perutku dengan sikap berlebihan. Aku hanya ingin mengubah topik dan mencari perhatian teman-temanku.


Masalahku dan Yuli itu seperti sebuah masalah kecil yang semakin membesar, masalah yang berawal dari sifat ketidakdewasaan kami saja.


__ADS_2