Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Tapi Aku, Tidak!


__ADS_3

“Zytha, kamu baik-baik saja, kan?” ucap Syafa terdengar khawatir.


“Tidak apa-apa, hanya masih merasa sedikit pusing,” jawabku sekenanya.


“Iya, wajahmu terlihat putih pasi. Apakah kamu sudah sarapan?” ucap Nurul membenarkan peryataan Syafa.


“Sudah. Mungkin aku terlalu lama berada dibawah sinar matahari.”


“Kenapa kamu sangat rentan terhadap sinar matahari, kamu butuh vitamin dan berolahraga” ucap Nurul memandangku gelisah.


“Tidak apa-apa, aku hanya butuh duduk sebentar. Aku akan segera membaik,” ucapku meyakinkan. Kami pun mengambil tempat duduk pada bangku panjang di bawah pohon yang rindang.


“Apakah kalian sudah mengambil jadwal?” ucapku bertanya sambil menopang kepalaku, terkadang akan ada denyutan keras di pelipis kepalaku, terasa sakit untuk beberapa saat.


“Sudah. Mata pelajaran pertama itu ‘Pemrograman Web Dasar' di ruang laboratorium 404,” jelas Suci kemudian.


“Pelajaran apaan itu?” suara Syafa melengking di telingaku, menambah rasa sakit di kepalaku saja.


“Bukankah ini terlalu awal untuk siswa baru mendapatkan materi jurusan? Hari pertama sudah membuat kepalaku pusing, bagaimana dengan hari-hari berikutnya?” Nurul mengeluh seraya menghela nafas panjangnya.


“Kalian kenapa masih disini?” Reza masuk ke dalam lingkaran kami, tentunya vitamin yang sangat berharga untuk teman-temanku. Lihat saja mata mereka, sepertinya energi mereka sudah terisi ulang dan siap untuk menerima materi yang tadinya mereka keluhkan.


“Zytha sedikit pusing, Senior. Kami istirahat sejenak disini,” jelas Syafa menjadikanku bahan untuk perbincangannya. Aku hanya menggelengkan kepala tak perduli.


“Ikut denganku ke UKS!”


“Uh? Tidak usah, Senior. Aku baik-baik saja,” aku seperti mencari alasan untuk menghindarinya.


“Berdiri!”


“Ya, ya. Tapi jangan menarik tasku. Perlakuanmu tidak tepat kepada orang sakit. Tunggu, tunggu! Tapi bukan berarti senior seenaknya menggandeng lenganku!”


“Terus bagaimana? Mau aku gendong?”


Nurul, “…”


Suci, “…”


Syafa, “…”


“Jangan bercanda berlebihan, Senior. Aku bisa jalan sendiri!” Reza tak mendengarkan keluhanku, tangannya semakin erat menggenggam lenganku dan menarikku sesuka hatinya.


“Ingat ruangan 404, kami akan menunggumu di sana!” Terdengar suara teriakan Syafa dari belakangku. Aku mencoba menoleh dan memberikan tatapan memohon kepada mereka untuk menolongku, tapi yang aku dapatkan hanya senyuman puas.


“Senior bisa melepaskan lenganku, aku risih ditatap oleh para penggemarmu. Tatapan mereka terasa lebih menakutkan.”


“Jangan perdulikan.”

__ADS_1


“Tapi aku perduli, kehidupan tenangku di sekolah ini akan terusik.”


“Lalu bagaimana dengan cowok-cowok penggoda itu? Apakah itu tidak mengusikmu?”


“Apa yang Senior coba katakan? Lepaskan!”


“Kamu bisa mengabaikan tatapan penggemarmu, tapi aku tidak bisa.”


“Senior, sepertinya bukan aku yang sakit di sini. Aku rasa Senior yang lebih membutuhkan perawatan. Kata-katamu sama sekali tidak bisa aku mengerti!”


“Duduk!” Aku melihat sekelilingku, rupanya aku telah sampai pada sebuah ruangan UKS, terdapat dua buah matras yang ditutupi oleh tirai biru. Reza dengan cepat menarik tirai untuk memberikan ruang. Ahhh, kepalaku semakin pusing saja.


“Dokter sekolah sedang tidak ada sekarang,” ucap Reza seraya membuka kotak obat dengan cepat.


Reza memberiku dua butir pil yang berukuran besar, sangat menakutkan melihat ukuran itu. Aku benar-benar benci dengan obat.


“Kenapa hanya menatapnya saja?”


“Uh? Bisa dibagi dua nggak obatnya? Hehehe.” Aku mungkin terlihat bodoh sekarang.


“Berikan...,” Reza kemudian dengan cepat membelah obat itu mejadi dua bagian tanpa bertanya apa pun lebih lanjut, lalu menyerahkannya kepadaku kembali.


“Kenapa masih menatapnya saja? Mau dibagi lagi?”


“Uh? Tidak perlu.” Aduuh, harga diriku. Aku seperti anak kecil saja.


“Cepat, ini air minummu. Jam pelajaran pertama tinggal lima menit lagi,” ucapnya sambil menyodorkan air minum.


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Kalau kamu masih pusing–”


“Ti-tidak. Aku sudah tidak apa-apa.” Aku memotong kalimatnya, “aku tidak akan membuang waktu di UKS. Lebih baik mengejar waktu.” Aku bergegas bangkit dari dudukku walaupun masih terasa pusing.


Setelah berjalan cukup jauh dari pintu keluar, aku terdiam mematung.


“Kenapa?”


“Ah, Senior. Aku sepertinya akan tersesat lagi.”


“Memangnya kapan kamu tersesat?” Wajahku terasa memanas, aku mengingat hari penutupan OSPEK kemarin. Bagaimana bisa Reza tampak biasa saja setelah kejadian itu? Apakah aku sendirian di sini yang merasa aneh? Mungkin hanya aku satu satunya yang baru mendapatkan ciuman pertama di sini.


“Lupakan!” Aku tak ingin membahasnya, ini terasa memalukan.


“Hei, Zytha!” Seseorang menghampiri kami. Seorang Senior yang tempo hari aku temui di gedung studio.


“Selamat pagi, Senior,” sapa ku sopan.


“Kenapa masih di sini? Sebentar lagi bel masuk, lho. Pelajaran pertamamu di ruangan mana?”

__ADS_1


“404”


“Oh, Benarkah. Biarkan kakak mengantarmu. Aku rasa kamu belum tahu arah di sini” Itu ide yang bagus. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk berpisah dari Reza dan tentunya aku tak akan tersesat lagi.


“Bukannya kamu juga akan masuk kelas?” sanggah Reza datar.


“I-Iya juga sih, tapi aku rela demi gadis pujaanku. Hei! Kenapa kamu menariknya pergi, aku belum selesai bicara!”


Tanpa mengindahkan satu katapun dari senior itu, Reza terus berjalan menarikku menjauh.


“Aku akan mengantarmu!”


“Ba-baiklah, tapi jangan menarikku lagi. Pergelangan tanganku sakit.” Sejurus kemudian, Reza melepaskan tarikannya. Kekuatannya benar-benar bisa meremukkan tanganku.


Satu-satunya alasanku untuk pergi dari Reza telah hilang, kenapa dia selalu muncul seperti hantu? Sangat menakutkan.


“Lab praktikumnya ada di lantai 4, ruangan 4.” Kami telah sampai pada gedung selatan, aku mendongak menatap tingginya bangunan itu. Satu persatu wajah siswi keluar dari balik jendela, berteriak histeris.


“Reza! Kenapa kamu masih di sekolah? Bukannya jurusanmu akan magang?”


“Kyaaaa..., Senior, kamu terlalu tampan.”


“I Love You, Reza”


“Zytha..., Mau nggak jadi pacar aku?”


Aaah? Kenapa terdengar ada namaku di antara teriakan gila ini? Aku menggosok lenganku merinding. Aku menolehkan kepalaku mencari ekspresi apa yang dibuat oleh Reza ditengah kegilaan ini.


Tapi...


“Kenapa menatapku?” Aku terkejut mendapati bahwa pandangannya tajam menatap kearahku.


Beberapa saat kemudian, terdengar nada panggilan dari suatu handphone. Reza melepaskan tatapannya, mengambil handphone dibalik saku celananya.


“Hallo! Tunggu dulu, Pak. Aku akan mengubah formulirku. Iya! Iya! Baiklah, aku akan segera kesana.”


“Ada masalah?” tanyaku pada Reza, wajahnya terlihat ragu dan gelisah kemudian.


“Tidak ada. Lebih baik kamu cepat naik.”


“O-Oke!” Aku penasaran masalah apa yang kini dia hadapi. Jarang sekali untuk melihat wajah datarnya goyah dan terlihat seperti itu.


Aku pun berjalan menaiki tangga hingga lantai 4, tidak mudah untuk sampai ke lantai ini.


“Untung guru belum datang, kenapa wajahmu terlihat menakutkan?” tanya Suci ke arahku. Aku menggeser kursiku untuk duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya.


“Ada beberapa cowok pengganggu di sekitaran tangga.”

__ADS_1


Semua nya menghempaskan nafas panjang. Seperti telah terlalu sering mendengar keluhanku ini, sampai mereka bosan untuk mendengarnya berulang kali.


Aku hanya dapat tersenyum melihat ekspresi wajah mereka.


__ADS_2