Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Aku membencinya!


__ADS_3

Seberkas sinar mulai masuk ke dalam pandanganku, suasana terasa tenang, sepi, sejuk dan empuk–Eeh, empuk? Bukanya aku sedang berada di tengah Ospek? Kenapa aku tertidur di atas matras yang empuk? Mataku tiba-tiba terbuka lebar dan bangkit dari posisi tidur.


“Kamu tidak apa-apa, Zytha?” Syafa tepat berada sampingku, duduk pada tepi matras. Aku melihat sekeliling sekali lagi.


“Kenapa aku di ruang UKS?” Ingatanku terasa terpotong-potong di sini.


“Aku khawatir! Untung aku berdiri di belakangmu saat kamu pingsan. Kalau tidak, otakmu itu mungkin akan pecah karena jatuh ke tanah.”


“Benarkah?” Aku benar-benar tidak mengingat apapun saat ini.


“Bagaimana kamu ingat kalau kamu dalam keadaan pingsan? Berterimakasihlah kepada senior yang telah membawamu ke UKS.”


“Baiklah, senior mana yang telah menolongku?“


“Kak Reza. Ketua OSIS.”


“Oooh.. Ketua OSIS itu namanya kak Reza. Aku penasaran akan keberadaannya yang telah menjadi pusat gossip sepanjang hari. Akankah dia benar-benar tampan?”


“Apakah otakmu benar-benar telah terbentur? Bagamana bisa kamu melupakannya dalam waktu satu jam?”


“Maksudmu, aku telah pingsan selama satu jam?” Ooh tuhan, itu terlalu singkat. Aku ingin pingsan sampai OSPEK selesai. Aku tak ingin berurusan dengan si kutub utara.


“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat lagi. Otakmu mungkin membutuhkan waktu untuk memulihkan ingatanmu.”


Apakah ada ingatan yang aku lewatkan? Aku benar-benar ingat ketika berdebat dengan Ramli dan kemudian dengan angkuhnya memintaku untuk ****-Up. Dan pada saat hitungan ke dua, aku sudah tidak sadarkan diri. Lalu, ingatan mana yang aku lewatkan? Mungkin aku harus istirahat kembali untuk mengembalikan ingatanku yang ternyata benaran hilang.


🍀🍀🍀


“Apakah kamu sudah bangun?” Seorang cowok duduk pada pinggir matrasku. Sudah berapa lama aku tidur lagi setelah siuman dari pingsanku tadi?


“Ya....” Aku mencoba mengumpulkan sisa tenagaku untuk bangkit, aku lapar.


“Makanlah.” Dengan kecepatan cahaya mataku bergulir menatap arah suara yang mengetahui isi pikiranku.


“Kamu lagi...,” ucapku lemah.


“Apa maksudmu dengan kata ‘kamu lagi’ itu?”


“Maksudku ya itu, tidak ada arti tersembunyi yang aku siratkan.” Aku malas berdebat denganmu saat ini.


“Makan!” Aku hampir mengeluarkan bola mataku! Dia meninggikan suaranya padaku lalu pergi. Dasar senior aneh, namamu juga aneh. Aku mengingat nama pamanku ketika menyebut namamu. Jangan datang-datang lagi!


Aku bertengar dengan suara hatiku untuk kesekian kalinya, aku lapar tapi aku tak ingin menyentuh makanan dari si kutub utara, mungkin dia telah memasukkan sesuatu kedalam makanan itu dan kemudian akan menertawanku dengan bahagianya di belakangku karena berhasil masuk jebakannya.


Suara perutku berbunyi lagi.


Detik berikutnya, makanan itu telah aku kunyah dengan lahap. Jika aku harus mati dengan racun, maka aku akan mati. Itu lebih baik dari pada mati dalam keadaan perut kosong.

__ADS_1


“Zytha, kamu sudah sadar?” Shinta dan Syafa masuk dengan tatapan khawatirnya saat aku sudah menyelesaikan makananku.


“Sudah jam berapa sekarang?”


“Ini sudah sore, sudah waktunya pulang.”


“Benarkah?” Aku mengembangkan senyumku yang benar-benar melebar. Sesaat kemudian dapat aku lihat tatapan keanehan mengarah kepadaku. “Kenapa?” tanyaku lagi.


Syafa mendekat padaku dan kemudian mencoba mengukur suhu tubuhku dengan telapak tangannya. “Kamu tidak demam, tapi kenapa kamu tersenyum ketika kamu tak sadarkan diri hingga berjam-jam?”


Pftttt


Aku tersadar bahwa aku benar-benar telah menakuti mereka. “Jangan Khawatir, aku hanya senang karena tidak mengikuti OSPEK yang melelahkan.”


“OOhhhh...”


“Apakah kamu sudah berterimakasih kepada Reza?” Syafa mengatakan kalimat itu untuk kedua kalinya.


“Belum. Bagaimana bisa aku bertemu bahkan walaupun itu dalam mimpi dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan sosoknya saja belum aku jumpai.” Kedua temanku menjadi orang yang tidak sabaran, mengapa mereka sangat terobsesi untuk melihatku mengucapkan kata ‘terima kasih’.


“Kamu belum bertemu?” tanya Syafa kembali.


“Tentu!” Aku mengatakannya dengan tegas.


Aku tidak mengerti dengan tatapan kedua anak ini yang saling memandangi dan terlihat keheranan.


“Tunggu aku,” ucap Syafa menyusul.


Akhirnya, kedua temanku berlalu meninggalkan aku di sini lagi sendirian.


“Apakah kamu sudah bangun?” Jaelani masuk dengan senyumnya yang mencerahkan, setiap kali dia tersenyum, dia seakan membawa semua sinar matahari bersamanya.


“Aku merasa sedang sakit keras sekarang, kenapa semua orang bertanya tanpa jeda waktu.”


“Hahahaha, itu karena kamu yang membuat kehebohan! Bagaimana bisa siswa baru pingsan ketika OSPEK baru berjalan tiga jam. Uh?”


“Aku tidak bisa berada dibawah terik sinar matahari terlalu lama, bahkan sejak SMP aku selalu menjadi asisten guru olahragaku untuk menjaga sepatu teman kelasku yang sedang berolah raga.”


“Hahahaha ... kamu ini lucu ya!” Kamu yang aneh, aku mengatakan yang sebenarnya disini.


“Aku sangat dendam dengannya! benar-benar membuat darahku mendidih setiap berpapasan dengannya.” Melihat Jaelani membuatku teringat temannya.


“Siapa?”


“Ramli! Siapa lagi!”


“Ramli?”

__ADS_1


“Iya, Ramli. Siswa lain mungkin tidak akan mengenalnya tapi Senior kan temannya, jangan pura-pura lupa donk.”


“Ooh ... si Ramli.” Ada keraguan dalam kalimatnya.


“Senior kok aneh?”


“Hahahaha. tidak, tidak! Ingatanmu itu memang luar biasa! Kamu mengingat nama teman kakak dalam satu kali sebut.”


“Aku juga ingat nama Senior dalam satu kali sebut, apa perbedaannya!”


Jaelani tampak menggaruk sesuatu di kulit dahinya yang tipis dan luas, seperti kebingungan dan menahan sesuatu. Apa yang dia sembunyikan dariku?


“Hahaha, jangan menataku seperti itu! Dan berhenti Memanggilku ‘senior’ panggil saja seperti sebelumnya. Panggilan kakak terasa lebih akrab.”


“Panggilan senior sekarang lebih tepat.”


“Yahh ... kalau itu lebih membuatmu nyaman. Kamu sudah enakkan, ‘kan? Lebih baik kamu pulang dan istrirahat di kos supaya kamu bisa ikut OSPEK di hari kedua.”


“Bisakah aku tidak hadir, Senior?”


“Tatapan anak kucing itu tidak mempan padaku. Semua siswa baru wajib untuk ikut. Kalau tidak, kamu bisa dikeluarkan dari daftar penerimaan siswa baru.”


“Benarkah? Aku rasa tidak ada yang dapat mengeluarkanku dari daftar!”


“Kenapa kamu sangat percaya diri!”


Aku “…”


Aku percaya diri dengan luarbiasa, bagaimanapun mereka tak akan mau membuang nama yang berada pada urutan pertama penerimaan siswa baru? Kalau iya, mereka akan benar-benar dirugikan!


“Ayo keluar dan ikut berkumpul dengan teman-temanmu untuk mencatat tugas besok.” Jaelani mencoba menuntunku untuk berdiri.


Aku memilih bediri di depan anggota PMI pada barisan terakhir. Dengan malas aku akan mendengarmu, Si Cowok Kutub Utara!


“Untuk OSPEK hari kedua, kalian diwajibkan untuk mulai mengisi buku merah yang akan dibagikan oleh senior kalian di depan. Kalian harus bisa meminta tanda tangan senior kalian dengan jumlah minimum seribu paraf.”


Detik berikutnya, suara di antara perkumpulan ini menjadi riuh. Apa-apaan dengan jumlah gila itu? Bahkan adakah senior yang akan hadir besok dengan jumlah seribu orang? Tapi sepertinya kami tidak diizinkan untuk menyuarakan pendapat bahkan kami tidak akan bisa membantah.


“Perhatian!”


“Siap!!”


Keadaan menjadi sepi dan terkendali lagi, benar-benar kekuatan beruang kutub utara!


“Untuk pakaian, kalian tetap menggunakan pakaian Hitam Putih seperti ketentuan sebelumnya. Selesaikan tugas yang diberikan oleh ketua gugus kalian masing-masing. Kalau kalian tidak mengikuti peraturan yang telah panitia buat, kami tidak akan segan untuk memandikan kalian dengan air got.”


“Siap!!!”

__ADS_1


Sungguh kejam!


__ADS_2