
"Zytha, kenapa kamu pulang lama sekali sih?" keluh Shinta padaku sesaat setelah meletakkan tas pada meja belajar.
"Aaaahhhh... Hari ini sangat melelahkan, Shin," ucapku seraya melempar tubuhku ke kasur.
"Kenapa?"
"Dua minggu ke depan aku akan mengikuti olimpiade ke London," ucapku lemas. Aku tidak tahu apakah aku harus bangga atau harus bersedih hati. Karena pada kenyataannya aku belum siap, dua minggu tak akan cukup untuk mempersiapkan diri.
"London? Jasa apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya. Kamu benar-benar diberkahi dalam kehidupan ini."
"Kamu benar, Shin. Seharusnya aku merasa senang."
"Semangat apaan itu!"
"Aaahhhh..., aku lelah. Biarkan aku tidur dulu."
"Tidur apa jam segini? Ini baru jam 6 sore. Yak! Bangun!" Shinta terus menggangguku, tak membiarkan mataku terlelap.
"Ada apa, sih?"
"Temani aku ke taman nanti jam 8 malam," ucap Shinta merendahkan suaranya.
"Ada apa di taman?" tanyaku heran.
"Aku punya janji dengan seseorang," ucapnya tersipu malu. Shinta masih sibuk dengan rambutnya yang masih basah, sedangkan aku terperanjat dari pembaringanku.
"Shinta, tidak baik anak gadis keluar malam-malam. Aku tahu taman kota memang dekat dari sini, tapi tetap saja tidak baik. Gerbang kos akan ditutup pukul 10.00," ucapku tenang. Aku mencoba berbicara dengan pelan agar Shinta mengerti maksudku dan tidak menganggapku sebagai teman yang terlalu mengekang kebebasannya.
"Sekali saja. Aku mohon...," ucap Shinta memelas. Matanya seperti mata kucing yang memelas perhatian, menatapku dengan penuh penekanan bahwa dia sangat ingin pergi malam ini.
Aku sebenarnya sedikit takut dan agak gelisah untuk mengikuti kemauannya saat ini. Selama ini, aku juga tidak pernah keluar malam tanpa didampingi oleh orang tuaku sebelumnya. Dan sekarang, kalau aku tidak menemani Shinta, aku yakin dia akan nekat pergi sendirian.
"Baiklah," jawabku lemah. "Aku sudah berjanji dengan nenekmu untuk menjagamu. Kita akan pergi sebentar saja, oke?"
"Terimakasih, Zytha. Kamu memang yang terbaik!" ucapnya riang dan kemudian dengan semangat melanjutkan dandanannya.
Aku rasa Shinta telah menemukan seseorang yang dia sukai, aku melihat wajah Shinta yang penuh dengan bunga sakura. Terlihat merona.
Aku tiba-tiba mengingat Reza, mengingat pengakuannya padaku. Sampai saat ini, aku tidak yakin apakah dia sebenarnya bersungguh-sungguh atau tidak. Hatiku belum memahami, apakah yang aku rasakan itu cinta atau bukan.
__ADS_1
Aku pernah membaca berbagai puisi indah yang menyentuh relung hati hingga membuatku terasa diselimuti oleh cinta, aku juga pernah membaca novel romantis yang membuatku memiliki hasrat untuk memiliki. Namun kini, aku tidak dapat memahami apa itu cinta atau apa itu jatuh cinta pada kehidupan nyataku.
"Pergilah mandi, Zytha." Shinta membuatku kembali tersadar.
"Ya, aku harus mandi," ucapku menyemangati diriku sendiri dan bergegas.
Setelah mandi, aku mendapati Shinta telah berdandan cantik. Semerbak aroma dari tubuhnya begitu wangi, wajahnya berseri-seri. Dia tak henti-hentinya menatap pada kaca besar yang berdiri kokoh pada sisi dinding.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Shinta. Tentunya aku akan menjawab dengan jawaban yang akan disukai oleh semua kaum wanita di dunia ini.
"Kamu cantik!" ucapku mantap, aku tidak ingin dia berdandan lebih lama lagi.
Aku kemudian melihat beberapa pakaianku yang menggantung di tempatnya, aku memutuskan untuk berdandan sesederhana mungkin agar tidak mencolok perhatian.
Aku mengambil dress berwarna gelap sepanjang lutut, kemudian memasangkannya dengan Sweater Hoodie berwarna gelap juga. Ukuran hoodie-ku yang lumayan besar memiliki beberapa manfaat untukku, selain untuk bersembunyi, aku rasa akan sangat terasa hangat di luar nanti.
Setelah selesai berpakaian, aku memilih sepatu kets berwarna biru gelap dengan garis putih. Aku hanya membiarkan aroma sabun di tubuhku, aromanya yang ringan mungkin tidak akan mengundang perhatian nantinya.
"Ayo berangkat," ucap Shinta tak sabar dan juga terlihat gelisah.
"Iya, Iya. Biarkan aku mengunci pintu dahulu," ucapku kemudian. Kami pun siap untuk menjadi gadis nakal malam ini. Ooops!
Kami memutuskan untuk melewati gerbang samping, kalau kami ketahuan oleh kak Uyun pasti rencana kami akan gagal total. Jangan berharap untuk bisa keluar dari halaman putri kemudian.
Taman kota terlihat begitu indah pada malam hari dengan pengaturan pencahayaan yang luarbiasa. Dari jauh, kami bisa melihat ikon taman kota yang menyemburkan air mancur.
Kaum muda hilir mudik berjalan mengelilingi taman kota, tampak bersuka cita. Mereka menyebar di setiap sisi taman. Ada yang bersama pacar, bersama teman, berkelompok dan bahkan ada yang sendirian menikmati angin malam ditemani dengan suara dibalik sambungan telepon.
"Disana!" ucap Shinta semangat. Seorang cowok tengah melambai-lambai kearah kami sambil menjaga sambungan teleponnya. Sesaat kemudian, Shinta memutuskan panggilannya.
"Hai!" ucapnya menyapa kami dengan senyum cerah. Aku hanya memberikan anggukan kecil untuk menyapanya.
"Kalian bisa mengobrol berdua," ucapku kemudian melirik jam tangan dibalik lengan hoodie-ku. "Jam 9.00 aku akan kembali ke sini dan kami akan pulang," jelasku kepada temannya Shinta. Dengan sopan dia menganggukkan ucapanku, dia cukup mengerti akan apa yang aku maksud. Gadis tidak boleh keluar terlalu lama pada malam hari.
Aku pun memutuskan untuk berjalan kesekitar taman yang memiliki penerangan yang bagus, aku tidak mau menjadi nyamuk di antara mereka. Aku akan menikmati angin malam yang terasa menyejukkan ini.
"Cewek~"
Masih saja ada makhluk penggoda di saat wajahku sudah tersembunyi dibalik hoodie-ku. Mungkin itu adalah kesenangan di antara mereka, tanpa memikirkan bentuk rupa wajah sang gadis, naluri penggoda mereka akan tetap liar.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang memegang lenganku. Terasa kuat dengan telapak tangannya yang besar. Baiklah, aku yakin bahwa itu adalah seorang pria. Aku mulai takut dan gelisah.
"Apa yang dilakukan gadis seorang diri di waktu malam seperti ini?"
Aku segera membalik badan ketika yakin bahwa suara itu adalah milik seseorang yang aku kenal.
"Senior!"
"Jawab!" Genggaman Reza semakin kuat dan hampir menyakitiku.
"Aku menemani Sinta untuk bertemu kenalan," ucapku ragu. Bagaimana pun alasanku ini tetaplah salah.
"Ikut aku!" Reza menarikku dengan keras, aku tidak menyangka dia akan berada di sini sekarang. Bagaimana bisa dia mengenaliku dibalik hoodie ini?
Reza menghentikan langkahnya saat sampai di bagian utara taman kota dan kemudian melepaskan genggamanku. Keadaan di sekitar tidak memiliki banyak orang.
Reza memandangku dengan aura kutub utara lagi dan bahkan pandangannya lebih buas dari beruang kutub. Aku memaki Shinta dalam pikiranku saat ini, gara-gara permintaan bodohnya.
"Aku hanya berencana untuk keluar sampai jam 9 tepat, hanya untuk menemani Shinta," jelasku.
"Ada apa dengan pakaianmu?"
"Ah! Aku sengaja memakai hoodie yang cukup besar untuk menutupi wajahku," jelasku kembali.
"Hanya hoodie? Tidak kah kamu berpikir bahwa rok itu terlalu terbuka!"
"Aku rasa tidak, ini masih batas wajar dalam keseharianku."
"Menurutmu, kenapa para cowok tetap menggoda di saat wajahmu telah tertutupi dengan rapat?"
Ah! Aku mengerti sekarang. Dasar cowok penggoda! Mata keranjang!
"Jangan mengutuk mereka dalam pikiranmu," ucap Reza kemudian mencoba untuk tenang. "Itu sudah kodrat seorang lelaki," lanjutnya.
"Jadi, ini adalah salah wanita?" ucapku seraya menyingkirkan tutup kepalaku dengan kesal. Aku mulai tidak sepaham dengannya.
"Itu juga bukan sepenuhnya salah wanita, intinya aku tidak perduli jika itu adalah wanita lain tapi aku tidak ingin mata-mata itu melihatmu seperti itu," ucap Reza kemudian. Ada kehangatan dibalik kalimatnya, membuatku tenang dan meredakan emosiku.
"..."
__ADS_1
"Lihat! Rambutmu saja masih basah, bagaimana bisa kamu keluar dengan keadaan seperti ini, kamu berencana untuk sakit?" ucapnya seraya menaikkan kembali hoodie-ku untuk penutupi kepalaku yang basah. "Lain kali kalau kamu keluar, panggil aku. Oke?"
"Mn" Aku hanya mengangguk kecil untuk menyetujui permintaannya. Jantungku kini mulai berpacu dengan cepat, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta? Apakah ini cinta?