Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Aura Persaingan!


__ADS_3

Riuh tawa dan canda tak terkendali dalam kelas, bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tapi guru belum juga datang. Ruang kelas ini terlihat sangat luas. Walaupun terdapat seperangkat komputer di masing-masing meja siswa, namun aku masih bisa bergerak bebas di lorong meja dan bahkan masih cukup luas jika aku mencoba untuk tidur di atasnya.


Aku memandangi langit biru dan gumpalan-gumpalan awan putih dibalik jendela kaca kelas, angin terlihat sangat tenang jika melihat pergerakan awan di sana. Sesekali akan terlihat beberapa ekor burung yang akan terbang berkelompok. Alam terasa lebih menenangkan dan terasa menjauh dari hiruk pikuk ini.


“Selamat pagi anak-anak.” Untuk beberapa saat, keadaan kelas mulai sepi dan terkendali. Seorang pria memasuki kelas, kacamata yang digunakannya semakin membuatnya terlihat seksi. Bukan seksi dalam artian seksualitas, namun lebih kearah otaknya. Orang jenius terlihat sangat menggoda, bukan?


“Selamat pagi juga, Pak!” Kami dengan antusias yang luarbiasa menjawab salam paginya.


“Bapak adalah wali kelas kalian. Untuk waktu 30 menit selanjutnya, akan saya pergunakan untuk menyusun Struktur Organisasi Kelas. Setelah itu, kalian akan melanjutkan pembelajaran,” jelasnya lalu membuat beberapa coretan di papan tulis.


Terjadi beberapa kegaduhan saat pemilihan, aku lebih memilih diam. Aku tidak mau terlibat apapun dalam organisasi ini.


“Bagaimana dengan siswi terbaik kita?”


“Uh?” Aku ragu sesaat untuk menoleh ke arah wali kelas. Apakah maksudnya itu, Aku?


“Kamu tidak berniat untuk mengambil bagian?”


“Aku rasa tidak, Pak” Aku mengatakannya dengan mantap.


“Coba pikirkan lagi. Terdapat beberapa hak istimewa jika kamu ambil bagian, seperti hak kebebasan untuk tidak ikut jadwal kebersihan dan kamu berhak memilih teman duduk sendiri.”


Aku menoleh melihat Syafa, “sepertinya teman duduk akan diacak,” ucap Syafa dengan wajah cemas. Tatapannya seolah mengatakan bahwa aku harus maju ke medan tempur.


Aku menghela nafas panjang sebelum membuat keputusan. “Baiklah. Aku akan ikut.”


“Bagus.” Wali kelasku seperti membuat sebuah jebakan untukku, benar-benar merepotkan.


Beberapa saat kemudian namaku telah tertulis di papan tulis. Sebelum pemilihan, aku mengancam teman-temanku agar tak memberikan hak pilihnya kepadaku. Setidaknya, jangan sampai aku menjadi ketua kelas. Aku benci untuk mengurus orang lain.


Sepertinya langit sedang memihak padaku, aku hanya menjadi wakilnya saja. Tapi, bukankah itu sama saja? Aku ragu untuk sesaat. Sejurus kemudian, aku melihat seorang cowok yang datang kearahku.


“Hai. Masih ingat aku, kan? Semoga kita bisa bekerjasama,” ucapnya kearahku. Kenapa Joni berada disini? Aku dengan cepat melihat kearah papan tulis yang sebelumnya tidak terlalu aku perhatikan, jabatan ketua kelas dipegang oleh Joni Sriawan.

__ADS_1


“Uh? Ah…, tentu aku mengingatmu. Maaf, aku tidak memperhatikan,” ucapku menyesal.


“Hahaha, kamu memang seperti itu, tidak pernah memperhatikan sekitarmu.”


“Iya…, kamu benar.” Aku menjawab dengan lemah.


“Baiklah, aku akan kembali ke mejaku. Semoga harimu menyenangkan.” Joni pun berbalik arah dan kemudian kembali ke tempat duduknya.


“Wahh…, hebat! Kelas kita memiliki dua siswa terbaik tahun ini.”


“Tapi, bukankah aura persaingan menjadi semakin kuat disini?”


“Aku yang merupakan siswa terbaik di kampungku saja sudah mengangkat bendera putih. Jangan mencoba untuk bersaing! Jangan!”


“Ahh..., kamu benar.”


“Tapi kalau dipikirkan lagi, bukankah siswa di kelas kita ini rata-rata adalah juara tiga besar di sekolah sebelumnya? Apakah ini suatu kebetulan?”


“Benarkah? Kenapa sekolah mengatur penempatan siswa seperti ini?!”


Ini bukan kabar baik sama sekali, seperti beberapa gossip sebelumnya. Aura persaingan sangat ketat, aku mulai mengkhawatirkan beasiswaku.


“Baiklah. Sekarang sudah 30 menit, waktunya guru kalian masuk. Bapak akan undur diri. Selamat pagi, Anak-anak”


“Selamat pagi, Pak”


Kegaduhan yang terjadi 30 menit sebelumnya telah hilang, walaupun wali siswa sudah hilang dibalik dinding itu, namun kami semua terdiam begitu saja. Aura persaingan bercampur dengan kegelisahan. Aku dapat merasakan tatapan tajam ke arahku.


“Hahahahaha.” Seseorang telah tertawa terbahak-bahak untuk mengusir suasana mencekam ini.


“Kenapa kamu tertawa, Joni?” Seorang teman duduknya bertanya khawatir.


“Sudah-sudah. Jangan mengkhawatirkan apapun. Kalian hanya perlu menunjukkan kemampuan kalian, bukan? Jangan merasa tertekan.”

__ADS_1


“Iya. Kamu benar.” Semua siswa mencoba kembali ke pikiran jernihnya.


Keadaan kembali menjadi ramai.


“Ahhh…, benar-benar terasa mencekik.” Syafa menghela nafas panjang dan menjatuhkan tubuhnya pada meja. Terdapat 33 siswa dalam kelas, dan di antara mereka aku lebih mengkhawatirkan keberadaan Joni. Joni adalah siswa terbaik kedua dalam daftar penerimaan tahun ini, perbedaan poin antara kami pun sangat tipis.


“Perhatian semuanya,” Joni melenyapkan semua keributan. Guru mata pelajaran ‘Pemrograman Web Dasar’ telah masuk. “Beri salam!” lanjutnya.


“Selamat pagi, Ibu guru!”


“Selamat pagi, Anak-anak. Sepertinya struktur organisasi kalian sudah ditetapkan. Sekarang kita akan mulai pembelajaran. Perkenalkan, nama saya Desy Kartika, panggil saja Bu Desy. Dan di sini, saya akan dibantu oleh siswa magang. Silahkan masuk, Reza.”


Lengkap sudah masalah yang muncul pagi ini.


“Nama saya Reza. Saya akan menjadi asisten guru untuk semua matapelajaran praktikum. Terima kasih.”


Tentu saja kehadirannya kini telah mejadi pusat perhatian, para gadis-gadis terlihat bersemangat dengan mata berbinar. Sedangkan ekspresi wajah Reza begitu datar dan dingin.


Kenapa aku selalu bertemu dengannya.


“Apakah kamu memiliki kendala?” Reza mengambil tempat duduk di sebelah mejaku, jantungku belum siap untuk menerima keterkejutan secara tiba-tiba setiap saat.


“Tidak ada,” ucapku mencoba acuh. Reza mengamati hasil kerjaku.


“Kamu sudah mahir dalam bidang ini?” ucap Reza kemudian, aku mendengarnya sedikit terkejut dan kemudian mengambil alih mouse dari tanganku. Dia perlahan-lahan mengecek semua kodingan yang aku buat. Mata pelajaran hari ini adalah berkenalan dengan beberapa perintah dalam PHP. Tentunya seorang Programmer tidak akan asing dengan istilah ini.


“Tugasnya hanya menampilkan beberapa data,” ucapku. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari tugas ini. Bahkan orang awam pun akan dengan mudah untuk mempelajarinya.


“Tapi kamu sudah menggunakan beberapa fungsi yang bahkan belum diajarkan. Kamu sungguh tidak akan jujur?”


“Aku rasa Senior memang sudah ahli juga dalam bidang ini, aku mengakuinya.”


Sesaat kemudian, Reza menatapku lekat, seperti tak percaya akan perkataanku atau mungkin dia terlalu sulit untuk mempercayaiku.

__ADS_1


"Untuk apa mendengar jawabku kalau memang tidak berniat mempercayainya." Aku mulai kesal.


__ADS_2