Senior, Berhenti Menggodaku!

Senior, Berhenti Menggodaku!
Pelukan yang menenangkan


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan begitu terasa kaku dan suram, bahkan udara di sekitarku terasa mulai menipis detik demi detiknya.


Kami duduk mengelilingi meja bundar–berdiameter 1,5 meter. Ukuran itu cukup sempit untuk menampung segala buku pelatihan dan peralatan lainnya yang kami berlima bawa, namun jarak ini seharusnya cukup agar kami leluasa untuk melakukan diskusi. Tetapi–semua orang sibuk atas dunianya masing-masing.


Kami terdiri dari enam orang–empat senior dan dua siswa baru.


Rudi dan Parwa, dua orang senior yang memiliki perawakan besar dan lainnya kurus. Persamaan yang dimiliki oleh keduanya adalah mereka selalu memasang wajah serius sejak pertemuan kami pertama kali, mereka hanya sibuk dengan tumpukan soal di depannya. Aku rasa mereka sangat percaya diri dengan kemampuannya hingga cukup untuk mengabaikan yang lainnya dan berfokus pada dirinya sendiri.


Lisa, senior lainnya yang terus memandangku dengan tatapan aneh. Seolah kehadiranku tidak dibutuhkan sama sekali di sini. Wajahnya cantik, tinggi dan memiliki kulit sawo matang.


Yuli, jangan tanya lagi bagaimana sikapnya padaku. Di matanya hanya ada seseorang menjijikkan yang harus disingkirkan saat menatapku.


Sedangkan Reza, dia masih menganggapku tak ada bahkan di dunia ini walaupun dia sedang tepat berada di hadapanku.


Perasaanku terhadap kelompok ini–benar-benar kacau. Pikiranku yang memikirkan ini dan itu membuat perutku sakit dan terasa mual. Aku merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan di sini, aku hanya memegang bolpoin di jemariku tanpa melakukan apapun–kertasku masih bersih dari coretan apapun.


Akupun dengan ragu berdiri dan hendak keluar untuk mencari sedikit udara bebas.


“Kamu mau ke mana, Zytha?” ucap Rudi padaku dengan tatapan heran, aku kira dia tidak akan menyadarinya karena berkonsentrasi.


“Aku permisi keluar sebentar,” ucapku.


“Lantai dua, belok kanan.” Tiba-tiba Parwa mengatakan sesuatu yang membuatku bingung. “Kamu mau ke toilet, 'kan? ada di lantai dua, belok kanan setelah turun tangga.”


“Ba-baik, terima kasih.” ucapku segan–Dia menebak salah.


“Pakai lift saja, belok kanan setelah keluar dari pintu. Lebih cepat sampai lantai dua,” ucap Rudi kembali.


“Berdasarkan perhitunganku, untuk mencari waktu tempuh berdasarkan besar kecepatan Zytha berjalan dan jarak yang dibutuhkan untuk sampai ke toi–”


“Stop! ini bukan saatnya melakukan riset. Zytha, kamu cepat pergi,” ucap Rudi menghentikan Parwa dari obsesi hitung-hitungannya.


Dengan cepat, aku berhasil keluar sebelum Parwa melanjutkan untuk memecahkan persoalan waktu tempuh yang lebih cepat antara menggunakan tangga atau lift. Jarak yang akan mereka gunakan juga pasti salah, karena tujuan itu bukan untuk ke toilet.


Aku berjalan menyusuri koridor yang cukup memusingkan, terdapat beberapa belokan yang membawaku sampai ke balkon gedung lantai 4 ini. Dari sini, aku dapat melihat jalan lalu lintas yang membentuk jaring transfortasi, beberapa titik terlihat macet dan di titik lain terlihat sepi. Gedung-gedung tinggi tampak menyilaukan mata.

__ADS_1


Aku menerawang jauh, seolah dapat melihat kotak rumahku di kampung. Memikirkan kejadian tadi pagi, pasti keluargaku mengkhawatirkan aku.


Seperti dugaanku, handphone-ku penuh dengan SMS dan panggilan dari satu ID yang tertulis 'Rumah'. Dengan kata 'Rumah' di sana, belum bisa memberikan gambaran siapa yang melakukan panggilan dan mengirimkan SMS, tapi aku memiliki dugaan–semua orang berusaha menghubungi ku. Di rumah hanya memiliki satu handphone jadul yang bahkan ketika digunakan sebagai alat untuk melempar anjingpun tidak akan hancur.


Terdapat 37 panggilan dan 9 SMS.


'Anakku, maafkan kami.'


'Kakak, kalau ayah tidak punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Adek punya celengan! Biarkan Adek yang belikan untuk kakak!'


'Sayang...,'


'Aku tidak akan ikut, aku akan bersamamu di sini.'


Aku tersenyum getir membaca satu demi satu pesan itu. Dan semuanya hanya berusaha untuk membuatku tidak bersedih dan tidak khawatir.


'Kami dan nenekmu akan berangkat satu Minggu lagi...,'


Mendengar tenggat waktu itu membuat lututku melemah, aku pun terhuyung lalu bersandar pada dinding–air mataku jatuh lagi.


Reza segera meraih tanganku dan berkata dengan khawatir, “Ada apa denganmu? Mengapa kamu menangis?”


“Aku tidak menangis!”


“Berhenti menyembunyikan wajahmu dan tatap aku!”


“Ti-Tidak...,” suaraku tiba-tiba ragu untuk menolak. Bagaimana bisa Reza berada di sini sekarang?


Reza menyentak tanganku dan membuatku berdiri tepat di hadapannya. Secara ajaibnya, tangisanku tambah deras dan semakin memilukan.


“Hai, kenapa tangisanmu tambah besar?”


Aku hanya dapat memandang lantai dan mencoba untuk menutup wajahku dengan telapak tanganku lainnya yang bebas, tanganku satunya lagi masih tergenggam kuat di genggaman Reza.


Reza menundukkan wajahnya untuk mencoba melihat wajahku dan kemudian mencubit daguku lalu mendorong wajahku untuk menatapnya.

__ADS_1


“Jangan menangis, kamu tampak jelek saat menangis.” Reza mencoba menghiburku, namun hiburannya benar-benar payah. intonasinya meninggi seperti sedang membentukku, alhasil tangisanku tambah menjadi-jadi.


“Senior jahaaaaaat!”


“A-Aku tidak berniat membentakmu. Sungguh!” ucapnya kemudian melepaskan kacamataku lalu menghapus air mata yang sedari tadi semakin menderas.


Tiba-tiba, Reza memelukku.


Aku tidak menolak sama sekali, aku seperti mencari penghiburan ditengah kesedihanku. Aku melupakan segala masalah yang terjadi antara aku dan Reza, bahunya benar-benar nyaman dengan aroma parfum khasnya.


Dalam pelukannya itu, aku menuangkan segala kesedihanku. Aku bahkan tidak menghiraukan bajunya yang kotor karena air mata atau apapun itu. Aku menguras air mataku seolah sudah tidak ada yang bisa keluar.


“Sudah lebih tenang?”


Aku menganggukkan kepalaku dengan pelan, Reza semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku. tinggi badannya membuat dagunya menekan kepalaku. Tangannya dengan tertatih membelai rambutku, rasanya aku ingin waktu berhenti di sini.


Reza mendorong tubuhku agar bisa melihat wajahku, “Kamu benar-benar kacau,” ucapnya seraya menghapus bekas air mata.


“Jangan menggodaku,”


“Haha, aku tidak menggodamu, kok.” tawanya terdengar sangat gurih. Untuk pertama kalinya, aku mendengarnya tertawa. “Kamu bisa menceritakan masalahmu padaku.”


Aku terdiam. Aku masih ragu untuk menceritakan masalah keluargaku yang menyedihkan.


“Kamu bisa menceritakannya padaku kalau kamu sudah siap. Aku akan mendengarkan.”


Perkataannya benar-benar membuatku nyaman.


“Sekarang, perbaiki wajahmu dulu. Guru pembimbing sebentar lagi akan datang mencari kita.”


“Ah..., maafkan aku Senior.”


Reza hanya membelai pipiku dengan tatapan sendu, tangannya kemudian melepaskan ikat rambutku–membuatnya tergerai, lalu memasang kembali kacamata yang beberapa waktu lalu dia lepaskan. Reza menggenggam tanganku ketika kembali dan melepaskannya sebelum masuk ke ruangan.


Beberapa saat kemudian guru pembimbing kami masuk ke dalam ruangan dengan tumpukan buku paket yang berada di tangannya dan berkata kepadaku, “pergunakan dengan baik selama dua Minggu ini, apakah kamu sudah memiliki paspor?” Semua mata menatapku dengan lekat, dengan ragu aku mengatakan ‘tidak’. Bagaimana mungkin aku memiliki paspor, dalam keluargaku hanya ayah yang punya karena pengalaman kerja ke luar negeri sebelumnya.

__ADS_1


“Jangan khawatir, besok bapak akan membantumu untuk mengurusnya.”


__ADS_2