Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Tatapan dingin


__ADS_3

“Mengapa kalian harus menangis? Aku bisa pulang setiap saat karena ini bukan Pondok Pesantren!” Siapa yang tahu isi hatiku saat ini, lebih pilu dari kalian. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan hidup mandiri di kota asing ini. Meninggalkan zona nyaman di rumah dan meninggalkan kehangatan keluarga.


Tiba-tiba pelukan hangat datang padaku. Tubuhnya yang tinggi dengan aroma kayu membungkus badannya, lengannya terasa lembut mendorongku ke pelukannya. Sejak kapan ayahku semakin mengurus? Aku hanya mengingat tubuhnya yang kuat dan kekar ketika dia menggendongku sewaktu kecil. Namun kini, aku baru menyadari sesuatu, ketika usiaku semakin bertambah maka orang tuaku akan semakin menua. Mengapa aku baru menyadari hukum alam ini? Aku tiba-tiba takut untuk kehilangan orang tuaku.


“Kamu harus pandai menjaga diri, Nak. Bukannya ayah ingin menjauhkanmu dari keluarga, tetapi ini adalah suatu kesempatan bagimu untuk melihat dunia.” Suaranya terdengar tenang.


“Aku mengerti ayah. Kalian juga harus tetap sehat.”


“Iya, Nak. Kami harus sehat untukmu.” Perkataan ayah masuk begitu dalam keranah hatiku, demi mencari nafkah maka kami tidak boleh sakit dan harus tetap sehat. Kerasnya dunia mengajarkan kami prinsip yang begitu menyedihkan, bukan? Jika ayah sakit, maka kami akan kesusahan untuk biaya hidup sehari-hari. Mendapatkan beasiswa untuk membeli perlengkapan pendidikan di masa lalu, tidak selamanya aku gunakan untuk tujuan asalnya. Tetapi selalu aku simpan untuk mencukupi biaya kehidupan kami. Meminjam buku di perpustakaan sekolah yang dapat aku kunjungi setiap saat menjadi pilihan terakhir selain dari membeli buku.


“Permisi, dia ini adalah Shinta Febriana. Kalian teman sekamar.” Seorang nenek-nenek datang memperkenalkan cucunya, membuat pelukan ayahku terlepas. Seorang gadis yang cantik dengan tubuh gemuk membuatnya tampak menggemaskan.


“Dengar, Cucuku. Kamu harus baik-baik di sini dengan Zytha. Kalian harus pintar-pintar untuk menjaga diri kalian.” Mendengar nasihat neneknya, Shinta menangis dengan kerasnya. Aku rasa dia adalah cucu kesayangan yang tidak pernah jauh dari keluarga dan sangat dimanjakan di rumahnya.


“Tenang saja, Nek. Kami akan saling menjaga,” ucapku mencoba menenangkan sang nenek yang tampak mulai khawatir melihat cucunya yang tiba-tiba menangis. Sekali lagi aku menyapu suasana di sekitarku, semua mata tampak merah dan bengkak. Mungkin mereka sangat mengkhawatirkan kami, di mata mereka kami akan tetap menjadi anak kecil namun diharuskan untuk menjauh dari keluarga demi sebuah pendidikan.


Aku melihat ibuku yang sibuk memasukkan peralatan ke dalam kamar 06, diikuti dengan keluarga Shinta yang mencoba untuk mengatur tata letak. Aku hanya dapat tersenyum pahit melihat ketegaran ibuku, dia hanya mencoba untuk menyibukkan diri tanpa berani menatapku lama.


Beberapa waktu berlalu, keluarga kami pamit berbarengan untuk meninggalkan kami. Entah mengapa, suasana yang tadi penuh dengan tangis airmata dan keributan yang membisingkan telinga ternyata lebih baik daripada suasana saat ini. Suasana yang tiba-tiba hening. Tangisan Shinta yang belum berakhir tambah menekan hatiku. Aku memutuskan untuk berjalan berkeliling untuk meredakan emosi menyedihkan ini.


Aku memandangi lorong panjang kamar putri ini, kamar dengan nomor urutan genap akan berada disebelah kanan dan urutan ganjil berada disebelah kiri. Semua kamar tampak tidak berpenghuni dan terkunci kuat, tak ada satupun penghuni kamar yang terlihat sejak kedatanganku. Mungkin karena minggu ini masih memasuki hari libur, hanya siswa baru yang akan memulai aktifitas untuk mengikuti OSPEK besok pagi yang telah memasuki area kos.


Kamar putra dan putri terpisah di sini, halaman putra berada di sebelah timur sedangkan putri berada di sebelah barat. Walaupun begitu, gedung putra dan putri tetap dalam satu atap. Dalam keadaan seperti ini, tentunya putra dan putri tidak akan pernah saling bertemu ketika membuka pintu. Rumah pemilik kos berada di sebelah halaman utara, halaman itu luas dan memiliki berbagai jenis pohon yang tumbuh meninggi. Aku harus melewati area parkir untuk sampai ke halaman utara ini, gerbang besar menuju jalan raya terdapat di halaman utara ini.

__ADS_1


Setelah berkeliling sejenak, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Semoga Shinta sudah berhenti menangis sekarang dan sudah mulai tenang.


Aahhk


Aku menabrak seseorang!


“Maaf, maaf! Ini salahku karena tidak melihat-lihat.” Mengapa aku sangat ceroboh sih. Kami sama-sama bangkit dari tanah, membersihkan pasir yang menempel pada pakaian kami.


Dua cowok kini tepat berada di hadapanku. Oh Tuhan, akankah aku berada dalam masalah. Di kehidupanku sebelumnya, aku selalu berusaha untuk menghindari para cowok. Alasannya–mereka selalu menjadi penggoda yang merepotkan.


“Tidak apa, tidak apa. Kamu penghuni baru ya?” ucap salah satu di antara mereka dengan suara sopan seraya masih berupaya membersihkan pasir yang menempel di sikunya, aku mulai merasa bersalah.


“Iya, Kak. Kakak tidak apa-apa?” Tanyaku sedikit khawatir melihat sikunya yang memerah. Namun detik kemudian, dia tersenyum dengan lebar. Aku tahu dia hanya mencoba menenangkan kekhawatiranku, mungkin semua kekhawatiranku dapat terlihat di wajahku saat ini.


Pandanganku menyapu ke teman di sebelahnya, seorang cowok yang cukup tinggi. Berdiri tegak dengan kedua tangan berada di saku sweater hitamnya, bersikap seperti seorang tuan muda yang melihat ke arah para pelayannya. Tatapannya ke arahku terasa dingin dan tajam, tanpa berkedip sekalipun. Seharusnya dia sangat marah kini karena aku menabrak temannya. Tetapi Tuhan, aku di sini hanyalah seorang anak gadis yang lebih kecil dari ukuran badan mereka. Apakah dia tega untuk bersikap kasar padaku.


“Namaku Jaelani, kemudian temanku ini namanya – Ramli.”


“Aku Zytha.”


“Baiklah, Dek Zytha. Kami harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Kalau ada kesempatan kita bisa mencoba lebih dekat lain kali.” Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa, aku benar-benar benci para cowok yang suka menggoda, tetapi Jaelani tampak tulus saat mengucapkannya. Saat mereka berlalu di hadapanku, aku masih bisa menangkap tatapan dingin dan tajam ke arahku.


Semoga kami tidak bertemu lagi.

__ADS_1


“Dek Zytha.” Dari arah mana seseorang memanggilku? Mataku terus menyapu sekeliling. Detik kemudian, aku melihat seorang wanita mungil berdiri di bawah pohon mangga. Melambaikan tangan agar aku berjalan kearahnya.


“Ya, Kak Uyun.” Dia adalah menantu dari pemilik kos ini. Kami berasal dari desa yang sama, dua tahun lalu dia pindah ke kota untuk hidup bersama suaminya.


“Kapan kamu sampai di sini?”


“Sejak pagi, Kak.”


“Mengapa tidak memanggil kakak, padahal mau menyapa ibu sama ayahmu. Sudah lama nggak bertemu.”


“Iya, Kak. Lebih baik cari kesempatan besok atau lusa. Suasana tadi sangat memilukan.”


“Haha, kakak dapat membayangkannya. Dulu kakak juga begitu, semua keluarga ikut hanya untuk menangis.” Kami tertawa begitu keras. Suatu hari aku juga pasti akan berpikir di mana keadaan ini adalah kenangan yang indah dan membuatku tertawa bahagia ketika mengingatnya.


“Kalau kamu butuh bantuan, kamu harus cari kakak ya. Orang tuamu sudah menitipkan kamu sama kakak.”


“Iya, Kak. Terima kasih sebelumnya karena telah merepotkan.”


“Tidak usah sungkan, kita adalah keluarga. Aku yakin kamu dapat meraih prestasi yang baik di SMK dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi. Jangan seperti kakak, lulus SMK langsung dapat jodoh. Haha.”


Kalimat ‘langsung dapat jodoh’ dari suaranya terdengar berbisik. Jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Walaupun tujuan awalmu gagal dan kemudian berbelok kearah lainnya, itu tidak salah sama sekali. Selama hasilnya membahagiakan dan tanpa penyesalan.


“Kak Uyun. Hal sebelumnya yang diminta apakah mau dikerjakan sekarang?”

__ADS_1


Seseorang datang kedalam lingkaran kami.


Cowok itu lagi! Mengapa harus menatapku seperti itu tiap bertemu. Membekukan tubuhku hingga titik beku paling ekstrem.


__ADS_2