
Pacaran?
Reza sudah gila rupanya, bagaimana bisa dia memiliki pemikiran seperti itu saat kami baru saling kenal selama dua minggu. Aku bahkan belum memiliki niat untuk memikirkan kata pacaran.
Tujuan awalku masuk sekolah ini adalah untuk memenuhi harapan kecil ayahku, dan jalan satu-satunya adalah berusaha lebih giat dan mendapatkan beasiswa.
Pacaran diawal semester?
“Senior bercanda, 'kan?” Aku mulai berbicara ngawur, seolah menanyakan kesungguhan hatinya.
Sebelum jawaban Reza terdengar, deringan suara handphone-ku mengejutkanku.
“H-Hallo?” Tanpa sadar aku telah menerima panggilan itu, mungkin jauh dalam kesadaranku membuat tubuhku bergerak sendiri untuk melakukan hal konyol ditengah pernyataan seseorang dikarenakan ketidaksiapan ku sendiri. Aku seolah mencari pelarian.
“Zytha....” Suaranya terdengar lirih dibalik sambungan. Aku terkesiap seolah melupakan hal mengejutkan sebelumnya. Apriliawan tiba-tiba menghubungiku setelah dua minggu lebih mengabaikan aku.
“Apriliawan! Kenapa baru sekarang menghubungiku? Kamu baik-baik saja, 'kan?” tanya ku khawatir, setelah beberapa minggu dia mengabaikan ku tanpa alasan.
“Aku sudah menunggumu selama dua jam, tapi aku tidak melihatmu.”
“Kamu di mana?” ucapku meluaskan pandanganku seolah aku bisa melihat Apriliawan. Di saat yang sama, aku tersadar bahwa aku sedang berada di situasi yang canggung sebelumnya. Aku melihat mata Reza yang sendu menatapku.
"Aku berada di depan gerbang sekolahmu. Kamu di mana? cepat ke sini. Aku hampir mati karena merindukanmu."
“A-aku masih ada urusan di sekolah,” ucapku gugup. Mataku tak bisa lepas dari tatapan Reza kepadaku, terlihat sangat berbeda dari Reza biasanya. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali ekspresi yang dia tunjukkan padaku.
“Aku akan menunggumu,” ucap Apriliawan dibalik sambungan telepon kembali.
“Ba-Baiklah!”
Beep
Sambungan itu terputus.
“Se-Senior. A–”
“Jangan pergi,” lirihnya kepadaku tanpa memutuskan tatapannya. Tatapannya sangat sendu memohon untuk tidak aku abaikan.
“....”
“Aku tahu, aku berada di saat yang tidak tepat. Tapi jangan pergi, aku mohon.” Reza menjatuhkan dirinya di tanah, membiarkan aku duduk seorang diri pada bangku panjang itu dengan kebingungan luarbiasa. Dia dengan pelan meraih tanganku dan membenamkan wajahnya pada pangkuanku.
Seharusnya aku yang merasa bersalah, menerima panggilan di saat yang tidak tepat. Tapi kenapa Reza mengatakan hal itu dan terdengar aneh? Kemana pikirannya? Tidak! Lebih jelasnya, apa yang dia pikirkan tentang aku dan Apriliawan.
__ADS_1
“Apa yang Senior pikirkan?” tanyaku dengan kebingungan luarbiasa. Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang, mendapati Reza sedang membenamkan wajahnya di pangkuanku dan genggaman tangannya yang semakin erat pada tanganku sendiri membuatku melupakan bahwa dia adalah Reza si kutub utara, Reza yang sangat dingin dengan sikap acuh tak acuhnya.
“Maaf karena berada di antara kalian. Tapi aku mohon, jangan mendorongku untuk menjauh.”
Di antara kami? Apakah maksudnya karena Apriliawan ingin bertemu denganku dengan tiba-tiba dan Reza tidak mau aku meninggalkannya?
“Aku rasa, Apriliawan bisa menungguku,” ucapku sedikit ragu.
“Maaf,” ucap Reza. Aku ingin sekali melihat wajahnya saat mengatakan maaf itu. Dia seperti anak kecil saat ini.
“Tidak apa! Tidak apa! Seharusnya aku yang merasa bersalah. Salahku menerima panggilannya.” Reza mulai melemaskan genggamannya dan mengangkat wajahnya. dan kini wajahnya tepat berada di depan wajahku. Pandangannya menatapku dengan lekat.
“Ya, itu salahmu. Seharusnya kamu mengerti bagaimana perasaanku saat ini.”
“Oh ya. Aku mengingat beberapa saat yang lalu bahwa Senior sedang dalam keadaan tidak baik. Aku seharusnya menjadi penghibur yang baik saat ini.”
“Bukan. Tapi masalah setelahnya, kamu mengabaikan perasaanku.”
Deg deg deg
Jantungku tiba-tiba berdetak kuat lagi, apakah karena ingatakan saat Reza mengajakku pacaran atau karena tatapannya saat ini kepadaku yang semakin intens.
“Senior, bagaimana kalau kita fokus mempersiapkan diri untuk olimpiade dahulu. Setelah semua itu berakhir, mari kita pikirkan lagi.”
Reza membuat sebuah senyuman di bibirnya yang indah. Aku menyadari keindahan itu sekali lagi. Ya, dialah cowok populer di sekolah ini. Cowok yang berhasil mematahkan hati para gadis. Dan sekarang, aku sedang membuat suatu kompromi masalah hati dengannya.
Reza tak mengatakan apapun padaku, Sejurus kemudian dia bangkit dengan tanganku yang masing menggantung di jemarinya.
“Ayo. Aku akan mengantarmu ke depan,” ucap Reza kemudian.
“Baiklah.”
Kami pun berjalan menelusuri jalan dari gedung timur ke gerbang utama tanpa sepatah katapun. Reza berjalan satu langkah di depanku dengan pelan.
Apa yang sedang Reza pikirkan saat ini?
Sesaat kemudian, aku melihat Apriliawan sedang berdiri dan bersandar pada pepohonan yang berada di tepi jalan raya. Dia tampak menghentakkan kakinya beberapa kali dan menendang kerikil yang berada dibawah kakinya.
“Pergilah,” ucap Reza dan kemudian berbalik badan meninggalkan aku. Reza kembali ke sikap dinginnya dan tidak menatapku sama sekali.
“Zytha!” Apriliawan memanggilku seraya melambaikan tangannya ke arahku. Aku melirik punggung Reza yang semakin hilang di balik gedung sekali lagi, dan kemudian berjalan menuju Apriliawan.
“Kamu masih mengingatku, uh?” Aku menendang kecil lututnya dengan ujung sepatuku. Apriliawan hanya tersenyum bodoh.
__ADS_1
“Aku minta maaf mengenai masalah itu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Janji!” ucap Apriliawan dengan dua jari yang menggantung diudara.
Aku menghela nafas ringan, rasanya beban di dadaku sudah terangkat.
“Jangan melakukannya lagi!”
“Iya. Aku merindukanmu,” ucapnya manja. Aku tidak bisa mengabaikan kelucuannya saat ini.
“Kamu bisa merindukanku?”
“Jangan marah. Aku akan mentraktir mu makan minggu depan. Bagaimana?”
“Tidak bisa. Maaf! Aku akan mengikuti pelatihan untuk Olimpiade dua minggu lagi. Aku rasa aku tidak memiliki waktu untuk itu,” ucapku merasa bersalah. Apriliawan mulai memberikan wajah ketidaksukaannya.
“Aku sangat merindukanmu tapi kini kamu tidak memiliki waktu sedikit pun untukku,” keluhnya seraya memainkan helaian rambutku yang menjuntai di area telingaku.
“Aku akan menghubungi mu saat aku memiliki waktu. Aku berjanji!” ucapku meyakinkan kan.
“Setuju. Hari sudah mau gelap, aku akan mengantarmu ke kos. Aku bawa motor, kok. Jangan khawatir,” ucapnya padaku.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai pada tujuan, kami berhenti tepat pada gerbang halaman utara. Semua penghuni kos tampak sedang bersantai di halaman utara, menikmati sore hari yang indah.
Sudah terlambat untuk mengambil tempat pemberhentian yang lebih jauh karena semua mata sudah tertuju pada kami.
“Pulanglah, berhenti untuk mengabaikan pesanku saat ini,” ucapku kesal padanya.
“Iya. Aku sudah tidak sanggup untuk mengabaikanmu lebih lama lagi, ” jawabnya padaku. Beberapa lama kemudian, Apriliawan menyalakan motornya dan berbalik untuk pulang.
“Akhhh”
Aku kaget luarbiasa mendapati Reza yang sudah berdiri di belakangku.
“Sejak kapan Senior ada di belakangku, jantungku mau copot ini.” Aku mengelus dadaku dengan nafas yang memburu.
“Sejak pacarmu berbalik arah untuk pulang,” ucapnya datar. Entah dia sedang menggodaku atau bagaimana.
“Berhenti mengatakan dia pacarku.”
“Masuklah! Lewat pintu samping, aku akan melihatmu dari sini.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka melihat pandangan mereka padamu.”
__ADS_1
“...”