Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Beruang Kutub yang hangat?


__ADS_3

Jangan lupa berikan like dan komentar kalian ya teman-teman. Dukungan kalian akan menyemangati ku untuk update lebih cepat!


-----------------------------------


Hari sudah siang, mataku terasa perih ketika mencoba melihat lagit. Tiga jam lamanya, kami terus berkutat dengan rumus untuk memecahkan berbagai soal yang rumit.


Semua orang bergerak ke area parkiran, mengambil kendaraan yang mereka gunakan sebelumnya. Reza satu-satunya yang hilang dari penglihatanku sejak keluar dari ruangan pelatihan.


Aku akhirnya berjalan sendirian tanpa mengindahkan keberadaan orang di sekitarku. Ada satu jalan pintas yang sering aku lalui ketika pergi dan pulang sekolah, jalan yang sudah tidak asing lagi. Aku memandangi area di sekitar, mencoba mengalihkan pikiranku yang kacau.


Panasnya matahari yang sebelumnya terasa menyengat di kulitku, tiba-tiba terasa sejuk. Tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu terus berjalan beriringan untuk meminjamkan bayangannya pada tubuhku yang hampir terbakar sinar matahari.


Dadaku terasa begitu sesak, aku ingin sekali menjauhkan diri darinya namun aku malah menangis di pelukannya begitu saja tadi pagi. Malu dan Kesal! Yah! Kedua perasaan itu bergejolak dalam diri hingga membuat hatiku terasa ngilu.


10 menit, perjalanan yang harusnya terasa singkat kini terasa begitu panjang dan melelahkan. Panas terik matahari seakan tak dapat mencairkan suasana di antara kami, begitu kaku dan dingin.


Ketika persimpangan gang kecil bertemu dengan jalanan besar, dadaku sedikit lega.


"Reza!"


Terdengar seseorang memanggil dari arah warung dekat kos lalu sosok Reza terasa tertinggal di belakangku, aku tidak menghentikan langkahku, bertindak seperti membiarkan orang asing yang mengubah haluan.


Yah, seperti itulah kami bertemu dan kemudian berpisah.


"Kamu sudah pulang, Zytha?" sapa Shinta kepadaku.


"Mn."


"Kamu pasti lelah, ya. Sana makan dulu, aku sudah masak."


"Sepertinya aku akan tidur dulu, Shinta. Mataku rasanya sangat berat," ucapku seraya menggantung tas lalu melempar tubuhku dengan entengnya ke atas kasur.


Terdengar beberapa getaran dari arah handphone jadul yang sebelumnya aku lempar ke atas kasur. Tapi, aku tak sanggup untuk melihat siapa dibalik deringan itu.


Tak membutuhkan waktu lama, dunia terasa menghilang dari pikiranku.


☘️☘️☘️


"Hei! Bangun!"


Sayup suara yang mulai terdengar kesal di telinga, membuat mataku terbuka.


"Jam berapa?"


"Sudah jam 9! Aku hampir menyirammu dengan air satu ember kalau kamu tidak bangun-bangun juga!"


Aku hanya melototkan bola mataku, aku tertidur begitu lama!


"Bangun! Mandi lalu makan! Aku sangat kesal, uh, benar-benar kesal..."


Aku mendengar Shinta terus mengomel hingga suaranya terdengar rendah dan menjauh.


Aku mencoba bangun, tubuhku terasa pegal dan tenggorokan terasa begitu kering. Mataku pun semakin terasa berat dan membengkak. Dengan langkah gontai, aku membuka pintu lalu mendapati seseorang tengah duduk santai di atas tangga portabel dengan bohlam lampu di atas kepala.


"Senior? Sedang apa di sana?" tanyaku heran. Lampu lorong kamar putri itu terlihat baik-baik saja untuk mendapatkan perawatan.


Tapi bukan jawaban yang aku dapatkan, hanya tatapan sendu dengan bibir yang tertutup rapat.

__ADS_1


"Mandi!" teriak Shinta, memaksa tanganku menerima sebuah gayung serta handuk di lenganku yang lainnya. "Sangat kacau!" lanjutnya menggerutu.


Pikiranku belum tertata sepenuhnya, aku hanya menuruti Shinta tanpa berpikir apapun.


Kost putri memiliki dua kamar mandi umum yang digunakan secara bergiliran. Melihat dari kejauhan, di bawah langit yang gelap, penampakan kamar mandi umum itu membuat bulu kudukku merinding.


"Apa kamu takut?"


"Ya, sepertinya akan ada sesuatu yang keluar dari sumur itu," jawabku.


"Mau aku temani?"


Mendengar tawaran itu, membuatku menoleh ke arahnya.


"Sial! Kenapa laki-laki menemani perempuan ke kamar mandi umum saat malam-malam begini!" ucapku kaget.


"Mulutmu ternyata pahit juga," ungkap Reza dengan sikap kerennya, hanya bersandar pada tembok dengan kedua lengannya yang tersilang.


"Lalu, kenapa Senior berada di sini malam-malam?" tanyaku lagi seraya menerawang tangga portabel yang sudah tidak ada pada tempatnya.


"Ibu kos memintaku untuk mengganti bohlam lampu, yang lama sudah redup."


"Ooh..." Aku hanya manggut-manggut, melupakan tujuan awalku. "Sebentar, bagaimana bisa Senior dengan bebasnya keluar-masuk area putri? Aku terlalu sering melihatmu berada di area putri," tanyaku heran.


"Entahlah! Keluarga itu terlalu sering memintaku untuk melakukan ini dan itu," jawabnya.


"Uh, tidak hanya di sekolah! Ternyata di sini pun, Senior sangat diandalkan."


"Mn," jawabannya singkat.


Aku menatap pintu kamar mandi di sana sekali lagi, bahkan mulut hitam sumur itu tampak masih menakutkan. Aku melihat jauh ke belakang ku, berharap akan ada teman putri yang melintas untuk aku minta bantuan.


"Ah? Tidak! Tidak! Itu tidak pantas!"


"Jangan berfikiran macam-macam!" jawab Reza seraya menjentikkan jemarinya dengan lembut ke kening ku, "aku akan mengawasi dari sini," lanjutnya.


"..."


"Buruan, tidak baik terlalu lama berada di luar. Malam sudah semakin larut."


"Yakin tidak akan macam-macam?"


"Ya!"


"Ah! Aku tidak akan mandi! Lebih baik kembali," keputusan ku sudah bulat. Selain menakutkan, aku benci air dingin. Dengan cepat akhirnya aku memutar sudut kaki, hendak lari kembali ke kamar.


Namun, tanganku sudah ditahan oleh genggaman jemari tangan Reza yang besar.


"A-apa yang Senior coba lakukan?"


Aku mulai takut tak beralasan. Tak ada siapapun di sekitar sana. Rasanya, biar pun hantu sumur tua yang keluar, itu akan lebih baik.


"Kamu demam?"


"Uh?"


Tak berselang lama, kening dan leherku telah melalui pengecekan suhu secara dadakan.

__ADS_1


"Jangan mandi! Kembali dan istirahat," ucap Reza sejurus kemudian.


"O-Oke."


Lalu pria kutub utara itu menuntun ku kembali ke kamar.


Tok tok tok!


Suara ketukan di daun pintu yang dibuat Reza disambut suara decitan pintu terbuka.


"Senior? Ada apa?" tanya Shinta bingung.


"Zytha sedang demam, jangan bolehkan dia mandi dulu. Apakah kamu punya persediaan obat? Aku rasa tidak. Nanti aku akan kembali untuk memberikan mu obat, tolong rawat dia terlebih dahulu. Beri dia makan agar perutnya tidak kosong ketika minum obat nanti," jelas Reza.


"Ya, tentu!" jawab Shinta kemudian.


Lalu, tak berselang waktu lama, sosoknya menghilang.


"Kamu tahu, Zytha? Aku pertama kali mendengar Reza mengatakan kalimat yang begitu panjang!"


"Benarkah?"


"Lupakan! Masuk terlebih dahulu, aku akan menyiapkan makananmu."


"Terimakasih, Shinta. Maaf telah merepotkan mu."


Makanan di piring itu, aku tidak sanggup untuk menghabiskannya. Kini, aku percaya kalau tubuhku sedang tidak baik-baik saja.


Aku merindukan ibuku.


Lebih baik aku tidur.


Aku memimpikan pria tampan di negeri dongengku, dia menyuapiku dengan sebutir anggur yang tampak begitu nikmat namun kenapa setelah di mulutku rasanya begitu pahit?


Ah! Kemana pria tampanku?


Seekor beruang kutub utara?


Begitu hangat! Bukankah seharusnya beruang kutub itu akan dingin sekali? Dia tampak seperti seseorang yang aku kenal!


...


..


.


Ibu?


Jangan pergi!


Ayah?


Jangan pergi!


Saudaraku?


Kenapa kalian meninggalkan aku seorang diri?

__ADS_1


Uh?


Kamu masih di sini beruang kutub utara?


__ADS_2