Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Laki-laki didalam Gelap


__ADS_3

“Bisakah kita bicara sebentar?”


“Kenapa Senior ada di sini?” Aku cukup terkejut mendapati Reza sudah berada duluan di sini, seperti seorang pencuri yang tengah mencari kesempatan untuk bertindak.


“Bukankah Senior sedang ada kencan? Bukankah terlalu cepat Senior untuk kembali?”


“Dia bukan pacarku, hanya seseorang yang ditunangkan denganku.”


Seperti sebuah petir dengan keras menghantam kepalaku. Aku pernah berpikir bahwa suatu saat Reza akan mengatakan bahwa dia sedang dalam hubungan dengan Yuli, tapi hubungan sebagai tunangan berada diluar khayalanku.


Aku tersenyum kecut mendengar kabar yang cukup mengejutkan itu, “aku rasa kita berada dalam hubungan pertemanan yang cukup dekat, sehingga aku bisa mengetahui informasi sepenting itu. Selamat untuk mu!” Aku mengibaskan tanganku ke udara, mencoba untuk menepiskan tangannya yang masih memegang lengan hoodie-ku.


“Aku tidak berharap untuk sekadar menjadi teman bagimu,” ucap Reza dengan nada rendah. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dalam kegelapan ini, bahkan aku tidak bisa meninggikan suaraku untuk melepaskan rasa kesalku padanya.


“Jangan menjadi laki-laki yang egois, Senior. Aku tidak menginginkan hati yang telah dibagi dua.”


“Aku tidak pernah membagi hatiku kepada siapa pun, hanya padamu. Hatiku hanya untukmu.”


“Hal membingungkan apa yang tengah Senior bicarakan? Apakah Senior lupa telah memiliki tunangan? Senior baru saja memberitahukannya padaku beberapa saat yang lalu.”


“Aku dan Yuli hanya berada pada hubungan yang ditentukan oleh orang tua, tidak lebih dari itu.”


“Benarkah? Tapi Yuli memperlakukanmu sebagai tunangan yang romantis. Aku rasa senior memiliki pendapat yang berbeda.”


Apapun kondisinya, Reza tetaplah sedang berada dalam hubungan dengan orang lain, bahkan orang lain itu adalah Yuli. Aku tidak menjamin bahwa aku siap untuk bersaing dengan Yuli untuk kali ini. Perasaan adalah hal yang berbeda dari sekadar peringkat dimasa lalu.


“Bukankah perasaanku untukmu yang lebih penting di sini? Kenapa harus mempertimbangkan orang lain. Aku bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai tunangan dalam hatiku walaupun sedetik pun. Aku hanya menginginkan kamu.”


“Kenapa Senior seperti ini sekarang? Kemana Reza yang bersikap dingin dan acuh tak acuh itu? Lebih baik Senior bertindak menyebalkan seperti sebelumnya. Aku akan pergi, tidak baik hanya kita berdua berada disini.”


Reza meraih tanganku hingga membuat langkahku terhenti, “Aku mohon, bahkan menjadi teman tidak cukup untukku. Bagaimana bisa kamu kembali mengabaikanku seperti hari-hari sebelumnya?”


“Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menempatkan diriku sebagai seorang Perusak Hubungan Orang ataukah sebagai Orang Ketiga?”


“Tidak, jelas kamu tidak dalam posisi itu.”


“Tapi orang lain akan menganggapku seperti itu, karena aku datang di antara kalian. Senior lebih baik kembali, mungkin Senior butuh waktu untuk menjernihkan pikiran.”


Aku pun melepas genggaman Reza dengan paksa dan bergegas pergi menjauh darinya sebelum dia melakukan hal konyol lainnya. Aku tidak memungkirinya bahwa hatiku cukup merasa sakit dengan keadaan ini, tapi apa yang harus aku perbuat? Aku merasakan duniaku dan mereka sangat berbeda, untuk perbandingan dunia itu aku tidak yakin untuk dapat bersaing. Namun satu yang pasti, aku mengakui bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta pada saat yang salah.

__ADS_1


“Kenapa kamu lama sekali, sih?” Shinta tampak khawatir padaku, dia terlihat mondar-mandir di depan pintu untuk menungguku.


Aku tersenyum tipis padanya, “Maaf! Maaf! Ayo kita masuk.”


“Aku hampir berlari ke Kak Uyun kalau dalam lima menit kamu tidak kembali juga.”


“Yak! Itu artinya kita bunuh diri.”


“Aku kehilangan akal, aku kira kamu telah diculik oleh hantu atau kamu bertemu seorang pencuri di belakang sana!”


“Kamu benar, aku bertemu hantu.”


“Jangan menakuti aku!”


“Hahaha. Ayo masuk dan istirahat. Kamu harus mentraktirku di sekolah, aku sudah cukup direpotkan oleh kalian berdua malam ini.”


“Iya-iya, aku minta maaf dan berterima kasih di saat bersamaan.” Shinta membuat gelembung di pipinya dan kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya.


“Hei, cuci muka dulu sana. Jangan langsung tidur!”


Dengan malas Shinta bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas untuk membasuh muka. Sedang aku, pikiranku kembali melayang kemana-mana.


“Nak?”


“Oh, Ayah? Apakah ayah sudah di rumah?”


“Iya. Ayah pulang tadi sore, bagaimana kabarmu di sana?”


“Aku baik-baik saja, Ayah. Jangan Khawatir.”


“Nak?” Ayahku memanggil dengan suara lemah kemudian, entah kenapa perasaanku menjadi aneh bercampur rasa khawatir.


“Kenapa Ayah?”


“Apakah besok kamu bisa pulang ke rumah sebentar?” Perasaanku kembali berkecamuk. Rasanya aku ingin pulang malam ini juga, tapi aku tahu pasti bahwa itu tidak bisa.


“Baiklah, Ayah. Aku akan pulang besok pagi, aku akan meminta temanku untuk mengantarku. Apakah kalian di sana baik-baik saja?”


“Kami semua baik-baik saja, Anakku. Sekarang kamu istirahat ya, hubungi Ayah besok kalau memang tidak ada yang mengantarmu.”

__ADS_1


“Iya, Ayah. Jangan khawatir. Selamat malam.”


“Selamat malam, Anakku.”


Setelah panggilan itu terputus, aku segera mengalihkan ke panggilan lainnya untuk menghubungi Apriliawan untuk meminta bantuan.


“Iya, kamu harus tenang. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu istirahatlah lebih cepat, besok pagi aku akan menjeputmu lebih awal.”


“Tapi–”


“Jangan khawatirkan apapun. Kamu terlalu banyak berpikir. Sekarang pergi tidur!”


“Baiklah, selamat malam.”


Beep


Panggilan itu pun terputus kemudian, aku tidak bisa membuang rasa khawatirku sama sekali. Berbagai pertanyaan dalam pikiranku membuatku lelah dan tak menyadari bahwa aku sudah berada di alam mimpi. Bahkan dalam mimpi pun, aku membawa segala kekhawatiranku dan membuatku bermimpi buruk.


🍀🍀🍀


Jam sudah menunjukkan pukul 6:30, dan aku sudah dalam keadaan siap. Beberapa saat yang lalu Apriliawan mengabarkan bahwa dia akan sampai dalam waktu 10 menit kemudian.


“Aku akan pulang ke rumah sebentar karena aku harus menghadiri pertemuan di sekolah untuk membahas Olimpiade,” ucapku kepada Shinta kemudian menutup pintu kamarku dengan cepat dari luar. Aku bergegas keluar untuk menunggu Apriliawan.


Beberapa saat kemudian, Apriliawan datang menggunakan mobil. Dia kali ini pasti meminjam kartu ijin mengemudi milik kak Sugandi, wajah mereka tampak kembar dari balik gambar.


“Maaf membuatmu menunggu, aku harus mengisi bensin dulu,” ucapnya sambil membuka pintu mobil untukku.


“Tidak apa, maaf telah merepotkan di pagi buta begini.”


“Hei, jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Nanti aku bisa marah, lho!”


Saat aku hendak masuk, aku mendengar suara memanggilku dari arah lainnya, “Ada apa, Senior?” aku menjawab panggilan Jaelani yang tengah berdiri beberapa meter dariku, Reza berada disampingnya namun Reza tidak menatap kearahku. Reza melihat kearah lainnya dan bersikap seolah tidak mengetahui keberadaanku.


“Kamu mau pergi kemana di pagi buta begini?” ucap Jaelani seraya menyeka keringat di pelipis matanya. Mereka berdua tampak sudah menghabiskan waktu pagi ini untuk berolah raga.


“Aku ada beberapa urusan sebentar. Aku pergi dulu Senior, kita berbincang di lain waktu”


“Baiklah, semoga kencan kalian menyenangkan!” Teriak Jaelani ke arahku di saat Apriliawan sudah menyetir mobilnya. Aku tidak sempat untuk menyangkal perkataan Jaelani, aku hanya memberikan senyum tipis sebelum pandangan kami perputus.

__ADS_1


__ADS_2